Selasa, 19 September 2017

Syahadatnya Saridin

Syahadatnya Saridin
Oleh : Joyo Juwoto

Saridin atau lebih dikenal sebagai Syekh Jangkung adalah murid dari Kanjeng Sunan Kudus dari Pati Jawa Tengah, Saridin tidak seperti santri-santri Sunan Kudus yang lainnya, ia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, pemberani dan tanpa tedeng aling-aling dalam menjalankan keyakinannya, bahkan untuk hal-hal yang kelihatannya membahayakan sekalipun.

Ketika untuk pertama kalinya Sunan Kudus memperkenalkan ajaran Islam kepada para santri, Sunan Kudus mengajari dan menuntun mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Saridin termasuk diantara orang yang baru mengikrarkan syahadat tauhid dan syahadat rasul di hadapan Sunan Kudus.

Tidak seperti santri-santri lain yang mengikuti ucapan kalimat syahadat yang diajarkan oleh Sunan Kudus, ketika giliran Saridin disuruh mengucapkan kalimat syahadat, ia justru berdiri dari tempat duduknya, kemudian Saridin mendekati pohon kelapa yang ada di halaman pesantren, selanjutnya Saridin naik ke atas pohon kelapa. Sesampai di atas dengan tanpa rasa takut Saridin menjatuhkan diri dari atas pohon. Wusss....semua santri yang melihat adegan itu terkejut, termasuk juga Sunan Kudus. Aneh bin ajaib, walau terjatuh dari atas pohon kelapa yang cukup tinggi Saridin tidak cidera, bahkan ia hanya senyum-senyum saja, seperti tidak terjadi apa-apa.

Kanjeng Sunan Kudus bertanya kepada Saridin. “Saridin, apa yang kamu lakukan itu?

“Saya sedang bersyahadat sebagaimana yang Kanjeng Sunan minta? Jawab Saridin enteng

            Kisah Saridin di atas bisa jadi benar bisa jadi hanya sebuah cerita kiasan saja, karena memang dalam khasanah masyarakat Jawa sering menggunakan kiasan dan pralambang untuk menyampaikan suatu hal. Namun yang pasti kisah Saridin di atas menjadi satu pelajaran penting bagi kita, bahwa jika seseorang telah bersyahadat maka tidak ada sesuatu yang membahayakan di dunia dan bagi kehidupan kita kecuali hanya Allah Swt, semata. Dengan pengakuan syahadat maka tidak ada yang kita takuti kecuali hanya takut kepada Allah Swt saja, sebagaimana syahadat yang dipraktekkan oleh Saridin di hadapan gurunya Sunan Kudus.

            Saya dan kita semua mungkin telah bersyahadat lisan secara terus menerus, dalam sehari semalam setidaknya sepuluh kali kita berikrar syahadat di dalam shalat kita, namun hati kita masih belum yakin dengan haqqul yakin akan syahadat yang kita lafalkan. Walau kita mengucapkan kalimat syahadat itu dengan tartil dan fasih namun nyatanya atsar dari syahadat yang kita ucapkan belum memiliki dampak yang berarti bagi kehidupan kita.

            Betapa lisan ini mengatakan bersaksi tidak ada Tuhan yang layak disembah kecuali Allah, “Laa ilaaha illallah” namun perbuatan yang kita lakukan sehari-hari secara hakiki, belum mencerminkan pengakuan itu, lain di hati lain dimulut. Ada banyak Tuhan yang kita sembah, ada banyak Allah yang bersemayam di dalam dada kita.

Tuhan itu bisa bernama harta, jabatan, popularitas, uang, atasan atau bos kita, perempuan, mobil mewah, rumah megah dan seabrek kepentingan duniawi lainnya. Betapa mudahnya lisan ini mengucapkan ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah, tapi pada kenyataannya ‘Asyhadu kita untuk selain Allah Swt. ‘Asyhadu kita bukan lillah, tapi lighairillah.

Kalimat Syahadat adalah kalimat yang sangat mudah dan ringan diucapkan oleh lisan, tetapi pembenaran di dalam hati dan pengaplikasiannya di dalam amal perbuatan sungguh berat. Karena jika kita telah bersyahadat maka konsekuensinya adalah kita telah rela menerima segala aturan yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Jadi syahadat tidak hanya berhenti pada persaksian lisan semata, namun harus dibuktikan dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, ketika Rasulullah Saw, menawarkan dakwah kalimat syahadat ini kepada orang-orang Makkah, maka Abu Lahab dengan lantang menolaknya.

تبّا لَكَ سَائِرَ الْيَوْمِ, أَمَا دَعَوْتَناَ إِلاَّ لِهذاَ ؟
Artinya :“Sesungguhnya celaka kamu sepanjang hari ini, hanya untuk inikah kamu mengumpulkan kami ?.”

Karena Abu Lahab paham betul tentang makna dari syahadat, tidak cukup hanya diucapkan di lisan saja, namun harus diikuti dan dipertanggungjawabkan dengan tindakan amal perbuatan. Penolakan Abu Lahab terhadap kalimat syahadat ini ternyata tidak hanya menyinggung Nabi Muhammad, namun Allah pun tersinggung, sehingga laknat kepada Abu Lahab diabadikan oleh Allah di dalam Al Qur’an pada surat Al Lahab. Inilah pelajaran berharga bagi orang-orang yang menolak kalimat syahadat.

Bersyahadat berarti kita telah berikrar, kita telah bersumpah, berbaiat, dan kita telah mengikat tali perjanjian dengan Allah Swt secara langsung. Jika kita telah mengakui bahwa Al Ilah adalah Allah, maka apa yang kita harapkan, apa yang kita takuti, apa yang kita cintai hanya semata Allah saja, tidak yang lainnya.

Kita hari ini lebih khawatir dimusuhi manusia daripada dimusuhi Allah, kita lebih takut kekurangan harta benda daripada takut kepada Allah, kita lebih takut kehilangan jabatan dibanding takut kehilangan Allah Swt, sehingga dengan segala daya dan upaya harta kekayaan kita kumpulkan sebanyak-banyaknya, jabatan kita pertahankan sekuat-kuatnya, bahkan kadang sampai tidak memperhatikan lagi apakah harta dan jabatan itu didapat dengan cara yang halal ataupun haram.

Bahkan lebih kacau dan menyedihkan lagi ada orang-orang yang mengatakan begini “Hari gini mikir halal ataukah haram, yang haram saja susah dapatnya, apalagi yang halalnaudzubillah min dzalik.

Begitulah jika syahadat tidak dipahami dengan benar, sehingga syahadat hanya dianggap sebagai bunga di bibir saja, dan tidak memberikan dampak positif bagi kehidupan di dunia. Hari ini jabatan lebih banyak diperebutkan, popularitas, dan kemewahan menjadi incaran setiap manusia, mereka lupa dengan syahadat yang telah diucapkan, bahwa dengan syahadat seharusnya dunia tidak lebih berat dibanding sepasang sayap seekor lalat.

Dengan kalimat syahadat inilah seseorang mampu menanggung resiko kematian yang menyakitkan sekalipun, dengan kalimat ini pula seseorang mampu bertahan dari siksaan yang berat, dengan kalimat ini seseorang mampu dan berani meninggalkan segala kemewahan duniawi, bahkan dengan kalimat ini pula pintu-pintu surga akan terbuka.

Dalam banyak kisah shohabiyah diterangkan demi tegaknya kalimat syahadat ini Bilal bin Rabbah rela dipanggang diterik matahari padang pasir yang panas, demi dakwah kalimat tauhid ini pula, Mush’ab bin Umair rela kehilangan kemewahan dalam keluarganya, ia dikurung dan diboikot oleh keluarganya agar meninggalkan agama Rasul. Demi kokohnya kalimat syahadat ini keluarga Yasir menanggung beban siksa yang tak terperikan, seluruh keluarga mereka dibakar pada bara api yang menyala-nyala.

Bahkan Sumayyah, istri Yasir dibunuh secara kejam dengan ditusuk tombak pada bagian kehormatannya oleh Abu Jahal, hingga Sumayyah menemui kesyahidannya. Sampai-sampai Rasulullah Saw menghibur keluarga Yasir “Shabran Abal Yakhdzan, shabran ya Ahla Yaasirin, Fa Inna Mauidakum Al Jannah”  “Bersabarlah wahai Abu Yakhdzan,, bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kalian kelak di surga. Allahu Akbar.

Demi mempertahankan kalimat tauhid ini pula Saad bin Abi Waqqash sampai menghadapi aksi mogok yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Hingga Saad yang sangat mencintai ibunya itu harus mengatakan sesuatu yang menggetarkan penduduk langit. “Wahai ibu demi Allah, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Lalu satu persatu nyawa itu binasa. Aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikitpun. Makanlah wahai ibu...jika ibu menginginkannya. Jika tidak, itu juga pilihan ibu.” Dari peristiwa ini, Allah Swt, menurunkan salah satu dari surat Al Qur’an, surat Luqman ayat 15 :

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS: Luqman  Ayat: 15).

            Begitulah, betapa dahsyatnya efek kalimat syahadat yang telah diucapkan dan menyatu dengan jiwa dan raga seorang hamba yang meneguhkan keimanannya, hingga tidak ada sesuatupun di dunia ini yang mampu menghalang-halangi, bahkan kematian sekalipun. Hanya pahala dan surga yang menjadi balasan bagi orang-orang yang bersyahadat dengan sebenar-benar  syahadat.

            Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ قَالَ لَا اِلهَ اِلّا الله خَالِصًا مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
Artinya : “Barangsiapa mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’ dengan ikhlas semata-mata karena Allah, maka dia masuk surga.”
           
            Hadits di atas menyatakan pengucapan kalimat syahadat harus dengan ikhlas semata-mata karena Allah, maka dia akan masuk surga. Ikhlas di sini bermakna ridha dengan segala ketentuan yang datang dari Allah Swt, baik berat maupun ringan, baik suka maupun tidak suka.

Jika Allah telah menjadi titik tolak dari segala tindakan dan perbuatan manusia yang bersyahadat, maka layak bagi seorang hamba untuk memegang ‘miftahul jannah Laa ilaha illallah’ kunci surga adalah kalimat persaksian tiada Tuhan selain Allah. Oleh karena itu mari berislam yang tidak sekedar di lisan namun juga menjadi sebuah keyakinan yang menghunjam di lubuk hati yang paling dalam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar