Kamis, 01 Juni 2017

Kitab Puasa

google
Kitab Puasa
Oleh : Joyo Juwoto


Puasa bermakna menahan diri. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt, dalam surat Maryam yang berbunyi : "Innii nadzartu lil rohmaani shouman" artinya : Saya bernadzar kepada Dzat Yang Maha Rahman untuk berpuasa.

Puasa yang dimaksud diayat ini adalah menahan diri dari berbicara atau dalam istilah orang Jawa disebut sebagai tapa mbisu.

Sedang puasa yang sekarang disyariatkan dan diwajibkan kepada umatnya Nabi Muhammad Saw adalah puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan ini secara syariat diartikan sebagai menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat.

Adapun yang membatalkan puasa adalah makan dan minum dengan sengaja sebelum matahari terbenam, berhubungan badan di siang hari, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa menurut syara'
Puasa bukanlah syariat baru yang dijalankan oleh umat Islam, jauh sebelum itu umat-umat terdahulu telah menjalankan ibadah puasa, walaupun tata cara pelaksanaannya berbeda-beda sesuai dengan kaidah yang ditetapkan kepada umat tersebut.

Ibadah puasa sejak  zaman dahulu dipakai untuk meningkatkan nilai ketaqwaan seseorang, selain itu puasa juga menjadi sarana untuk membersihkan diri serta dipakai sebagai doa dan wasilah untuk memohon karamah dari Allah.

Dalam khasanah kejawen, jika seseorang ingin dianugerahi kesaktian biasanya melakukan puasa dengan cara tertentu. Ada banyak macam puasa dalam tradisi masyarakat Jawa.

Puasa adalah ibadah yang istimewa, karena puasa itu ibadah yang menjadi milik Allah, dan Allah sendiri yang menentukan pahala dari ibadah puasa seseorang.

Pada dasarnya puasa yang diwajibkan oleh Allah kepada umat Islam hanyalah puasa ramadhan selama sebulan dalam satu tahun. Oleh karena itu sebagai orang yang beriman, maka hendaknya kita memenuhi panggilan kewajiban itu, kecuali ada alasan syara' yang membolehkan untuk tidak berpuasa.

Wahai orang yang beriman. Penuhilah panggilan Tuhanmu. Selamat menjalankan ibadah puasa.

Senin, 29 Mei 2017

Sehat Dengan Berpuasa

Hari Ke-3 Ramadhan
Sehat dengan Berpuasa
Oleh : Joyo Juwoto


Dalam sebuah hadits  Rasulullah Saw bersabda : 
"Berpuasalah agar kamu sehat" (HR. At Tirmidzi). Rasulullah bukanlah seorang dokter, namun beliau tidak mengatakan sesuatu kecuali bersumber dari wahyu Tuhan, dan tentu kita mengimani apa yang beliau sabdakan.


Berpuasa adalah salah satu cara untuk memelihara kesehatan, hal ini berdasarkan hadits di atas. Setelah ilmu kedokteran berkembang apa yang disabdakan Nabi ternyata memang terbukti, bahwa puasa itu menjadikan tubuh semakin sehat.

Karena pada dasarnya sumber penyakit fisik manusia berasal dari perutnya, berasal dari makanan dan pola makan seseorang. Seorang dokter, Harits bin Kaldah mengatakan : "Lambung adalah rumah penyakit" jika kita sembarangan dalam mengisi lambung, maka hal itu akan memicu berbagai macam penyakit yang membahayakan tubuh kita.

Oleh karena itu, Allah mensyariatkan berpuasa, selain sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan ruhani, puasa juga meningkatkan kesehatan jasmani. Lambung bekerja sepanjang hidup manusia tiada henti, maka lambung perlu mendapatkan keringanan mencerna makanan, dengan cara berpuasa minimal satu tahun sekali.


Oleh karena itu, jika seseorang berpuasa dengan baik, mengikuti sunnah Nabi, insya Allah berpuasa sangat menyehatkan dan bermanfaat untuk kesehatan seseorang.

Diantara yang dianjurkan adalah menyegerakan berbuka, jangan ditunda karena seharian penuh perut kita kosong, maka saat terdengar bedug magrib segera kita berbuka. Untuk berbuka puasa jangan terlalu banyak, cukup dengan air putih dan makanan yang manis. Kurma menjadi pilihan yang baik, karena  banyak mengandung zat yang mudah diserap oleh tubuh, untuk mengganti asupan makanan yang hilang setelah seharian kita berpuasa.

Namun kebanyakan dari kita, khususnya saya sendiri jika berbuka puasa itu seperti orang yang tidak pernah makan saja, semua ingin kita makan, sehingga menjadikan perut kita kelelahan. Setelah makan terbitlah ngantuk, dan kadang tertidur. Padahal menurut kesehatan, tidak baik setelah makan langsung tidur, minimal harus ada jeda 1 bahkan sampai 2 dan tiga jam.

Ya setidaknya setelah menjalankan shalat tarawih, kita bisa ke peraduan untuk tidur. Jika kita berpuasa dengan sebaik-baik puasa insya Allah tubuh ruhani dan jasmani kita akan sehat selalu. Selamat menjalankan ibadah puasa.

*Joyo Juwoto, Anggota Komunitas Kali Kening