Jumat, 25 Oktober 2024

Kiai Abil Fadhol As-senory

Kiai Abil Fadhol As-senory 
Oleh: Joyo Juwoto

Kiai Abil Fadhol As-senory 
Terlahir dari kota santri 
Sedan sejengkal bumi dari percik Surga Adn 
Terberkahi lalaran nadzom alfiyah dan imriti para santri

Kiai Abil Fadhol As-senory 
Putra Syaikhil Masyayikh Abdul Syakur As-Suwedangy
Tedak darah Mbah Sambu Sayyid Abdurrahman Lasem

Kiai Abil Fadhol As-senory 
Kiai serba laduni
Mengaji tujuh bulan di Tebu Ireng
Mengkhatamkan Taqrib tujuh kali
Mengajar shohih al-Bukhori pada santri
Bersanadkan ilmu dari Syekh KH. Hasyim Asy'ari

Kiai Sahal Mahfudz, Kiai Mahrus Ali Lirboyo Kediri 
Mbah Maimoen Zubair, Mbah Faqih Langitan, 
Juga Kiai Hasyim Muzadi semua nyantri di pesantren Darul Ulum Al-Fadholi

Kiai Abil Fadhol As-senory 
Kiai murah hati, sederhana, bersahaja 
Khatam kitab suci dua kali dalam sehari
Shalat berjamaah lima waktu selalu

Kiai Abil Fadhol As-senory 
Berkarya penuh makna
Dalam jejak pena yang melegenda
Kitab Al-Kawakib al-lamma'ah
Pangreksogomo, Ahla al-musamarah fi hikayah Al -auliya Al asyara

Mbah Kiai Abil Fadhol As-senory karyamu mengabadi, menginspirasi sejuta santri.


Bangilan, 25 Oktober 2024

Jumat, 13 September 2024

Kaum Sarungan

Kaum Sarungan
Oleh: Joyo Juwoto

Kaum sarungan, atau santri, adalah bagian integral dari masyarakat Indonesia. Mereka tidak hanya berkontribusi dalam aspek spiritual dan pendidikan tetapi juga dalam pelestarian budaya dan pengembangan sosial-politik. Peran mereka yang signifikan ini mencerminkan keterikatan yang mendalam antara nilai-nilai agama, budaya, dan kehidupan sehari-hari di Indonesia.

Santri dan pesantren memainkan peran utama dalam pendidikan agama Islam di Indonesia. Mereka membantu menyebarluaskan ajaran Islam dan membimbing masyarakat dalam praktik keagamaan sehari-hari.

Dalam sejarah Indonesia, banyak tokoh santri yang berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara. Mereka sering terlibat dalam aktivitas sosial dan politik, memberikan kontribusi terhadap kebijakan dan perubahan sosial.

Hampir di setiap wilayah, hampir pasti dijumpai makam, petilasan, tempat-tempat yang dijadikan punden masyarakat, dan itu merujuk pada seorang tokoh Kiai atau orang yang dituakan yang babad desa membangun sebuah peradaban. Ini adalah bukti bahwa kaum sarungan tidak terpisahkan dari masyarakat.

Kaum sarungan ini memiliki semboyan Urip iku urup, urip iku urap. Menurut istilah sekarang, hidup itu harus menyala bosku, hidup itu harus berbaur dengan masyarakat dan tidak terpisahkan dengan masyarakat. 

Secara kesantrian, merujuk pada kajian-kajian turots al Islamiyah yang biasa dideras santri, merujuk pada sebuah hadits Nabi bahwa sebaik-naik manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama, hal ini memotivasi kaum sarungan untuk selalu berbuat yang bermanfaat untuk umat. 

Diakui atau tidak, Kiai, santri selalu mengedepankan bakti untuk negeri, berdarma untuk bangsa, dengan dedikasi yang tinggi dan keikhlasan yang luar biasa, bahkan sebelum negara ini secara formal terbentuk.

Santri adalah sebuah identitas yang lengkap, oleh karena itu santri harus serba bisa. Santri ketika terjun di masyarakat bisa menjadi petani, bisa menjadi tukang kayu, bisa menjadi birokrat, pengusaha, politisi, dan menjadi apa pun. Namun yang lebih penting dari itu santri haruslah menjadi pengayom masyarakat. 

Oleh karena itu jika santri terjun ke masyarakat jangan sampai jiwa santrinya lepas, karena dari jiwa santri inilah yang akan memancarkan nilai-nilai kebaikan dan keberkahan dalam kehidupan. Ya, kebaikan, keberkahan, dan ridha Tuhan adalah hal yang sangat diperjuangkan oleh seorang yang berjiwa santri.

Jiwa santri akan selalu mengacu pada nilai keikhlasan lillahi ta'ala dalam segala amal perbuatannya, yang dicari santri adalah keberkahan dunia akhirat karena pada dasarnya kaum sarungan ini kakinya menginjak bumi, tapi hatinya melangit di ketinggian sidratil muntaha.

Bangilan, 13 September 2024

Selasa, 20 Agustus 2024

Merayakan Kemerdekaan di Puncak Penanggungan

Merayakan Kemerdekaan di Puncak Penanggungan
Oleh: Joyo Juwoto 

Jauh-jauh hari menjelang peringatan kemerdekaan RI ke -79, saya merencanakan untuk muncak ke gunung, entah gunung apa yang akan saya tuju. Saya tak punya ekspetasi harus ke mana, asal gunung saya rasa sudah senang.

Mendekati Tgl 17 Saya mengabari kawan-kawan yang biasa muncak, saya WA ust. Muammar Rozikin dan mengabari untuk muncak pada tanggal 16 Agustus, agar saat peringatan 17an kita di puncak Penanggungan.

Tak butuh banyak pertimbangan, ada 4 orang yang siap berangkat pada tanggal 16 Agustus, Muammar, Adib, Romli, dan saya sendiri, jadi kami berempat akan meluncur ke basecamp jalur Tamiajeng. Pukul 14.00 WIB kami bermotor meluncur dari Bangilan menuju kota Mojokerto. Dari pantauan google map estimasi perjalan ditempuh sekitar 3 jam.

Dari Bangilan kami melewati Bojonegoro, lalu sampai di perempatan Sumberejo, dari sini kami mengambil jalur selatan, melewati Sukorame Lamongan lalu tembus sampai Kabuh Jombang. Setelah itu kami mengambil jalur jalan raya menuju Mojokerto lewat pinggiran kali Brantas. Sekitar pukul 17.00 WIB kami sampai di alun-alun kota Mojokerto.

Masjid Agung alun-alun Mojokerto menjadi tempat peristirahatan kami, setelah sholat Asar kami bersantai sekalian menunggu sholat Magrib, karena perjalanan yang membolehkan untuk jamak qasar, kami pun menjamak taqdim sholat isya' di masjid tersebut.

Setelah dirasa istirahat cukup, kami pun meluncur kembali menuju basecamp Tamiajeng, perkiraan untuk sampai ke basecamp satu jam lagi. Karena kami merencanakan untuk naik pukul 01.00 WIB, kami menggeber motor dengan santai sambil menikmati dinginnya udara malam, dana pemandangan sepanjang perjalanan.

Karena malam itu adalah malam 17 Agustus, banyak warga yang kami lewati sedang mengadakan acara tirakatan. Mereka sama berkumpul di gang-gang kampung, atau di tempat yang biasa mereka gunakan untuk mengadakan kegiatan bersama warga.

Sekitar pukul 20.00 WIB kami telah nongkrong di warung dekat basecamp. Saya sendiri tidak menyangka para pengunjung yang akan mendaki cukup banyak. Basecamp dipenuhi orang-orang yang akan muncak, jumlahnya benar-benar banyak, ada ribuan. Mereka antri untuk mendaftar.

Kami sendiri setelah sampai basecamp langsung mendaftar, biaya per orangnya lima belas ribu rupiah. Setelah itu antri untuk registrasi di panitia. Sambil menunggu registrasi kami memesan makanan, udara dingin membuat perut serasa mudah lapar. Soto menjadi pilihan kami.

Setelah makan-makan, kami  gunakan waktu menunggu pukul satu malam sambil tiduran, agar kondisi tubuh tidak ngantuk dan capek. Sampai tengah malam para pendaki masih terus berdatangan, malam itu jalur ke Penanggungan seperti pasar malam saja, sangat ramai.

Tepat pukul 01.30 WIB kami berempat menapaki jalanan bersama banyak rombongan dari berbagai daerah. Karena udara malam, saya sendiri terasa berat mendaki saat malam hari, mungkin karena oksigen yang menipis dihirup sekian banyak orang, ditambah bau parfum yang menguar di udara menambah beban berat di paru-paru saya. Sedikit demi sedikit pos-pos pendakian kami lalui, hingga sekitar pukul 03.30 WIB, atau jam tiga dini hari kami sampai di puncak bayangan.

Di puncak bayangan ini banyak sekali tenda, entah berapa jumlahnya, kami berempat yang tidak membawa peralatan ngecamp, cukup istirahat saja duduk-duduk di bebatuan sambil menunggu waktu shubuh tiba. Karena lelah kami tiduran sebentar tanpa alas tanpa atap. Ketika waktu shubuh tiba, kami sholat dengan bertayamum, karena tidak ada air, sholat kami pun sambil duduk.

Setelah matahari mulai tampak, kami melanjutkan sisa perjalanan menuju puncak Pawitra, perkiraan perjalanan 2 jam lagi. Dari puncak bayangan menuju puncak Pawitra cukup terjal, kemiringan membuat kaki dan lutut ini ngilu juga. Belum lagi saat mendaki ke Pawitra ini kita harus waspada kalau-kalau ada batu yang tergelincir dari atas, ini sangat membahayakan pendaki yang di bawah.

Yang menjadi pengobat lelah saat mau summit ke puncak adalah pemandangan ke bawah yang tampak indah, kami berfoto di padang rumput, dan di panorama pegunungan yang cukup mengasyikkan. Setelah menempuh perjalanan penuh keringat, kami pun sampai puncak. Alhamdulillah.

Di atas puncak Pawitra sudah ada ribuan pendaki yang memadati lokasi tersebut. Bentangan Sang Saka Merah Putih sepanjang 1000 meter melingkari perbukitan di puncak Pawitra. Ribuan orang menyanyikan lagu yang cukup syahdu, Tanah Airku. Lautan manusia menjadi saksi perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79. Luar biasa.

Kami berempat setelah cukup berada di atas puncak harus segera turun, sebelum matahari benar-benar menyengat. Tak seperti saat naik, perjalanan turun hanya sekitar tiga jam, pukul 12.00 WIB kami telah sampai di basecamp kembali. Setelah itu kami beristirahat untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Bangilan. Badan capek, namun hati menyimpan rasa puas setelah kami dapat kesempatan merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia di puncak Penanggungan. Alhamdulillah.