Senin, 25 Januari 2021

Hasil Tes Swab

Hasil Tes Swab
Oleh: Joyo Juwoto

Waktu menunjuk pada angka 13.45, Saya segera menuju laboratorium untuk mengambil hasil swab bapak. Dari klinik dokter Haryo jaraknya tidak terlalu jauh, perkiraan tidak sampai menghabiskan sebatang rokok sudah sampai di lokasi.

Di kecamatan Bangilan di mana Saya tinggal, memang belum ada klinik yang melayani swab antigen. Di kecamatan sebelah ada, yaitu di klinik dr. Intan Jatirogo. Bapak harus swab di laboratorium Fortuna  atas rekom dokter yang akan mengoperasi beliau.

Saya nama jalan di Bojonegoro tidak hafal. Bahkan cenderung bingung. Padahal empat tahun Saya kuliah di Bojonegoro. Untung saja kelemahan Saya ini ditutupi oleh teknologi masa kini yang bernama google maps. 

Untung lagi letak laboratorium Fortuna berada di jalan yang dekat dulu Saya kuliah. Jika Saya kuliah di Jl. Ade Irma Suryani, sedang Fortuna berada di jalan utama  P. Sudirman No. 137. Kampus Saya dari jl. P. Sudirman sebelum Fortuna belok ke kiri. Tepat di sebelah kiri jalan ada toko bukunya. 

Dulu saat Saya kuliah seingat Saya tempat itu belum ada toko bukunya. Entah sejak kapan toko buku itu buka. Tapi sebelum kampus di mana Saya kuliah ada entah perpustakaan entah toko buku second, yang mempunyai koleksi bacaan cukup banyak. Saya pernah mampir dan tanya-tanya saja. Sekarang rumah itu sudah tidak ada. Berganti dengan rumah baru.

Nasib perbukuan kita memang kayaknya masih lesu dan berlanjut sepi. Entah kapan toko buku bisa seramai kedai kopi, atau kita perlu berinovasi toko buku menyamar sebagai kedai kopi. Biar ramai. 

Saya sendiri pernah bermimpi membuka toko buku yang dikreasikan dengan kedai kopi. Sampai saat ini Saya masih tidur, dan menikmati mimpi itu. Mau bangun eman. Mimpi itu terlalu indah.

Ah Saya melamun. Sambil nyetir lagi. Lamunan Saya ternyata lebih jauh dari jarak ke Laboratorium. Tak terasa Saya sudah sampai di depan Fortuna. Saya disambut bapak yang bertugas parkir dengan ramah. Diarahkan roda kendaraan Saya yang agak melenceng ke luar jalan raya. 

Saya lalu masuk ke bagian pendaftaran saat awal tadi Saya mengantar swab bapak.  Hasilnya sudah disiapkan di selembar amplop tertutup. Saya membukanya dengan perasaan agak berdebar. Lalu Saya membaca hasil tes swabnya, "Negatif" Alhamdulillah. (Joyo Juwoto) 

Bojonegoro, 25 Januari 2021

Menunggu Matahari Terbit dari Kelopak Mata Bapak

Menunggu Matahari Terbit dari Kelopak Mata Bapak
Oleh: Joyo Juwoto

Dokter Haryo menjadwalkan operasi katarak bapak Jam 15.00 WIB sore ini. Kami serombongan berangkat dari rumah jam 11.00 WIB. Jarak rumah menuju Bojonegoro ditempuh sekitar satu jam. 

Saya diberi jadwal datang Jam 12.00 WIB untuk tes swab antigen di laboratorium Fortuna. Karena mengikuti jadwal yang diberikan dokter, jam 12.05 Saya telah sampai di laboratorium. Sekitar 10 menitan pengambilan swab di hidung bapak selesai. 

Selanjutnya Saya meluncur ke kliniknya dokter Haryo. Karena hasil swab baru bisa diambil satu jam lagi. Kami yang mengantar bapak harus menunggu satu jam untuk pengambilan hasil swab, dan menunggu dua jam untuk operasi. Itu pun kalau jam 15.00 tepat dokternya sudah  ada.

Oke gak papa, dibawa santai dan enjoy saja, lebih baik menunggu dua jam daripada telat sepuluh jam. Tentu Kliniknya dokter Haryo pasti sudah tutup.

Daripada jenuh, saat menunggu ini Saya gunakan untuk menulis. Membuang unek-unek dalam pikiran. Juga menjaga hati dari rasa was-was. Bagaimanapun juga mendengar kata operasi itu membuat kepala Saya agak pening juga. 

Bukan kali ini saja Saya harus menghadapi kata yang namanya operasi. Kedua anak Saya Nafa dan Ninda juga terlahir secara sesar. Namun tetap saja kata operasi mengganggu ketenangan Saya.

Dari rumah saja Saya tadi sudah mondar-mandir. Resah. Saya rasa ini perasaan yang wajar ketika seseorang mau menghadapi sesuatu yang mendebarkan. Ya sudah untuk mengatasi perasaan yang tidak karuan ini obatnya ya pasrah saja. Tawakkal kepada Allah Swt.

Dari rumah tadi bapak puasa. Bukan puasa syariat tapi puasa mau operasi. Saya Senin kemarin saat periksa sebenarnya tidak mendengar dokter Haryo mensyaratkan puasa sebelum operasi, tapi puasa pun tak mengapa.

Menit demi menit terus berlalu, perputaran jarum jam terasa bertalu lebih keras, sebagaimana bunyi jantung Saya yang yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Kami masih setia menunggu sampai matahari terbit dari kedua kelopak mata bapak. (Joyo Juwoto) 

Bojonegoro, 25 Januari 2021

Sabtu, 23 Januari 2021

Mengantar Bapak Berobat Mata

Mengantar Bapak Berobat Mata
Oleh: Joyo Juwoto

Bapak sakit. Matanya berkabut, dua-duanya. Untuk melihat samar-samar, masih bisa berjalan tanpa dituntun. Praktis beliau tidak bisa berladang dan bersawah seperti biasanya. Walau beliau masih saja pergi ke ladang, hanya untuk tidur di tempat kesukaannya. Di gubug di tegalan.

Tentang aktivitas bapak Saya bersawah dan berladang, Saya pernah menuangkannya dalam sebuah esai yang berjudul "Bapakku Seorang Marhean" Pada akhirnya tulisan ini Saya gubah menjadi sebuah cerpen. Entahlah, esai rasa cerpen atau cerpen yang amburadul. 

Hampir satu tahun beliau sakit Mata. Sudah berobat tapi belum juga sembuh. Diperiksakan di dokter spesialis Mata oleh adik Saya, dokter menyuruh untuk operasi Mata. Bapak menderita katarak, tapi beliau tidak mau operasi. 

Makin lama mata bapak makin parah. Makin gelap, tapi masih bisa melihat samar-samar dengan bantuan sinar sentolop. Tapi gerak beliau semakin terbatas, tidak bisa lagi pergi ke gubug tempat teristimewanya. 

Bapak nyerah. Beliau mau dioperasi asal dengan duwitnya sendiri. Tidak mau merepotkan anak-anaknya. Ada sapi tiga ekor di rumah, itu yang akan digunakan biaya operasi. Karena tabungannya orang desa ya itu binatang ternak. Orang desa menyebutnya rajakaya. 

Dijuallah dua ekor sapi itu. Si babon dengan anaknya yang belum lepas menyusu. Usianya sekitar 4 bulanan. Nasib baik, hasil penjualan sapi itu harganya cukup tinggi 17 juta rupiah.

Uang sapi yang dipelihara bapak bertahun-tahun yang akan dipakai untuk biaya operasi. Saya pun berunding dengan adik untuk memberangkatkan bapak periksa sebelum di lakukan tindakan operasi mata.

Sebenarnya bapak punya BPJS kelas tiga dari pemerintah desa, tapi beliau tidak mau memakainya. Saya juga punya BPJS dari lembaga sekolah, bapak bisa Saya cover di sana. Lagi-lagi beliau juga tidak mau. Mindset bapak Saya masih khas orang desa jaman dahulu, jika berobat memakai BPJS jangan-jangan obatnya tidak manjur. Hanya mendapatkan obat yang ala kadarnya saja, dan tidak mendapatkan pelayanan yang manusiawi. 

Entah mindset ini sesuai dengan faktanya atau tidak, tapi begitu yang Saya dengar dari bapak. Entah benar entah tidak.

Senin tanggal 18 Januari 2020 Saya antar bapak bersama adik dan istrinya ke Bojonegoro. Ke dokter spesialis Mata yang terkenal, dr. Haryo. Beliau dokter spesialis Mata melanjutkan profesi ayahnya yang juga seorang dokter spesialis mata.

Setelah mendaftar kami mengantri cukup lama. Saat mengantri itulah Saya kemarin menulis tentang "NU dan dakwah Tahlilan dalam Meneguhkan Komitmen Kebangsaan" Tulisan yang sebenarnya lebih mengupas tentang diri Saya sendiri. 

Ya, daripada boring menunggu antrian yang cukup panjang akhirnya bisa menyelesaikan tulisan tersebut.

Mendekati jam 20.00 WIB bapak diperiksa oleh mungkin dr. Haryo. Karena Saya tidak kepikiran menanyakan siapa yang memeriksa bapak. Berbekal informasi dulu sudah pernah periksa, dokter tetep menyuruh untuk operasi. 

Mata kanan dulu yang akan dioperasi. Dokter memberikan obat tetes untuk dipakai tiga hari sebelum pelaksanaan operasi. Ada dua macam obat tetes Mata yang diberikan, wadahnya warna merah jambon dan biru langit. Masing-masing dari obat itu harus diteteskan sehari enam kali. Sesuai jadwal waktu shalat, dan sekali menjelang tidur. 

Tanggal 25 Januari 2021 senin depan bapak akan dioperasi oleh dokter yang terkenal itu. Ya, tetangga Saya banyak yang berobat dan operasi ke sana. Alhamdulillah  sembuh.

Saya berharap dan berdoa kepada Allah Swt. semoga operasi Mata yang akan dijalani bapak Saya berjalan lancar dan nantinya berbuah kesembuhan. 

Saya juga meminta dengan sangat, kerelaan dari para pembaca tulisan Saya ini, ikut mendoakan kesembuhan bapak Saya. Saya dan keluarga tidak bisa membalas apa-apa. Hanya Tuhan yang membalas kebaikan dan ketulusan doa para pembaca. Aamin. (Joyo Juwoto) 

Bangilan, 23 Januari 2021