Senin, 11 Desember 2017

Firasat


Firasat
Oleh : Joyo Juwoto

Setiap orang oleh Allah tentu dibekali semacam radar untuk merasakan, mengidentifikasi, membaca dan mengendus hal-hal yang berada diluar jangkauan panca indra badan jasmani. Orang-orang sering menyebut hal yang sedemikian itu dengan istilah gerak batin atau firasat.

Jika badan fisik manusia memiliki kemampuan untuk melihat yang diwakili oleh indra penglihatan, mendengar dengan indra pendengaran, mencium indra pembau, merasakan manis, asin, pahit dengan indra pengecap, tentu tubuh rohani manusia juga memiliki kemampuan yang sama. Hanya saja karena bersifat rohani, tidak semua orang mampu mendayagunakan kemampuan ini.

Sejak kecil kita terbiasa dan membiasakan diri melatih kemampuan badan fisik, namun tidak terbiasa melatih kemampuan badan rohani kita, sehingga potensi kemampuan badan rohani kurang maksimal dan kadang tidak kita sadari keberadaannya.

Berbicara tentang firasat ini bukan berarti kita berbicara tentang kesaktian dan berbagai macam kemampuan ghaib seperti yang ada di dalam film-film di layar televisi, namun berbicara firasat yang saya maksudkan di sini adalah berbicara mengenai hal-hal yang wajar dan lumrah yang kadang kita rasakan yang berkenaan dengan firasat, namun hal itu kadang kurang kita sadari.

Jika kita mampu menyadari hal-hal kecil yang kita rasakan, atau hal-hal yang terdetik dari hati dan perasaan, hakekatnya kita sedang melatih kemampuan gerak batin rohani kita. Gerak batin atau firasat bisa dilatih dengan perenungan dan komunikasi diri ke dalam diri. Kita harus lebih banyak memandang ke dalam keheningan batin kita sendiri sehingga pancaran indra batin bisa kita tangkap dan kita terjemahkan melalui firasat jasmani.

Firasat ini semacam radar cahaya Allah yang diberikan kepada badan rohani manusia sebagai sarana untuk menerjemahkan bahasa langit yang kadang tidak bisa ditangkap oleh badan fisik manusia. Dalam sebuah Hadits Rasulullah Saw bersabda :

عن ابن عمر رضي الله عنه قال : قال صلى الله عليه وسلّم : اتقوا فراسة المؤمن فإنّه ينظر بنور الله

Artinya : “Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : Hati-hatilah kalian dari firasatnya orang mukmin, karena mereka memandang dengan Nur cahaya Allah”.

          Dari hadits di atas sangat jelas sekali bahwa orang mukmin diberi kemampuan memandang dengan firasat, dengan nur cahaya Allah. Jika kemampuan gerak firasat ini berasal dari cahaya Allah, tentu hanya hati yang bersih dan suci saja yang mampu mendayagunakan kemampuan gerak batinnya.
          Kisah-kisah tentang kemampuan daya firasat seseorang sangat banyak kita dengar, sejak zaman Nabi, para Sahabat, para ulama-ulama yang memiliki kedekatan dengan Allah adalah orang-orang yang mampu mendayagunakan kemampuan gerak batinnya dengan baik.

Begitu pula kisah-kisah kemampuan membaca zaman yang dimiliki oleh sesepuh-sesepuh masyarakat Jawa juga sangat fenomenal, seperti kemampuan Prabu Jayabaya, kemampuan pujangga keraton Surakarta, Ronggowarsito, dan mungkin kemampuan itu ada pada diri anda sendiri.


1 komentar: