Senin, 21 Agustus 2017

Epistemologi Jomblo Revolusioner

Epistemologi Jomblo Revolusioner
Oleh : Joyo Juwoto

Jomblo Revolusioner adalah sebuah judul buku yang ditulis oleh sesepuh literasi di Tuban, Mas Amrullah AM atau lebih akrab dipanggil oleh kawan-kawannya sebagai Mas Aam. Bukunya mas Aam, ini diterbitkan oleh penerbit epistemic Jogja sekitar bulan September 2016.

Saya merasa senang sekaligus bangga gaung literasi di bumi Wali, yang salah satunya dibibitkan oleh Mas Aam dan kawan-kawan di Gerakan Tuban Menulis (GTM) mulai bersemai. Salah satunya dibuktikan dengan lahirnya buku bercover putih, dengan sampul foto tertawa renyah dari penulisnya, Jomblo Revolusioner.

Perlu saya singgung di sini, awal ketertarikan saya untuk menulis dan menerbitkan buku dimulai saat Mas Mutholibin yang sebelas dua belas dengan Mas Aam dalam dunia literasi datang ke madrasah saya mengirimkan proposal pelatihan menulis dari GTM. Pas ketepatan saya ketemu dengan beliaunya. Jodoh memang tidak akan lari kemana, saya yang sejak dalam pikiran memang menyenangi dunia tulis menulis akhirnya ketemu dengan jodoh saya.

Dari undangan itu, saya bersama dengan dua santri hadir mengikuti pelatihan yang diadakan di Sanggar Belajar UPTD Kab. Tuban. Pada momentum itulah akhirnya saya bertemu dengan pemateri kondang , ada Pak Ngainun Naim, Mas Anas AG, dan  mbak Ditta Hakha penulis dari Bojonegoro, sayang saya kehilangan kontak penulis ketiga, Mbak Ditta.

Singkat cerita saya mulai agak rajin menulis karena pengaruh dan berkah dari penulis buku Jomblo Revolusioner ini. Alhamdulillah pertemuan yang mawaddah, wa rahmah nan barakah, sehingga saya ketularan menulis buku dan akhirnya saya juga ketularan menerbitkan buku.

Mas Aam ini memang seorang jurnalis sebuah media cetak, kerjanya ya nulis-nulis. Jadi ketika ia menerbitkan buku, ini memang sudah menjadi keharusan, dan hukumnya fardhu ain. Buku pertama Mas Aam yang sedang menjalani laku jomblo kontemporer ini cukup bagus dan bikin greget. Dari judulnya saja sudah tercium aroma provokasinya, "Jomblo Revolusioner". Jomblo revolusioner adalah bahasa yang sangat politis dan ideologis sekali, kayaknya sangat cocok dipakai slogan penyemangat atau yel-yel saat demo-demo mahasiswa.

Entah sebuah alibi atau hanya kebetulan saja, Mas Aam yang sedang menjomblo berusaha memaparkan tentang sebuah ideologi kejombloan. Ideologi yang mungkin sangat baru dan orisinil di jagad dunia pergerakan atau pun dalam teori-teori ilmu sosial. 

Dalam bukunya Mas Aam banyak menceritakan serba-serbi jomblo secara revolusioner, tentu pembaca bisa mendedahnya sendiri dengan nyaman, agar saya tidak terkesan menggurui dan banyak memaparkan apa yang ditulis oleh Mas Aam, apalagi saya juga lupa isi dari keseluruhan isi bukunya.

Yang pasti buku Mas Aam ini renyah bagai camilan, gurih dan menggoyangkan lidah-lidah pembaca, tapi kadang juga asin, pedes namun ngangenin kayak rujak petisnya wong pantura, pokoknya sensasi kenikmatannya bisa anda rasakan setelah mencicipinya sendiri. Selamat Membaca.


Kamis, 17 Agustus 2017

Emak-emak Ngeblog, Kelar Hidup Lo!

Emak-emak Ngeblog, Kelar Hidup Lo!
Oleh : Joyo Juwoto


Saya selalu ketawa ngeklek, jika melihat meme-meme lucu, (n)akal, dan menyentil yang ada di media sosial. Sepanjang penelusuran saya di google, saya belum menemukan kalimat seperti yang saya tulis dan menjadi judul tulisan saya. Akhirnya saya merangkai sebuah kalimat yang berbunyi :

 "Jangan remehkan emak-emak, kalau udah ngeblog, kelar hidup loe!!! (Joyo Juwoto)

Aktivitas Emak-emak memang biasanya hanya berkisar pada urusan dapur, sumur, kasur, dan nyayur,  hehe...namun jangan salah, ini jaman cyber bro, emak sekarang itu tidak sama dengan emak jaman Joko kendil, soalnya sekarang udah jamannya Pak Jokowi. Emak tidak hanya pandai urusan dalam negeri rumah tangga saja, namun harus juga menguasai banyak hal, termasuk di dalamnya adalah ngeblog.

Saya punya teman blogger Emak-emak, namanya Mbak Nur Rochma. Beliau ini seorang Ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Bisa dibayangkan sendiri ya, ibu rumah tangga dan masih mengurus tiga buah hati, dan tentu juga mengurus suaminya tercinta. Nah..walaupun super sibuk, Mbak Nur ini ternyata sangat telaten mengurusi blognya yang beralamat di sini http://www.nurrochma.com/.

Walau seorang perempuan, blognya Mbak Nur tidak hanya berbicara masalah dunia perempuan saja, Ketika saya intip blognya, ada banya menu yang siap memanjakan selera baca kita, seperti parenting, kuliner, dunia wanita, destinasi wisata, dan fiksi juga. Ternyata Mbak Nur ini memang jago dalam menulis banyak segmen. 

Denger-denger, selain menulis di blog, mbak Nur ini juga sudah banyak menulis di media cetak, dan asyiknya mbak Nur juga sudah punya beberapa buku antologi. Pengin tahu buku-buku yang telah ditulis mbak Nur ? Sana kepoin orangnya. 

Kita doain ya, semoga selain karya-karya antologi, Mbak Nur juga segera merilis yang solo, sekalian jogja boleh dah mbak ! hehe...:)

Khidmat, Santri ASSALAM Bangilan Upacara HUT RI Ke-72

Khidmat, Santri ASSALAM Bangilan Upacara HUT RI Ke-72
Oleh : Joyo Juwoto

Di bawah naungan langit merah putih, ratusan santri ASSALAM Bangilan Tuban mengadakan upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72, di halaman Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban.

Selain mengikuti upacara akbar di lapangan Gelora Bangilan, Santri-santri ASSALAM Bangilan juga mengadakan upacara sendiri di lokasi Pesantren. 

"Karena permintaan dari pihak panitia HUT RI hanya beberapa peleton saja, maka santri-santri yang tidak bisa hadir di lapangan kecamatan mengadakan upacara di lokasi pesantren" Ujar Ust. Puput Priyo Santoso, selaku koordinator pelaksanaan upacara.

Suasana upacara berjalan cukup khidmat, para santri mendengarkan dengan serius amanah dari pembina upacara yang disampaikan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan, KH. Yunan Jauhar, M.Pd.I.

"Agar para santri paham, arti dari sebuah perjuangan untuk meraih kemerdekaan itu tidak mudah, maka santri perlu mengenang ulang sejarah bangsanya, salah satunya adalah melalui momentum upacara" Kata Ust. Mudhakir, salah seorang pengajar di ponpes ASSALAM Bangilan.

Suasana upacara terasa memompa semangat perjuangan, manakala bendera Sang Saka Merah Putih dikibarkan di atas langit pesantren. "Kepada Sang Merah Putih, Hormaatttt....grak! Semua santri pun serentak menghormat, dan lantunan lagu Indonesia Raya menggema dan membahana memenuhi relung dada santri semuanya. 

Indonesia Tanah Airku
Tanah Tumpah Darahku
...
*
Salam Merdeka!!!

Selasa, 15 Agustus 2017

Sikap Toleransi Untuk Kebhinnekaan yang Tunggal Ika

Sikap Toleransi Untuk Kebhinnekaan yang Tunggal Ika
Oleh : Joyo Juwoto

Berbicara mengenai istilah kebhinekaan adalah hal sangat mudah, bahkan dengan ringannya lisan ini bisa mengucapkan kata bhinneka tunggal ika berkali-kali, hafal di luar kepala, menjadi jargon yang memukau dan semboyan yang sangat bagus, penuh muatan energi sosial yang positif dan membuka ruang dialektika kehidupan yang dinamis.

Kita tentu bersyukur dan sangat, sangat bersyukur, mendapatkan satu warisan azimat yang luar biasa dari sebuah rumusan bhineka tunggal ika. Para the founding fathers negeri Nusantara Indonesia Raya tercinta ini tentu sangat  menyadari akan hakekat kebangsaan yang dibangun di atas perbedaan ras, suku, bahasa, agama dan kepercayaan.

Oleh Karena itu, untuk mengikat keberagaman unsur-unsur itu, maka dibutuhkan satu landasan filosofis yang kuat dan universal. Maka dipilihlah satu kalimat yang berbunyi bhinneka tunggal ika, yang memiliki makna secara bebas berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Filosofis kebangsaan bhinneka tunggal ika sudah diajarkan kepada kita semenjak dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi, dengan harapan setiap generasi muda bangsa Indonesia memahami betul makna dan penerapan dari kalimat ini. Bukan hanya sekedar hafal, namun hafal yang disertai dengan pemahaman dan kesadaran akan nilai-nilai yang dilahirkan dari kebhinnekaan.

Salah satu nilai dari rahim kebhinnekaan adalah sikap toleransi terhadap segala perbedaan yang menjadi platform bangsa ini. Toleransi sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sikap menghargai pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan kelakuan yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri). Jadi dalam kebhinnekaan wajib hukumnya melahirkan satu pemahaman dan sikap serta konstruksi diri yang toleran kepada orang lain.

Kita tentu harus menyadari bahwa perbedaan adalah suatu hal yang wajar dan lumrah, karena memang kita terdiri dari berbagai ragam suku,ras, agama dan bahasa yang berbeda-beda. Segala macam perbedaan ini harus kita rawat biar bertumbuh kembang yang selaras sehingga mencipta harmoni semesta.

Sikap toleransi ini harus dikembangkan, dijiwai, dan dijadikan pengetahuan dan pemahaman bersama untuk diejawentahkan dalam kehidupan yang nyata, bukan hanya sekedar wacana, bukan hanya sekedar jargon, dan bahan pembicaraan di panggung seminar saja. Toleransi harus kita rawat dan kita perjuangkan bersama dengan penuh semangat kebersamaan dalam keberagaman.

Sikap toleransi ini adalah sebuah keniscayaan sikap yang harus ada dalam ruang individu maupun ruang publik, guna membangun kehidupan yang selaras dan damai diantara kelompok masyarakat yang berbeda-beda, seperti negeri Nusantara Indonesia tercinta.


Tidak ada pelangi yang tercipta dari satu unsur warna, dan pelangi terbesar serta terindah yang dianugerahkan Tuhan di jagad raya ini adalah kebhinnekaan warna di bumi Nusantara Indonesia Raya ini. Oleh karena itu mari kita rawat bersama kebhinnekaan yang tunggal ika dengan sikap toleransi antar kelompok masyarakat yang berbeda, baik itu berbeda sukunya, bahasanya, rasnya, maupun agamanya. 

Rabu, 09 Agustus 2017

Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis

Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis
Oleh : Joyo Juwoto

Pemuda ganteng dengan nama pena Jaka Tarub, eh maksudku Djacka Artub ini adalah seorang blogger fiksionis romantis yang dimiliki oleh Kabupaten Tuban. Tidak heran jika pemuda yang sudah menyunting secara sah, satu bidadari jelita di hadapan Pak Penghulu ini sangat flamboyan, lha wong menurut mata batin saya Kang Djacka ini keturunan dari putri rembulan sang Dewi Nawang Wulan. Ini terlihat dari nama penyamaran Kang Djacka yang hampir mirip dengan nama leluhurnya yaitu Jaka Tarub pemuda yang suka ngintip bidadari mandi di sendang.

Saya semakin yakin kalau Kang Djacka ini keturunan makhluk langit dapat kita lihat dalam satu bait puisinya yang sangat syarat merindukan rembulan datang. Dalam bait puisi yang berjudul "Dia; Secuil Rembulan" Kang Djacka ini berpuisi :

Aku, ... Masih tetap di sini. Berdiri terpaku menatap hitamnya gelap malam.
Kerlip bintang hanya terlihat indah di kejauhan

Tak mampu kusentuh  dalam dekapan.

Dia ... 
Secuil rembulan yang datang, hanya sekejap lalu menghilang.
Aku ingin menunggu, tapi rasanya mustahil malam ini ia akan kembali datang.

Akankah rembulan itu akan kutemui di malam berikutnya?
Entahlah.
Ah, kayaknya kerinduannya dengan simbah moyangnya yang ada di langit kayaknya sangat mengharu biru. Saya senang sekali membaca blognya Kang Djacka, tulisannya banyak beraliran fiksi romantis, wuihh...menghanyutkan deh pokoknya. Jika para sobat ingin melihat lebih banyak lagi dari tulisan Kang Djacka, maka kunjungi saja alamatnya di sini http://www.arektuban.com/ 

Kang Djacka ini menulis ternyata otodidak dan dengan dorongan energi cinta yang kuat. Saya berharap beliaunya segera merilis buku solo, baik itu kumpulan puisi maupun cerpen dan cerbungnya. 

Kapan-kapan saya pengin silaturahim dengan Kang Djacka, menikmati harumnya kopi hitam sambil mengobrolkan dunia antah berantah dari sebuah cerita non fiksi. Iya, kapan-kapan, menunggu purnama kelima belas menerangi remangnya malam di pinggiran desa Sekaran, Jatirogo.

Jumat, 04 Agustus 2017

Kang Rudi Blogger Top Dari Tuban

Kang Rudi Blogger  Top Dari Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Berbicara tentang Komunitas Blogger Tuban tidak akan lengkap tanpa menyebut sosok Kang Rudi, yang memiliki nama lengkap Fakhruddin ini. Lelaki yang mengaku telah memiliki Kanjeng Ratu dan Kanjeng Ratu Alit ini berasal dari desa Kapu Kec. Merakurak. Namun saat ini beliau sedang di luar kota, bekerja sebagai Analyst Infrastruktur Teknologi Informasi di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Wah, sungguh sesuatu yang sangat membanggakan, seorang anak desa dari Tuban, bisa bekerja super keren di PLN Persero.

Ketika saya mengintip profil Kang Rudi di facebook, beliau ini lulusan Jurusan Teknik Informatika di Universitas Budi Luhur Semarang, jadi jika Kang Rudi sangat concern dengan dunia blogger memang sangatlah tepat. Selain pakar dalam dunia IT, Kang Rudi orangnya suka dengan hal-hal yang baru, khususnya mengenai Sejarah lokal Tuban, UMKM Tuban, pertanian, dan segala sesuatu yang berbau pedesaan. Kang Rudi ini juga sangat suka mengendors pelaku usaha kecil di daerahnya melalui tulisan di webnya berikut https://www.kangrudi.com/. Beliau juga suka menulis mengenai wisata-wisata lokal Tuban maupun tempat wisata lain di dalam negeri, kemudian mengunggahnya ke media sosial. 

Dari beberapa postingan Kang Rudi saya banyak mengenal wisata kuliner baik di Tuban maupun tempat yang pernah dikunjungi oleh Kang Rudi, selain itu  Kang Rudi juga suka menulis opini mengenai hal-hal yang positif. Karena Kang Rudi memang sosok blogger top Tuban yang selalu menyerukan berinternet yang baik, sehat dan bijak di dunia maya. Kang Rudi ini orangnya sangat tidak suka perdebatan yang tidak ada manfaatnya. Lebih baik menulis hal-hal yang positif dari pada harus memperdebatkan sesuatu yang tidak jelas jluntrungnya.

Saya sangat salut dengan pembawaan Kang Rudi yang low profile dan friendly ini, beliau di group Blogger Tuban sering memberikan bimbingan mengenai kebloggeran dan hal-hal yang berkenaan dengan dunia maya. Pokoknya teman blogger kita dari Kapu Merakurak ini sangat luar biasa. Semoga Kang Rudi sekeluarga sehat selalu dan terus bisa berkarya untuk bangsa, baik lewat dunia blogger maupun yang lainnya. Salam.

Rabu, 02 Agustus 2017

Wanita Pertama Yang Syahid Dalam Islam

Google.com
Wanita Pertama Yang Syahid Dalam Islam
Oleh : Joyo Juwoto

Orang yang mengaku beriman tentu akan mendapatkan ujian dan godaan sebagai konsekuensi dari pengakuan keimanannya, Semakin tinggi keimanan seseorang ujiannya pun akan semakin tinggi pula. Ibarat pohon, semakin tinggi pohonnya maka angin yang bertiup pun akan semakin besar. Bersyukurlah kita yang hari ini hidup di mana iman kita mendapatkan jaminan keamanan, tanpa mendapatkan ujian yang berarti, sepertizaman awal-awal Islam disebarkan.

Ketika awal ajaran agama Islam didakwahkan oleh Rasulullah Saw, di kota Makkah, ujian keimanan yang ditimpakan kepada para pemeluk ajaran Rasul ini sungguh sangat berat. Siapapun yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka tidak akan lepas dari gangguan orang-orang kafir Quraiys. Hanya orang-orang yang mendapatkan perlindungan dari para tokoh yang selamat dari siksaan kaum kafir Quraiys, walau emikian dtetap saja gangguan dan hinaan mereka terima, seperti Nabi yang mendapatkan perlindungan dari Pamannya Abu Thalib, Abu Bakar yang mendapatkan perlindungan dari kaumnya, dan beberapa sahabat yang memiliki perlindungan dari para tokoh.

Diceritakan dari Abdullah bahwasanya orang yang pertama kali menampakkan keislamannya ada tujuh orang, salah satu diantaranya adalah Sumayyah bekas budak Hudzaifah bin al Mughirah salah seorang pembesar dari suku Bani Makhzun.

Sumayyah ini menikah dengan Yasir, seorang sahabat dari Yaman yang menetap di Makkah, kemudian mereka dianugerahi seorang anak laki-laki bernama Amr bin Yasir. Dari Amr inilah kedua orang tuanya mengenal dan memeluk ajaran agama Islam.  Setelah Bani Makhzun mengetahui keluarga Yasir ini masuk Islam, akhirnya mereka disiksa dengan siksaan yang sangat pedih. Keluarga Yasir ini dijemur diterik matahari padang pasir yang panas dengan memakai baju besi, tidak hanya itu saja tubuh mereka juga dibakar di di atas bara api yang menyala, namun keteguhan dan kesabaran mereka, segala siksa dan cobaan itu tak mampu menggoyahkan keimanan keluarga Yasir.

Suatu ketika Rasulullah Saw mengetahui akan derita yang ditanggung oleh keluarga Yasir, maka Rasulullah memberikan kabar gembira atas kesabaran akan ujian keimanan mereka. Rasulullah Saw bersabda :
صَبْرًا أَبَاالْيَقْظَانْ, صَبْرًا ألَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةَ
“Bersabarlah wahai Abul Yaqdzon, bersabarlah wahai keluarga Yasir sesungguhnya balasan untuk kalian adalah surga.”

Demi mendengar berita gembira dari Rasulullah bahwa mereka adalah termasuk ahli surga, maka segala siksa yang ditimpakan kepada mereka tiada berarti. Mereka merasa tentram dan beratnya siksaan yang dihadapi dianggap sebagai angin lalu saja, musibah yang mereka terima menjadi berkah surga kelak di hadapan Allah Swt.

Abu Jahal adalah salah seorang tokoh kafir Quraiys yang sangat kejam, melihat keluarga Yasir disiksa sedemikian rupa tidak mampu mengubah keimanannya kepada agama baru itu, akhirnya Abu Jahal melakukan tindakan yang sadis. Sumayyah disiksa dengan sangat kejam, kemudian Abu Jahal menusukkan tombak pada bagian kehormatannya, sampai Sumayyah syahid fi sabilillah.

Hal ini dikatakan oleh Mujahid, ia berkata : “Wanita pertama yang syahid pada masa permulaan Islam adalah Ummu ‘Ammar. Ia ditikam oleh Abu Jahal dengan tombak pada bagian kemaluannya.”


Kesyahidan Sumayyah ini terjadi pada tahun ke tujuh sebelum hijriyah, beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam menegakkan ajaran Islam, semoga Allah meridhoi dan merahmatinya serta menempatkannya di firdaus-Nya yang mulia.

Selasa, 01 Agustus 2017

Indahnya Persaudaraan

Indahnya Persaudaraan
Oleh : Joyo Juwoto

Telah dua kali saya berkunjung ke Madiun, dalam rangka nyekar dan mendoakan  para Kadang sepuh yang telah mendahului kita semua. Selain itu tentunya sekalian saturrahim kepada saudara-saudara tunggal banyu, tunggal kecer di Padepokan Agung Setia Hati Terate Madiun, Jalan Merak, Nambangan Kidul Kota Madiun.

Satu hal yang membuat saya terkesan adalah sambutan para kadang di Madiun yang cukup welcome. Kami sebelumnya tentu belum pernah ketemu dan tidak pernah kenal sebelumnya, tetapi saya dan rombongan yang saat itu berkunjung di Padepokan Agung sangat terkesan dengan sambutan dari para kadang di Padepokan Agung. Memang hal yang sedemikian bukan suatu hal yang aneh di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Jika kami berkunjung di tempat lain pun saya kira demikian sambutannya kepada saudara-saudaranya.

Inilah indahnya rasa persaudaraan yang dibangun dan menjadi landasan filosofis dalam berorganisasi di PSHT, sehingga saya perlu menuliskan sedikit kesan saya khususnya, dengan para kadang yang ada di Madiun, terkhususnya lagi kepada Pamter Pusat Madiun, kepada Mas Toro (Mas Subiantoro), Mas Narko dan kepada Mas Bagus yang telah menerima kedatangan kami serombongan malam-malam hari, dengan penuh keakraban dan rasa paseduluran yang sejati.

Benar sekali pesan yang diwejangkan oleh kadang sepuh bahwa “Nek ana sedulure teko, mbuh iku awan, mbuh iku bengi, bukakno lawang sing amba, mengko awakmu bakal entuk hikmahe”, ( jika ada saudaramu datang, entah itu siang, entah itu malam, maka bukakan pintu lebar-lebar, maka engkau nanti akan ketemu hikmahnya). Wejangan ini sering kita dengar, dan kelihatannya mudah sekali, namun pada kenyataannya tidak semua orang mampu melakukan ini.

Saya sangat terkesan dengan sambutan Mas Toro dan Mas Narko, yang telah menemani kami menikmati hangatnya wedang cemoe di warung dekat Padepokan. Walaupun saat itu hari telah malam, dan suasananya hujan rintik-rintik, kami diantar Mas Toro ziarah ke Maqamnya Mbah Harjdo Oetomo di Pilang bango, kemudian mengunjungi Padepokan Luhur, dan bersilaturrahmi dengan Mas Toyo.

Walau saat itu hari sudah malam, sekitar pukul 21.00 WIB, cuaca langit Madiun sedang dingin karena hujan yang mengguyur sejak sore hari, namun dengan santainya Mas Toro mengetuk pintu rumah, Mas Toyo.

“Santai wae mas, dalu-dalu gak popo. Mas Toyo wis kenek sumpah nek ana dulure teko kapan bae kudu mbukakno lawang” Kata mas Toro sambil tertawa ringan tanpa beban.

Setelah diketuk beberapa kali akhirnya pintu rumah Mas Toyo pun terbuka. “Eh, sampeyan toh Mas” kata Mas Toyo.

“Enggih mas, niki wonten derek Tuban badhe ziarah teng Padepokan Luhur” Jawab Mas Toro.

Kemudian kami pun dipersilahkan masuk ke padepokan, di situ kami napak tilas ndalemnya pendiri PSHT, Mbah Hardjo Oetomo. Mas Toyo pun menerangkan tempat-tempat yang dulu dihuni oleh Mbah Hardjo, termasuk juga, Mbah Harsono juga pernah tinggal di rumah pusaka itu. Mbah Harsono adalah putra dari Mbah Hardjo Oetomo.

Setelah puas napak tilas di Padepokan Luhur, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Maqamnya Raden Mas Imam Koesoepangat. Dengan sabar dan dengan senyumnya yang cerah Mas Toro mengantar kami berziarah di Maqamnya Pendekar yang mendapat julukan Pendita Wesi Kuning. Dari maqamnya Mas Imam ini kami meluncur ke ndalemnya Mas Bagus.

Menurut Mas Toro, Mas Bagus jam malam baru bisa ditemui, karena beliau baru perjalanan pulang dari Pekalongan hingga malam baru bisa ditemui. Saya sendiri membayangkan, setelah perjalanan jauh kok ya mau-maunya menerima tamu, Apa tidak capek, apa tidak ngantuk, begitu pikir saya. Begitulah kalau seseorang itu sudah selesai dengan dirinya, maka tidak ada sesuatu yang menjadi masalah baginya. Dan saya merasa Mas Bagus orangnya seperti ini, selesai dengan dirinya sendiri.

Sesampai di ndalemnya Mas Bagus, kami pun bersalaman. Mas Bagus menyambut kami dengan gembira, selanjutnya beliau menawari kami makan. Kemudian beliau meminta salah satu adang untuk membelikan kami makan. Sambil menunggu makan inilah beliau bertanya tentang tujuan kami jauh-jauh datang dari Tuban ke Madiun.

Percakapan pun semakin gayeng dan akrab, kapan-kapan kalau ada waktu saya akan merangkumkan obrolan kami dengan Mas Bagus, atau tepatnya wejangan Mas Bagus kepada kami tentang ilmu Setia Hati Terate  dalam prespektif santri. Begitu juga kalau ada waktu saya ingin menulis tentang ramahnya Mas Toro dan senyumnya yang penuh dengan keakraban dan persaudaraan.

Karena makanan telah datang, kami pun menikmati sensasi nasi pecel khas kota gadis. Semoga di lain waktu, kami bisa mengunjungi dan bersilaturrahmi kembali dengan kadang-kadang di Padepokan Agung Punjer Madiun.

Terima kasih Mas Toro atas waktunya, terima kasih kepada para kadang yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu namanya, dan terima kasih juga kepada Mas Bagus atas segala sambutan dan wejangannya, semoga ada manfaat yang dapat kita raih bersama. Aamin.