Kamis, 19 Oktober 2017

Bertanam Kebaikan Menggapai Derajat Ihsan

google.com
Daur Tulisan 
Bertanam Kebaikan Menggapai Derajat Ihsan
Oleh : Joyo Juwoto*

Al dunya Mazra’atu al Akhirah, Dunia adalah ladang akhirat, dunia adalah tempat dimana manusia bertanam, sedangkan akhirat adalah masa di mana manusia akan menuai apa yang telah ditanamnya.  Jika manusia menanam padi, maka takdir akan berkata padilah yang akan diketamnya, walau di sana-sini akan ada rumput-rumput liar yang tumbuh membersamai hasil panen padi.
Begitu pula jika yang di tanam adalah tanaman gulma maka takdir akan berkata gulma-gulma kesia-siaan yang akan kita unduh kelak,tak akan ada panen padi serumpun yang tumbuh di ladang kita. Dan ini sudah menjadi sunnatullah-Nya, Wa Lan Tajida Li Sunnatillahi Tabdiilan, (dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah).
Begitulah ajaran Islam, mengajari pemeluknya untuk selalu bertanam kebaikan, karena kebaikan adalah inti sari dari dakwah Rasulullah Saw. Dalam sebuah haditsnya beliau bersabda : “Innama Bu’istu Liutammima Makaarima al Akhlaq(Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlaq ).
Di dalam Al Qur’an surat An-Nahl ayat 90 Allah Swt, berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (٩٠)
90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Baik dari al Qur’an maupun dari teladan Rasulullah Saw, kebaikan akhlak menjadi prioritas utama dalam ajaran agama Islam, melarang perbuatan yang keji dan munkar serta menyebarkan permusuhan di muka bumi. Karena tidak ada yang diinginkan dalam nilai-nilai agama kecuali menjadi rahmatan lil’alamin.
Dakwah Rasulullah Saw, adalah dakwah akhlak kebaikan, akhlaq kelembutan, dan kemuliaan jiwa. Di dalam setiap ajaran Islam pasti mengandung tuntunan kebaikan untuk para pemeluknya. Mulai dari hal yang sepele dan terkecil, hingga urusan-urusan yang besar semua ada aturan mainnya. Ada manual book-nya.
Agama Islam sangat menganjurkan bahkan sampai tingkatan mewajibkan umatnya untuk memiliki kebaikan akhlak.Jangankan kepada sesama umat manusia, kepada hewan yang akan disembelihpun pun kita harus ber-akhlakul karimah, yaitu dengan cara menyembelih dengan senjata yang tajam agar tidak menyakiti hewan sembelihan tersebut. Begitulah akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Dalam agama Islam segala perbuatan harus dilakukan dengan baik sesuai dengan aturan agama. Bahkan sampai urusan berperang dan membunuh dalam medan perang pun ada aturannya.
Ketika Khalifah Abu Bakar As-Siddiq mengirimkan Usamah bin Zaid dan pasukannya ke medan perang, beliau berpesan : “Wahai manusia, berdirilah! Aku wasiatkan kepada kalian sepuluh hal, yang hendak kalian jaga: Janganlah kalian berkhianat, mengambil ghanimah sebelum dibagi, menipu, memutilasi, dan membunuh anak kecil, orang lanjut usia, maupun perempuan. Janganlah kalian merusak dan membakar pohon kurma, janganlah kalian menebang pohon yang sedang berbuah dan janganlah kalian menyembelih domba, sapi, dan juga unta kecuali untuk dimakan.”
Lihatlah betapa Islam mengajarkan kebaikan dalam segala sendi kehidupan. Perang pun tidak dijadikan sebagai sarana mengumbar amarah, melampiaskan dendam kesumat dan nafsu angkara murka. Sehingga tidak aneh ketika pasukan umat Islam menaklukkan suatu wilayah justru penduduknya dengan sukarela memeluk agama Islam, setelah mereka melihat dan tahu akan kemuliaan akhlak yang ditunjukkan oleh pasukan umat Islam.
Betapa mulianya agama ini, agama yang mengajarkan seluruh aturan hidup dengan mengedepankan akhlak kebaikan, kelembutan, dan kasih sayang kepada sesama makhluk Tuhan di muka bumi. Karena pada dasarnya ajaran Islam datang dan diturunkan ke muka bumi ini sebagai rahmat semesta.
Seorang mukmin yang baik seharusnyamemang memiliki akhlak yang baik pula, Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Akmalu al mukminiina iimaanan ahsanuhum khuluqon” artinya mukmin yang paling baik adalah yang paling baik akhlaknya. Ahklak memiliki posisi yang sangat penting dalam ajaran agama bahkan ketinggian ilmu masih berada di bawah levelnya akhlak.
Segala sesuatu itu memiliki inti dan inti dari ajaran agama adalah akhlaq, siapa yang tidak berakhlaq berarti ia bukan orang yang beragama. Seorang Tabi’in asal Madinah Ikrimah RA yang wafattahun 104 H berkata :
لِكُلِّ شَيْئ ٍأَسَاسٌ وَأَسَاسَ الْإِسْلاَم ِاَلْخُلُقُ الْحَسَنُ
“Tiap segala sesuatu itu memiliki inti, dan inti dari ajaran Islam adalah akhlak yang baik”
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmizi, bahwasanya Rasulullah Saw juga bersabda yang artinya : “Sesungguhnya Allah Swt, mewajibkan ihsan (berbuat baik) kepada segala sesuatu.”
Akhlak yang baik ini tentu tidak bisa datang dan dimiliki dengan tiba-tiba. Banyak tahapan dan proses yang harus dilalui oleh seorang muslim sehingga ia bisa meneguhkan diri sebagai seorang muslim yang mencapai derajad ihsan (berlaku baik terhadap sesuatu).Derajatihsan adalah derajat tertinggi yang harus dicapai oleh seorang muslim dalam kehidupannya.

Menarik seperti yang diungkapkan oleh Samuel Smiles bahwa “Taburkanlah suatu pikiran, maka kamu akan menuai perbuatan. Taburkanlah suatu perbuatan, maka kamu akan menuai kebiasaan. Taburkanlah suatu kebiasaan, maka kamu akan menuai karakter. Taburkanlah suatu karakter, maka kamu akan menuai takdir.”
Untuk ihsan seorang muslim harus sudah dimulai sejak dalam pikiran dan tentunya diwujudkan dalam amal perbuatan. Sesunguhnya sikap seseorang itu bersumber dari pikirannya, jika pikirannya baik dan produktif, maka tentu juga akan melahirkan perbuatan yang baik dan produktif pula, sebaliknya jika pikirannya telah cacat dan rusak, maka jangan harap akan lahir sikap dan perbuatan yang baik dari perilaku seseorang.
Oleh karena itu Pramodya Ananta Toer mengatakan seseorang itu harus sudah adil sejak dalam pikiran, hal ini memiliki makna bahwa jangan sampai kita berprasangka yang tidak-tidak dengan orang atau kelompok lain, kita harus melepaskan itu semua, praduga-praduga itu akan melahirkan sikap yang tidak bijak, karena bibit perbuatan manusia berasal dari pikirannya. Maka adillah sejak dalam pikiran, kata Pram.
Jadi untuk menggapai derajat kebaikan itu sudah dimulai sejak dalam pikiran, oleh karena itu taburlah pikiran yang positif agar nantinya melahirkan perbuatan yang positif pula, hingga nantinya mata rantai sunnatullah ini sampai pada takdir Tuhan yang akan kita terima.
Jika kita telah memiliki pikiran yang baik, jangan sampai berhenti pada angan-angan, lakukan aksi selanjutnya, yaitu melakukan perbuatan itu dengan sebaik-baiknya. Pikiran tidak boleh berhenti, harus dialirkan menjadi perbuatan agar ide-ide itu tidak rusak di dalam otak, harus ada aksi, harus diwujudkan menjadi sebuah perbuatan fisik yang berguna bagi kebaikan bersama.
Pablo Picasso berkata: “Yang penting adalah apa yang kita lakukan, bukan apa yang ingin kita lakukan.” Melakukan ini sangat penting sekali, sebaik apapun apa yang ingin kita lakukan , namun hanya sebatas ide dan di dalam pikiran, maka itu hanyalah semu belaka. Lakukanlah apa yang ingin kita lakukan dengan baik, sehingga nantinya akan menjadi kebiasaan yang baik pula.
Kebiasaan-kebiasaan yang terus kita lakukan secara terus menerus akan menjadi watak dan karakter, dari watak dan karakter inilah Allah akan memberikan takdirnya kepada kita. Allah tidak akan menyia-nyiakan usaka dan kerja keras dari hamba-hamba-Nya.
Oleh karena itu mari kita terus bertanam kebaikan untuk menggapai maqam ihsan, sekecil apapun itu, kebaikan yang kita tanam tidak akan pernah sia-sia.Kelak tanaman-tanaman yang kita semai di ladang dunia ini, pasti bisa kita petik dan kita nikmati hasilnya di hari pembalasan. Allah, Malaikat, dan orang-orang Islam akan melihat, mendengar dan mendo’akan amal kebaikan yang kita lakukan.



*Joyo Juwoto. Anggota FLP Tuban

Jumat, 13 Oktober 2017

Mbolang Bareng Kawan Blogger Tuban

Mbolang Bareng Kawan Blogger Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Urusan mbolang adalah kesukaan saya, walau hanya menjadi pembolang kelas lokal di Tuban, namun di situ saya merasa bahagia. Bersepeda ria menjelajahi tempat-tempat yang menyenangkan, blusukan ke alam liar, melihat-lihat pemandangan, dan tentu yang tidak boleh ditinggalkan adalah ritual mencicipi kuliner saat mbolang.

Kemarin saya berkesempatan kopdar dan mbolang bareng dengan salah satu kawan blogger Tuban ke tempat wisata yang baru ngehits di Tuban, Sendang Asmoro di desa Ngino. Kawan blogger saya ini namanya Cak Jun, rumahnya Tlogowaru Merakurak.

Ketepatan Cak Jun yang saat itu sedang nganggur menunggu shift kerja, sehingga pemuda yang bekerja di pabrik semen ini punya waktu mbolang. Setelah janjian via whatshap akhirnya kami bertemu di masjid Al Falah Tuban.

Setelah bertemu tanpa babibu kami pun berangkat dengan bermotor ke lokasi Sendang Asmoro. Sekitar 20 menitan dari kota Tuban, sampailah kami di lokasi sendang.

Sambil mencicipi segarnya es dari warung, di bawah rindangnya pohon trembesi yang cukup besar yang ada di lokasi sendang, kami mengorek informasi mengenai tempat wisata yang baru saja diresmikan oleh Bapak Bupati Tuban.
Menurut penuturan warga, sendang itu adalah sumber utama pengairan warga sekitar. Warga sekitar juga memanfaatkan mata air sendang itu untuk kebutuhan rumah tangga. Caranya mereka memasang pompa air di sekitar mata air, kemudian dialirkan ke rumah-rumah. Saya lihat hampir sekitar 50an lebih pompa air dipasang di dekat mata air.


Di sendang itu biasanya setelah masa panen, oleh masyarakat sekitar digelar manganan dengan hiburan tayub. Di dekat sumber terdapat cungkup kecil yang biasanya dipakai untuk menaruh sesajen oleh para warga saat upacara  manganan.

Setelah mengobrol dengan warga dan mengambil foto-foto dari lokasi sendang Asmoro, kami pun meluncur menuju mata air Goa Srunggo yang ada di Tuwiri Merakurak. Goa Srunggo berdekatan dengan maqam waliyullah Syekh Gentaru.

Goa Srunggo jika dikelola dengan baik juga bisa dimanfaatkan untuk wisata desa sebagaimana sendang Asmoro. Tempatnya cukup bagus dengan pohon-pohon besar yang rindang. Apalagi di situ ada maqam wali, sehingga bisa dikemas dengan nuansa wisata religi pula.

Karena hari telah sore, dan perut pun mulai bermusik keroncong ria, kami pun mencari makan. Tahu kan, di Merakurak terdapat kuliner belut maknyus super pedas Mak Cemplon. Tempatnya di jalan raya Merakurak Tuban, di sebelah selatan Polsek Merakurak.

Sampai di warung saya dan Cak Jun memesan dua porsi belut dengan nasi jagung yang menjadi menu andalan yang saya kolaborasikan dengan nasi putih. Dengan lahap kami pun makan, sambil meminta mbak penjualnya memotret kami.

Ah, lega rasanya mbolang dengan ritual penutupan mencicipi kuliner andalan belut dan nasi jagung. Lebih melegakan lagi, saya tak perlu membayar karena sudah ditraktir sama Cak Jun yang baik hati. Hehe...:)




Terima kasih Cak Jun, semoga rezekinya makin bertambah dan makin berkah, dan yang terpenting juga, semoga segera selesai bertugas sebagai pasukan jomblo baik hati, agar kelak bisa kembali nraktir saya di rumah mencicipi dapur yang mengepul. Salam Mbolang.

Kamis, 12 Oktober 2017

Pesona Sendang Asmoro di Desa Ngino Semanding

Pesona Sendang Asmoro di Desa Ngino Semanding
Oleh : Joyo Juwoto

Banyak sekali destinasi wisata di Kota Tuban yang bisa kita kunjungi, mulai dari yang sudah banyak dikenal masyarakat hingga tempat-tempat yang baru tereksplore. Tuban sebagai kota yang berada di jajaran pegunungan Kendeng Utara memiliki beberapa tempat wisata yang cukup menarik seperti goa, air terjun, dan juga sendang.

Hari ini tempat wisata di Tuban yang lagi ngehits di media sosial adalah Sendang Asmoro yang berada di desa Ngino Kec. Semanding. Untuk mencapai lokasi sendang cukup mudah. Dari Kota Tuban jaraknya sekitar 13 KM dengan jalan yang sudah halus teraspal semuanya.

Rute yang dapat diambil oleh pengunjung dari kota Tuban ke arah selatan melalui desa Bejagung, desanya para Wali. Sebelum sampai di pemandian Bekti Harjo ada gapura masuk desa Penambangan. Dari Gapura ini terus lurus ke selatan hingga sampai di desa Ngino. Dari Ngino bisa bertanya kepada masyarakat setempat di mana letak Sendang Ngino.

Jika dari Bojonegoro bisa mengambil rute dari Jembatan Glendeng terus k e utara arah kota Tuban hingga sampai di Sendang Jaka Tarub. Dari situ carilah pertigaan menuju arah Semanding. Jalannya cukup rindang dengan hutan-hutan Jati yang masih cukup lebat di kiri kanan jalan.

Masyarakat sekitar sangat welcome dengan para pengunjung, dan ini yang perlu diteladani oleh masyarakat lain, bahwa penduduk Ngino mendukung aktif adanya tempat wisata ini. Terlebih Bapak Kades Desa Ngino, sangat memperhatikan keberadaan dan kebersihan sendang Ngino.

Menurut informasi yang saya terima dari teman blogger Tuban, Mas Wid, Kades Ngino baru saja mendapatkan penghargaan sebagai Pembina Anugerah Pangan Nusantara terbaik nomer 3 se Jawa Timur. Selamat ya bapak Kades semoga prestasi bapak menginspirasi kades-kades lainnya dan bermanfaat untuk masyarakat Tuban pada khususnya dan Indonesia tentunya.

Sendang Asmoro yang baru saja diresmikan oleh Bapak Bupati Tuban, Bapak Fathul Huda ini terus berbenah. Ke depan akan disiapkan arena bermain untuk anak dan juga tempat pemancingan. Wow keren banget.


Semoga Pak Kades beserta warga Ngino terus bisa berperan aktif dalam mengelola dan memajukan potensi wisata desa. Selain itu semoga masyarakat menyadari dan ikut serta menjaga kelestarian mata air dari Sendang Asmoro sebagai sumber mata air dan kehidupan bagi warga sekitar.