Kamis, 31 Agustus 2017

Satu Tahun Bersama Kali Kening

Satu Tahun Bersama Kali Kening
Oleh : Joyo Juwoto

Akhir Agustus 2016 adalah tonggak awal berdirinya sebuah komunitas literasi di kota Bangilan, namanya adalah Kali Kening. Komunitas ini dipelopori oleh anak-anak muda progressif yang memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib literasi di tanah negeri ini. Komunitas Kali Kening ini adalah sebuah wadah belajar menulis bagi para anggotanya, dan juga sebagai media untuk menularkan virus berliterasi di kota Bangilan pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

Dalam setahun perjalanannya, Komunitas Kali Kening telah mengalami berbagai macam dinamika serta menunjukkan eksistensinya yang cukup bagus. Selain mengadakan pertemuan semi rutin dalam kegiatan “Ngaji Literasi” setiap dua Jumat sekali, Kali Kening juga tercatat beberapa Kali mengadakan acara literasi di Bangilan. Diantaranya adalah acara bagi buku serta motivasi membaca dan menghasilkan karya di salah satu Taman Baca di Karang Tengah, serta dua kali mengadakan pelatihan Jurnalistik dan kelas menulis di TPQ Al Isyraq Bate Kec. Bangilan.

Selain bergerak di bidang pelatihan dan motivasi menulis, komunitas Kali Kening juga menggerakkan anggotanya untuk aktif menulis. Di tahun pertama perjalanan sejarah komunitas kali kening telah membuat satu buku antologi, dan sekitar 15 karya mandiri dari anggotanya. Insyallah karya-karya tersebut akan di launcing di ultah komunitas kali kening yang akan dirayakan pada bulan September besok. Sebuah capaian yang cukup luar biasa membanggakan bagi komunitas yang baru saja berdebut di dunia literasi.

Selain itu beberapa kali tulisan dari anggota Komunitas Kali Kening juga masuk dan dimuat di koran radar Bojonegoro, semoga ke depannya karya-karya dari anggota komunitas kali kening tidak hanya mewarnai media lokal namun bisa menembus hingga koran nasional.


Komunitas Kali Kening dengan semboyan “Membaca setabah bebatuan, berfikir sejenih air, dan berkarya sederas arus” berusaha terus meningkatkan minat baca dan tulis anggotanya, sehingga ke depan akan terus lahir buku-buku baru yang bermutu dari rahim kali kening, agar nantinya bumi Tuban tidak hanya berakronim sebagai legenda meTU BANyune (keluar airnya), waTU tiBAN (batu jatuh), namun sebagaimana yang dikatakan oleh Mbah Soesilo Toer Tuban adalah “Tempat Utama Budaya Baca-Tulis Anak-anak Nusantara”. Semoga.



*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Diantara buku yang ditulisnya adalah: Jejak Sang Rasul (2016); Secercah Cahaya Hikmah (2016), Dalang Kentrung Terakhir (2017,) dan menulis beberapa buku antologi bersama Sahabat Pena Nusantara dan beberapa komunitas literasi lainnya.”

Berguru Pada Buku

Berguru Pada Buku
Oleh : Joyo Juwoto*

Saya masih ingat, pada saat nyantri pernah didawuhi kiai saya, alm. KH. Abd. Moehaimin Tamam, pendiri pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia. Beliau dawuh, bahwa menuntut ilmu tidak hanya di bangku sekolah saja, di manapun kita bisa menuntut ilmu. Termasuk di toko buku. Semenjak didawuhi seperti itu, saya sangat suka sekali pergi ke toko buku, walau kadang hanya melihat-lihat saja.

Senang rasanya melihat tumpukan dan pajangan buku dengan cover-cover yang beraneka warna dan ragamnya, damai rasanya membaca judul buku di rak-rak toko buku, pokoknya saya suka berlama-lama jika sedang di toko buku. Walau kadang ya hanya melihat-lihat dan membaca judul-judulnya saja.

Di Bangilan kota kecamatan saya tinggal, belum ada toko yang khusus menyediakan buku bacaan, jika ada, paling masih bercampur-baur dengan toko Alat Tulis Kantor (ATK) dan foto copy, buku hanya dijadikan sebagai pelengkap saja. Sehingga tidak banyak koleksi buku yang disediakan. Sedang di kota kabupaten, selain jangkauannya yang jauh, toko buku pun menjadi barang langka, karena mungkin tingkat membaca masyarakat yang rendah. Hanya ada beberapa toko buku kecil di Kabupaten Tuban, itu pun koleksinya sangat terbatas.

Saat saya duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, saya suka berburu buku-buku murah yang dijual oleh para pedagang lesehan di depan pasar Bangilan. Buku-buku yang dijual seingat saya adalah buku-buku agama terbitan salah satu penerbit yang ada di kota Surabaya, selaian itu juga ada buku-buku do’a, bacaan yasin, tahlil, dan juga resep masakan. Untuk jenis buku yang terakhir ini yang sangat banyak jumlahnya.

Dari kecintaan saya terhadap buku ini akhirnya saya punya keinginan membuat perpustakaan pribadi di rumah. Satu demi satu buku saya beli, saya kumpulkan dari waktu ke waktu. Ke depan jika koleksi bukunya telah banyak, ingin rasanya membuka Taman Baca Masyarakat (TBM) yang koleksinya bisa diakses oleh masyarakat luas.

Keinginan saya membuka Taman Baca dikarenakan telah maklum adanya, bahwa perpustakaan yang konon adalah jantungnya peradaban, rumah ilmu, dan gudangnya pengetahuan masih belum mendapatkan perhatian yang serius. Selain menjadi tempat belajar, perpustakaan juga bisa dijadikan sebagai sarana rekreasi keluarga. Tentunya jika perpustakaan di tata sedemikian rupa sehingga menarik para pengunjung.

Selain keinginan memiliki perpustakaan, Saya sebenarnya juga punya keinginan membuka toko buku di kota kelahiranku. Namun karena sesuatu hal, keinginan itu belum terwujud. Selain bernilai bisnis membuka toko buku juga memiliki nilai edukatif, yaitu menyediakan bacaan yang bermutu bagi masyarakat. Apalagi jika buku yang kita jual tidak tersegel, maka kita bisa menyempatkan membaca sambil berjualan buku.

Yang pasti buku adalah sumber pengetahuan, guru yang bijak, menjadi teman yang baik dalam segala masa, dan tentunya buku adalah mutiara yang nilainya tak terhingga. Oleh karena itu mari berburu buku, berkutu buku dan berguru pada buku, agar hidup makin produktif dan bermutu.


*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Diantara buku yang ditulisnya adalah: Jejak Sang Rasul (2016); Secercah Cahaya Hikmah (2016), Dalang Kentrung Terakhir (2017,) dan menulis beberapa buku antologi bersama Sahabat Pena Nusantara dan beberapa komunitas literasi lainnya.”


Selasa, 29 Agustus 2017

Tagline Bumi Tuban

Tagline Bumi Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Jika berbicara tentang icon suatu kota tentu ada yang khas dari kota tersebut, semisal jika anda berkunjung di kota Tuban maka anda tentu ingin mengetahui tentang sosok legendaris dari Tuban, Ronggolawe, sang pemilik kuda yang menjadi logo resmi Kabupaten Tuban. Selain itu Anda tentu juga penasaran ingin mencicipi legen Tuban, karena Tuban juga terkenal sebagai kota toak yang bersaudara dengan minuman khasnya legen. Atau setidaknya Anda akan mencari tahu dan berziarah ke maqam Sunan Bonang, karena Tuban telah memiliki tagline baru, yaitu sebagai kota wali.

Banyak orang berdebat liar di media sosial mengenai tagline kota yang memiliki garis pantai sepanjang 70 km ini, apakah Tuban sebagai bumi Ronggolawe, Kota Toak, ataukah bumi wali seperti yang dijargonkan oleh Bupati yang sekarang. Atau mungkin yang menyukai petualangan jelajah gua-gua akan memilih opsi lain, yaitu menyebutnya sebagai kota seribu gua.

Sebutan-sebutan dan kliam-klaim yang sedemikian saya kira sangat wajar dan boleh-boleh saja, sepanjang itu masih dalam koridor yang tidak menciderai akal sehat. Saya sendiri juga bingung merumuskan koridor akal sehat itu batasannya seperti apa, dan indikatornya yang bagaimana, yang jelas rakyat Tuban memiliki perhatian yang positif untuk tanah kota leluhurnya.

Jika kita berbicara tentang kabupaten Tuban, maka tidak adil jika kita hanya menyebutkan satu bagian dan menghilangkan bagian yang lainnya. Menurut saya, Tuban adalah keseluruhan dari proses dan dinamika sejarah yang dinamis dan beragam, komplek saling menyusun dan melengkapi.

Kita tidak bisa memandang Tuban secara parsial dan terpotong-potong, sehingga hanya satu bagian sisi saja yang terdisplykan, sedang bagian sisi yang lain terabaikan. Seperti pengibaratan orang buta menebak bentuk dari seekor gajah, tentu tidak ada yang tepat, walaupun yang dipegang itu sama-sama anggota tubuh seekor gajah.

Meminjam istilah dari sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer, untuk melihat Kabupaten Tuban, sebagai seorang terpelajar kita harus sudah adil sejak dalam pikiran. Hilangkan segala tendensi dan kepentingan pribadi dan golongan, berfikirlah secara holistik untuk Tuban, maka kita akan bisa merumuskan apa itu hakekat dari Kabupaten Tuban, setidaknya mendekati perumusan yang diinginkan oleh semua pihak tanpa mengabaikan pihak lainnya.

Yang namanya tagline memang dipakai untuk simbol, tetapi simbol itu tidak lebih penting dari isi yang akan ditaglinekan. Semisal daging bagi diberi label halal, “Babi Bakar Cap Sapi” atau minuman keras di beri label soft drink, tetap saja haram hukumnya. Begitu pula sebuah tagline tidak akan memiliki makna dan tidak memberikan efek apa-apa jika isi dari sebuah tagline diabaikan.

Begitu juga dengan tagline Bumi Tuban, tagline itu harus menjadi rumah besar bagi perkembangan kemajuan Tuban yang lebih baik. Merangkul, mewadahi elemen-elemen dan unsur-unsur dari Bumi Tuban. Bukan hanya sekedar tagline untuk berteduh sebagian kelompok masyarakat, sedang di sisi lainnya masyarakat justru ada yang kepanasan dan tidak bisa ikut berteduh di bawah payung tagline itu.

Masyarakat kita kadang lebih memperhatikan penampilan luar dari pada isi, lebih sering terjebak oleh hal yang profan daripada melihat sebuah hal yang sakral. Oleh karena itu kita lebih sering tertipu dengan gebyar-gebyar dan simbol-simbol, lebih sering disibukkan dengan euforia sesaat yang semu daripada benar-benar menghayati saripati dari kehidupan ini. Semoga pemegang kebijakan tidak hanya sekedar rajin bertanam tebu di bibir, namun juga benar-benar bertanam tebu-tebu di ladang hakekat untuk masyarakat Tuban. Salam Damai Dari Bumi Tuban.





Senin, 28 Agustus 2017

Lembah Mati Yang Diberkahi

Google.com
Lembah Mati Yang Diberkahi
Oleh : Joyo Juwoto

Di sebuah lembah yang sepi di tengah-tengah padang yang gersang, tidak ada makhluk hidup yang menempati, hewan-hewan tiada mendekat, begitupun manusia. Pohon-pohon pun tampak jarang-jarang, kering kerontang, layu, seperti tidak ada kehidupan. Lembah itu tampak suram dan kering, tidak ada sumber air, hanya hamparan pasir-pasir pucat dan gunung-gunung batu yang tampak suram dan menyeramkan.

Lembah itu adalah lembah yang sangat tandus, sehingga tidak ada satupun suku-suku pengembara di  jazirah Arab yang menempatinya, begitupula tidak ada kafilah-kafilah dagang yang menjadikan tempat itu sebagai tempat untuk singgah beristirahat. Apalagi para penggembala pun menjauhi tempat yang memang tidak ada sumber makanan untuk ternak-ternak mereka. Maka lengkaplah kesunyian dari lembah itu.

Jika bukan karena bisikan langit, Ibrahim pun tidak akan mendatangi lembah itu, dan ia sangat percaya istri dan anaknya akan bisa bertahan hidup dengan selamat di tempat yang sepi itu. Pada siang yang membakar ubun-ubun, Ibrahim bersama istrinya Hajar, dan juga seorang bayi mungil, Ismail yang sedang menyusu pada ibunya, ia tinggalkan di tempat yang hantu pun enggan untuk bersarang.
“Wahai istriku, tinggallah di sini sampai batas di mana takdir akan mempertemukan kita kembali” Kata Ibrahim pelan kepada istrinya.

Ibrahim dengan penuh kesedihan harus meninggalkan istri dan bayinya di bawah sebuah pohon Dauhah. Di satu tempat yang ia anggap lebih dingin tanahnya dari lembah itu. Ibrahim pun berlalu, meninggalkan dua permata hatinya dengan berat hati.

Sambil menggendong Ismail, Hajar mengikuti suaminya pergi, ia tidak ingin ditinggalkan seorang diri di tempat yang asing dan sepi.

“Wahai Ibrahim suamiku, hendak ke mana engkau? Mengapa engkau tega meninggalkan aku seorang diri, tanpa teman di tempat ini? tanya Hajar dengan penuh menghiba.

Ibrahim hanya diam, dia terus berlalu. Meninggalkan istrinya yang penuh dengan tanda tanya. Kemudian Hajar pun kembali melanjutkan pertanyaannya, walau pertanyaan pertama dan kedua tidak memperoleh jawab dari suaminya.

“Apakah Allah, Tuhan kita menyuruh engkau melakukan ini, wahai suamiku? tanya Hajar kembali sambil terus mengikuti langkah suaminya yang pelan dan berat.

Ibrahim pun berhenti, ia menoleh kepada istrinya itu. “Benar wahai istriku” Demi mendengar jawaban itu, Ibu Ismail ini pun berhenti, ia tidak melanjutkan langkahnya untuk mengikuti suaminya pergi. Dengan penuh ketabahan, Hajar pun menimpali keputusan dari langit itu dengan penuh ketundukan.

“Jika ini adalah perintah-Nya, tentu Ia tidak akan menelantarkan dan menyia-nyiakan kita wahai anakku! mari kita kembali di bawah pohon tadi.” seru Hajar sambil melangkah mundur kembali ke tempat ia ditinggalkan oleh  suaminya.

Ibrahim pun terus berjalan hingga istri dan anaknya hilang dari pandangan. Setelah menjauh dari lembah di mana istri dan anaknya ia tinggalkan, Ibrahim menghadapkan wajahnya ke arah lembah itu. Dengan penuh kekhusyukan Ibrahim mengangkat tangannya kemudian berdoa kepada Tuhannya :

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki pepohonan, yaitu di sisi Rumah-Mu yang suci. Jadikanlah negeri itu, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian”.

Ibrahim pun kemudian berlalu, dan tidak meninggalkan apapun kepada anak istrinya, kecuali keberkahan doa yang ia baca di ujung lembah sunyi yang ia tinggalkan.

***

Hajar kebingungan, bekal air yang ia bawa menipis. Tidak ada sumber air yang ia lihat di sekitar lembah itu. Karena udara yang sangat panas memicu haus yang mencekik leher, air susunya pun mengering, hingga Ismail menangis berguling-guling di pasir. Hajar pun berlari menuju sebuah bukit. Ia berharap ada sumber air atau orang yang memberikan pertolongan kepadanya.

Harapannya sia-sia belaka, lembah itu tampak sunyi dan mati. Tidak ada seorangpun yang tampak. Dari satu bukit, Hajar pun tak putus asa, ia berlari ke arah bukit lainnya terus berlari berulang-ulang hingga tujuh kali hingga ia pun kelelahan.

Pada saat hitungan yang ketujuh, saat Hajar berada di lembah di dekat anaknya menangis, hajar tertegun. Ia melihat bekas hentakan kaki* anaknya basah, tidak mungkin Ismail mengompol, karena cairan tubuh anaknya sendiri telah mengering.

Hajar pun mendekati anaknya, di tempat jari jemari kaki anaknya tampak air yang merembes dari dalam tanah yang berpasir. Dengan segera Hajar menggali dan membuatkan kubangan. Air memancar semakin deras, dengan tangannya Hajar menciduk air itu, kemudian meminumnya, sehingga memancar kembali air susunya, dan Hajar pun menyusui anaknya.

Saat Hajar menyusui Ismail anaknya, tiba-tiba, ada suara yang menggema entah dari mana datangnya.

“Wahai wanita yang mulia, engkau jangan khawatir akan disia-siakan di tempat ini, karena di sini ada baitullah yang kelak pada masanya akan dibangun kembali oleh bapak dan anaknya”.

Mulai saat itu, ibu dan  anak itu tinggal di dekat mata air yang jernih dan penuh barakah. Orang-orang kelak menyebutnya sebagai sumur Zam-zam. Sumur yang terus mengalirkan sumber air abadi sepanjang masa, yang airnya menjadi obat bagi siapa saja yang meminumnya.

Lembah yang mati itu kini menghijau, menjadi lembah yang diberkahi, banyak hewan yang berdatangan, burung-burung pun sering datang, berputar-putar di atas langitnya. Hal itu kemudian mengundang para kafilah untuk singgah, hingga ada yang kemudian menetap bertetangga dengan Hajar dan Ismail. Mereka berdua bergembira karena lembah yang dulu sepi, kini menjadi ramai.

Ibrahim tak tahu dan tidak pernah menyangka jika doanya di batas lembah saat air matanya tumpah meninggalkan istri dan anaknya diijabahi oleh Tuhan, dengan keberkahan lembah yang kelak bernama Makkah. Dan pada saatnya nanti takdir akan membawa Ibrahim kembali.


Minggu, 27 Agustus 2017

Suatu Sore di Tepian Kali Kening

Suatu Sore di Tepian Kali Kening
Oleh : Joyo Juwoto

Suatu sore di hamparan rumput yang menghijau
Dan pada pokok pohon besar di tepian Kali Kening
Yang gremicik airnya menjelma Kata~Kata
Terangkai indah dalam puisi semesta

Suatu sore Saat cakrawala terkuas jingga
Matahari beramah tamah dengan sepucuk ilalang
Dan juga daun~daun yang luruh berguguran
Merabuk subur tanah~tanah harapan

Suatu sore pada denting waktu yang terus berlalu
Sehembus angin mengibarkan angan
Pada sebuah Titian menuju langit impian
Yang tergoreskan pada sebuah lembar kanvas

Suatu sore pada janji yang telah Kita ikrarkan
Bersama mewarnai dunia dengan pena 
Menegakkan panji~panji literasi
Di sepanjang aliran Kali Kening Kita

Suatu sore di hamparan rumput yang menghijau
Saat cakrawala terkuas jingga
Dan pada denting waktu yang terus berlalu
Mari Bersama bergandengan tangan
Merapatkan barisan
Melangkah dengan gagah
Saling membahu
Melunasi janji yang telah Kita ikrarkan.


*Selamat Ulang Tahun, Komunitas Kali Kening*
26 Agustus 2017
Tepian Kali Kening Yang Hening


Jumat, 25 Agustus 2017

Orang pintar, Baca KibarKabar.Top

Agan-agan pasti masih ingat iklan salah satu minuman jamu di layar televisi ? "Orang pintar minum tolak angan...hehe ups!!!

Lha, begitupula jika agan-agan pengin pintar, selain minum jamu, maka jangan sampai ketinggalan juga dengan salah satu informasi kekinian di dunia maya, bacalah situs http://www.kibarkabar.top/ maka dijamin kepintaran agan-agan akan naik berlipat-lipat persen dari biasanya.

Di era sekarang orang akan ketinggalan informasi jika tidak mau membaca dan melihat perkembangan dunia. Apalagi sekarang era informasi, dengan gadget dunia seakan berada dalam genggaman seseorang. Memang sih, tidak semua yang dari dunia internet dapat dipertanggung jawabkan, namun agan-agan tidak usah risau, masih banyak sekali informasi penting dan bermutu yang bisa kita ambil dari dunia internet, salah satunya adalah dari web http://www.kibarkabar.top/. Tidak percaya ? Coba deh buka linknya.

Jika produk jamu saja berani beriklan, "Orang Pintar minum tolak angan" maka saya bisa  dan berani memberikan garansi, jika agan-agan pengin pintar maka bacalah blog milik Mas Dino Jumanta ini. Karena pada dasarnya seseorang akan pintar jika ia mau membaca. Proses membaca inilah kunci untuk menjadi pintar. Siapapun orangnya, saya yakin haqqul yakin jika dia pintar, pasti sebelumnya didahului oleh kecintaannya kepada aktivitas membaca, bukan minum jamu. Haqq deh!

Di blognya Mas Dino, agan-agan bisa belajar banyak hal, ada tutorial android, artikel pendidikan, puisi, cerpen, opini dan banyak lagi yang bisa kita petik. Agan-agan tinggal klik http://www.kibarkabar.top/, maka berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan dapat agan-agan panen dengan mudah dan tentunya gratis tanpa biaya, asal paketan data agan-agan tidak sedang koma. Selamat membaca.




Senin, 21 Agustus 2017

Epistemologi Jomblo Revolusioner

Epistemologi Jomblo Revolusioner
Oleh : Joyo Juwoto

Jomblo Revolusioner adalah sebuah judul buku yang ditulis oleh sesepuh literasi di Tuban, Mas Amrullah AM atau lebih akrab dipanggil oleh kawan-kawannya sebagai Mas Aam. Bukunya mas Aam, ini diterbitkan oleh penerbit epistemic Jogja sekitar bulan September 2016.

Saya merasa senang sekaligus bangga gaung literasi di bumi Wali, yang salah satunya dibibitkan oleh Mas Aam dan kawan-kawan di Gerakan Tuban Menulis (GTM) mulai bersemai. Salah satunya dibuktikan dengan lahirnya buku bercover putih, dengan sampul foto tertawa renyah dari penulisnya, Jomblo Revolusioner.

Perlu saya singgung di sini, awal ketertarikan saya untuk menulis dan menerbitkan buku dimulai saat Mas Mutholibin yang sebelas dua belas dengan Mas Aam dalam dunia literasi datang ke madrasah saya mengirimkan proposal pelatihan menulis dari GTM. Pas ketepatan saya ketemu dengan beliaunya. Jodoh memang tidak akan lari kemana, saya yang sejak dalam pikiran memang menyenangi dunia tulis menulis akhirnya ketemu dengan jodoh saya.

Dari undangan itu, saya bersama dengan dua santri hadir mengikuti pelatihan yang diadakan di Sanggar Belajar UPTD Kab. Tuban. Pada momentum itulah akhirnya saya bertemu dengan pemateri kondang , ada Pak Ngainun Naim, Mas Anas AG, dan  mbak Ditta Hakha penulis dari Bojonegoro, sayang saya kehilangan kontak penulis ketiga, Mbak Ditta.

Singkat cerita saya mulai agak rajin menulis karena pengaruh dan berkah dari penulis buku Jomblo Revolusioner ini. Alhamdulillah pertemuan yang mawaddah, wa rahmah nan barakah, sehingga saya ketularan menulis buku dan akhirnya saya juga ketularan menerbitkan buku.

Mas Aam ini memang seorang jurnalis sebuah media cetak, kerjanya ya nulis-nulis. Jadi ketika ia menerbitkan buku, ini memang sudah menjadi keharusan, dan hukumnya fardhu ain. Buku pertama Mas Aam yang sedang menjalani laku jomblo kontemporer ini cukup bagus dan bikin greget. Dari judulnya saja sudah tercium aroma provokasinya, "Jomblo Revolusioner". Jomblo revolusioner adalah bahasa yang sangat politis dan ideologis sekali, kayaknya sangat cocok dipakai slogan penyemangat atau yel-yel saat demo-demo mahasiswa.

Entah sebuah alibi atau hanya kebetulan saja, Mas Aam yang sedang menjomblo berusaha memaparkan tentang sebuah ideologi kejombloan. Ideologi yang mungkin sangat baru dan orisinil di jagad dunia pergerakan atau pun dalam teori-teori ilmu sosial. 

Dalam bukunya Mas Aam banyak menceritakan serba-serbi jomblo secara revolusioner, tentu pembaca bisa mendedahnya sendiri dengan nyaman, agar saya tidak terkesan menggurui dan banyak memaparkan apa yang ditulis oleh Mas Aam, apalagi saya juga lupa isi dari keseluruhan isi bukunya.

Yang pasti buku Mas Aam ini renyah bagai camilan, gurih dan menggoyangkan lidah-lidah pembaca, tapi kadang juga asin, pedes namun ngangenin kayak rujak petisnya wong pantura, pokoknya sensasi kenikmatannya bisa anda rasakan setelah mencicipinya sendiri. Selamat Membaca.


Kamis, 17 Agustus 2017

Emak-emak Ngeblog, Kelar Hidup Lo!

Emak-emak Ngeblog, Kelar Hidup Lo!
Oleh : Joyo Juwoto


Saya selalu ketawa ngeklek, jika melihat meme-meme lucu, (n)akal, dan menyentil yang ada di media sosial. Sepanjang penelusuran saya di google, saya belum menemukan kalimat seperti yang saya tulis dan menjadi judul tulisan saya. Akhirnya saya merangkai sebuah kalimat yang berbunyi :

 "Jangan remehkan emak-emak, kalau udah ngeblog, kelar hidup loe!!! (Joyo Juwoto)

Aktivitas Emak-emak memang biasanya hanya berkisar pada urusan dapur, sumur, kasur, dan nyayur,  hehe...namun jangan salah, ini jaman cyber bro, emak sekarang itu tidak sama dengan emak jaman Joko kendil, soalnya sekarang udah jamannya Pak Jokowi. Emak tidak hanya pandai urusan dalam negeri rumah tangga saja, namun harus juga menguasai banyak hal, termasuk di dalamnya adalah ngeblog.

Saya punya teman blogger Emak-emak, namanya Mbak Nur Rochma. Beliau ini seorang Ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Bisa dibayangkan sendiri ya, ibu rumah tangga dan masih mengurus tiga buah hati, dan tentu juga mengurus suaminya tercinta. Nah..walaupun super sibuk, Mbak Nur ini ternyata sangat telaten mengurusi blognya yang beralamat di sini http://www.nurrochma.com/.

Walau seorang perempuan, blognya Mbak Nur tidak hanya berbicara masalah dunia perempuan saja, Ketika saya intip blognya, ada banya menu yang siap memanjakan selera baca kita, seperti parenting, kuliner, dunia wanita, destinasi wisata, dan fiksi juga. Ternyata Mbak Nur ini memang jago dalam menulis banyak segmen. 

Denger-denger, selain menulis di blog, mbak Nur ini juga sudah banyak menulis di media cetak, dan asyiknya mbak Nur juga sudah punya beberapa buku antologi. Pengin tahu buku-buku yang telah ditulis mbak Nur ? Sana kepoin orangnya. 

Kita doain ya, semoga selain karya-karya antologi, Mbak Nur juga segera merilis yang solo, sekalian jogja boleh dah mbak ! hehe...:)

Khidmat, Santri ASSALAM Bangilan Upacara HUT RI Ke-72

Khidmat, Santri ASSALAM Bangilan Upacara HUT RI Ke-72
Oleh : Joyo Juwoto

Di bawah naungan langit merah putih, ratusan santri ASSALAM Bangilan Tuban mengadakan upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72, di halaman Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban.

Selain mengikuti upacara akbar di lapangan Gelora Bangilan, Santri-santri ASSALAM Bangilan juga mengadakan upacara sendiri di lokasi Pesantren. 

"Karena permintaan dari pihak panitia HUT RI hanya beberapa peleton saja, maka santri-santri yang tidak bisa hadir di lapangan kecamatan mengadakan upacara di lokasi pesantren" Ujar Ust. Puput Priyo Santoso, selaku koordinator pelaksanaan upacara.

Suasana upacara berjalan cukup khidmat, para santri mendengarkan dengan serius amanah dari pembina upacara yang disampaikan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan, KH. Yunan Jauhar, M.Pd.I.

"Agar para santri paham, arti dari sebuah perjuangan untuk meraih kemerdekaan itu tidak mudah, maka santri perlu mengenang ulang sejarah bangsanya, salah satunya adalah melalui momentum upacara" Kata Ust. Mudhakir, salah seorang pengajar di ponpes ASSALAM Bangilan.

Suasana upacara terasa memompa semangat perjuangan, manakala bendera Sang Saka Merah Putih dikibarkan di atas langit pesantren. "Kepada Sang Merah Putih, Hormaatttt....grak! Semua santri pun serentak menghormat, dan lantunan lagu Indonesia Raya menggema dan membahana memenuhi relung dada santri semuanya. 

Indonesia Tanah Airku
Tanah Tumpah Darahku
...
*
Salam Merdeka!!!

Selasa, 15 Agustus 2017

Sikap Toleransi Untuk Kebhinnekaan yang Tunggal Ika

Sikap Toleransi Untuk Kebhinnekaan yang Tunggal Ika
Oleh : Joyo Juwoto

Berbicara mengenai istilah kebhinekaan adalah hal sangat mudah, bahkan dengan ringannya lisan ini bisa mengucapkan kata bhinneka tunggal ika berkali-kali, hafal di luar kepala, menjadi jargon yang memukau dan semboyan yang sangat bagus, penuh muatan energi sosial yang positif dan membuka ruang dialektika kehidupan yang dinamis.

Kita tentu bersyukur dan sangat, sangat bersyukur, mendapatkan satu warisan azimat yang luar biasa dari sebuah rumusan bhineka tunggal ika. Para the founding fathers negeri Nusantara Indonesia Raya tercinta ini tentu sangat  menyadari akan hakekat kebangsaan yang dibangun di atas perbedaan ras, suku, bahasa, agama dan kepercayaan.

Oleh Karena itu, untuk mengikat keberagaman unsur-unsur itu, maka dibutuhkan satu landasan filosofis yang kuat dan universal. Maka dipilihlah satu kalimat yang berbunyi bhinneka tunggal ika, yang memiliki makna secara bebas berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Filosofis kebangsaan bhinneka tunggal ika sudah diajarkan kepada kita semenjak dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi, dengan harapan setiap generasi muda bangsa Indonesia memahami betul makna dan penerapan dari kalimat ini. Bukan hanya sekedar hafal, namun hafal yang disertai dengan pemahaman dan kesadaran akan nilai-nilai yang dilahirkan dari kebhinnekaan.

Salah satu nilai dari rahim kebhinnekaan adalah sikap toleransi terhadap segala perbedaan yang menjadi platform bangsa ini. Toleransi sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sikap menghargai pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan kelakuan yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri). Jadi dalam kebhinnekaan wajib hukumnya melahirkan satu pemahaman dan sikap serta konstruksi diri yang toleran kepada orang lain.

Kita tentu harus menyadari bahwa perbedaan adalah suatu hal yang wajar dan lumrah, karena memang kita terdiri dari berbagai ragam suku,ras, agama dan bahasa yang berbeda-beda. Segala macam perbedaan ini harus kita rawat biar bertumbuh kembang yang selaras sehingga mencipta harmoni semesta.

Sikap toleransi ini harus dikembangkan, dijiwai, dan dijadikan pengetahuan dan pemahaman bersama untuk diejawentahkan dalam kehidupan yang nyata, bukan hanya sekedar wacana, bukan hanya sekedar jargon, dan bahan pembicaraan di panggung seminar saja. Toleransi harus kita rawat dan kita perjuangkan bersama dengan penuh semangat kebersamaan dalam keberagaman.

Sikap toleransi ini adalah sebuah keniscayaan sikap yang harus ada dalam ruang individu maupun ruang publik, guna membangun kehidupan yang selaras dan damai diantara kelompok masyarakat yang berbeda-beda, seperti negeri Nusantara Indonesia tercinta.


Tidak ada pelangi yang tercipta dari satu unsur warna, dan pelangi terbesar serta terindah yang dianugerahkan Tuhan di jagad raya ini adalah kebhinnekaan warna di bumi Nusantara Indonesia Raya ini. Oleh karena itu mari kita rawat bersama kebhinnekaan yang tunggal ika dengan sikap toleransi antar kelompok masyarakat yang berbeda, baik itu berbeda sukunya, bahasanya, rasnya, maupun agamanya. 

Rabu, 09 Agustus 2017

Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis

Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis
Oleh : Joyo Juwoto

Pemuda ganteng dengan nama pena Jaka Tarub, eh maksudku Djacka Artub ini adalah seorang blogger fiksionis romantis yang dimiliki oleh Kabupaten Tuban. Tidak heran jika pemuda yang sudah menyunting secara sah, satu bidadari jelita di hadapan Pak Penghulu ini sangat flamboyan, lha wong menurut mata batin saya Kang Djacka ini keturunan dari putri rembulan sang Dewi Nawang Wulan. Ini terlihat dari nama penyamaran Kang Djacka yang hampir mirip dengan nama leluhurnya yaitu Jaka Tarub pemuda yang suka ngintip bidadari mandi di sendang.

Saya semakin yakin kalau Kang Djacka ini keturunan makhluk langit dapat kita lihat dalam satu bait puisinya yang sangat syarat merindukan rembulan datang. Dalam bait puisi yang berjudul "Dia; Secuil Rembulan" Kang Djacka ini berpuisi :

Aku, ... Masih tetap di sini. Berdiri terpaku menatap hitamnya gelap malam.
Kerlip bintang hanya terlihat indah di kejauhan

Tak mampu kusentuh  dalam dekapan.

Dia ... 
Secuil rembulan yang datang, hanya sekejap lalu menghilang.
Aku ingin menunggu, tapi rasanya mustahil malam ini ia akan kembali datang.

Akankah rembulan itu akan kutemui di malam berikutnya?
Entahlah.
Ah, kayaknya kerinduannya dengan simbah moyangnya yang ada di langit kayaknya sangat mengharu biru. Saya senang sekali membaca blognya Kang Djacka, tulisannya banyak beraliran fiksi romantis, wuihh...menghanyutkan deh pokoknya. Jika para sobat ingin melihat lebih banyak lagi dari tulisan Kang Djacka, maka kunjungi saja alamatnya di sini http://www.arektuban.com/ 

Kang Djacka ini menulis ternyata otodidak dan dengan dorongan energi cinta yang kuat. Saya berharap beliaunya segera merilis buku solo, baik itu kumpulan puisi maupun cerpen dan cerbungnya. 

Kapan-kapan saya pengin silaturahim dengan Kang Djacka, menikmati harumnya kopi hitam sambil mengobrolkan dunia antah berantah dari sebuah cerita non fiksi. Iya, kapan-kapan, menunggu purnama kelima belas menerangi remangnya malam di pinggiran desa Sekaran, Jatirogo.

Jumat, 04 Agustus 2017

Kang Rudi Blogger Top Dari Tuban

Kang Rudi Blogger  Top Dari Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Berbicara tentang Komunitas Blogger Tuban tidak akan lengkap tanpa menyebut sosok Kang Rudi, yang memiliki nama lengkap Fakhruddin ini. Lelaki yang mengaku telah memiliki Kanjeng Ratu dan Kanjeng Ratu Alit ini berasal dari desa Kapu Kec. Merakurak. Namun saat ini beliau sedang di luar kota, bekerja sebagai Analyst Infrastruktur Teknologi Informasi di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Wah, sungguh sesuatu yang sangat membanggakan, seorang anak desa dari Tuban, bisa bekerja super keren di PLN Persero.

Ketika saya mengintip profil Kang Rudi di facebook, beliau ini lulusan Jurusan Teknik Informatika di Universitas Budi Luhur Semarang, jadi jika Kang Rudi sangat concern dengan dunia blogger memang sangatlah tepat. Selain pakar dalam dunia IT, Kang Rudi orangnya suka dengan hal-hal yang baru, khususnya mengenai Sejarah lokal Tuban, UMKM Tuban, pertanian, dan segala sesuatu yang berbau pedesaan. Kang Rudi ini juga sangat suka mengendors pelaku usaha kecil di daerahnya melalui tulisan di webnya berikut https://www.kangrudi.com/. Beliau juga suka menulis mengenai wisata-wisata lokal Tuban maupun tempat wisata lain di dalam negeri, kemudian mengunggahnya ke media sosial. 

Dari beberapa postingan Kang Rudi saya banyak mengenal wisata kuliner baik di Tuban maupun tempat yang pernah dikunjungi oleh Kang Rudi, selain itu  Kang Rudi juga suka menulis opini mengenai hal-hal yang positif. Karena Kang Rudi memang sosok blogger top Tuban yang selalu menyerukan berinternet yang baik, sehat dan bijak di dunia maya. Kang Rudi ini orangnya sangat tidak suka perdebatan yang tidak ada manfaatnya. Lebih baik menulis hal-hal yang positif dari pada harus memperdebatkan sesuatu yang tidak jelas jluntrungnya.

Saya sangat salut dengan pembawaan Kang Rudi yang low profile dan friendly ini, beliau di group Blogger Tuban sering memberikan bimbingan mengenai kebloggeran dan hal-hal yang berkenaan dengan dunia maya. Pokoknya teman blogger kita dari Kapu Merakurak ini sangat luar biasa. Semoga Kang Rudi sekeluarga sehat selalu dan terus bisa berkarya untuk bangsa, baik lewat dunia blogger maupun yang lainnya. Salam.

Rabu, 02 Agustus 2017

Wanita Pertama Yang Syahid Dalam Islam

Google.com
Wanita Pertama Yang Syahid Dalam Islam
Oleh : Joyo Juwoto

Orang yang mengaku beriman tentu akan mendapatkan ujian dan godaan sebagai konsekuensi dari pengakuan keimanannya, Semakin tinggi keimanan seseorang ujiannya pun akan semakin tinggi pula. Ibarat pohon, semakin tinggi pohonnya maka angin yang bertiup pun akan semakin besar. Bersyukurlah kita yang hari ini hidup di mana iman kita mendapatkan jaminan keamanan, tanpa mendapatkan ujian yang berarti, sepertizaman awal-awal Islam disebarkan.

Ketika awal ajaran agama Islam didakwahkan oleh Rasulullah Saw, di kota Makkah, ujian keimanan yang ditimpakan kepada para pemeluk ajaran Rasul ini sungguh sangat berat. Siapapun yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka tidak akan lepas dari gangguan orang-orang kafir Quraiys. Hanya orang-orang yang mendapatkan perlindungan dari para tokoh yang selamat dari siksaan kaum kafir Quraiys, walau emikian dtetap saja gangguan dan hinaan mereka terima, seperti Nabi yang mendapatkan perlindungan dari Pamannya Abu Thalib, Abu Bakar yang mendapatkan perlindungan dari kaumnya, dan beberapa sahabat yang memiliki perlindungan dari para tokoh.

Diceritakan dari Abdullah bahwasanya orang yang pertama kali menampakkan keislamannya ada tujuh orang, salah satu diantaranya adalah Sumayyah bekas budak Hudzaifah bin al Mughirah salah seorang pembesar dari suku Bani Makhzun.

Sumayyah ini menikah dengan Yasir, seorang sahabat dari Yaman yang menetap di Makkah, kemudian mereka dianugerahi seorang anak laki-laki bernama Amr bin Yasir. Dari Amr inilah kedua orang tuanya mengenal dan memeluk ajaran agama Islam.  Setelah Bani Makhzun mengetahui keluarga Yasir ini masuk Islam, akhirnya mereka disiksa dengan siksaan yang sangat pedih. Keluarga Yasir ini dijemur diterik matahari padang pasir yang panas dengan memakai baju besi, tidak hanya itu saja tubuh mereka juga dibakar di di atas bara api yang menyala, namun keteguhan dan kesabaran mereka, segala siksa dan cobaan itu tak mampu menggoyahkan keimanan keluarga Yasir.

Suatu ketika Rasulullah Saw mengetahui akan derita yang ditanggung oleh keluarga Yasir, maka Rasulullah memberikan kabar gembira atas kesabaran akan ujian keimanan mereka. Rasulullah Saw bersabda :
صَبْرًا أَبَاالْيَقْظَانْ, صَبْرًا ألَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةَ
“Bersabarlah wahai Abul Yaqdzon, bersabarlah wahai keluarga Yasir sesungguhnya balasan untuk kalian adalah surga.”

Demi mendengar berita gembira dari Rasulullah bahwa mereka adalah termasuk ahli surga, maka segala siksa yang ditimpakan kepada mereka tiada berarti. Mereka merasa tentram dan beratnya siksaan yang dihadapi dianggap sebagai angin lalu saja, musibah yang mereka terima menjadi berkah surga kelak di hadapan Allah Swt.

Abu Jahal adalah salah seorang tokoh kafir Quraiys yang sangat kejam, melihat keluarga Yasir disiksa sedemikian rupa tidak mampu mengubah keimanannya kepada agama baru itu, akhirnya Abu Jahal melakukan tindakan yang sadis. Sumayyah disiksa dengan sangat kejam, kemudian Abu Jahal menusukkan tombak pada bagian kehormatannya, sampai Sumayyah syahid fi sabilillah.

Hal ini dikatakan oleh Mujahid, ia berkata : “Wanita pertama yang syahid pada masa permulaan Islam adalah Ummu ‘Ammar. Ia ditikam oleh Abu Jahal dengan tombak pada bagian kemaluannya.”


Kesyahidan Sumayyah ini terjadi pada tahun ke tujuh sebelum hijriyah, beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam menegakkan ajaran Islam, semoga Allah meridhoi dan merahmatinya serta menempatkannya di firdaus-Nya yang mulia.

Selasa, 01 Agustus 2017

Indahnya Persaudaraan

Indahnya Persaudaraan
Oleh : Joyo Juwoto

Telah dua kali saya berkunjung ke Madiun, dalam rangka nyekar dan mendoakan  para Kadang sepuh yang telah mendahului kita semua. Selain itu tentunya sekalian saturrahim kepada saudara-saudara tunggal banyu, tunggal kecer di Padepokan Agung Setia Hati Terate Madiun, Jalan Merak, Nambangan Kidul Kota Madiun.

Satu hal yang membuat saya terkesan adalah sambutan para kadang di Madiun yang cukup welcome. Kami sebelumnya tentu belum pernah ketemu dan tidak pernah kenal sebelumnya, tetapi saya dan rombongan yang saat itu berkunjung di Padepokan Agung sangat terkesan dengan sambutan dari para kadang di Padepokan Agung. Memang hal yang sedemikian bukan suatu hal yang aneh di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Jika kami berkunjung di tempat lain pun saya kira demikian sambutannya kepada saudara-saudaranya.

Inilah indahnya rasa persaudaraan yang dibangun dan menjadi landasan filosofis dalam berorganisasi di PSHT, sehingga saya perlu menuliskan sedikit kesan saya khususnya, dengan para kadang yang ada di Madiun, terkhususnya lagi kepada Pamter Pusat Madiun, kepada Mas Toro (Mas Subiantoro), Mas Narko dan kepada Mas Bagus yang telah menerima kedatangan kami serombongan malam-malam hari, dengan penuh keakraban dan rasa paseduluran yang sejati.

Benar sekali pesan yang diwejangkan oleh kadang sepuh bahwa “Nek ana sedulure teko, mbuh iku awan, mbuh iku bengi, bukakno lawang sing amba, mengko awakmu bakal entuk hikmahe”, ( jika ada saudaramu datang, entah itu siang, entah itu malam, maka bukakan pintu lebar-lebar, maka engkau nanti akan ketemu hikmahnya). Wejangan ini sering kita dengar, dan kelihatannya mudah sekali, namun pada kenyataannya tidak semua orang mampu melakukan ini.

Saya sangat terkesan dengan sambutan Mas Toro dan Mas Narko, yang telah menemani kami menikmati hangatnya wedang cemoe di warung dekat Padepokan. Walaupun saat itu hari telah malam, dan suasananya hujan rintik-rintik, kami diantar Mas Toro ziarah ke Maqamnya Mbah Harjdo Oetomo di Pilang bango, kemudian mengunjungi Padepokan Luhur, dan bersilaturrahmi dengan Mas Toyo.

Walau saat itu hari sudah malam, sekitar pukul 21.00 WIB, cuaca langit Madiun sedang dingin karena hujan yang mengguyur sejak sore hari, namun dengan santainya Mas Toro mengetuk pintu rumah, Mas Toyo.

“Santai wae mas, dalu-dalu gak popo. Mas Toyo wis kenek sumpah nek ana dulure teko kapan bae kudu mbukakno lawang” Kata mas Toro sambil tertawa ringan tanpa beban.

Setelah diketuk beberapa kali akhirnya pintu rumah Mas Toyo pun terbuka. “Eh, sampeyan toh Mas” kata Mas Toyo.

“Enggih mas, niki wonten derek Tuban badhe ziarah teng Padepokan Luhur” Jawab Mas Toro.

Kemudian kami pun dipersilahkan masuk ke padepokan, di situ kami napak tilas ndalemnya pendiri PSHT, Mbah Hardjo Oetomo. Mas Toyo pun menerangkan tempat-tempat yang dulu dihuni oleh Mbah Hardjo, termasuk juga, Mbah Harsono juga pernah tinggal di rumah pusaka itu. Mbah Harsono adalah putra dari Mbah Hardjo Oetomo.

Setelah puas napak tilas di Padepokan Luhur, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Maqamnya Raden Mas Imam Koesoepangat. Dengan sabar dan dengan senyumnya yang cerah Mas Toro mengantar kami berziarah di Maqamnya Pendekar yang mendapat julukan Pendita Wesi Kuning. Dari maqamnya Mas Imam ini kami meluncur ke ndalemnya Mas Bagus.

Menurut Mas Toro, Mas Bagus jam malam baru bisa ditemui, karena beliau baru perjalanan pulang dari Pekalongan hingga malam baru bisa ditemui. Saya sendiri membayangkan, setelah perjalanan jauh kok ya mau-maunya menerima tamu, Apa tidak capek, apa tidak ngantuk, begitu pikir saya. Begitulah kalau seseorang itu sudah selesai dengan dirinya, maka tidak ada sesuatu yang menjadi masalah baginya. Dan saya merasa Mas Bagus orangnya seperti ini, selesai dengan dirinya sendiri.

Sesampai di ndalemnya Mas Bagus, kami pun bersalaman. Mas Bagus menyambut kami dengan gembira, selanjutnya beliau menawari kami makan. Kemudian beliau meminta salah satu adang untuk membelikan kami makan. Sambil menunggu makan inilah beliau bertanya tentang tujuan kami jauh-jauh datang dari Tuban ke Madiun.

Percakapan pun semakin gayeng dan akrab, kapan-kapan kalau ada waktu saya akan merangkumkan obrolan kami dengan Mas Bagus, atau tepatnya wejangan Mas Bagus kepada kami tentang ilmu Setia Hati Terate  dalam prespektif santri. Begitu juga kalau ada waktu saya ingin menulis tentang ramahnya Mas Toro dan senyumnya yang penuh dengan keakraban dan persaudaraan.

Karena makanan telah datang, kami pun menikmati sensasi nasi pecel khas kota gadis. Semoga di lain waktu, kami bisa mengunjungi dan bersilaturrahmi kembali dengan kadang-kadang di Padepokan Agung Punjer Madiun.

Terima kasih Mas Toro atas waktunya, terima kasih kepada para kadang yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu namanya, dan terima kasih juga kepada Mas Bagus atas segala sambutan dan wejangannya, semoga ada manfaat yang dapat kita raih bersama. Aamin.