Rabu, 13 Desember 2017

Pesan Pengasuh Ponpes ASSALAM Bangilan Di Pekan Classmeeting dan Liburan Santri

Pesan Pengasuh Ponpes ASSALAM Bangilan Di Pekan Classmeeting dan Liburan Santri
Oleh : KH. Yunan Jauhar, S.Pd., M.Pd.I

بسم الله الرحمن الرحيم
الســلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِى مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ.اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَان إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, أَمَّا بَعْدُ.
Bapak-Bapak Guru, Santri-santri yang kami cintai, dan Keluarga Besar Pondok  Pesantren ASSALAM yang berbahagia.
Hari ini, kami Pengasuh Pondok ASSALAM beserta para santri dan guru, ditambah asatidzah dan ustadzah, pagi hari ini menyaksikan gerak langkah, sepak terjang perjuangan Pondok ASSALAM di masyarakat. Jumlah 1500 Santri berada di tengah-tengah kita menempuh perjalanan hidup, menggapai dunia ilahi.
Betapa besarnya nikmat Allah untuk Pondok Pesantren ASSALAM dan betapa agungnya nilai-nilai perjuangannya, suatu karunia yang tak ternilai dengan apapun, sekaligus amanat menuju ridlo Allah. 
Tidak mensyukuri kemajuan orang yang tak pernah mengalami kemunduran atau kemandegan. Marilah kita semua berbuat, bekerja, berfikir dan berdo’a siang dan malam, semaksimal mungkin, dengan vitalisasi tenaga, dengan fikiran, dengan hati, berbekal ilmu dan akhlak.

عُلُوْمٌ نَافِعَةٌ – وَأَخْلاَقٌ كَرِيْمَةٌ. اِعْمَلُوْا فَوْقَ مَا عَمِلُوْا
Berbuatlah lebih dari yang para pendahulu berbuat, BERPACU MENUJU YANG LEBIH BAIK
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً (الأية).
Rasa “percaya diri” kita, pada sistem pendidikan yang memadukan ide, gerak dan langkahnya mendapatkan simpati, kepercayaan dan pengakuan semua lapisan masyarakat, sehingga meskipun menghadapi hadangan pihak yang tak suka ( يريدون ليطفؤونورالله  ), bermunculanlah sistem ini  berbarengan dengan laju pesatnya minat mengamalkan ajaran/syari’at Islam.

Anak-anakku sekalian, keluarga besar PondokASSALAM.
Semua santri & guru Pondok ASSALAM sampai yang berkeluarga, harus menghayati dengan benar isi Khutbatul ‘Arsy, yakni : Pidato tentang kebijakan-kebijakan, program-program jangka pendek dan jangka panjangnya agar tidak berfikir individual, Ayoh Mas nyang sarangan, Ayo Mas nyang selekta atau  Awake dewe oleh opo Mas?! Awake dewe duwe opo mas? Kapan duwe “anu” lho maas! Ini Penyakit, atau berfikir sektoral, hanya memikirkan urusannya. Ujung-ujungnya mudah tercemar (terkontaminasi), tersusup (terinfiltrasi), ‘anasir-‘anasir yang merusak atau memalingkan.

Memalingkan dari tugas-tugas sebagai pejuang-pejuang, suami pada istri, istri kepada suami, jangan sampai memalingkan tujuan pengabdian, perjuangan, disini adanya adalah “give, give, give” tidak ada kamus “take” dipondok ini. Suami juga demikian, bapak juga demikian “Nak izin nak, besok izin kakakmu mau kawin, “Nak minta izin kepada Kyai, besok pagi adikmu ulang tahun, Nak besok tanggal sekian, saya pulang karna kambingmu akan disunati”. “Ini penyakit, ini penyakit” “penyakit jiwa” “penyakit panca jiwa”.

Mulai tahun ini ada pernyataan penyerahan tertulis wali santri demi pencerahan hati/niat dan demi rasa tanggungjawab bersama, apalagi di zaman carut marutnya peradaban-peradaban yang ditawarkan oleh semua pihak/aliran didunia. 
Sejak Pondok dirintis oleh Abah Moehaimin Tamam, Pondok ASSALAM  tetap menanamkan risalah keislaman, keilmuan dan kemasyarakatan. Keikhlasan,Kesederhanaan,Berdikari (kemandirian),Ukhuwah Islamiyah,Kebebasan. Inilah pijakan kita dalam meneruskan amanah Abah Moehaimin Tamam. Meniti jalan, menapak bumi, menggapai dunia lillahi robbil ‘alamin.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر                                       
Alangkah beruntungnya para guru dan keluarga besar Pondok Pesantren ASSALAM yang berkesempatan mengenyam KEHIDUPAN BERSAMA, berada di tengah-tengah medan perjuangan; menjaga, membantu dan membela risalah yang mulia ini. Bondo bahu pikir, lek perlu bojone pisan, kalau perlu suaminya dikorbankan, kalau perlu istrinya dikorbankan, bukan dipertahankan untuk mashlahat yang pendek, atau mashlahat pribadi.
Bapak-bapak guru dan anak-anakku.
Pandanglah putra-putra ummat yang gagah, yang ganteng-ganteng, cerah-ceria, anak-anak kita generasi yang akan datang, rapih-rapih ibarat mutiara yang bersinar cerah, secerah sinar matahari di pagi hari, berbaris rapih, serapih hati fikiran dan penampilannya. Jangan Geer kalau dipuji orang, jangan kecewa kalau diledek orang, ananda adalah seorang muslim sejati.
Melangkah kepada 21 tahun umur Pondok Pesantren ASSALAM ini, tidak cukup hanya mendengar, membaca dan berbicara, tetapi perlu dengan seksama merenungkan kembali refleksi risalah Pondok ini. Jangan sampai kecewa karena merasa kurang beruntung atau puas karena mendapatkan banyak manfaat jangka pendek. Mencari baiknya, bukan enaknya. 
Kegiatan santri di Pondok Pesantren  selama 24 jam akan menentukan nilai raport Pondok secara umum. Kurikulum Pondok Pesantren mulai bangun tidur termasuk mata pelajaran, berangkat tidur termasuk kurikulum, membangunkan anak termasuk  kurikulum, keliling malam termasuk kurikulum, berpramuka termasuk kurikulum, berorganisasi termasuk kurikulum Pondok Pesatren ASSALAM, matematika, fisika, fiqh, hadits juga termasuk kurikulum. Oleh karena itu totalitasPondok ini yang menentukan raport Pondok Pesantren ASSALAM secara umum dan secara detail.

Kekompakan keharmonisan mengharuskan pola kebersamaan tanpa meninggalkan maslahat pribadi/perorangan; pemberdayaan kader dengan etos kerja berpanca jiwa. Masa yang akan datang – dekatnya tahun ini – merupakan جدّية “Kesungguhan”. Intensifikasi di semua bidang. EVEN THE BEST CAN BE IMPROVED.  Yang terbaik masih bisa diperbaiki. Kedisiplinan harus kita jalankan, disiplin waktu, disiplin pakaian, disiplin izin, disiplin kegiatan harus kita jalankan. Kalau kita bukan yang menjalankan aturan-aturan kita akan siapa lagi ?.

Pondok Pesantren ASSALAM harus bisa menjadi benteng dari upaya penghancuran Islam (De Islamisasi); Mengisolasi Islampemojokan dan peminggiran tuntunan-tuntunannya. Berpijak pada inti amanatnya yaitu Islamisasi kehidupan menuju ridho Allah SWT. Pesantren benteng moral, melawan penjajah dan penjajahan” demikianlah sejarah mencatat. 
فىِِ أَىِّ أَرْضٍ تَطَأُ فَأَنْتَ مَسْئُوْلٌ عَنْ إِسْلاَمِهَا
Bumi yang luas ini, akan menjadi sempit karna moral disiplin dan karna disiplin moral ditinggalkan.Namun marilah kita berjihad.

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, niscaya akan Kami beri petunjuk jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Al-Ankabut 69)  
أَفَمَنْ يَمْشِى مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّنْ يَمْشِى سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ ( الأية) 
“Apakah orang yang berjalan diatas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap diatas jalan yang lurus” (Al-Mulk 22)                                       
Ya Allah lindungilah kami, Lindungilah guru-guru dan murid-murid kami.Lindungilah Keluarga Besar Pondok Pesantren ASSALAM Kampung DamaiDengan taufiq dan hidayah Mu Dengan ilmu yang bermanfaat Dengan kekuatan lahir dan bathin. Karunialah kami Keluarga Besar Pondok Pesantren ASSALAM kesehatan, kekuatan, kesabaran, ketabahan, istiqomah mengembangkan pondok ini. Bukakanlah jalan yang terbaik bagi kami, menuju ridho Mu Ya Allah.
Ya Allah…..
Ampunilah dosa kami, dosa orang tua – orang tua kami, dosa para syuhada’ pondok ini,dan semua yang berjasa kepada pondok ini. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.Jauhkanlah dari riya’ dan takabbur. Tumbuhkanlah kekompakan dan kebersamaan kepada kami
Ya Allah…..
اللّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ, اللّهُمَّ سَهِّلْ أُمُوْرَنَا وَيَسِّرْ أَعْمَالَنَا وحقق اعمالنا وثبت اقدامنا وبارك لنا.اللهم اعن المسلمين لاعلاء كلمتك يا الله اللهم انفق انصار معاهدنا الي ما فيه صلاح الاسلام والمسلمين. وَحَقِّقْ آمَالَنَا وَقَوِّنَا وَثَبِّتْ أَقْداَمَنَا وَبَارِكْ لَنَا وَوَفِّقْنَا فِى كِفَاحِنَا وَجِهَادِناَ وَرِيَاسَتِناَ فِى هذَا الْمَعْهَد برحمتك وكرمك يا اكرم الاكرمين, اللهم اكرمنا ولا تهنا واتنا وتحرمنا وزدنا ولا تنقصنا وارضنا وارض عنا اللهم حبلنا من ازوجنا وذريتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما.
Jadikanlah kami generasi ini, generasi anak-anak kami selalu menyenangkan hati, menyenangkan pandangan, jadikanlah kami generasi-generasi anak kami dan seterusnya menjadi generasi imam, teladan, generasi perintis, imam pedoman bagi orang-orang yang bertakwa berani menyatakan kebenaran bukan hanya membenarkan kenyataan.

ربنا ا تنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار
Allahu Akbar!   Allahu Akbar!   Allahu Akbar! 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته





Senin, 11 Desember 2017

Firasat


Firasat
Oleh : Joyo Juwoto

Setiap orang oleh Allah tentu dibekali semacam radar untuk merasakan, mengidentifikasi, membaca dan mengendus hal-hal yang berada diluar jangkauan panca indra badan jasmani. Orang-orang sering menyebut hal yang sedemikian itu dengan istilah gerak batin atau firasat.

Jika badan fisik manusia memiliki kemampuan untuk melihat yang diwakili oleh indra penglihatan, mendengar dengan indra pendengaran, mencium indra pembau, merasakan manis, asin, pahit dengan indra pengecap, tentu tubuh rohani manusia juga memiliki kemampuan yang sama. Hanya saja karena bersifat rohani, tidak semua orang mampu mendayagunakan kemampuan ini.

Sejak kecil kita terbiasa dan membiasakan diri melatih kemampuan badan fisik, namun tidak terbiasa melatih kemampuan badan rohani kita, sehingga potensi kemampuan badan rohani kurang maksimal dan kadang tidak kita sadari keberadaannya.

Berbicara tentang firasat ini bukan berarti kita berbicara tentang kesaktian dan berbagai macam kemampuan ghaib seperti yang ada di dalam film-film di layar televisi, namun berbicara firasat yang saya maksudkan di sini adalah berbicara mengenai hal-hal yang wajar dan lumrah yang kadang kita rasakan yang berkenaan dengan firasat, namun hal itu kadang kurang kita sadari.

Jika kita mampu menyadari hal-hal kecil yang kita rasakan, atau hal-hal yang terdetik dari hati dan perasaan, hakekatnya kita sedang melatih kemampuan gerak batin rohani kita. Gerak batin atau firasat bisa dilatih dengan perenungan dan komunikasi diri ke dalam diri. Kita harus lebih banyak memandang ke dalam keheningan batin kita sendiri sehingga pancaran indra batin bisa kita tangkap dan kita terjemahkan melalui firasat jasmani.

Firasat ini semacam radar cahaya Allah yang diberikan kepada badan rohani manusia sebagai sarana untuk menerjemahkan bahasa langit yang kadang tidak bisa ditangkap oleh badan fisik manusia. Dalam sebuah Hadits Rasulullah Saw bersabda :

عن ابن عمر رضي الله عنه قال : قال صلى الله عليه وسلّم : اتقوا فراسة المؤمن فإنّه ينظر بنور الله

Artinya : “Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : Hati-hatilah kalian dari firasatnya orang mukmin, karena mereka memandang dengan Nur cahaya Allah”.

          Dari hadits di atas sangat jelas sekali bahwa orang mukmin diberi kemampuan memandang dengan firasat, dengan nur cahaya Allah. Jika kemampuan gerak firasat ini berasal dari cahaya Allah, tentu hanya hati yang bersih dan suci saja yang mampu mendayagunakan kemampuan gerak batinnya.
          Kisah-kisah tentang kemampuan daya firasat seseorang sangat banyak kita dengar, sejak zaman Nabi, para Sahabat, para ulama-ulama yang memiliki kedekatan dengan Allah adalah orang-orang yang mampu mendayagunakan kemampuan gerak batinnya dengan baik.

Begitu pula kisah-kisah kemampuan membaca zaman yang dimiliki oleh sesepuh-sesepuh masyarakat Jawa juga sangat fenomenal, seperti kemampuan Prabu Jayabaya, kemampuan pujangga keraton Surakarta, Ronggowarsito, dan mungkin kemampuan itu ada pada diri anda sendiri.


Minggu, 10 Desember 2017

Titi Kala Mangsa di Bumi Tuban

Titi Kala Mangsa di Bumi  Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Saat perayaan hari jadi Kota Tuban yang ke 724 kemarin ada hal yang sangat menarik bagi saya, salah satunya adalah hadirnya presiden Jancukers Mbah Sujiwo Tejo. Kehadiran Mbah Sujiwo Tejo memang tidak direncakanan,sehingga kehadirannya menjadi kejutan bagi jama’ah maiyah Tuban. Saya sendiri juga tidak mengetahui kehadirannya, namun beberapa saat sebelum Cak Nun dan Kiai Kanjeng naik panggung, saya melihat foto Sujiwo Tejo dan Cak Nun yang dishare oleh Mbak Nining penyiar radio pradya suara.

Jika diperkenankan mengaku, saya memang termasuk jama’ah maiyah Cak Nun, walau saya tidak selalu hadir di pengajian Cak Nun. Paling-paling saya hadir di pengajian yang dekat dengan tempat tinggal saya saja, namun demikian saya sering membaca dan menyimak tulisan-tulisan Cak Nun dari buku yang ditulisnya maupun dari internet.

Sedang Sujiwo Tejo, saya juga mengidolakannya. Saya suka dengan quote-quotenya yang cetar membahana. Saya juga suka tulisan-tulisannya, begitu juga dengan lagu-lagunya. Menurut saya Sujiwo Tejo orangnya ini memang njancuki. Saya dulu sering menyimak foto-foto senja di time line twitternya.

Melihat kedatangan Presiden jancukers, akhirnya melalui siaran radio Pradya  suara, saya  ikut menyimak dari rumah acara maiyah yang diselenggarakan di alun-alun Tuban itu. Sebelum  kedatangan mbah Sujiwo Tejo ke Tuban, saya sudah suka dengan lagu dan lirik-lirik yang dibawakan oleh beliau, walau demikian dari sekian lagu yang baru saya hafal hanya lagu dengan judul “Titi Kala Mangsa”. Jika tak percaya, Anda bisa mencoba meminta saya menyanyikan lagu itu, bila sedang enak hati, tentu saya dengan senang hati akan bernyanyi untuk anda.

Lagu Titi Kala Mangsa sebagaimana lagu-lagu Mbah Sujiwo Tejo lainnya bercengkok Banyuwanginan dan bernuansa kejawen magis, dan yang pasti lagu ini dan lagu-lagu Sujiwo Tejo lainnya selalu menyimpan pralambang dan makna yang cukup dalam. Coba perhatikan liriknya :

“Titi Kala Mangsa”

“Wong takon, wosing dur angkara
antarane rika aku iki
sumebyar ron-ronaning kara
janji sabar, sabar sak wetara wektu
kala mangsane Nimas, titi kala mangsa
Titi Kala Mangsa

Pamujiku dibisa
sinudya korban djiwangga
pamungkase kang dur angkara
Titi Kala Mangsa

Agar kita memahami isi dan pesan yang terkandung di lirik lagu itu, tentunya kita harus tahu arti bait perbaitnya. Karena era jaman now, tidak semua orang mampu memahami lirik lagu Mbah Sujiwo Tejo yang memakai bahasa Jawa. Secara bebas arti dari lagu itu kira-kita demikian :

“Pada Suatu Ketika”

Orang-orang sama bertanya, kapan berakhirnya keangkara murkaan
Diantara engkau dan aku
daun-daun kara betebaran
Bersabarlah, bersabarlah untuk sementara waktu
Nanti suatu ketika dinda, pada suatu ketika

Doaku semoga
korban jiwa raga berkurang
akhir dari keangkara murkaan
adalah pada suatu ketika”

Dari lagu itu, mungkin tidak secara gamblang kita memahami makna yang terkandung di bait-bait liriknya, karena memang Mbah Sujiwo Tejo gemar berteka-teki dengan lirik lagunya. Tapi setidaknya lagu ini mengisyaratkan bahwa keangkara murkaan akan selalu ada di setiap zaman dan waktu. Semua itu adalah keniscayaan kehidupan, tetapi Mbah Sujiwo Tejo juga berharap dalam doaya agar korban dari keangkara murkaan itu berkurang, karena akhir dari keangkara murkaan adalah titi kala mangsa itu sendiri, atau pada suatu ketika yag tidak pernah selesai.

 Jika keangkara murkaan tidak pernah selesai, atau akan selalu ada di setiap titi kala mangsa, maka jawabannya hanyalah apakah kita yang ikut mengusahakan dan mendoakan agar korban-korban dari nafsu angkara murka tidak banyak berjatuhan, ataukah justru kita menjadi  sumber dari keangkara murkaan itu sendiri, tentu jawabannya kita telah maklum semua. Salam Rahayu.