Selasa, 05 September 2017

Senja Di Pataba

Senja Di Pataba
Oleh : Joyo Juwoto

Sudah yang ketiga kalinya ini saya menikmati senja merah di langit Pataba, mendedah buku-buku di sebuah ruangan 3x4 meter, merenungi sosok penulis inspiratif nan kontroversional dari kota kecil Blora Jawa Tengah, Pramoedya Ananta Toer (Pram). Sambil bersendau gurau,  ngobrol ke utara ke selatan, tanpa arah, membalik logika serta menembus batas cakrawala berfikir dengan adik beliau Mbah Soesilo Toer yang sekarang menempati dan mengelola perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) yang berada di Kampung Jetis Blora.

Blora, adalah sebuah kota kabupaten kecil yang berbatasan langsung dengan desa di mana saya tinggal, hanya dipisahkan oleh kecamatan Kenduruan, itupun saya merasa dulu Blora dengan wilayah Tuban bagian selatan adalah satu wilayah administratif yang berada di bawah kekuasaan Keraton Jipang Panolan.

Hal ini terbukti dari cerita-cerita masyarakat, bahwa di desa saya ada sebidang tanah yang dikenal dengan sebutan tanah Blora. Bisa jadi dulu itu tanah milik warga Blora yang tinggal di situ, atau mungkin milik priyayi Kadipaten Jipang yang mengungsi kemudian tinggal di situ pasca perseteruan Arya Penangsang dengan Hadiwijaya dari Kadipaten Pajang. Mengingat jaraknya yang dekat juga daerahnya yang tersembunyi dengan hutan-hutan jati yang lebat. Konon jati Blora ini memiliki kualitas sejarah sebagai bahan baku bahtera Nuh.

Selain itu masyarakat Bangilan di mana saya tinggal juga memiliki keyakinan bahwa di tempat-tempat keramat tertentu tersimpan benda-benda pusaka ghaib, seperti keris, pedang, cempuling yang konon hanya orang Blora saja yang bisa dan mampu mengambilnya, karena memang itu hak waris mereka dari moyang orang Blora terdahulu. Tidak hanya itu saja, dulu menurut cerita turun temurun Kadipaten Blora pernah dipindahkan di Bleboh, sebuah wilayah di tengah hutan di sebelah barat desa saya, kemudian juga pernah dipindahkan ke desa Kablukan Bangilan. Entah kebenarannya seperti apa, perlu ditelusuri lebih lanjut.

Berbicara Blora bagi saya memang sangat menyenangkan, dari kota kecil ini terukir nama-nama tokoh besar yang sangat revolusif dan pemberani, seperti Eyang Samin Soerosentiko, Tirto Adi Soeryo tokoh pers pertama Indonesia, Mas Marco Kartodikromo, dan tentu nama besar Pramoedya Ananta Toer sendiri layak diperhitungkan.

   Selain menjadi tempat kelahiran tokoh-tokoh besar, Blora menjadi tempat yang bersejarah era kerajaan Airlangga di Kediri. Dalam bukunya Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa batu tulis sebagai tempat padepokan Mpu Bharada dan para cantriknya yang berhasil menaklukkan sihir jahat dari Nyi Calon Arang, penebar pagebluk di Kerajaan Kediri berada di Blora.

Dalam bukunya Cerita Calon Arang Pram bahwa Lemah Tulis sekarang adalah Kabupaten Blora. Hal ini berdasarkan apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Purbajaraka bahwa di Wurare telah ditemukan arca raja Kertanagara (Mahasobhva atau Joko Dolok) sebagai penghormatan terhadap keagungan dari Mpu Bharada. Kata Wurare sendiri terdiri dari Bhu = tanah, sedang rare berarti anak. Karena itulah tempat itu bisa disebut juga Lemah-Putra. Lama- kelamaan Lemah Putra disebut Lemah Patra yang searti dengan Lemah Citra. Karena Patra juga berarti surat atau citra. Dari sinilah asal-usul nama Lemah Tulis tempat di mana padepokan Mpu Bharada berada.

Lebih lanjut Pram menyatakan bahwa Wurare sebenarnya berasal dari kata Wurara. Dan oleh masyarakat penyebutan Wurara dari waktu ke waktu berubah menjadi Wrura, Wlura, Blura, dan sekarang menjadi Blora. Jadi menurut Pram padepokan Lemah Tulis itu berada di Kabupaten Blora. Jadi Blora memiliki akar sejarah dan tokoh-tokoh hebat yang layak dikenang.

Salah satu sudut kota Blora yang patut dikenang dan menjadi icon kota sate ini menurut saya adalah eks jalan Sumbawa (diusulkan menjadi jalan Pramoedya Ananta Toer) dengan Patabanya. Di sini terlahir sastrawan besar yang pernah dimiliki oleh Negeri Indonesia. Dan belum tentu akan ada sastrawan sekaliber Pram yang terlahir dari rahim bumi pertiwi ini. Prof. Teeuw pernah menulis “kendati apa pun dikatakan mengenainya, Pramoedya tetap merupakan penulis yang hanya satu lahir dalam satu generasi, bahkan satu dalam satu abad.” Maka tentu Blora layak berbangga dengan anak biologis maupun anak ideologisnya ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar