Rabu, 22 Maret 2017

Bangilan Tuban, Kota Kelahiran Abah Hasyim Muzadi

Bangilan Tuban, Kota Kelahiran Abah Hasyim Muzadi
Oleh : Joyojuwoto

Bangilan adalah sebuah kota kecamatan yang berada di Kabupaten Tuban.  Mungkin tidak semua orang mengenal dan tahu kota di mana Abah Hasyim Muzadi, seorang tokoh nasional bahkan internasional dilahirkan. Bangilan memang dalam percaturan politik dikancah nasional tidak begitu penting, sehingga wajar jika jarang yang mengetahuinya. Terlebih lagi Abah Hasyim Muzadi mengawali kariernya bukan dari kota Bangilan, namun dari Jl. Cengger Ayam, Malang Jawa Timur.

Walau demikian, sebenarnya kota kecil di bagian barat daya Tuban ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Bangilan dan Senori sejak zaman dahulu sudah sangat masyhur, menjadi kota santri dan kotanya para alim ulama. Dari kota ini banyak terlahir tokoh masyarakat, ulama, dan orang-orang yang berjasa bagi peradaban umat manusia. Dahulu memang penyebutan antara Senori dan Bangilan menjadi satu, walau pada dasarnya dua nama itu adalah dua tempat yang berbeda, namun secara kultur adalah sama.

Sebut Saja ada Mbah Abu Fadhol As-Senory-Al Bangilani, seorang ulama yang memiliki banyak karya tulis berbahasa arab, walau beliau hanya mondok pada KH. Hasyim Asy’ari selama tujuh bulan. Konon karya Mbah Abu Fadhol ini dijadikan rujukan di . Ada pula KH. Misbah Zainil Mustofa, seorang ulama pendiri pondok pesantren Al Balagh yang juga seorang penulis kitab yang produktif. Karya-karya Mbah Misbah sapaan beliau, menjadi rujukan hampir disebagian besar wilayah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Selain dua nama ulama ternama di atas, masih banyak ulama-ulama hebat yang pernah tinggal mendiami bumi Bangilan. Seperti Mbah Muchit Muzadi, KH. Abd. Moehaimin Tamam, Pendiri pondok pesantren ASSALAM Bangilan, KH. Uzair Zawawi, KH. Gus Nafis Misbah, Gus Badi' Misbah, KH. Shonhadji Nasir, Bu Nyai Hanifah Muzadi, KH. Hasyim Muzadi, dan beberapa kiai-kiai lainnya.

Selain menjadi rumah bagi para kiai, Bangilan-Senori zaman dahulu juga pernah menjadi basis organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan sebelum PCNU ada di kota Tuban, PCNU lebih dulu berdiri di Bangilan- Senori sekitar tahun 1949, perkembangan NU di wilayah Tuban bagian selatan tidak terlepas dari jasa KH. Nur Salim, alumni pesantren Tebuireng. Sedang NU di Tuban pertama kali berdiri di Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu tahun 1935. Tidak heran jika ada guyonan masyarakat yang mengatakan bahwa Jenu itu berasal dari kata JElas NU.

Secara historis, ternyata Bangilan memiliki peran penting bagi perkembangan organisasi Nahdlatul Ulama yang ada di Kota Tuban, oleh karena itu tidak mengherankan jika saat itu kakak dari Abah Hasyim Muzadi, yaitu Mbah Muchit Muzadi ikut mengenalkan Hasyim Muzadi kepada tokoh-tokoh NU, sehingga hal ini menjadi bekal bagi kepemimpinan dari Abah Hasyim Muzadi kelak saat beliau menjadi pimpinan di organisasi terbesar yang ada di tanah air ini.


Dari kota kecil Bangilan inilah, Abah Hasyim Muzadi terlahir, kemudian beliau secara bertahap  dari nol, dari bawah berjuang dengan keras dan akhirnya menjadi tokoh yang berkiprah dan diperhitungkan oleh dunia internasional. Semoga jasa-jasa beliau mendapatkan balasan yang kebaikan dari Allah Swt, dan semoga kehidupan beliau menginspirasi kita semua, khususnya masyarakat Bangilan. Aamiin.

Mutiara Surat At Tin

Mutiara Surat At Tin
Oleh : Joyo Juwoto

Surat At Tin termasuk surat yang diturunkan di kota Makkah, jumlah ayatnya ada delapan. At-Tin di sini adalah merujuk pada nama sebuah pohon yang banyak tumbuh di daerah timur tengah, namun tanaman ini sekarang juga banyak dibudidayakan di Indonesia.

Nama pohon Tin ini disebut satu kali, yaitu dalam surat At-Tin ayat 1, “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun”. Jika Allah menjadikan pohon ini sebagai lafal sumpah, tentu pohon ini punya keistimewaan yang lebih dibandingkan dengan pohon-pohon yang lainnya. Bahkan Rasulullah menyebutnya buah Tin sebagai salah satu buah dari di surga.

          Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, bersabda mengenai buah Tin ini :
“Rasulullah telah diberi hadiah satu wadah buah Tin, kemudian Nabi Bersabda : “Makanlah kalian!” lalu beliau pun memakannya dan berkata, “Jika engkau berkata ada buah yang diturunkan dari surga, maka aku bisa katakan inilah buahnya, karena sesungguhnya buah dari surga tanpa biji. Oleh karena itu makanlah, karena buah Tin ini dapat menyembuhkan penyakit wasir dan encok.” (HR. Abu Darda)”.

          Selain berfungsi sebagai obat wasir dan encok, buah Tin ini banyak mengandung senyawa garam, kalsium, fosfor, dan zat besi. Selain itu juga mengandung vitamin A dan B. Buah Tin juga banyak mengandung vitamin C dan K yang memiliki fungsi menghentikan pendarahan saat proses pembekuan darah.

Pohon Tin ini selain keramat menurut pandangan umat Islam, dalam literatur agama samawi lainnya seperti Yahudi dan Nasrani juga menyebut mengenai pohon Tin ini. Yesus Kristus bahkan menjadikan pohon Tin atau pohon Ara sebagai perumpamaan yang diajarkan kepada murid-muridnya. “Tariklah pelajaran dari perumpamaan pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat...”.

Selain memiliki manfaat sebagai obat dan sebagai penanda musim, pohon Tin ini disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir Juz III, bahwa Ibnu Abbas ketika menafsiri lafadz “Waraqal Jannah” (daun-daun surga), dalam surat Thaha ayat 121, bahwa daun surga yang dimaksud itu adalah daun dari pohon Tin. Daun-daun Tin inilah yang dipakai oleh Adam dan Hawa untuk menutupi aurat-aurat mereka yang terbuka setelah memakan buah Khuldi atas bujukan dan rayuan sesat dari syetan.

          Sedangkan nama Zaitun disebut dalam Al Qur’an sebanyak 7 (tujuh) kali, yait pada surat Al An’am ayat 99; An Nahl ayat 11; al Mukminun ayat 20; an-Nur ayat 35; Abasa ayat 29; dan dalam surat At Tin ayat 1.

          Sebagaimana pohon Tin, pohon zaitun juga banyak memiliki manfaat. Sekarang ini produk olahan dari buah zaitun sangat banyak, dipakai sebagai obat maupun untuk komoditi lain, semisal sebagai bahan pembuatan sabun, kalium karbonat, sebagai obat penawar racun, bahan baku salep, sebagai pewarna produk-produk tekstil dan lain-lain. Hal ini juga sesuai yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, bahwasanya Zaitun memiliki banyak manfaat dan keberkahan. Dalam sebuah hadits Nabi Bersabda : “Makanlah buah zaitun dan peraslah minyaknya, karena dia pohon yang membawa berkah.”

          Setelah Allah bersumpah dengan menyebut Tin dan Zaitun, dalam ayat kedua Allah menyebut Thursina, yaitu nama sebuah gunung yang berada di Semenanjung Sinai. Di gunung inilah Nabi Musa berbicara langsung dengan Allah, oleh karena itu Nabi Musa mendapatkan julukan “Kalimullah” maksudnya adalah beliau langsung bercakap-cakap dengan Allah tanpa melalui perantara Malaikat saat menerima wahyu di puncak bukit Thursina. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surat An Nisa’ ayat 164 yang artinya : “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”

          Di ayat ketiga, Allah Swt, bersumpah demi negeri yang dijadikan aman. Dalam tafsir Al Iklil yang ditulis oleh KH. Misbah Zainil Mustofa, dinyatakan bahwa negeri yang dimaksud adalah negeri Makkah. Negeri Makkah adalah tempat yang mendapatkan perlindungan langsung dari Allah Swt ketika pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah saat akan menghancurkan Ka’bah. Di tempat ini pula setiap orang akan merindukannya untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima, yaitu berangkat menunaikan ibdah haji.

          Ayat keempat dan kelima Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang baik dan sempurna. Secara lahiriah kesempurnaan manusia sebagai makhluk Tuhan lama kelamaan akan sirna, mulai dari kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan akhirnya akan menua. Seperti pohon-pohon hijau yang lama kelamaan akan menguning dan kering, kemudian luruh ke tanah dan akhirnya mati.

          Yang mampu mengabadikan kesempurnaan manusia adalah keimanannya dan amal sholeh yang diperbuatnya, karena dengan iman dan amal sholeh itulah manusia akan mendapatkan ganjaran yang tiada terputus. Demikian sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang keenam.

Di ayat yang ketujuh Allah Swt, menegaskan dengan sebuah pertanyaan “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu ? Ayat ini memberikan gambaran bahwa Allah pasti akan memberikan balasan yang baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, sedangkan orang yang tidak beriman dan membuat kerusakan akan direndahkan oleh Allah dengan serendah-rendahnya di akhirat kelak.

Kemudian surat At-Tin ditutup dengan penegasan dan pernyataan dalam bentuk pertanyaan, “Bukankah Allah Hakim yang adil ? di dalam tafsirnya, Mbah Yai Misbah memberikan keterangan di ayat terakhir ini, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : Barangsiapa yang membaca surat At-Tin hingga akhir ayat, sebaiknya kemudian membaca :
بلى وانا على ذلك من الشاهدين


Maksud dari bacaan di atas adalah kita mengiyakan dan bersaksi bahwa Allah Swt Dzat yang Maha Adil dengan segala hukum-hukumnya. Kita tunduk dan taat kepada hukum Allah dan ridha dengan segala qadha-Nya. Demikianlah para ulama dahulu bertata karma dalam menyikapi sebuah ayat.

Selasa, 21 Maret 2017

Abah Hasyim Muzadi, Kiai Kelahiran Bangilan Tuban

Abah Hasyim Muzadi, Kiai Kelahiran Bangilan Tuban
Oleh : Joyojuwoto

Bangilan Kota Kelahiran Abah Hasyim Muzadi

Abah Hasyim Muzadi, terlahir dengan nama Achmad Hasyim, beliau lahir di Bangilan Tuban, tanggal, 08-08-1943. Abah Hasyim terlahir dari pasangan Pak Muzadi dan Ibu Rumyati. Dari kota  kecil Bangilan, Abah Hasyim menjelma menjadi tokoh, ulama, yang kiprahnya diakui oleh dunia internasional.

Walau Abah Hasyim banyak menghabiskan waktunya di Malang dan Depok untuk urusan umat serta mengurusi pesantren Al Hikam yang beliau dirikan, namun secara perasaan saya merasa dekat dengan beliaunya. Kedekatan ini saya kira wajar, seorang santri merasa dekat dengan kiainya, walau saya sendiri secara langsung juga tidak nyantri pada beliau. Selain ikatan batin antara santri kepada Kiainya, saya juga dekat dengan keluarga Abah Hasyim Muzadi yang ada di Bangilan.

Kebetulan saya nyantri kalong di pondok pesantren ASSALAM Bangilan, sebuah pesantren yang didirikan oleh Abah Moehaimin Tamam. Kiai saya, Abah Moehaimin masih sepupu dari Abah Hasyim Muzadi. Selain sepupu, adik dari Abah Moehaimin, Bu Nyai Mutammimah adalah istri dari Abah Hasyim Muzadi. Jadi tidak berlebihan jika saya merasa dekat dengan Abah Hasyim Muzadi, karena beliau masih adik ipar dari kiai saya.

Ayah dan Ibu, Abah Hasyim Muzadi

Pak Muzadi, ayah dari Abah Hasyim adalah seorang pedagang yang sukses. Sedang Bu Rumyati adalah ibu rumah tangga yang juga berjualan jajanan bolu. Walau  bukan seorang kiai beliau sangat dekat dan senang dengan kiai. Dalam dunia santri, jika kita ingin pandai atau anak keturunan kita menjadi alim, maka hendaknya cinta kepada orang alim. Tidak heran jika putra-putri Pak Muzadi  menjadi kiai yang alim. Seperti Mbah Muchit Muzadi, Bu Nyai Hanifah Muzadi, Abah Hasyim Muzadi, dan putra-putri beliau lainnya.

Pak Muzadi adalah seorang pedagang tembakau, selain itu beliau juga mempunyai usaha merangkai sepeda onthel. Pada waktu itu tidak sembarang orang memiliki onthel, hanya orang-orang kaya saja yang punya. Pak Muzadi juga punya hobi memelihara burung perkutut, bahkan dari hobinya ini, sekitar tahun 1934 beliau berhasil menjual pekutut dengan harga yang tinggi kemudian dibelikan sebuah mobil sedan touring, merknya  Chevrolet yang lagi ngetrend masa itu. Pada waktu itu di Bangilan hanya ada dua orang yang punya mobil, satunya adalah Pak Muzadi. Pada waktu itu Camat Bangilan jika ingin pergi ke Tuban, meminjam mobilnya Pak Muzadi.

Pak Muzadi Merintis Madrasah di Bangilan

Sekitar tahun 1930-an, tidak semua orang bisa sekolah, Di Bangilan hanya terdapat dua sekolahan, yaitu sekolah Volk School dan Vervolg School. Atau masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai sekolah ongko siji dan sekolah ongko loro. Tidak semua kecamatan memiliki sekolah, namun kedua jenjang sekolah itu ada di Bangilan. 

Sekolah Volk School atau sekolah tingkat dasar ditempuh selama tiga tahun, sedangkan sekolah Vervolg School atau sekolah lanjutan ditempuh selama enam tahun. namun tidak semua orang pada masa itu bisa sekolah. Di Bangilan pada waktu itu yang berhasil tamat sekolah Vervolg School enam tahun adalah H. Badrut Tamam. Beliau ini ayah dari kiai saya Abah Moehaimin Tamam, yang juga mertua dari Abah Hasyim Muzadi.

Karena model sekolah baik Volk School maupun Vervolg School bercorak Belanda, siswanya memakai celana pendek yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka Pak Muzadi merintis madrasah sendiri yang dikenal dengan nama Madrasah Miftahus Salamah. Pak Muzadi ini yang mondar-mandir mencari guru dan murid. Karena ketokohan dari Pak Muzadi, waktu itu mendapatkan sebanyak 12 murid. Beliau juga mendatangkan guru dari Kajen Jawa Tengah. Pada waktu itu istri Pak Muzadi punya adik ipar lulusan Madrasah Matholiul Falah yang didirikan oleh  KH. Abdus Salam tahun 1922, namanya Maskoen. Pak Maskoen inilah yang nanti akan dinikahkan dengan Bu Muyassaroh, binti Muzadi, yang tak lain kakak dari Abah Hasyim Muzadi.

Waktu itu untuk mencari guru sangat susah, apalagi menjadi guru Madrasah yang baru dirintis. Oleh karena itu Pak Muzadi punya kiat khusus dalam rangka menjaring guru. Beliau sebagai pengusaha perakit sepeda onthel, akan memberikan kemudahan bagi guru madrasah untuk membeli sepeda onthel yang waktu itu masih menjadi barang yang langka dan istimewa. Hanya para mandor dan sinder kehutanan saja yang mampu membeli dan mengkredit sepeda buatan Pak Muzadi. Harganya sekitar dua gulden, kalau dikurs dengan mata uang sekarang setara dengan dua ratus ribu rupiah.

Waktu itu madrasah menempati sebuah loji milik orang abangan, entah sebab apa tiba-tiba loji itu diminta oleh pemiliknya dengan alasan yang tidak jelas. Akhirnya Pak Muzadi mencari tempat lain, maka dipilihlah sebidang tanah miliknya yang ditempati langgarnya Kiai Ridwan, seorang kiai sepuh dari Bangilan. Madrasah Miftahus Salamah akhirnya berdiri dan pembelajaran berjalan dengan dengan baik, namun setelah berlangsung selama tiga tahun madrasah itu kembali vakum. Salah satu murid dari sekolah yang dirintis oleh Pak Muzadi adalah anaknya sendiri, yaitu Mbah Muchit yang waktu itu berumur 10 tahun, kakak dari Abah Hasyim. Sedang Abah Hasyim sendiri belum lahir.

Keluarga Yang Grapyak Semanak

Dengan Pak Muzadi, saya tidak pernah ketemu, namun yang istri beliau Mbah Rumyati saya sempat ngonani. Bahkan ketika beliau wafat saya ikut bertakziyah, waktu itu kalau tidak salah saya duduk di kelas satu MTs. Keluarga besar dari Abah Hasyim Muzadi ini dikenal sebagai keluarga yang grapyak dan semanak. Suka menolong dan baik terhadap tetangga kiri kanan. Kebetulan saya menjadi santri ASSALAM Bangilan Tuban yang memang masih satu keluarga dengan Abah Hasyim Muzadi. Ketika Bu Nyai Hanifah (Kakak Abah Hasyim) masih sugeng,  Saya  sering di ndalemya, bahkan pernah menempati rumahnya Bu Muyassaroh, bersama santri-santri lainnya (baca : http://4bangilan.blogspot.co.id/2015/04/sepenggal-kisah-bu-nyai-hj-hanifah.html). Dari sinilah saya tahu bahwa keluarga Abah Hasyim Muzadi adalah keluarga yang sangat baik kepada siapapun.

Pendidikan dan Karier Abah Hasyim Muzadi

Pendidikan Abah Hasyim Muzadi dimulai dari MI Bangilan, kemudian beliau sekolah di Tuban kota hingga SMP. Setelah dari SMP beliau kemudian melanjutkan mondok di Gontor Ponorogo, bareng dengan kiai saya, Abah Moehaimin Tamam. Menurut Abah Moehaimin, walaupun satu pondok tetapi mereka jarang ketemu. Karena Gontor menerapkan sistem santri tidak boleh satu kamar dengan santri yang berasal dari satu daerah. 

Setamat dari Gontor, Abah Hasyim nyantri di Mbah Fadhol, Senori. Selain itu beliau juga nyantri di Lasem Jawa Tengah. Sekitar tahun 1964, Abah hasyim melanjutkan pendidikannya di kota Malang. Pada saat di Malang ini, menurut kiai saya, Abah Hasyim kuliah sambil bekerja. Abah Hasyim jualan kecap dengan cara berkeliling menawarkan dagangannya di kota Malang. Suatu ketika, pas hari Jumat, Abah Hasyim jualan kecap seperti biasa, karena waktunya mendekati shalat Jumat beliau berhenti di salah satu masjid. Ketepatan waktu itu khatibnya berhalangan hadir, karena tidak ada yang maju, Abah Hasyim entah karena apa dipanggil untuk menjadi khatib.

Walau tanpa persiapan khutbah, Abah Hasyim yang lulusan Gontor mampu berkhutbah dengan baik, bahkan hingga menyihir para jamaah. Memang Abah Hasyim memiliki keistimewaan dalam hal ini. Setelah khutbah itulah akhirnya Abah Hasyim di dekati oleh seorang tokoh setempat, agar beliau bersedia mengisi pengajian di masjid tersebut. Dari sinilah karier Abah Hasyim mulai dikenal oleh masyarakat hingga beliau menjadi tokoh dan ulama yang dikenal luas oleh dunia. Ini yang saya dengar dari cerita kiai saya, Abah Moehaimin Tamam, saat saya nyantri dulu.

Demikian sedikit kisah Abah Hasyim Muzadi, semoga dengan mengenang orang-orang baik, kita ikut ketularan kebaikannya. Dan semoga Abah Hasyim Muzadi terus mengabadi dalam jiwa dan karya generasi penerusnya. Aamiin.

Owh, ya ! foto yang saya pajang dengan Abah Hasyim Muzadi itu bukan foto saya, karena saya tidak pernah foto dengan Abah Hasyim Muzadi. Lagian wajah saya lebih ganteng sedikit dibanding pemilik foto yang asli. Itu adalah foto dari salah satu santri kinasihnya Abah hasyim Muzadi. Sekian terima kasih.