Rabu, 20 Desember 2017

Desa Akar Jiwa

Desa Akar Jiwa
Oleh : Joyo Juwoto

Jejak-jejak kakiku ini masih ada dan meninggalkan bekas, diantara rumput-rumput basah dan tanah yang berlumpur. Bau tanah yang tersiram air hujan, angin sore yang membelai dedaunan penuh kesyahduan, dan gremicik nyanyi sungai yang kesepian ditinggal anak-anak yang dicintainya.

Jejak-jejak kakiku ini masih berbekas, diantara batu-batu kali dan kedung-kedung yang kehilangan gaung. Jejak kakiku masih ada , kokoh terbangun di kedalaman palung jiwa.

Belalang sembah menari indah di panggung daun pari yang mulai tumbuh bersemi, yuyu-yuyu membuat rumah di lumpur-lumpur sawah, sepasukan kodok meniup akapela senja dengan suaranya dibalik tempias hujan yang basah.

Sawah-sawah menghampar luas, padi menghijau royo-royo, air mengalir, tanah menggembur, memendam asa  dan harapan petani-petani perkasa. Burung-burung terik beterbangan di angkasa membentuk formasi rupa-rupa disoraki gembala yang pulang dengan kerbau dan sapinya ke kandang. "Bunder-bunder koyok wader, dowo-dowo koyok ula".(Bulat-bulat seperti ikan wader, panjang-panjang seperti seekor ular).

Desa adalah lumbung kehidupan, desa adalah pengukir jiwa anak-anak yang terlahir dan dibesarkan di sana, desa menjadi tanah tumpah darah yang selalu dirindukan kapanpun dan di manapun. Desa menjadi pertalian jiwa dan tempat kembali yang membahagiakan. Desa adalah akar bagi tumbuh berkembangnya pohon-pohon kehidupan, desa adalah asal  muasal dan sangkan serta kemurnian dari pola kehidupan manusia.


Bagai bangau terbang mengangkasa, pada saatnya kembali ke pelimbahan juga. Begitu juga desa menjadi tempat kembali yang menentramkan hati. Secuail kenangannya akan terus tertanam di bumi batinmu. Kemanapun engkau pergi jangan kau lupakan desa yang menjadi ibu bumi pertiwi dan yang telah mengasuh bagi kehidupanmu yang sekarang.  

Secauk air yang engkau minum, kesegaran udara yang engkau hirup, tanah yang engkau pijak, dan tanaman-tanamannya yang telah engkau makan,  akan menjelma menjadi rindu dan kenangan yang terus ada dan berkembang menjadi taman-taman bunga surgawi. 

Sebagaimana ibu kandungmu sendiri, desa adalah punjer dan menjadi pepunden yang mana bakti dan kecintaanmu harus selalu ada. Karena desa memberimu cinta tulus dan pengorbanan yang tidak terhingga. 

1 komentar:

  1. Di Desa mamang ok suasananya.....ditunggu desa yg lain ustad

    BalasHapus