Jumat, 24 April 2026


 Relawan Sensus  

Oleh: Joyo Juwoto  


Siang itu udara terasa gerah, matahari membakar bumi hingga titik yang membuat kepala seperti disengat tawon endas, langit seakan sedang meluapkan api amarahnya, halaman sekolah tempat Pak Eko mengajar seperti hamparan sahara, pohon-pohon di tepi jalan menunduk lesu, angin pun diam tak berani berdesir.

Pak Eko baru saja mengakhiri pelajarannya di kelas, tangannya masih kotor oleh debu kapur tulis, ia tampak tergesa memberesi tasnya, memasukkan buku dan peralatan mengajarnya. Sambil mengusap keringat di dahinya, beliau berkata kepada murid-muridnya. 

"Anak-anak, hari ini kita telah menyelesaikan akhir bab dari pelajaran IPAS, besok pagi akan ada ulangan akhir semester, Bapak berharap kalian belajar dengan sungguh-sungguh, sehingga kalian bisa mengerjakan soal dengan baik," pesan Pak Eko kepada murid-muridnya.

"Jangan lupa pesan Bapak, jadilah anak-anak yang membanggakan orang tua kalian, belajar dengan sungguh-sungguh agar kelak kalian menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa kita tercinta."

"Tentu, Pak, kita pasti belajar sungguh-sungguh kok," jawab Andre sambil menenteng tasnya, ia bersalaman dengan guru yang sangat dihormatinya itu, yang kemudian diikuti oleh teman-temannya, mereka bersalaman dengan Pak Eko, sebelum keluar dari kelas. 

Suara anak-anak masih terdengar riuh saat bel tanda kepulangan berbunyi nyaring, di kelas lain anak-anak juga sudah berhamburan untuk pulang. Seakan-akan panasnya matahari siang itu tidak berpengaruh pada mereka.

Tak berselang lama suasana lingkungan sekolah menjadi lengang, jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, setelah seharian bergelut dengan rutinitas mengajar biasanya Pak Eko langsung pulang ke rumah untuk beristirahat atau mengerjakan pekerjaan rumah. Namun kali ini beda, sudah satu minggu ini setelah selesai mengajar Pak Eko tidak langsung pulang, ada tugas menanti yang harus ia selesaikan, menyensus warga masyarakat.

Ini bermula saat ada edaran dari Dinas Pendidikan Kabupaten, bahwa guru ASN dan guru PPPK mendapatkan tugas tambahan, yaitu menjadi relawan sensus ekonomi rakyat, guna membantu pemerintah daerah dalam memetakan tingkat kemiskinan warganya. Walau itu bukan tugas utama seorang guru, tapi mereka tak kuasa menolak ajakan menjadi relawan sensus, apalagi akan ada sanksi bagi guru yang menolak program tersebut. Karena program relawan sensus ini masuk menjadi salah satu penilaian kinerja guru.

Kata relawan itu seperti hal yang cukup heroik dan membanggakan, indah sebagai sebuah narasi namun pahit dalam kenyataan. Walau memakai istilah relawan, tak semua orang melakukannya dengan senang hati dan sukarela, kebanyakan mereka terpaksa melakukan hal ini, karena memang di luar tupoksi sebagai seorang guru. Mau protes pun tak ada guna, kecuali mematuhi program tersebut. Guru-guru hanya bisa menolak dalam diam, karena bersuara menjadi ancaman bagi masa depan karier mereka sendiri. 

"Relawan, tapi gak boleh nolak, relawan tapi jika tidak melakukan di sanksi, relawan macam apa ini?" Kata Pak Eko menggerutu dalam hati. 

Siang yang masih panas, udara yang masih gerah, badan yang belum sepenuhnya rehat, namun mau tidak mau Pak Eko segera bergegas ke parkiran sekolah. Dengan motor bututnya ia segera meluncur ke ujung kampung tempat tugasnya menyensus masyarakat. Jalanan di kampung tak sepenuhnya bisa dijangkau dengan motor, kadang Pak Eko harus memarkir motornya, kemudian berjalan kaki untuk menuju rumah-rumah penduduk.

Nama kepala keluarga Mbah Karto, usia 75 tahun, pekerjaan menjual sapu lidi, penghasilan tidak tentu, hidup sebatang kara, rumah berlantai tanah, tidak punya kamar mandi, tidak punya perabotan di ruang tamu, hanya satu meja kayu dan balai dari bambu, tidak punya kendaraan, ke mana-mana selalu jalan kaki.

"Mbah, listriknya ini punya sendiri ya? Meterannya mana?" tanya Pak Eko. 

"Mboten gadah listrik, Gus, niku nyalur saking griyane Pak RT," jawab Mbah Karto sambil terkekeh.

Pak Eko mengentri data langsung di hape-nya, orang seperti Mbah Karto ini tentu berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun kadang hal ini luput dari perhatian.

"Mbah, njenengan ngudud mboten?" tanya Pak Eko sambil menyodorkan sebungkus rokok kepada Mbah Karto.

Mbah Karto mengambil sebatang rokok, kemudian beliau menyulutnya. Asapnya mengepul ke langit-langit rumah. Mbah Karto banyak bercerita tentang dulu saat ia masih muda, saat di mana ia banyak menghabiskan waktunya berkelana dari satu kota ke kota lainnya.

Dengan telaten Pak Eko mendengarkan cerita itu, ia tak tega memotong cerita Mbah Karto, mungkin karena kehidupannya sebatang kara, sehingga ada orang yang mau mendengarkan ceritanya, ia merasa bahagia.

Setelah dari rumah Mbah Karto, Pak Eko melanjutkan sensusnya. Ia masuk ke rumah di sebelah rumahnya Mbah Karto. Tak jauh beda dengan rumah Mbah Karto, rumah itu juga sangat sederhana dan tanpa banyak perabotan di dalamnya. Satu-satunya barang yang menarik adalah ada sebuah motor terparkir di halaman depan. Di rumah itu Pak Marno tinggal, usianya lebih muda dari Mbah Karto, mungkin sekitar 50-an tahun. Pak Marno adalah seorang penjual pentol keliling. 

"Enggih, niki aset kulo, Pak Guru." Pak Eko menyodorkan lembar STNK.

"Lha BPKB-ne pundi, Pak?" tanya Pak Eko.

"BPKB-ne kulo sekolahke, Pak, kersane pinter," jawab Pak Marno sambil tertawa.

"Bapak ini bisa saja," timpal Pak Eko membalas candaan Pak Marno. 

"Pak Marno gadah WC? Njenengan gadah sumur?  

Nek njenengan masak pakai LPG warna nopo?  

Gadah sapi, kambing?  

Gadah simpanan emas, mboten?" Dan seabrek pertanyaan lainnya ditanyakan Pak Eko kepada lelaki paruh baya itu.

"Mboten gadah sapi, Pak. Niku teng kandang sapine Pak Lurah, kulo namung bagian ngopeni," jawab Pak Marno menanggapi pertanyaan Pak Eko.

Setelah bertanya sesuai form yang ia bawa, Pak Eko melanjutkan langkahnya ke rumah penduduk yang harus ia sensus. Semakin sore udara mulai sejuk, tetapi keringat Pak Eko bercucuran, ia merasa sangat capek dan pusing. Maklum sudah sepekan ini setelah aktivitas mengajar, Pak Eko langsung melanjutkan kegiatan sensusnya.

Pak Eko tak menghiraukan kondisinya yang mulai capek. Wajahnya pucat. Ia terus melangkah dari satu rumah ke rumah warga. Menjelang magrib ia sampai di rumah terakhir yang harus ia sensus. Mata Pak Eko berkunang-kunang. Kepalanya terasa pening, hampir saja ia terjatuh, tapi ia menguatkan kakinya untuk terus melangkah.

Walau tubuhnya semakin melemah, tapi semangat Pak Eko untuk menyelesaikan tugasnya tak padam begitu saja. Semangatnya memang luar biasa. Tugas yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya itu harus kelar hari itu juga. Terbayang di kepalanya, jika tugasnya tidak beres, maka sanksi dari atasan tak pelak akan diterimanya. 

"Assalamualaikum, tok... tok... tok, Assalamualaikum..." Pak Eko mengetuk pintu, suaranya gemetar, ia berpegangan pada daun pintu di rumah itu.

Setelah pintu terbuka, Pak Eko minta izin masuk ke rumah Yu Sulastri, seorang janda penjual gorengan. "Mohon maaf, Bu, saya duduk dulu ya," ucap Pak Eko pelan, napasnya berat, wajahnya semakin memucat.

"Silakan, Pak, Pak Guru kelihatan pucat sekali, Pak Guru sakit ya? Istirahat dulu, Pak," kata si tuan rumah sambil mempersilakan Pak Eko.

"Ini, Pak, teh hangat, minum dulu biar enakan badannya. Kelihatannya Bapak capek." Bu Sulastri menyodorkan segelas teh hangat.

Tangan Pak Eko gemetar saat menerima segelas teh dari Bu Sulastri. Teh itu masih terasa hangat, uapnya kelihatan mengebul menerpa wajahnya. "Matur nuwun, Bu..." kata Pak Eko sambil mulai menyeruput segelas teh itu. Sebelum bibirnya menyentuh gelas, tiba-tiba prakk... Gelas itu terjatuh dari genggaman Pak Eko. Teh hangat tumpah bersamaan dengan tubuh Pak Eko terjatuh di lantai. 

"Lho Pak, njenengan kenapa?" teriak Bu Sulastri sambil berusaha menahan tubuh Pak Eko yang lunglai di lantai. "Tolong... Tolong..." teriak Bu Sulastri meminta pertolongan kepada tetangga sekitar.

Tetangga sekitar sama berdatangan, mereka mengerubungi tubuh Pak Eko yang tak bergerak di lantai. "Minggir-minggir jangan berkerumun, beri ruang agar beliau bisa menghirup udara," ucap salah satu warga sambil mengipasi Pak Eko dengan selembar kardus. 

"Panggilkan ambulan desa, atau pinjam mobilnya Pak RT agar segera kita bawa ke puskesmas," lanjut salah seorang dari mereka. Tubuh Pak Eko tak bergerak ketika ia dipapah dinaikkan ke mobil pikap milik Pak RT. Senja yang mulai gelap sunyi, orang-orang sama kembali ke rumah, Pak Eko dibawa ke puskesmas dalam kondisi tak sadarkan diri.

Di ruang UGD dengan tembok bercat putih pucat, suasananya sepi, hanya ada seorang dokter jaga dan dibantu seorang perawat sedang memasang selang infus dan juga selang oksigen ke tubuh Pak Eko. Orang-orang yang mengantar Pak Eko menunggu di luar, mereka komat-kamit membaca doa demi kesembuhan dan keselamatan Pak Guru itu.

Di sebuah tas yang masih tergeletak di bangku rumah Bu Sulastri, bunyi dering dan getar hape berkali-kali terdengar, namun tak ada yang membukanya. Ada pesan yang terkirim dari sebuah nama "Istriku Tersayang". Sebuah pesan yang tak sempat terbaca oleh pemiliknya yang kini diam terbaring di ranjang UGD. "Yah, jangan lupa makan ya, pulangnya hati-hati di jalan." 

Sementara itu, sang pemilik hape, napas dan detak jantungnya sedang dipantau oleh layar monitor. Garis-garis di layar monitor yang naik turun tak beraturan itu akhirnya diam tak bergerak sama sekali, bersamaan dengan napas terakhir sang guru yang juga sedang berjuang untuk bangsanya, menjadi seorang relawan sensus. 

Langit telah memanggil namanya untuk pulang, sebelum ia sempat membalas pesan di hape-nya, sebelum ia sempat menjawab panggilan cinta dari sang istri, dan sebelum ia sempat berpamitan kepada murid-muridnya yang esok telah menunggu di ruang kelas tempat ia mengajar.

Esok paginya bangku Pak Eko kosong, debu kapur kemarin masih tersisa di mejanya, hanya gema suaranya yang mengabadi di hati sanubari anak didiknya.  


Bangilan, 22 April 2026

Minggu, 12 April 2026


 Api yang Hampir Padam

Oleh: Joyo Juwoto


Denting jam menandai terbitnya sang fajar, mega merah merona di ufuk timur, udara masih dingin, suara kokok ayam berpadu dengan lenguhan sapi bersautan dari kandang rumah tetangga. Bu Sulastri baru saja terbangun, matanya masih sayu menandakan kantuknya belum sepenuhnya hilang. Pada malam hari, Bu Sulastri berjualan kopi hingga larut malam, sebelum matahari merekah ia juga harus sudah bangun tidur, bahkan sebelum lelahnya terbayar lunas.

Di sebuah meja kecil, irisan tempe, adonan tepung, irisan wortel, daun kol telah siap menunggu untuk digoreng dijual bersama nasi pecel guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Semenjak Bu Sulastri ditinggal pergi suaminya yang entah ke mana, ia harus berjuang menegakkan tulang punggungnya guna menyangga dapur agar terus bisa mengepul.

Bu Sulastri melangkah menuju dapur, di pojokan di bawah meja ia sorongkan tangannya, ia mengambil tabung LPG berwarna hijau muda, ia goyang pelan, tabung yang bertuliskan hanya untuk masyarakat miskin itu terasa ringan. Saat kompor di atas meja ia nyalakan, api itu redup, dan sebentar kemudian padam. Hati Bu Sulastri sendu. Tabung itu telah kosong.

"Ah, kenapa LPG-nya cepat habis?" gumamnya pelan.

Bu Sulastri masih berusaha meyakinkan dirinya, ia guncang kabupaten tabung itu, ia tata kembali regulatornya, siapa tahu kendor. Kemudian ia coba menyalakan kompor itu kembali, namun usahanya sia-sia, kompor itu tetap tidak bereaksi apa-apa.

"Perasaan baru beli, mengapa sudah habis ya?" keluh Bu Sulastri.

Bu Sulastri menghela napas dalam, ia segera meraih tabung itu kemudian bergegas menuju warung kelontongnya Pak Bakri yang berjarak beberapa depa dari rumahnya. Namun warung Pak Bakri masih tutup, tidak seperti biasanya. Bu Sulastri mengetuk pintu warung sambil mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum, Pak, kenapa warungnya masih tutup? Pak Bakri, saya mau beli LPG!" teriak Bu Sulastri agak gugup.

"Walaikum salam, Bu. Iya, Bu, sebentar saya buka dulu pintunya," kata seorang lelaki paruh baya dari dalam.

"Ini mau beli LPG, sekarang LPG kok cepat habis ya, Pak, tidak seperti biasanya. Baru juga saya beli, eeh... ini sudah habis lagi."

"Wah! Maaf ya, Bu. Persediaan kosong. Ini ada satu juga untuk keperluan masak sendiri. Belum dikirim, ndak tahu kenapa," jawab Pak Bakri.

Hati Bu Sulastri gundah, ia harus segera menyiapkan jualannya, namun nasib malang tak dapat ditolak, stok LPG di pangkalan habis. Ia tak tahu harus mencari ke mana, hari pun mulai beranjak siang.

"Lho, kok habis, lha saya masak pakai apa nanti? Tak mungkin pakai kayu, apalagi mendadak begini," keluh Bu Sulastri pilu.

Pak Bakri pun hanya diam. Dia pun tak bisa apa-apa, jika distributor tidak mengirim dipastikan jualannya juga berhenti. Bu Sulastri kemudian bergegas kembali pulang, hari ini sepertinya ia tidak akan jualan, jika tidak jualan dipastikan tidak ada uang masuk, dan itu artinya ia dan keluarganya harus menahan perihnya perut karena menahan rasa lapar.

Bu Sulastri duduk terdiam di sudut dapur, tak ada bunyi minyak mendidih, tak ada suara piring yang berdenting, tak ada aroma gorengan yang menggoda lidah, sunyi. Bu Sulastri memandangi irisan tempe yang masih mentah, adonan tepung yang tergeletak di wadah, dan juga bumbu-bumbu dapur lainnya yang berserakan di atas meja lusuh.

"Bu, apakah sarapannya sudah matang?" seru salah satu anaknya sambil mengucek mata keluar dari kamar.

"Ibu belum masak, Nak. LPG habis. Kita sarapan nasi sisa tadi malam ya," jawab Bu Sulastri sambil memeluk anaknya yang paling bungsu.

Hari pertama tidak buka warung menjadi hal terberat bagi Bu Sulastri, karena warung adalah satu-satunya harapannya untuk menafkahi anak-anaknya. Hari ini harapannya pudar bagai embun diterpa sinar matahari pagi, belum lagi kerugian yang harus ditanggung karena tempe-tempe yang tidak jadi dijual, apalagi ia tidak punya kulkas untuk mengawetkan tempe-tempe itu. Kalaupun bisa diawetkan rasanya tentu sudah beda, tidak seenak tempe segar.

Bu Sulastri berharap kelangkaan LPG hanya di hari itu saja, namun dugaannya salah. Sore harinya tidak ada truk distributor LPG yang parkir di depan Warung Pak Bakri. Bu Sulastri hafal jadwal kedatangan truk itu, pada jam lima sore menjelang magrib biasanya deru truk itu melewati depan rumahnya.

Biasanya jika truk itu datang, ibu-ibu akan berbondong-bondong untuk membeli LPG. Sore itu suasananya lenggang, tidak ada deru suara truk, tidak ada ibu-ibu yang ngobrol kesana kemari di depan warung Pak Bakri.

"Bu, Ibu, LPG sedang langka, ini di medsos banyak yang upload kabar bahwa LPG langka!" teriak Rani putri sulungnya yang sudah di tingkat SLTA.

"Bahkan ini harganya juga melonjak tinggi, Bu. Ada yang beli dengan harga tiga puluh lima ribu," lanjut Rani heboh.

"Apa betul itu, Nak?" tanya Bu Sulastri pada Rani.

"Ya Allah, kok sampai segitu harganya? Bisa-bisa kita tidak bisa jualan selamanya ini."

Pada esok hari, tersiar kabar dari mulut ke mulut bahwa LPG sedang langka, harganya pun gila-gilaan. HET yang ditetapkan pemerintah delapan belas ribu rupiah, tapi faktanya di pangkalan ada yang dijual dua kali lipatnya, bahkan lebih. Hal ini tentu membuat masyarakat menjadi heboh.

Sejak pagi orang-orang sudah mengantri di sebuah pangkalan di ujung desa, tersiar kabar hari itu LPG akan datang. Antrian sudah mengular panjang, padahal belum jelas kapan truk pembawa tabung gas itu datang.

"Katanya stoknya sekarang dibatasi, jadi kita harus ngantri awal," kata seorang ibu-ibu.

"Wah... bagaimana kalau nanti habis? Sudah capek-capek ngantri ternyata tidak kebagian," sahut ibu yang lainnya dengan panik.

Setelah matahari meninggi, sebuah truk dengan muatan LPG pun datang. Orang-orang mulai gaduh berdesakan, bahkan ada yang sampai bertengkar karena saling mendahului dalam antrian.

"Tenang-tenang, jangan rebutan antrian, masing-masing hanya dapat jatah satu tabung, tidak boleh lebih, karena stok terbatas," kata pemilik pangkalan sambil menenangkan orang-orang yang mulai tak sabar menunggu antrian. Ia khawatir akan terjadi kericuhan.

Bu Sulastri yang baru datang menatap antrian panjang yang ada di depannya. Dia cemas, apa mungkin ia bisa mendapatkan jatah LPG, sedang yang mengantri sangat banyak. Jika hari ini ia tidak dapat LPG itu berarti warungnya akan kembali tutup. Bu Sulastri hatinya merasa sedih.

Satu jam, dua jam, tiga jam, antrian masih juga belum selesai, matahari semakin panas menyengat. Orang-orang mulai ricuh, karena ternyata jatahnya tidak cukup. Pemilik pangkalan pun meminta agar orang-orang segera bubar, karena stok telah habis. Besok kalau ada bisa datang kembali. Orang-orang yang sudah mengantri lama tentu tidak terima, mereka membuat kegaduhan. Suasana menjadi semakin panas.

Bu Sulastri hanya diam membisu, ia tak dapat jatah setelah mengantri berjam-jam lamanya. Ia pun pulang dengan gontai menenteng tabungnya yang masih kosong. Matanya basah, hatinya perih, ini kali kedua tak akan ada lagi pemasukan di dompetnya.

Sesampainya di rumah, Rani adiknya menyambut dengan penuh harap.

"Dapat LPG, Bu?" tanya Rani penuh semangat.

Bu Sulastri hanya diam sambil menggeleng pelan. Guratan kesedihan tampak di wajahnya yang semakin menua.

Hari itu tidak ada gas LPG kembali, Bu Sulastri harus tetap masak untuk anak-anak, ia akhirnya menata tumpukan bata merah di belakang rumah untuk dibuat pawon. Kemudian ia memanggil Rani sulungnya.

"Nak, ayo mencari ranting kayu untuk memasak, di belakang dekat rumpun bambu kayaknya ada ranting kering," ajak Bu Sulastri.

Hari itu Bu Sulastri memasak dengan tungku dari bata merah, hal yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Asap mengepul memenuhi dapur, matanya yang mulai tua memerah karena asap, perih. Tangan dan rambutnya kotor oleh abu, ia menahan napas sambil sesekali terbatuk pelan.

Kabar tentang kelangkaan LPG menjadi berita yang menghebohkan masyarakat, di mana-mana orang-orang sama membicarakan hal itu, di media sosial pun tak kalah ramainya, banyak yang berspekulasi mengapa LPG kok langka. Ada yang mengaitkan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat saat hari raya Idulfitri, ada yang bilang UMKM yang nakal, pangkalan menimbun stok LPG, bahkan ada yang mengatakan ada oknum-oknum yang bermain curang, mengoplos tabung warna hijau dioplos dengan warna pink, dan spekulasi-spekulasi lainnya. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengan kelangkaan ini.

"Kapan situasi kembali normal ya? Idulfitri sudah selesai namun gas LPG masih langka," ujar seorang ibu saat ngerumpi di depan rumah Bu Sulastri.

"Iya, bagaimana ini, warung ku susah seminggu ini tutup, kalau terus berlanjut kita makan apa? Rejekiku hanya dari warung ini," keluh Bu Sulastri.

"Benar, Bu. Saya juga rugi, nggak bisa bikin kue lagi," sambung ibu lainnya.

Ibu-ibu itu saling pandang dalam diam. Wajah-wajah mereka letih penuh kecemasan.

*

Keesokan paginya, warga satu kampung berkumpul di balai desa. Para ibu membawa tabung kosong sebagai simbol protes. Mereka menyuarakan keresahan tentang LPG yang hilang dari pasaran, harga yang melonjak, dan dugaan adanya penimbunan.

Kepala desa menerima mereka dengan wajah serius.

“Kami sudah lapor ke kecamatan,” katanya. “Katanya distribusi dari pusat sedang bermasalah, tapi kami juga akan cek kalau ada penimbunan.”

Hari itu warga pulang dengan sedikit harapan.

Dua hari kemudian, sebuah truk besar masuk ke desa membawa ratusan tabung LPG. Kabar cepat menyebar seperti angin. Semua orang berlari menuju pangkalan.

Bu Sulastri ikut antre lagi, kali ini sejak sebelum subuh.

Ketika akhirnya tabung hijau itu sampai di tangannya, ia hampir menangis.

Ia memeluk tabung itu erat seperti memeluk harta paling berharga di dunia.

Sesampainya di rumah, ia langsung memasangnya ke kompor. Saat knop diputar dan api biru menyala, matanya berkaca-kaca.

Rani tertawa kecil. “Ibu senang banget lihat api.”

Bu Sulastri tersenyum.

“Kalian nggak ngerti, Nak. Kadang kita baru sadar betapa berharganya sesuatu kalau hampir kehilangannya.”

Hari itu dapurnya kembali hidup. Wajan kembali berdesis. Aroma gorengan memenuhi rumah kecil mereka. Anak-anak membantu membungkus dagangan sementara Bu Sulastri menggoreng dengan semangat baru.

Meski pelanggan sempat berkurang karena beberapa hari tutup, perlahan usaha Bu Sulastri kembali berjalan.

Namun pengalaman itu meninggalkan bekas di hatinya.

Kini setiap melihat nyala api biru dari kompor, Bu Sulastri tak lagi menganggapnya biasa. Api kecil itu bukan sekadar nyala untuk memasak. Ia adalah sumber penghidupan, harapan, dan tanda bahwa keluarganya masih bisa bertahan.

Malam itu, setelah selesai membereskan dapur, Bu Sulastri duduk sendiri menatap kompor yang sudah dimatikan. Ia tersenyum kecil.

Di dunia ini, pikirnya, orang-orang sering sibuk mengejar hal besar hingga lupa menghargai hal kecil yang menopang hidup sehari-hari. Padahal bagi orang-orang sederhana seperti dirinya, satu tabung gas bisa berarti makan hari ini, sekolah anak bulan depan, bahkan keberlangsungan hidup seluruh keluarga.

Bu Sulastri menatap langit dari jendela dapur. Gelap malam terasa damai.

Api memang telah kembali menyala.

Namun ia tahu, selama hidup masih sulit dan kebutuhan pokok bisa sewaktu-waktu menghilang, perjuangan rakyat kecil tak akan pernah benar-benar padam.


Bangilan, 10 April 2026

Jumat, 06 Februari 2026

Pram: Cahaya dari Blora untuk Indonesia

Pram: Cahaya dari Blora untuk Indonesia
Oleh: Joyo Juwoto


Pada suatu ketika, saya ke Blora menziarahi rumah peninggalan keluarga Pak Mastoer. Rumah di pojokan Jalan Sumbawa itu tampak tua dan nyaris terlupakan oleh waktu. Di halaman rumah banyak ditumbuhi semak belukar dan rumput-rumput liar dan terkesan tidak terurus. Hewan peliharaan tuan rumah, Mbah Soesilo Toer—adik kandung sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer, atau yang akrab dipanggil Pram—dibiarkan berkeliaran tanpa tali pengikat. Ada beberapa ekor kambing yang ikut menghuni dan meramaikan rumah legendaris itu.
Dari rumah sederhana itu, cahaya dari Blora melesat ke langit-langit literasi dunia, menjadi mercusuar bagi kesusastraan Nusantara. Dari kota itu, Pram terlahir, menikmati masa kecil dalam dekapan kemiskinan dan penderitaan. Dari tanah itu, Pram bertumbuh dan menjalani takdirnya kelak menjadi salah satu penulis yang dikenal oleh dunia. Selain Pram, dari kabupaten penghasil kayu jati ini juga banyak terlahir tokoh-tokoh yang luar biasa, seperti Eyang Samin Suro Sentiko, Mas Marco Kartodikromo, Tirto Adhi Soerjo, seorang pahlawan nasional dan tokoh pers perintis jurnalistik bumiputera.
Setiap saya ke Blora, saya selalu berpikir dan merenung: apakah hari ini orang Blora masih mengenal Pram? Apakah anak-anak sekolah juga mengenal sosok yang terlahir dari kota sate ini? Atau, lebih luas lagi, apakah generasi bangsa ini mengenal sosok yang pernah dimusuhi oleh salah satu rezim yang pernah berkuasa di negeri ini? Bahkan lebih jauh lagi, saya juga berpikir: jangan-jangan Pram telah dilupakan oleh masyarakat, telah dilupakan oleh bangsanya sendiri, dan telah hilang dari pusaran sejarah? Kalau iya, tentu ini sungguh satu peristiwa yang sangat tragis bagi peradaban kita.
Dalam sebuah kata-katanya, Pram pernah menuliskan: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Mari kita uji apakah kata-kata Pram ini masih sakti. Apakah kata-kata Pram ini mampu menyelamatkan dirinya dan mengabadikan namanya dalam lembaran sejarah? Pram telah banyak meninggalkan warisan dan nilai bagi bangsa ini; tentu seharusnya, sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh dengan mudah melupakan apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita. Bung Karno secara tegas mengatakan: “Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah.”
Jika kalian bertemu orang Blora, silakan tanya apakah mereka mengenal Pram. Jika kalian sebagai seorang pendidik, coba tanyakan kepada anak didik panjenengan, seberapa tahu mereka dengan sosok Pram ini. Apakah nama Pram masih disebut-sebut oleh mahasiswa? Apakah karya-karya Pram masih dibaca dan menemani ruang diskusi mahasiswa? Ini semua bisa menjadi parameter seberapa jauh nama Pram masih melekat di benak masyarakat.
 
Masa seabad Pram telah usai. Ia lahir satu tahun lebih awal dari ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Pram terlahir pada 6 Februari 1925 dan meninggal dunia kurang lebih 20 tahun silam. Pram adalah penulis yang hanya satu lahir dalam satu generasi, bahkan satu dalam satu abad. Kita, bangsa Indonesia, layak berbangga dengan Pram. Pram adalah penulis produktif; lebih dari 50 karya ia persembahkan untuk bangsa ini. Karya-karya Pram banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan tersebar hampir di seluruh dunia. Sangat naif sekali jika kita tetangganya, jika kita yang satu kota dengan Pram, satu negara dengan Pram, tetapi tidak mengenal sosok beliau ini.
Ayo para pelajar, ayo para pemuda, mahasiswa, DPR, para pejabat, silakan cari dan gali buku-buku Pram. Silakan baca buku-buku Pram, silakan diskusikan di kafe-kafe, di aula kampus, di perpustakaan sekolah, bahkan di pinggir jalan dan trotoar. Silakan buku-buku itu dikritik, dibedah, ditelanjangi, bahkan dibantai sekalipun. Takdir buku-buku Pram memang demikian. Buku-buku itu dulu pernah dilarang peredarannya oleh rezim. Buku-buku itu, yang dulu jika kamu menyimpannya kemudian digeledah oleh rezim, telah bisa menjadi alasan buat kamu untuk masuk penjara. Buku-buku Pram sering menjadi sasaran tindakan barbarianisme, dengan dibakar dan dimusnahkan. Tidak hanya itu saja, bahkan penulisnya pun dijebloskan ke dalam penjara dari satu rezim ke rezim lainnya, dengan tanpa proses peradilan yang adil.
Sebagai generasi yang berpikir, kita jangan mudah percaya dengan propaganda, jangan mudah percaya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak jelas, dengan tuduhan-tuduhan yang tidak beradab. Ada yang bilang bahwa buku-buku Pram berbahaya, bahwa buku-buku Pram mengajarkan komunisme, bahwa buku-buku Pram adalah buku porno, dan sebagainya dan sebagainya. Generasi muda hari ini harus sudah adil sejak dalam pikiran, jangan cepat menyimpulkan kalau memang belum membaca dan menjelajahi isi pikiran Pram. Saya tidak sedang mendewa-dewakan Pram; beliau adalah manusia biasa, buku-bukunya juga bukan kitab suci yang tidak boleh salah dan tidak boleh dikritisi. Justru ini tugas kita untuk membaca dan mengkritisi serta mengkurasi karya-karya Pram, agar kita tidak menzalimi Pram dengan berbagai prasangka dan tuduhan yang tidak berdasar.
Bisa jadi Pram adalah seorang komunis karena keterlibatannya di Lekra, bisa jadi Pram adalah seorang atheis, bisa jadi Pram sesuai dengan yang dituduhkan kepadanya selama ini, namun kita sebagai manusia tetaplah harus menghargai nilai kemanusiaan itu sendiri. Gus Dur pernah mengatakan: “Sebelum beragama kita harus mengenal kemanusiaan”, setidaknya ajaran bapak humanisme ini perlu kita renungkan kembali, demi menjaga martabat serta nurani kemanusiaan serta membangun masyarakat yang adil dan beradab, berdasarkan nilai-nilai agama dan Pancasila tentunya. Saya menulis ini bukan sebab membenarkan atau menolak pandangan Pram, kita hanya perlu bersikap dewasa, bersikap adil, kritis dan tidak mengedepankan emosi dan kebencian dalam menilai sesuatu.
Sebagai penutup, tulisan ini hanya sekadar renungan, hanya sekadar memberikan sudut pandang yang berbeda tentang apa yang kadang disalahpahami oleh kebanyakan orang. Bagi saya, membaca Pram adalah bagian dari menyelami nilai-nilai kemanusiaan yang komprehensif dan mendalam, yang terekam dalam karya-karya beliau. Akhir kata, selamat membaca, selamat bertemu, selamat berkenalan dengan Pram dalam karya-karya beliau; semoga membawa manfaat dan keberkahan untuk kita semua, untuk seluruh masyarakat Indonesia, dan untuk bumi manusia dengan segala persoalannya. Terima kasih.

Joyo Juwoto, Penulis Buku Tiga Menguak Pram.

Rabu, 04 Februari 2026

Senja yang Membunuh Asa


Senja yang Membunuh Asa
Oleh: Joyo Juwoto

Senja telah tiba, langit di Kota Karang Pethak tampak gelap dan suram. Bakri berdiri kaku di tepian jendela kamar, memandang kosong ke arah seberang jalan. Kendaraan berlalu lalang dari arah yang berlawanan; sesekali terdengar bunyi klakson yang memekakkan kendang telinga. Senja hari ini tidak seperti senja-senja sebelumnya, senja yang biasanya menawarkan cahaya keindahan di ufuk barat dengan semburat warna jingga yang memesona mata yang melihatnya. Tapi kali ini senja seperti batas cahaya menuju ruang gelap gulita. Ada nuansa ketakutan, ada kecemasan, ada harapan yang pupus dihantam palu godam.
Langit kian mendung berhias lembayung, memercik resah, menebar gundah dan gelisah. Waktu merangkak pelan, detik demi detik serasa menekan dada. Udara di kamar itu menjadi pengap, kamar Bakri terasa hampa tanpa udara. Nyanyian kesunyian menggema di setiap sudut-sudutnya, cahaya senja kian suram, tenggelam dalam ufuk malam.
***
“Selamat ya, Pak Bakri, SK PPPK kamu dari Pemda sudah turun,” seru kepala sekolah sambil mengulurkan tangan memberikan ucapan selamat kepada Bakri. “Jangan lupa bancaannya,” canda kepala sekolah melanjutkan omongannya.
Dengan wajah sumringah, Bakri menjabat tangan kepala sekolah. “Iya, Pak, terima kasih bantuan dan support-nya selama ini,” jawab Bakri sambil tersenyum bangga.
Teman-teman di kantor pun ikut merasakan kebahagiaan Pak Bakri, karena Pak Bakri paling senior di kantor itu. Beliau sudah cukup lama mengabdi, namun baru kali ini Pak Bakri mendapatkan kehormatan diangkat menjadi guru PPPK. 
“Selamat ya, Pak. Ternyata proses tidak mengkhianati hasil. Setelah perjuangan panjang, akhirnya Bapak bisa menikmati menjadi guru yang bergaji layak,” kata salah seorang guru sambil memberikan ucapan selamat kepada Bakri.
“Alhamdulillah, terima kasih, Pak. Ini semua juga berkat doa dan bantuan Bapak Ibu guru semua yang ada di sini,” jawab Bakri dengan wajah sumringah.
Hari itu adalah hari yang sangat menggembirakan bagi Bakri. Garis nasibnya sedang berada di titik cahaya, terang menyinari jalan takdirnya. Bakri membayangkan esok hari ketika gaji pertamanya cair, ia akan mengajak anak dan istrinya ke toko baju untuk membeli mukena yang telah lama diimpi-impikan oleh anak dan istrinya.
“Bapak, saya ingin mukena warna pink. Besok, pas salat Idulfitri, mau saya pakai,” pinta Aisya kepada bapaknya pada suatu ketika di pertengahan Ramadan silam.
“Iya, Nak, pasti bapak akan belikan mukena itu untuk Aisya,” jawab Bakri sambil menelan ludahnya sendiri. Bakri merasa sedih karena ia belum mampu memenuhi keinginan kecil anaknya, ber-Idulfitri dengan mukena pink muda.
“Tapi jangan sekarang ya, Aisya. Tunggu sampai bapakmu mempunyai uang yang cukup,” sela ibu Aisya, menenangkan hati putri semata wayangnya itu.
“Iya, Bu, Aisya tahu. Tapi bapak harus janji besok Aisya dibelikan mukena warna pink muda ya, Pak. Yang ada renda-renda kecilnya, kayak milik teman Aisya,” lanjut Aisya sambil cemberut.
Hati orang tua mana yang mampu menahan perih di dada, ketika sebagai orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan buah hatinya. Wajah polos dengan air muka cemberut Aisya benar-benar membuat hati Bakri menderita.
Bakri bukannya tidak percaya takdir, bahwa setiap anak membawa rezekinya masing-masing. Tapi, bagaimanapun, ia tetap merasa cemas jika harus memiliki anak yang banyak; ia khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, Bakri dan istrinya memutuskan hanya memiliki satu anak saja. Ia dan istrinya bersepakat untuk menunda kehamilan anak kedua dalam rumah tangga mereka. Entah sampai kapan?
Bakri seorang guru yang telah mengabdi selama dua puluh tahun di SDN Karang Pethak. Lima tahun lagi, ia akan pensiun dari jabatannya sebagai pendidik karena usianya telah mencapai batas kerja. Lima tahun silam, Bakri sangat gembira setelah ada kebijakan dari Pemda yang mengangkat guru-guru menjadi PPPK. Bakri, yang saat itu menjadi bagian dari euforia kegembiraan kebijakan, yang akhirnya bisa mengangkat harkat dan martabatnya di tengah-tengah masyarakat, setelah mengalami masa panjangnya menjadi guru honorer, yang gajinya bahkan tidak cukup untuk membeli sabun dan peralatan mandi.
Hampir saja Bakri menyerah menjadi seorang guru, jika bukan karena panggilan hati untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi, Bakri mungkin sudah tumbang dan meninggalkan profesinya itu. Ujian demi ujian ia lalui dengan penuh kesabaran, khususnya tentu ujian ekonomi yang dijalaninya hingga sampai saat ini. Seberat apapun ujian itu terasa ringan, karena Bakri merasa mengajar adalah dunianya. Hal inilah yang membuat Bakri terus bertahan.
Bakri selalu percaya bahwa dunia tidak pernah benar-benar lupa pada orang-orang yang setia berjalan di jalan sunyi pengabdian. Ia meyakini, kesabaran yang dijalani tanpa banyak keluhan akan menemukan jalannya sendiri menuju keadilan, meski harus melewati waktu yang panjang dan melelahkan, meski harus melewati lorong-lorong gelapnya penderitaan. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan mengajar dengan upah yang nyaris tak layak, menegakkan punggung di hadapan anak didiknya, meski kehidupannya sendiri sering tertunduk. 
Setelah mendapat selembar kertas bertanda tangan dan berstempel resmi dari pejabat terkait, tentu ia merasa naik kasta sebagai seorang guru. Dari guru honorer menjadi guru yang SK-nya menjadi selembar kertas yang penuh wibawa. BRI pun siap menampung kertas itu dengan  memberikan sejumlah rupiah tentunya. Harapan Bakri tentu sederhana: setelah diangkat menjadi PPPK, ia akan menikmati itu sampai masa pensiun, apalagi usianya tinggal satu kali perpanjangan SK.
Harapan kadang tinggal harapan, dan tidak semua hal bisa terwujud menjadi sebuah kenyataan. Setelah jabatan mentereng disandangnya selama lima tahun, kini badai itu datang menerjang, memporak-porandakan mimpi dan harapannya. SK perpanjangan jabatannya sebagai guru PPPK tidak diperpanjang lagi.
“Pak Bakri, mohon maaf ya, Pak. Mulai besok Bapak sudah tidak lagi ngantor. SK Bapak tidak diperpanjang oleh Pemda, dan sudah ada guru baru pengganti Bapak di sekolah ini,” begitu kepala sekolah mengucapkan kalimat perpisahan kepada Bakri sambil mendekap bahunya untuk menguatkan asa jiwanya.
“Pak Kepala Sekolah, apakah saya tetap boleh mengajar di sini? Apakah saya masih boleh membersamai anak-anak?” tanya Bakri sambil tertunduk lesu.
Meninggalkan anak-anak adalah hal yang terberat bagi Bakri, masalah ekonomi, gaji yang tak layak bagi seorang pendidik, dan kesulitan-kesulitan lain bagi Bakri sudah selesai. Dua puluh tahun lebih Bakri telah banyak makan asam garam kehidupan, semua dihadapinya dengan penuh ketegaran. Namun ini adalah soal lain, ia harus kehilangan dunia yang dicintainya selama ini. Bagi Bakri mengajar adalah cahaya kehidupan.
Kepala sekolah menarik napas panjang, menatap Bakri dengan mata yang berkabut, lalu berkata pelan namun tegas, “Pak Bakri, saya tahu betul ketulusan Bapak untuk anak-anak, dan itu tidak pernah kami ragukan, tetapi keputusan ini adalah kewenangan Pemda yang harus kami dan kita patuhi bersama, untuk sementara Bapak belum bisa mengajar di sini, namun doa kami selalu menyertai langkah Bapak, semoga Allah membuka jalan yang lebih baik, karena guru sejati tidak pernah berhenti mengabdi, meski tak lagi berada di ruang kelas, tentu bapak masih terus bisa berkiprah untuk masyarakat dengan cara yang lain.”
Bapak Kepala Sekolah tahu, Bakri orangnya tidak neko-neko, rajin, dan penuh dedikasi. Bakri adalah pendidik yang baik, sangat mencintai profesinya. Jika ia dipecat dari jabatannya, itu seperti kiamat baginya. Tapi ia sebagai kepala sekolah tidak bisa berbuat banyak. Surat pemecatan itu bukan wewenangnya.
Bakri diam. Ia tak bisa berkata-kata; hanya isakan tangisnya yang lirih terdengar. Hari ini Bakri terakhir berada di sekolah yang telah lama ia peluk dalam setiap doa-doanya. Hari ini Bakri pulang dengan hati yang kosong. Ia melangkah dengan berat meninggalkan semua tentang hari-hari indah yang telah ia lalui selama ini.
Bakri berdiri kaku di tepian jendela kamar. Ia memandang kosong ke arah seberang jalan, seakan-akan langit runtuh, bintang ke bintang berguguran di jalan-jalan, trotoar, dan selokan. Bakri termangu bisu, diam membeku membayangkan nasibnya yang makin pedih dan pilu. Dunia terasa gelap, cahaya harapannya telah padam, ditelan gerhana kenyataan yang tak seindah apa yang ia bayangkan.
Bakri merasa habis. Tidak ada lagi yang tersisa dari kehidupannya. Seragam PDH yang mentereng, lencana korps yang mengkilat, PIN nama yang tersemat di atas saku bajunya harus ia tanggalkan dan ia tinggalkan. Bakri sedih. Ia belum bisa menerima suratan nasibnya. Ia telah mengabdi dengan penuh dedikasi, sepenuh hati mengajar anak-anak setiap hari, menempuh perjalanan panjang dengan motor bututnya, tapi apa yang ia dapatkan? Sebuah surat keputusan yang menghancurkan karier dan harapannya.
Terbayang di ingatannya tentang anak-anak didiknya, senyum yang merekah, mata yang berbinar, tawa yang riang, dan ocehan-ocehan lucu mereka. Juga tentang harapan-harapan serta cita-cita dan mimpi yang belum usai, semua puzzle-puzzle kegembiraan dalam papan kehidupannya itu telah lenyap dalam sekejap, terenggut keputusan sepihak yang tanpa perintan dan aba-aba sebelumnya.
Semua kenangan itu kini menjadi luka yang tak kunjung sembuh, mengiris hati Bakri yang sudah remuk. Ia merasa telah gagal: gagal sebagai guru, gagal sebagai kepala keluarga, dan gagal sebagai manusia. Wajah Bakri tampak mendung. Air matanya terbendung dalam telaga pilu, sebentar lagi akan jatuh ke pipinya menjadi hujan duka, dan menggenang dalam samudera luka yang mengiris-iris jiwa.
Tak terasa Bakri tersedu, menangis dalam kesedihan panjang. Hatinya rontok, harapannya hancur. Ia merasa langit kehidupannya telah runtuh. Senja itu seakan telah mengakhiri segalanya. Langit makin gelap, jalanan pun mulai sepi deru kendaraan lenyap ditelan sang waktu. Bakri masih berdiri kaku di tepian jendela kamar.
Angin senja berhembus pelan, burung-burung pun mulai pulang ke sarang, cericit dan nyanyian kelelawar malam mulai riuh terdengar, menyambar di langit-langit halaman rumah Bakri yang redup, seredup hati Bakri yang telah kehilangan separuh jiwanya.

Bangilan, 30 Januari 2026

Selasa, 04 November 2025

Pendakian Gunung Kelud: Menziarahi Mitologi Sang Dewi Kili Suci


Pendakian Gunung Kelud: Menziarahi Mitologi Sang Dewi Kili Suci
Oleh: Joyo Juwoto

Gunung Kelud adalah gunung dengan legenda yang sangat masyhur di seantero Nusantara. Gunung ini terkenal dengan kisah asmara Lembu Suro dan Mahesa Suro, yang mana mereka berdua ingin menikahi Dewi Kili Suci. Cerita legenda ini sudah cukup lama saya baca, namun keinginan untuk menziarahi jejak mitologi dan legenda era kerajaan Jenggala ini nampaknya baru terlaksana di bulan Oktober 2025.

Tentang mitos ataupun legenda ini sebenarnya tidak bisa disepelekan, walau hari ini masyarakat tidak begitu saja percaya akan hal itu, karena memang fungsi dari mitos itu sebenarnya sebagai alat untuk menyimpan informasi sekaligus mewariskannya kepada generasi selanjutnya. Mitos itu sendiri menjadi semacam cluster untuk menjaga warisan leluhur dengan cara mengemas nilai-nilai, pengetahuan, dan pengalaman hidup masa lalu ke dalam bentuk cerita simbolik yang mudah diingat dan diceritakan kembali. 

Melalui mitos, masyarakat tradisional tidak hanya menanamkan ajaran moral dan etika, tetapi juga menyampaikan pengetahuan tentang alam, sejarah asal-usul, hingga tata nilai sosial yang mengatur kehidupan bersama. Dengan demikian, meskipun kini mitos sering dianggap sekadar dongeng atau cerita mistik, keberadaannya tetap memiliki fungsi kultural yang penting sebagai media penyimpanan dan pengajaran moral serta kebijaksanaan lokal yang membentuk identitas suatu komunitas atau kelompok masyarakat.

Walau saya belum memahami ada apa di balik kisah legenda Dewi Kili Suci, Mahesa Suro dan Lembu Suro, namun saya yakin ada pesan luhur yang harus dijaga dibalik legenda itu. Silakan dicermati kutukan dari Lembu Suro saat itu terbunuh terkubur di dasar sumur yang ia buat sendiri di puncak Gunung Kelud:
"Yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung."
Artinya: “Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasan dariku yang berlipat ganda. Kediri akan menjadi sungai, Blitar menjadi tanah lapang, dan Tulungagung akan menjadi kedung”

Dari kutukan itu silakan diambil satu atau bahkan banyak hikmah dan pelajaran hidup tentang keselarasan kehidupan manusia dengan alam. Tentu banyak hal yang perlu direnungkan dari kutukan tersebut, khususnya terkait dengan kelestarian dan keseimbangan alam.

Oke, Saya tak perlu membahas lebih detail lagi tentang legenda dan kutukan itu, karena sejatinya saya ingin menuliskan perjalanan pendakianku ke Gunung Kelud bersama sahabat pendaki, Mas Ziqi, seorang pendaki dari Bangilan Tuban yang sealmamater dengan saya.

Sebelum berangkat ke Gunung Kelud, saya sudah menjelajahi terlebih dahulu medan dan letaknya melalui google map dan menelusurinya di media sosial. Jaraknya ternyata cukup jauh. Jalur Kabupaten Kediri ada dua basecamp: Pertama jalur via Ngancar, dan kedua jalur Laharpang. Untuk jalur dari Blitar ada jalur yang basecampnya di Tulungrejo, dan Jalur Karangrejo. Rata-rata jarak tempuhnya lebih dari tiga jam. Setelah melihat reviewnya di media sosial, saya bersama Mas Ziqi lewat basecamp Karangrejo Kabupaten Blitar, yang hitungan mapnya 173 KM, ditempuh kurang lebih selama 4 jam 18 menit. 

Di layar google map perjalanan dari Bangilan menuju bascamp Karangrejo memang sekitar 4 jam, karena perlu berhenti untuk sholat dan makan perjalanan yang saya tempuh cukup lama, kami berangkat naik motor dari Bangilan pukul 16.30 WIB, dan baru sampai di basecamp pukul 22.30 WIB, perjalanan sekitar 6 jam. Cukup melelahkan sekali.

Sesampainya di basecamp, saya langsung registrasi. Karena kami merencanakan muncak pukul 03.00 WIB dini hari, maka kami beristirahat dan tidur agar capeknya hilang. Awalnya kami hanya berdua yang akan mendaki, tapi lama kelamaan banyak juga anak-anak muda yang juga akan mendaki. Ada yang dari Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Malang, bahkan juga banyak yang dari Kediri dan Blitar sendiri.

Singkat kata, sekitar pukul 03.30 WIB, kami meluncur ke pos 1 Gunung Kelud dengan naik motor, perjalanan sekitar setengah jam, di pos ini ada selter untuk penitipan kendaraan. Tepat pukul 04.00 WIB kami meluncur berjalan kaki ke Pos 2 hingga pos 4.  Perlu diketahui bahwa jalur dari pos 1 sampai pos 4 treknya cukup landai dan nyaman bagi para pendaki pemula. Baru setelah pos 4 ini petualangan pendakian dimulai, jalurnya mulai mendaki, medannya pun mulai menyulitkan nafas-nafas tua seperti saya. Karena saat mendaki banyak teman, capeknya perjalanan tidak begitu terasa.

Langit mulai cerah, matahari melempar senyum memberikan nuansa semburat jingga. Walau kabut mulai turun tipis-tipis melayang di udara, namun cahaya pagi tak bisa disembunyikan begitu saja. Setelah pos 4 ini jalurnya sangat menantang, kami harus bergelantungan dengan tali, merangkak menaiki tangga-tangga besi, baru kemudian menelusuri jalan berpasir menuju pos bayangan atau disebut Bukit Pasir Jenggolo Manik. Di pos bayangan ini hamparan pasirnya lumayan luas, dari sini puncak Gunung Kelud sudah kelihatan.

Setelah menghela nafas, meneguk dinginnya air, dan nyemil bekal makanan ringan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini treknya menurun menuju sebuah lembah dengan hamparan sabana rumput yang menawan. Lembah ini bernama Lembah Joto Suroo. Dari lembah ini pemandangan ke arah puncak sangat instagramable. Spot potonya cukup bagus. Setelah melewati lembah, treknya kembali menanjak. Di sini kami harus bergelayutan pada seutas tampar kembali. Tak lama setelah bergelayutan pada tali dan melewati dinding ratapan, kami pun sampai di Puncak Gunung kelud dengan ketinggian 1731 Mdpl.  Alhamdulillah.

Pendakian ke Gunung Kelud bukan sekadar perjalanan menaklukkan puncak, melainkan juga sebuah ziarah batin menapaki jejak mitologi dan sejarah yang tertanam di setiap lekuk alamnya. Di balik kabut, batu, dan pasir yang terhampar, tersimpan kisah Dewi Kili Suci, Lembu Suro, dan Mahesa Suro yang terus hidup dalam memori kolektif masyarakat. 

Dari sini saya menyadari bahwa mitos bukanlah sekadar dongeng masa lalu, melainkan cermin kearifan, wisdom lokal yang mengajarkan manusia tentang keseimbangan, kesetiaan, dan konsekuensi dari keserakahan. Pendakian ini mengajarkan bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, tetapi untuk dihormati, dan legenda bukan untuk dilupakan, tetapi untuk direnungkan agar kita tak kehilangan arah dalam memahami hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas yang menyatu dalam kebudayaan Nusantara.

Senin, 03 November 2025

Ke Puncak Gunung Mongkrang

Ke Puncak Gunung Mongkrang

Jika tulisan saya ini dibaca pendaki gaek, tentu akan ditertawakan habis-habisan, masak seorang pendaki kok Cuma ke Mongkrang? Iya, bukit Mongkrang yang ada di Desa Gondosuli Kecamatan Tawangmangu Karanganyar bukanlah termasuk gunung yang menjadi legenda bagi sejarah pendakian. Tidak seperti Gunung Rinjani, Gunung Semeru, Gunung Slamet, ataupun Gunung Gede Pangrango dengan lembah Mandalawanginya yang menjadi jalur pendakian favoritnya Soe Hok Gie. Tapi manusia diperbolehkan menuliskan sejarahnya sendiri, dan manusia bebas menentukan ke mana kakinya akan dilangkahkan, termasuk bebas ke gunung mana ia akan mendaki, itulah yang menjadi salah satu ciri dari manusia merdeka.

Tapi tak apalah walau tak terlalu tinggi dengan puncak yang berada di 2.194 Mdpl cukup rasanya untuk memeras keringat, berolahraga dengan gembira, mandi cahaya matahari pagi, memanen kemurnian oksigen, dan tentu juga dalam rangka mentadabburi dan mensyukuri keindahan alam ciptaan Allah Swt.

Akhirnya pada kesempatan liburan sekolah, awal tahun 2025, saya bersama sahabat pendaki dari Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan, menuju Gunung Mongkrang untuk meredakan ketegangan syaraf setelah sekian waktu bergulat dengan aktivitas sehari-hari. Sebelum fajar shubuh merekah, saya bersama sahabat-sahabat pendaki telah meluncur menuju Karanganyar Jawa Tengah, di mana Gunung Mongkrang berdiri dengan gagahnya mendampingi Gunung Lawu.

Untuk menuju puncak Mongkrang jalurnya cukup nyaman, dari bascamp menuju puncak memakan waktu kurang lebih 3 jam.  Di setiap pos atau di lokasi yang sekiranya bagus kami tentu tak lupa mendokumentasikannya dalam jepretan kamera handphone. Puncak Candi 1, Puncak Candi 2, masuk sabana rumput dan ilalang, baru kemudian menuju puncaknya yang menjadi akhir dari tujuan pendakian kami.

Setelah melepas lelah, kami pun segera turun. Karena jika terlalu lama berhenti kami khawatir timbul rasa nyaman, dan akhirnya malas untuk turun dan pulang lembali. Karena kondisi menurun, perjalanan turun seharusnya lebih cepat, tapi saat turun memasuki pos dua hujan turun dengan lebatnya. Mau  tidak mau perjalanan sedikit terhambat. Jalanan licin, sehingga kami harus ekstra hati-hati. Agar tidak terlalu kedinginan, kami pun memakai jas hujan plastik yang kami beli di toko. Walau tipis, jas itu menolong kami dari kedinginan akut. Alhamdulillah setelah menerjang hujan selama beberapa waktu kami pun sampai di bascamp. Setelah berbenah, kami pun langsung meluncur pulang.

Mungkin tidak banyak yang bisa saya dokumentasikan dan saya ceritakan perjalanan pendakian ke Gunung Mongkrang ini, namun kesan dan atsar batin setelah pendakian ke gunung itu mengabadi dalam palung hati, terpatri dalam lembaran kebahagiaan jiwa. Tidak begitu kelihatan tapi cukup terasakan. 

Karena bagi saya mendaki gunung bukan sekedar menuruti kesenangan hati, mendaki gunung bukan hanya untuk berbangga diri, mendaki gunung pada hakekatnya adalah mendaki pada puncak kesadaran diri. Mendaki gunung adalah bagian dari kemerdekaan jiwa manusia, jiwa itu melayang bagai kapas menuju puncak pendakian, walau sejatinya tujuan dari pendakian bukan berada di ketinggian, justru mendaki adalah menaklukkan puncak ego masing-masing, dan meletakkannya pada lembah kesadaran jiwa. 

Setiap ke gunung saya selalu bertanya untuk apa? Dan selalu saja ada jawaban yang berbeda di setiap langkah dan jejak kaki pendakian. Karena mendaki adalah seni, seni untuk lebih deep in love with Allah Swt. Salam.

Selasa, 21 Oktober 2025

Lesbumi PCNU Tuban Gelar Pameran Manuskrip, Arsip NU, dan Bursa Keris dalam Rangka HSN 2025

Lesbumi PCNU Tuban Gelar Pameran Manuskrip, Arsip NU, dan Bursa Keris dalam Rangka HSN 2025

Tuban – Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Tuban menyelenggarakan kegiatan Pameran Manuskrip, Arsip NU, dan Bursa Keris bertajuk “Sirkus Kota: Membangun Wacana Independen dalam Kearifan Lokal dan Budaya Islam Nusantara.”

Kegiatan ini akan berlangsung pada 18–20 Oktober 2025 bertempat di depan Gedung Rektorat Kampus IAINU Tuban, Jalan Manunggal No. 11–12, Sukolilo, Tuban.

Pameran ini menjadi ruang perjumpaan antara karya, sejarah, dan warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat, sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap kekayaan intelektual dan spiritual Islam Nusantara. Melalui kegiatan ini, Lesbumi PCNU Tuban berupaya menghidupkan kembali semangat kemandirian wacana budaya yang berpijak pada nilai-nilai lokal dan tradisi pesantren.

Rangkaian kegiatan “Sirkus Kota” akan diisi dengan berbagai agenda menarik:

18 Oktober 2025: Malam Keakraban bersama Kadang Lesbumi Tuban dan masyarakat umum.

19 Oktober 2025: Pentas Seni Teater dan Baca Puisi oleh para seniman muda Tuban.

20 Oktober 2025: Macapatan bersama masyarakat adat Grabagan, dan Jagong Budaya dengan tema “Manuskrip Nusantara sebagai Sumber Pengetahuan: Menggali Nilai-Nilai Leluhur untuk Masa Depan”, menghadirkan dua narasumber: Diaz Nawaksara, kurator dan pakar aksara Nusantara, serta Kang Abdul Rosyid, budayawan Lesbumi Tuban

Ketua Lesbumi Tuban, Mas Hewod, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pameran artefak budaya dan pusaka, tetapi juga wadah refleksi tentang pentingnya merawat warisan literasi, naskah kuno, dan tradisi luhur masyarakat Nusantara.

“Melalui Sirkus Kota, kami ingin menunjukkan bahwa manuskrip, arsip, maupun keris bukan sekadar benda lama, tetapi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan peradaban kita,” ujar Seniman dari Rengel itu. 

Kegiatan ini terbuka untuk umum dan diharapkan dapat menjadi momentum memperkuat kesadaran budaya, mempererat solidaritas antarpegiat seni, serta meneguhkan semangat kebangsaan dan keislaman di bumi wali Tuban.

Sabtu, 30 Agustus 2025

Ke(tidak)adilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Ke(tidak)adilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Oleh: Joyo Juwoto

"Apa guna punya ilmu
kalau hanya untuk mengibuli"

"Apa gunanya banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu"

Petikan puisi Wiji Thukul yang berjudul "Apa Guna" di atas menampar diriku sejadi-jadinya, tidak berlebihan rasanya apa yang ditulis dan disuarakan oleh penyair yang entah di mana ia sekarang, melihat kondisi bangsa Indonesia hari ini rasa-rasanya kurang etis dan miskin empati jika kita masih mengatakan "Indonesia sedang baik-baik saja". Saya tidak sedang frustrasi, saya tidak sedang pesimistis melihat kondisi negara yang kita cintai ini, setidaknya kita perlu membuka mata bahwa kondisi negara memang sedang tidak baik-baik saja.

Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merajalela di berbagai sektor pemerintahan kita, padahal virus KKN ini yang dulu saat Orde Baru kita musuhi bersama, ini yang dulu menjadi salah satu pemicu pemerintahan Orde Baru tumbang, tapi nyatanya hari ini praktek KKN justru makin parah dan dilakukan secara terang-terangan, dilakukan di bawah terik matahari siang bolong. Edan.

Demo besar-besaran yang terjadi di Pati beberapa hari silam, yang digawangi oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, membuka mata kita bahwa ketidakadilan benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Bayangkan saja, saat rakyat ekonominya melemah, daya beli masyarakat menurun, pengangguran di mana-mana, alih-alih mencari solusi, justru pemerintah Kabupaten Pati membuat kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat, bahkan mencekik urat nadi kehidupan masyarakat yaitu dengan menaikkan pajak. Seketika rakyat menjerit. Rakyat berbondong-bondong mendemo Bupati Sudewo. 

Dalam skala nasional isu kesenjangan sosial juga mencuat, para pejabat menunjukkan sikap yang arogan dan abai terhadap kepentingan rakyat. Masyarakat sedang susah pejabat hidup bermewah-mewah, masyarakat sedang berduka karena apa-apa tak terbeli, pejabat bersuka cita memamerkan gaya hidup hedoni. 

DPR yang sejatinya sebagai penyambung lidah rakyat ternyata tidak bisa dipegang janjinya saat kampanye, mereka juga tidak mampu menerjemahkan keinginan rakyat di sidang-sidang DPR, justru yang terjadi para anggota dewan ini dianggap kurang dan tidak memiliki empati atas kondisi rakyat yang semakin hari semakin susah. 

Saat momen kemerdekaan tunjungan DPR dinaikkan, sedang kinerja mereka yang berpihak kepada rakyat entah ada atau tidak, pada momen ini sebagian besar anggota DPR berjoged ria, kemarahan tak terbendung lagi, rakyat yang sudah muak dengan DPR menjadi terpantik, demo besar-besaran pun digelar di depan gedung DPR yang terhormat itu.

Pancasila mengamanahkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi pengambil kebijakan di lingkaran pemerintah justru mengamalkan "ketidakadilan bagi seluruh rakyat Indonesia". Rakyat jelata makin sengsara, pejabat berfoya-foya, pejabat bergelimang harta, rakyat miskin dan menderita. 

Belum lagi masalah penegakan hukum dan pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial yang sangat buruk. Siapapun kamu kalau rakyat jangan pernah berharap mendapatkan kemudahan dalam mengakses pelayanan tersebut. Hukum tumpul ke atas tajam ke bawah, pendidikan yang layak hanya bisa dinikmati oleh segelintir rakyat, hal yang terkait dengan layanan kesehatan juga tidak memihak rakyat kecil. Jika kau miskin jangan sakit saja, begitu kira-kira semboyan yang sering kita dengar bersama.

Rakyat harus melek politik, rakyat harus punya pilihan wakilnya di DPR yang benar-benar berintegritas, jangan hanya memilih hanya karena amplop, jangan memilih karena disuap, sudah saatnya rakyat memegang teguh kedaulatannya dengan memilih pemimpin dan wakil-wakilnya dengan akal sehat dan kebeningan nuraninya, agar rakyat mendapatkan wakil dan pemimpin yang diberkahi Tuhan, agar keberkahan juga dirasakan oleh rakyat itu sendiri. 

Para pejabat dan wakil-wakil rakyat punya demikian, kalian  mendapat amanah dari rakyat mana jangan pernah khianati amanah itu, memimpin berarti melayani masyarakat, memimpin berarti siap berkhidmat untuk rakyat. 

Pada akhirnya, ke(tidak)adilan yang hari ini kita saksikan bukan sekadar fakta sosial, melainkan tamparan keras bagi cita-cita kemerdekaan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata. Indonesia seharusnya berdiri di atas prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya, bukan hanya bagi segelintir elite yang berkuasa. 

Jika praktik KKN, kesenjangan sosial, pelayanan publik yang bobrok, dan arogansi pejabat terus dibiarkan, maka bangsa ini perlahan-lahan sedang menggali kuburnya sendiri. Kini, pilihan ada pada kita: tetap diam dalam ketidakadilan, atau bersuara demi terwujudnya Indonesia yang benar-benar adil dan beradab.


Bangilan, 30 Agustus 2025

Rabu, 13 Agustus 2025

Senandung Sunyi di Tepi Kali

Senandung Sunyi di Tepi Kali
Oleh: Joyo Juwoto 

Kali kening mengalir hening 
Bening airnya memantulkan cahaya 
Di temaran senja
Rumpun bambu khusyuk berdoa 

Batu-batu, kerikil, dan lumpur kali
Bernyanyi lirih dalam sepi 
Mengeja masa yang entah bagaimana 
Tentang nasib kali yang semakin sunyi

Gremicik air kali memendam asa
Bunga-bunga ilalang tertiup angin senja 
Melukis riak-riak penuh pesona
Di pelataran senja yang kehilangan makna

Arus kali membawa cerita dari hulu 
Tentang gembala yang pulang kandang 
Tentang kerikil yang terhempas diam
Di sudut waktu yang kelam

Di tepi kali, di tepi rindu
Menatap langit yang semarak kelabu 
Ranting-ranting diam membeku
Desah angin membawa bisik yang tak usai 

Dalam keheningan ini, aku temukan diri
Yang hilang dalam arus waktu
Mencari makna dalam remang senja
Menguak rahasia jiwa yang tak terjamah kata


Bangilan, 13 Agustus 2025

Sabtu, 09 Agustus 2025

Jejak Kalang di Kendeng Utara

Jejak Kalang di Kendeng Utara
Oleh: Joyo Juwoto 

Di rimba lebat nan sunyi terbentang
Wong Kalang menjelajah dalam remang
Melintasi pohon-pohon jati yang tinggi menjulang,
Jejak kaki menyatu dengan bayang-bayang 

Semak belukar menjelma lorong waktu,
Padang ilalang bersaksi dalam bisu
Di antara lembah-lembah kelam
Langkah Kalang menjejak bumi peradaban 

Gunung Lodhito memanggil pelan
Berselimut teka-teki dalam hening sunyi 
Tuk dijelajahi rahasia yang tersembunyi 
Dalam hamparan kabut dan cahaya pagi

Sendang Plengkung, pemandian nganget
Airnya bening mengalirkan kisah,
Tempat Kalang menghapus gundah
melepas penat dan lelah

Punden Belang Yungyang, Watu Celeng puncak Grabagan 
menjadi saksi suci
Pertemuan alam kasunyatan dan keyakinan 

Tegal Kalang, hamparan pertiwi,
Besowo, tanah penuh misteri 
Tumbuh peradaban alami
Di balik Tegal dan ladang, kisah itu mengabadi

Kandang Kalang Senori, tempat gembala ternak
Menyimpan tapak budaya yang melegenda
Di balik kayu-kayu dan batu 
Terekam memori yang tak lekang oleh waktu

Kendeng Utara terus berdesah,
Memanggil jiwa-jiwa yang ingin kembali,
Menapak tilas jejak wong Kalang yang gagah,
Dalam sunyi hutan, peradaban tak pernah mati.


Bangilan, 9 Agustus 2025

Minggu, 10 November 2024

Pendidikan Moderasi Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

 



"Pendidikan Moderasi Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara"

Oleh: Joyo Juwoto

 

            Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, yang terdiri dari berbagai ragam suku, bahasa, agama, ras, dan budaya. Kita tentu merasa bersyukur bahwa di tengah kemajemukan ini, bangsa Indonesia memiliki konsep luhur yang kita jaga bersama untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa, serta memelihara segala bentuk keragaman yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita semua. Konsep luhur itu bernama “Bhinneka  Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

            Kementerian Agama Republik Indonesia memiliki keinginan dan komitmen yang kuat untuk ikut serta menjaga melestarikan, dan juga menguatkan konsep luhur Bhinneka Tunggal Ika tersebut dengan merumuskan satu nilai yang selalu digaungkan oleh Kementerian agama, yaitu Konsep Moderasi Beragama.

            Moderasi beragama ini tercermin dalam sikap untuk ikut serta menjaga kerukunan dalam berbangsa dan bernegara, menunjung tinggi nilai keberagaman, menghargai segala perbedaan, baik suku, ras, agama, dan keyakinan, serta menolak segala bentuk intimidasi, kekerasan, serta perlakuan yang tidak baik yang mengganggu harmoni kehidupan bermasyarakat. Moderasi beragama adalah salah satu nilai untuk mengejawentahkan nilai-nilai ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin.

`           Moderasi beragama adalah konsep penting dalam kehidupan umat beragama di era modern. Hal ini menuntut kita untuk selalu menjaga keseimbangan antara keyakinan agama kita dengan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan toleransi. M. Quraish Shihab dalam bukunya “Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama” menyandingkan  moderasi dengan kata Wasath atau Tengah.[1] 

Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 143 Allah Swt berfirman: [2]

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

Artinya: “Demikianlah kami jadikan kamu ummatan wasathan… 

Wasathiyyah sendiri dalam Bahasa arab memiliki padanan makna dengan kata tawassuṭ (tengah-tengah), i’tidāl (adil), dan tawāzun (berimbang). Dalam Sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: [3]

خَيْرُ الْأُمُوْرِ أَوْسَطُهَا

“Sebaik-baik persoalan adalah yang di tengahnya”

Wasath dalam hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah di atas menurut para ulama memiliki arti adlan atau adil, jadi wasath di sini juga bermakna keadilan. Dengan demikian, hadits ini menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan, keadilan, dan moderasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam praktek agama. Pesan ini sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang mendorong umatnya untuk menjadi umat yang seimbang, adil, dan moderat dalam tindakan dan sikap mereka.

Di dalam Al-Qur’an surat Al Qashash ayat 77 Allah swt berfirman:[4]


وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Al Qashash ayat 77 di atas mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, berbuat baik kepada sesama manusia, dan menjauhi tindakan yang merusak dan menciptakan kerusakan. Pesan ini adalah bagian dari konsep moderasi beragama yang telah Anda sebutkan dalam konteksnya, yaitu menjaga keseimbangan antara keyakinan agama dan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan toleransi.

Moderasi beragama merupakan suatu pendekatan atau sikap dalam beragama yang menekankan keseimbangan antara keyakinan agama dengan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan toleransi. Konsep ini mengajarkan umat beragama untuk tidak melampaui batas dan menjauhi ekstremisme, baik dalam pemahaman agama maupun dalam tindakan yang dilakukan atas nama agama.

Pendekatan moderasi ini memungkinkan individu untuk mempraktikkan agamanya dengan penuh keyakinan dan kedalaman, tetapi juga dengan penuh penghargaan terhadap hak-hak dan kebebasan individu lainnya. Hal ini penting dalam konteks masyarakat yang multikultural dan multireligius, di mana berbagai keyakinan dan tradisi agama harus dapat hidup berdampingan dengan damai.

Dalam kehidupan umat beragama, sering kali muncul masalah akibat kurangnya moderasi beragama. Hal ini bisa tercermin dalam bentuk ekstremisme, intoleransi, konflik antar-agama, dan ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan individu dari latar belakang keagamaan yang berbeda. Konflik ini dapat merusak perdamaian dan harmoni sosial yang ada di tengah masyarakat.

Betapa banyak ungkapan-ungkapan intolerasi seperti bid’ah, sesat, kafir, halal darahnya, yang diproduksi setiap saat oleh orang-orang yang menamakan dirinya sebagai kelompok paling shahih dalam beragama, mereka mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah dalam rangka berdakwah dan kembali kepada ajaran Islam yang kaffah dan murni.

Dari sikap yang intoleran ini pada akhirnya akan melahirkan sikap yang ekstrim dan radikal dalam menjalankan ajaran agama. Diantara ciri-ciri kelompok radikal ini menurut Yusuf Al-Qaradhawi adalah:[5]

1.      Mengklaim kebenaran tunggal dan mencap yang berada di luar kelompoknya itu sesat

Kelompok radikal seringkali memiliki pandangan bahwa hanya mereka yang memiliki pemahaman agama yang benar, sementara orang lain dianggap sesat atau salah. Mereka cenderung memonopoli kebenaran dan menolak keragaman pandangan.

2.      Mempersulit dan memperberat diri dalam menjalankan ajaran agama

Kelompok radikal mungkin mempersulit dan memperberat praktik keagamaan, seringkali menerapkan tafsiran yang ketat dan kaku terhadap ajaran agama. Hal ini dapat menghasilkan praktik yang ekstrem dan mengisolasi kelompok tersebut dari masyarakat yang lebih luas.

3.      Overdodis dam mabuk dalam beragama

Kelompok radikal bisa terlalu obsesif dan terlalu fanatik dalam menjalankan ajaran agama. Mereka mungkin melibatkan diri secara berlebihan dalam praktik-praktik keagamaan hingga menciptakan ketegangan dan konflik dalam kehidupan sehari-hari.

4.      Kasar dalam berinteraksi dengan Masyarakat

Sikap kasar dan agresif dalam berinteraksi dengan masyarakat adalah ciri kelompok radikal. Mereka mungkin menggunakan bahasa yang provokatif atau tindakan yang mengganggu ketertiban sosial.

5.      Mudah berburuk sangka dengan kelompok di luar dirinya

Kelompok radikal seringkali memiliki sikap berburuk sangka terhadap kelompok atau individu di luar kelompok mereka. Mereka dapat mendemonisasi atau mencurigai niat baik kelompok lain tanpa alasan yang jelas.

6.      Mudah sekali mengkafirkan orang yang berbeda pendapat dengan  penafsiran kelompoknya

Kelompok radikal cenderung cepat mengkafirkan atau menyatakan orang lain sebagai non-Muslim jika mereka memiliki pandangan atau tafsiran agama yang berbeda. Hal ini seringkali mengarah pada konflik dan polarisasi dalam masyarakat.

Klaim kebenaran yang dilakukan oleh sekelompok kaum radikal ini tentu sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang multikultural ini. Bagaimana tidak, masyarakat akan saling bersitegang karena perbedaan pandangan mereka dalam merespon, dan menafsirkan sebuah teks dari kitab suci. Hal ini tentu menjadi preseden buruk bagi kerukunan, kedamaian, dan nilai-nilai toleransi dalam masyarakat.

Untuk itu kita perlu memberikan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai moderasi dalam beragama, agar tercipta masyarakat madani yang menghargai segala bentuk perbedaan yang memang telah menjadi sunnah kehidupan.

Untuk mengcounter ekstrimisme dan radikalisme, perlu adanya upaya mengkampanyekan nilai-nilai toleransi, keberagaman, serta serangkaian sikap yang menghargai segala perbedaan. Dalam konteks ini, empat nilai Ke-NUan yaitu, Tawasuth (moderat) dan I’tidal (adil), Tasammuh (Toleransi), Tawazun (Keseimbangan), dan Amar ma’ruf nahi mungkar, bisa menjadi solusi yang efektif untuk membentengi diri dari ekstrimisme dan radikalisme guna menguatkan pondasi dalam moderasi beragama.

 Berikut adalah penjelasan mengenai empat nilai ke-NUan dan bagaimana mereka dapat menjadi solusi bagi sikap ekstrimisme dan pondasi moderasi beragama:[6]

1.      Tawasuth (Kemoderatan) dan I'tidal (Keadilan)

Tawasuth mengajarkan pentingnya menjalani kehidupan dengan penuh kedamaian dan kedamaian. Nilai ini mendorong umat Islam untuk mengadopsi sikap yang moderat dalam beragama, tidak terlalu ekstrem dalam penafsiran ajaran agama, dan menghindari tindakan ekstremis yang dapat mengganggu ketertiban sosial. Kemoderatan adalah pondasi untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas.

 

Sedang I'tidal adalah nilai yang menekankan pentingnya keadilan dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam urusan beragama. Dalam konteks moderasi beragama, i'tidal mengajarkan bahwa ketidakadilan, penindasan, dan diskriminasi terhadap kelompok agama atau non-agama tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Keadilan adalah solusi untuk menghindari ketegangan dan konflik yang seringkali menjadi pemicu ekstremisme.

 

2.      Tawazun (Keseimbangan)

Tawazun mengacu pada prinsip keseimbangan dalam kehidupan. Dalam konteks agama, nilai ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara agama dan dunia. Melalui tawazun, individu diharapkan untuk tidak terlalu ekstrim dalam menjalankan ajaran agama, sehingga tidak melupakan tugas-tugas dan tanggung jawab mereka dalam masyarakat. Ini dapat mencegah sikap ekstrim yang seringkali muncul akibat fanatisme agama yang berlebihan.

3.      Tasammuh (Toleransi)

Tasammuh adalah nilai yang mendorong toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Ini mengajarkan pentingnya berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan etnis, tanpa menghakimi atau memusuhi mereka. Tasammuh mempromosikan sikap terbuka dan inklusif, yang merupakan solusi penting untuk mengatasi sikap ekstrimisme dan fanatisme agama.

4.      Amar ma’ruf nahi Mungkar.

Sikap amar ma’ruf nahi mungkar di sini adalah sikap kepekaan masyarakat dalam memperjuangkan hal-hal yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, serta menolak dan mencegah hal-hal buruk yang dapat  menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai dan norma yang ada di tengah-tengah masyarakat.

 

Dengan menerapkan dan mempraktikkan nilai-nilai ke-NUan ini, individu dapat membangun pondasi moderasi beragama yang kuat. Hal ini dapat membantu mencegah sikap ekstrimisme, fanatisme agama, dan konflik antaragama. Selain itu, nilai-nilai ke-NUan juga mendorong kerja sama antaragama dan membangun harmoni sosial, yang merupakan langkah penting dalam menciptakan masyarakat yang damai dan inklusif.

Moderasi beragama dalam intern kehidupan umat beragama adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang damai dan toleran. Penting untuk memahami bahwa keyakinan agama harus sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dalam upaya mencapai moderasi beragama, kita harus bekerja sama untuk meningkatkan pendidikan yang menghargai segala perbedaan, penuh toleransi, serta memfasilitasi dialog antar umat beragama, mengawasi media sosial, dan memilih pemimpin yang benar-benar mendukung nilai-nilai ini.

Semoga kita sebagai individu maupun sebagai kelompok umat beragama mampu menjaga nilai-nilai luhur moderasi beragama yang rahmatan lil ‘alamin, ikut serta terlibat dalam upaya pembelajaran dan dialog antar kepercayaan, serta berkontribusi aktif dalam mempromosikan moderasi beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berfalsafahkan Bhinneka Tunggal Ika.



[1] M. Quraish Shihab, Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama (PT. Lentera Hati, 2019).

[2] https://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-143

[3] M. Quraish Shihab

[4] https://tafsirq.com/28-al-qasas/ayat-77

[6] KH. Abdul Muchit Muzadi, Mengenal Nahdlatul Ulama (Khalista Surabaya, 2006)