Minggu, 21 Januari 2018

Nahkoda Baru Blogger Tuban Community

Hari ini (21/01/2018) Blogger Tuban Community (BTC) mengadakan kopdar yang ketiga setelah sebelumnya mengadakan kopdar secara bergerilya di rumah Ibu Nafakhatin  Tuban, kemudian dilanjutkan kopdar di salah satu warung kopi yang ada di Montong.

Saya katakan gerilya karena memang secara resmi kepengurusan blogger tuban community belum terbentuk, walau demikian bukan berarti tanpa kepengurusan  blogger tuban mati dan tidak memiliki peran di dalam dunia perbloggeran. Blogger Tuban termasuk organisasi yang istimewa, tanpa kepengurusan tanpa komando namun sel-sel dan jaringan yang melingkupi dan membentuk identitas blogger Tuban selalu hidup dan ada. 

Banyak hal positif yang telah dilakukan oleh blogger Tuban, khususnya dalam mengangkat tema-tema lokal Tuban dan juga peran aktif para anggota di dalam menampilkan dan menyajikan konten dan informasi di dunia cyber yang mendidik dan berkeadaban. Selain itu Blogger Tuban juga selalu berada di barisan terdepan dalam memerangi berita-berita hoax dan hal-hal yang berbau kepalsuan di dunia maya.

Saya secara pribadi sangat gembira dan memberikan apresiasi super positif kepada seluruh kawan-kawan blogger Tuban community dengan segala kiprahnya. Di sela-sela kesibukannya mereka masih menyempatkan diri dan berfikir memberikan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. 

Dan yang lebih menggembirakan lagi, hari ini di kopdar ketiga yang dilaksanakan di Mangrove Center Jenu, keluarga besar blogger Tuban juga membentuk kepengurusan. Wah bakalan seru dan makin eksis komunitas blogger ini. Eh siapa ya kira-kira yang akan menjadi punggawa-punggawa di Blogger Tuban Community? yuk kita tengok!

Setelah saya intip dari wall group WhatsApp blogger Tuban berikut para pejabat tinggi tanpa gaji dan tanpa tunjungan apalagi subsidi di Blogger Tuban Community :
Susunan Kepengurusan Blogger Tuban
Ketua : Reyvan
Wakil : anis
Sekretaris : andhika
Bendahara : nur rohmah
Humas : mas wid
Publikasi : Rovic
SDM : bachtiyar, arif, mashari

Sayang seribu sayang, saya berhalangan hadir dan tidak ikut menjadi saksi dalam prosesi mulia ini, padahal sebelumnya telah saya rencanakan untuk bisa mengikuti kopdar yang ketiga ini. Namun tak apalah, doa dan dukungan selalu saya berikan untuk blogger Tuban, semoga sukses dan berkah selalu.

Selamat ya untuk para pengurus blogger Tuban, semoga dengan adanya kepengurusan ini blogger Tuban semakin maju dan yang terpenting bisa berkontribusi positif bagi masyarakat Tuban khususnya dan masyarakat dunia internasional tentunya.



Selasa, 16 Januari 2018

Durian Jlodro dan Misteri Situs Watu Jajar

Durian Jlodro dan Misteri Situs Watu Jajar

Oleh : Joyo Juwoto

Seperti yang telah saya tuliskan kemarin tentang perburuan buah durian di desa Jlodro Kec.  Kenduruan, ada hal lain yang sederhana namun cukup menarik yang ingin saya ceritakan kembali di blog saya ini. Sekitar pukul 14.30 WIB kemarin saya meluncur dengan gembira ceria ke Jlodro dengan berboncengan motor bersama istri dan kedua anak saya, Naila dan Nafa.

Di sepanjang perjalanan udara cukup sejuk karena cuaca agak mendung sehingga terik matahari tidak sempat menyentuh kulit kami. Alam siang itu cukup bersahabat sehingga kami bisa menikmati pemandangan yang cukup indah di sepanjang jalan yang kami lewati. Terlebih jalan yang kami lewati banyak melintasi hutan, tentu pepohonan-pepohonan menjadi hiasan di pinggir-pinggir jalan.

Lepas dari hutan di sebelah barat desa Sidotentrem, kami masuk desa Nglateng yang sudah masuk wilayah Kec. kenduruan. Nglateng ini mengingatkan kenangan saya sekitar 25 tahun silam. Tepatnya saat saya masih duduk di sekolah dasar. Saat itu kami siswa SDN Sidotentrem 02 mengadakan penjelajahan alam, berjalan dari  desa Sidotentrem menuju sendang yang berada di desa Nglateng. Pembina Pramuka kami adalah Pak Didik (bapak Hadi Yuswanto). Kenangan penjelajahan alam melintasi hutan itu cukup terkenang hingga saat ini, saya memang sangat menyukai kegiatan jelajah alam dan blusukan ke hutan-hutan.

Sejak dulu desa Nglateng terkenal sebagai sentra buah jambu mente. Biasanya jika musim berbuah, para penjual jambu mente menjajakan buah yang berasa nyegrak ini hingga ke desa di mana saya tinggal. Buah jambu mente ini bisa langsung dimakan atau di masak sebagai oseng-oseng. Dan yang paling saya suka buah ini dirujak pedas saat siang hari. Wuih, rasanya mantap sekali.

Sekarang desa Nglateng selain terdapat pohon jambu mente, di pekarangan rumah warga tumbuh pula pohon rambutan. Pohon-pohon itu ternyata juga berbuah cukup lebat, sayang saya belum bisa menikmati buah-buahan yang banyak tumbuh di daerah dingin itu. Ternyata selain durian di Jlodro yang akan saya kunjungi di daerah sini juga tumbuh pohon rambutan.

Di desa Nglateng ini terdepat sebuah situs yang oleh masyarakat dikenal dengan nama situs watu wayang. Sayang sekali situs yang terletak di pinggir lapangan dekat jalan raya ini sudah rusak. Kemarin saya lihat tinggal satu batu yang menonjol di sana. Saya sendiri tidak begitu paham apa itu situs watu wayang. Dari namanya mungkin di situ dulu ada batu-batuan yang mirip dengan wayang sehingga disebut sebagai watu wayang. Menurut penduduk sekitar sisa-sisa dari situs watu wayang ditaruh di lokasi sendang Nglateng. Saya pernah melihat batu itu, memang ada kemiripannya dengan tokoh-tokoh dalam wayang kulit.

Setelah melewati desa Nglateng perjalanan saya lanjutkan ke arah desa Jamprong. Sebuah desa yang terletak diketinggian perbukitan. Pemandangan di desa ini cukup eksotis dengan hamparan sawah yang berundak-undak. Rumah-rumah penduduk berjajar di sisi kiri dan kanan jalan, rumah-rumah itu berada di bawah jalan raya yang saya lewati. Beberapa bulan yang lalu di Jamprong ini terdapat pengeboran minyak, namun sekarang sudah berhenti beroperasi, saya tidak begitu paham mengapa demikian.

Setelah sampai di puncak desa Jamprong perjalan saya sudah mendekati lokasi durian Jlodro, tinggal satu melewati satu desa lagi yaitu Sokogunung. Sebelum memasuki Sokogunung kami harus melewati hutan kembali. Udara sore itu semakin sejk dengan pohon-pohon jati yang cukup lebat. Di tengah perjalanan saya melihat nenek-nenek berjalan menenteng ember. Setelah dekat ternyata si nenek ini membawa jamur dari hasil berburu di tengah hutan.

Saya pun berhenti, istriku yang tahu kala saya penyuka jamur serta merta mendekati nenek tadi. “Nek, jamure disade? tanya istri sambil mendekati nenek pemburu jamur. “Enggih Ning, mangga yen badhe ditumbas jamure” jawab si nenek. “Pinten mbah, jamurnya? tanya saya. “Kalih Doso mawon, Gus”. Kemudian istri saya pun mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu dan memberikannya kepada si nenek. Sebagai gantinya jamur itu pun kami bawa untuk kami masak di rumah.

Saat ini memang lagi musimnya jamur, namun tentu butuh perjuangan untuk mencarinya. Di pasar jamur hasil budi daya memang banyak dijual, namun saya lebih suka jamur liar hasil budi daya alam. jadilah kami membawa seember jamur sebelum sampai ke tujuan yaitu berburu durian.

Tak berselang lama, setelah perjalanan  melewati hutan sampailah kami di Sokogunung, walau namanya Sokogunung yang berarti tiangnya gunung tapi saya tidak melihat mana tiangnya dan mana gunungnya. Ya mungkin ini hanya sekedar nama saja, dan gunung yang dimaksud adalah bukit-bukit kecil yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai gunung, bukan gunung dalam pengertian yang sesungguhnya.

Dahulu memang desa Sokogunung, Jlodro, dan termasuk Jamprong memang berada di pedalaman hutan, dan topografinya memang perbukitan. Desa Sokogunung ini berbatasan langsung dengan desa Jlodro. Di Jlodro inilah seperti saya ceritakan di tulisan pertama saya terdapat pohon durian yang sedang berbuah.  Dan ini adalah akhir dari perburuan kami sesudah mendapatkan seember jamur hutan.

Selain berpotensi menjadi daerah wisata durian, desa Jlodro juga memiliki potensi wisata sejarah. Di Jlodro terdapat situs yang disebut sebagai situs watu jajar. Oleh masyarakat setempat lokasi situs ini dijadikan punden desa yang mana tiap tahunnya sesudah musim panen diadakan upacara bersih desa, atau manganan.

Situs watu jajar ini kemungkinan adalah kuburan kuno masyarakat awal yang mendiami pegunungan kendeng utara, yaitu masyarakat kalang, atau wong kalang. Tentu perlu studi mendalam untuk menentukan apa sebenarnya situs watu jajar tersebut. Tentu pihak pemerintah desa dan dinas terkait yang memiliki wewenang untuk membongkar misteri di balik watu jajar yang ada di wewengkon desa Jlodro Kec.Kenduruan.


Senin, 15 Januari 2018

Ternyata Ada Kampung Durian Runtuh Di Jlodro Kenduruan


Ternyata Ada Kampung Durian Runtuh Di Jlodro Kenduruan
Oleh : Joyo Juwoto

Pernah melihat film kartun dari negeri jiran Malaysia, Ipin dan Upin? Film ini sangat digemari oleh anak-anak Indonesia, termasuk saya yang sudah tdak anak-anak juga sangat suka melihat kartun ini. Dua bersaudara gundul-gundul pacul ini tinggal di suatu kampung yang dikenal dengan nama Kampung Durian Runtuh. Ditilik dari namanya tentu dalam bayangan kita kampung ini terdapat pohon duriannya. Ya memang begitu, sebuah nama kampung biasanya mengisyaratkan tentang kondisi topografi maupun goegrafis kampung itu sendiri.
Saya selalu membayangkan bahwa ketika musim durian, Kampung durian runtuh ini akan berpesta pora dengan aroma sedap buah durian, atau lebih hebohnya ada semacam festival buah durian. Wuihh! mantap dan begitu menyenangkannya ya tinggal di kampung durian atau setidaknya dekat dengan kampung itu.
Saya yang di Bangilan membayangkan andai pohon durian bisa tumbuh dan berbuah di daerah saya sini, alangkah enaknya. Maklum secara geografis Bangilan dan sekitarnya bukanlah tempat yang cocok untuk jenis tumbuhan dari daerah berhawa sejuk dan dingin ini. Lebih-lebih penduduk Bangilan dan sekitarnya belum ada yang menanam pohon durian secara serius. Mungkin ya tadi sebabnya kondisi alamnya tidak cocok dengan tanaman berbau tajam dan berkulit duri lancip ini.
Tak disangka tak dinaya, seperti alam yang terus berubah ternyata di dekat daerah saya, tepatnyadi desa Jlodro Kec. Kenduruan kok ada penduduk yang memiliki beberapa pohon durian. Ini tentu sangat langka, Dan hebatnya pohon ini ternyata bisa menghasilkan buah. Saya mengetahui ini dari membaca salah satu pemberitaan media online, wah saya terpana ternyata di dekat kampung saya ada juga kampung yang mirip dengan kampungnya Ipin Upin tadi.
Sebenarnya setelah saya telisik di mbah google, pemberitaan mengenai pohon durian di Jlodro sudah ada sejak Februari 2017. Bahkan oleh pihak pemerintah desa dan kecamatan produk durian dari Jlodro telah dipamerkan juga dalam produk unggulan khas Kenduruan selain tape tawaran yang terkenal seantero kabupaten. Berarti sudah satu tahun yang lalu buah durian ini dikenalkan kepada publik. Eh ngapain saja ya saya, kok baru mengetahuinya sekarang?
Demi membaca pohon durian yang tumbuh dan berbuah di dekat kampung saya, maka tanpa perlu banyak pertimbangan satu, dua dan tiga, saya pun meluncur ke lokasi dengan istri dan anak-anak saya. Wah keren sekali ini, sekalian wisata kuliner buah durian di kampung Jlodro Kenduruan yang telah menjelma menjadi kampung durian runtuh ala Ipin dan Upin.
Untuk mencapai lokasi desa Jlodro dari tempat saya tidak jauh, sekitar 30 menitan sudah sampai di lokasi. Terlebih jalannya sudah beraspal dan cukup bagus. Saya yang dari Bangilan langsung mengambil rute dari kota kecamatan Bangilan ke barat lewat desa Sidotentrem terus menembus hutan  ke barat arah Nglateng. Dari Nglateng saya mengambil arah tanjakan desa Jamprong yang kemudian sampai di jalan raya Sokogunung. Dari Sokogunung ini Jlodro sudah sangat dekat sekali, karena memang dua desa ini saling berbatasan.
Sesampai di desa Jlodro saya pun langsung beraksi bertanya-tanya kepada warga yang saya temui tentang pohon durian yang berbuah di desa mereka. Ternyata memang tidak susah mencari berita yang sudah viral di media sosial. Langsung saja saya pun ke rumah salah satu warga yang memiliki pohon durian. Ya, saya ke rumah Mbah Sumijan, salah seorang yang mendapat berkah dari pohon duriannya yang berbuah cukup lebat. Wah ternyata bener ya, di desa Jlodro Kenduruan terdapat kampung durian runtuh kayak di film kesukaan anak-anak saya itu.
Eh,  cukup sekian dulu ya cerita  saya mengenai kampung durian di desa Jlodro Kec. Kenduruan, nanti kalau ada waktu saya tuliskan juga serunya perjalanan berburu durian di kampung durian Jlodro. Daa... terima kasih.