Rabu, 01 Mei 2024

Kumbang dan Kunang-kunang

Kumbang dan Kunang-kunang
Oleh: Joyo Juwoto

Di tengah padang rumput yang luas dan hijau, terdapat dua serangkai makhluk kecil yang tinggal di sana. Mereka adalah Kumbang, yang sombong dan percaya diri, serta Kunang-kunang, yang baik hati dan ramah.

Kumbang selalu merasa bahwa dia adalah yang terbaik dalam terbang. Dia sering memamerkan kemampuannya di depan teman-temannya. Dia merasa bahwa tak ada yang bisa menandingi kecepatan dan ketangkasan terbangnya. Namun, Kunang-kunang adalah seorang yang rendah hati. Dia tidak suka berlomba-lomba dan lebih suka menikmati keindahan malam dengan cahaya yang dipancarkannya.

Suatu hari, mereka mendengar kabar tentang sebuah lomba adu cepat terbang yang akan diadakan di Pulau Putri, sebuah pulau yang terletak di tengah danau yang indah. Pulau tersebut menjadi tujuan para serangga untuk menunjukkan kemampuan terbang mereka. Kumbang tidak bisa menahan diri untuk tidak berpartisipasi dalam lomba itu. Dia yakin dia akan menjadi pemenang.

Kunang-kunang, di sisi lain, ragu untuk bergabung. Dia tidak terlalu tertarik dengan persaingan dan lebih ingin menikmati perjalanan mereka ke pulau tersebut. Namun, Kumbang meyakinkannya bahwa lomba tersebut adalah kesempatan untuk membuktikan siapa yang lebih baik di antara mereka.

Pada hari perlombaan, Kumbang dan Kunang-kunang memulai perjalanan mereka menuju Pulau Putri. Mereka harus menyeberangi danau yang indah dengan perahu kecil. Selama perjalanan, Kunang-kunang menyaksikan keindahan alam sekitar dan terpesona dengan cahaya yang dipancarkan dari tubuhnya yang membuat malam semakin indah.

Sampai di Pulau Putri, lomba segera dimulai. Para serangga lain berkumpul dengan antusiasme dan semangat. Kumbang dengan bangganya memamerkan kecepatan terbangnya, sedangkan Kunang-kunang lebih memilih memancarkan cahaya terang dari tubuhnya, menari-nari indah di sekitar pulau.

Namun, pada pertengahan lomba, terjadi hal tak terduga. Langit tiba-tiba menjadi gelap karena awan mendung yang menutupi bulan. Cahaya yang dipancarkan oleh Kunang-kunang menjadi sangat berarti dalam situasi ini. Semua serangga panik dan bingung. Mereka kesulitan melihat dan kehilangan arah.

Kumbang yang sombong tidak bisa menemukan jalan pulang karena dia bergantung pada kecepatan dan penglihatan tajamnya. Dia merasa putus asa dan kecewa dengan dirinya sendiri. Sementara itu, Kunang-kunang dengan lembut memancarkan cahaya terangnya, memberikan petunjuk kepada semua serangga untuk kembali ke tempat yang aman.

Kunang-kunang menjadi pahlawan dalam situasi itu. Dia menunjukkan bahwa kebaikan hati dan kerendahan hati lebih berharga daripada kecepatan.

Setelah kejadian itu, Kumbang menyadari betapa pentingnya cahaya yang dipancarkan oleh Kunang-kunang. Dia merasa malu dengan sikap sombongnya sebelumnya dan belajar untuk lebih menghargai dan menghormati teman-temannya.

Kumbang dan Kunang-kunang akhirnya kembali ke padang rumput dengan perasaan saling menghormati dan persahabatan yang lebih kuat. Mereka tidak lagi bersaing satu sama lain, tetapi bekerja sama untuk menjaga keharmonisan di lingkungan mereka.

Setelah kejadian di Pulau Putri, Kumbang dan Kunang-kunang sering kali berkumpul bersama dan berbagi cerita tentang pengalaman mereka. Mereka belajar banyak satu sama lain tentang kelebihan masing-masing dan bagaimana kerja tim dapat mencapai tujuan bersama.

Selanjutnya, Kumbang dan Kunang-kunang menjadi duta kelestarian alam di desa Klampis Ireng. Mereka membantu masyarakat setempat untuk menjaga keindahan dan keberlanjutan lingkungan sekitar, termasuk menjaga kelestarian hutan dan mempromosikan kegiatan yang ramah lingkungan.

Cerita tentang persahabatan Kumbang dan Kunang-kunang yang bertransformasi menjadi kebersamaan dan kerjasama menjadi inspirasi bagi anak-anak di desa. Mereka belajar pentingnya sikap rendah hati, menghargai keunikan setiap individu, dan menjaga alam sebagai warisan yang berharga.

Dengan cerita ini, anak-anak diajarkan nilai-nilai persahabatan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap alam. Mereka belajar bahwa tidak selalu harus menjadi yang terbaik atau bersaing satu sama lain, tetapi bisa saling mendukung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Sabtu, 27 Januari 2024

Lawu yang Membisu

Lawu yang Membisu
Oleh: Joyo Juwoto 

Dingin dan sepi di ufuk pagi
Saat kabut bergelayut 
Di pinggang Lawu yang membisu

Berselimut sunyi
Bermandikan embun-embun pagi
Menyibak pada cahaya mentari 

Sepoi-sepoi angin beraroma bunga hutan
Membelai wajahku yang berpeluh riuh

Pohon-pohon pinus
Tegak berdiri lurus
Seperti keadilan yang semestinya ditegakkan

Aroma kawah menyengat
Seperti keculasan 
Yang benderang dipertontonkan 

Rumput-rumput, ilalang, dan juga bunga keabadian
Merunduk penuh etik tertiup angin 

Aku daki ketinggian puncakmu
Aku jelajahi ngarai dan lembahmu

Aku cari rona keindahanmu pada tugu batu di 3.265 mdpl

Aku cari ketegaranmu pada puncakmu yang dingin membisu

Lawu aku datang memelukmu
Dalam rindu yang mengharu biru


*Bangilan, 27/01/2024*

Kamis, 25 Januari 2024

Meriahkan Peringatan HAB ke-78, Kemenag Tuban Gelar Bimtek dan Lomba Menulis Berita

Meriahkan Peringatan HAB ke-78, Kemenag Tuban Gelar Bimtek dan Lomba Menulis Berita

Tuban-Dalam rangka Hari Amal Bakti yang ke-78, Kementerian Agama (Kemenag) Tuban, menyelenggarakan lomba menulis berita, yang digelar di Aula PLHUT Kemenag setempat, pada Selasa (16/1/2024).
Acara dibuka oleh Plt Kepala Kemenag Tuban, Moh. Qosim. Ketika dihubungi penulis via WhatsApp, beliau berharap kepada seluruh peserta lomba agar bisa mencerna ilmu kepenulisan ini dengan baik, dan mengimplementasikan ilmu yang didapat dari narasumber dalam penulisan berita di masing-masing satkernya.
“Harapannya seluruh peserta bisa mencerna ilmu dan menerapkan dalam tugas kedinasan. Sehingga semua kegiatan yang ada di KUA, Madrasah, ataupun KKM, bisa diberitakan secara masif,” ujar Pria penyuka sajak-sajak Pendekar Syair Berdarah ini.
Lomba penulisan berita ini diawali dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) menulis dan jurnalistik dari PWI Tuban, Radar Tuban, dan Harian Bhirawa, yang sekaligus menjadi juri dalam lomba tersebut.
Ketua PWI Tuban, Suwandi, salah satu narasumber berharap setelah mengikuti kegiatan, diharapkan peserta dapat menerapkan hasil bimtek dalam lingkungan kerja masing-masing, khususnya dalam mempublikasikan kegiatan positif untuk mengenalkan lembaga masing-masing peserta, sehingga, lembaganya dikenal oleh masyarakat luas.
“Harapan kami, sebagai Ketua PWI Kabupaten Tuban, sebaiknya setelah mengikuti kegiatan tadi para peserta dapat mengaplikasikan dan mempraktikkan di lingkungan kerja atau satker masing-masing. Namun yang paling penting ialah mempublikasikan setiap kegiatan-kegiatan positif di masing-masing satker. Sehingga dengan cara itu satker yang aktif mempublikasikan kegiatan dapat dikenal masyarakat,” pesan pria kelahiran Bancar itu.
Lomba yang digelar oleh bagian Humas Kemenag Tuban ini, diikuti oleh 60 peserta yang terdiri dari 20 orang perwakilan KUA, 7 orang Satker, 6 orang Kantor Induk, 19 orang dari KKMI, 4 orang dari KKM MTs, 2 orang dari KKM MA, dan IGRA/KKRA diwakili oleh 2 orang peserta.
“Total ada 60 peserta, terdiri dari seksi, seluruh KUA, satker, dan perwakilan KKMI tiap kecamatan,” ujar Laidia Maryati pranata Humas Kemenag.
Lebih lanjut kata Bu Ida, sapaan akrab beliau, lomba ini digagas untuk meningkatkan kompetensi peserta dalam bidang kepenulisan dan jurnalistik. Untuk memberikan semangat kepada para peserta, akan diambil 3 peserta terbaik, sebagai juara 1, juara 2, dan juara 3 yang akan mendapatkan hadiah dan penghargaan dari Kemenag Tuban. (Jwt)