Jumat, 21 Juli 2017

Majelis Warung Kopi Pra Bedah Buku

Majelis Warung Kopi Pra Bedah Buku
Oleh : Joyo Juwoto

Beberapa hari yang lalu saya dihubungi via Whatsap oleh Mas Mutholibin, salah seorang aktivis literasi di kota Tuban. Beliau ini meminta saya untuk mengisi acara bedah buku di pondok pesantren Raudhlatut Thalibin Tanggir, yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan haul KH. Munawir Muslih dan Masyayikh pondok.  Dengan tanpa banyak berfikir, saya mengiyakan ajakan beliau ini. Walau akhirnya saya merasa gamang dan menyesal setelah mengiyakannya. Buku yang dibedah adalah buku saya yang berjudul Secercah Cahaya Hikmah. Karena tidak ingin menjadi orang yang lain esuk tempe sore dele, akhirnya saya memantapkan diri dan hati untuk menaiki panggung panas itu. Ah..sekali-sekali kan kita juga butuh yang hot-hotkan !

Ketepatan memang saya belum pernah membedah buku-buku saya, jadi saya anggap ini adalah rejeki dan anugerah dari Tuhan yang tidak baik jika ditolak. Apalagi saya dapat kabar dari Mas Mutholibin bahwa pembanding saya nanti adalah seorang begawan literasi di Tuban, yaitu Mas Aam, Penulis Buku Jomblo Revolusioner.  Saya merasa senang nantinya bisa bertemu dengan sang idola dalam menulis, hal ini mungkin yang juga memberikan energi keberanian bagi saya untuk bilang iya kepada Mas Mutholibin tempo hari. Demi ketemu sang idola kadang memang seseorang perlu bertindak gila, atau minimal perlu bondo nekatlah.

Di hari H, (Kamis, 20 Juli 2017) segera saya hubungi Ikal Hidayat Nur, seorang penyair dan cerpenis melankolis dari kota B. Saya minta mas Ikal ini menemani saya ke acara bedah buku. Karena soal yang ginian ini Mas Ikal adalah jagonya. Saya dan Mas Ikal kemudian berangkat berboncengan motor menuju Tanggir. Lima belas menit kemudian sampailah kami di dekat pondok, dan kami bertemu Mas Mutholibin yang ternyata telah sampai duluan dan menunggu kami di warung kopi di pojokan pondok.

Mas Mutholibin kemudian menawari kami kopi, tentu tanpa syarat kami mengiyakannya saja. Kami bertiga kemudian nyangkruk di warung kopi sambil menunggu konfirmasi dari pihak pondok untuk memulai acara. Baru seteguk kopi berselang, Mas Aam datang. Dengan senyumnya yang khas jomblo berkelas, beliau kemudian bergabung dengan kami bertiga.

“Halo bro..” sapa Mas Aam ceria, sambil turun dari motornya.

Mas Aam yang baru datang kemudian bergabung dengan kami, beliau memesan segelas es teh dingin.

Selanjutnya obrolan dan guyonan ceria, mewarnai pertemuan kami di warung itu. Yah, obrolan ngalor-ngidul beragam tema khas warung kopi, yang merekatkan hubungan sosial di tengah masyarakat. Menurut saya pemerintah punya hutang moral yang besar kepada institusi yang bernama warung kopi ini. Tanpa menggantungkan kucuran dana dari pemerintah, warung kopi memiliki peran aktif ikut menjaga dan melestarikan nilai-nilai keberagaman di tengah masyarakat.

“Mas, doyan walang ta?” kata Mas Aam menawari kami beberapa bungkus gorengan walang beras yang dibawanya dari Jatirogo.

“Wah, iki senenganku Mas!”, jawab saya spontan sambil mengambil sebungkus plastik gorengan walang. Saya memang penghobi kuliner walang goreng, jadi begitu ditawari, langsung saja belalang-belalang itu beterbangan ke mulut saya.

Mas Ikal sendiri kayaknya gak minat dengan kuliner walang, begitu juga dengan Mas Mutholibin. Hanya saya dan Mas Aam yang menghabiskan camilan ekstrim super pedas itu.

Setelah secangkir kopi saya habis, Mas Mutholibin mengajak kami cus ke lokasi, karena acara segera dimulai. Kami pun meluncur ke lokasi yang hanya berjarak sekitar lima puluhan meter dari warung kami nyangkruk.

Setiba di pondok, kami disambut baik oleh Gus Fuad, pengasuh pondok pesantren Raudlhatut Thalibin. Gus Fuad ini ternyata sangat akrab dengan dunia literasi, beliau bercerita bahwa dulu saat mondok di Makkah, beliau sering bertemu dan bergaul dengan para aktivis literasi dari FLP cabang Makkah. Tidak heran jika beliau menggagas acara bedah buku di pesantrennya.

Kami tentu sangat mengapresiasi dan bangga dengan sosok Gus Fuad, yang memberikan perhatian dan mendukung gerakan literasi di pesantren yang beliau asuh. Sehingga dalam acara haul masyayikh pondok, kegiatan bedah buku menjadi salah satu dari rangkaian agenda kegiatan.


Pengasuh pondok pesantren Raudlhatut Thalibin ini berharap kelak santri-santri bisa menjadi penulis yang baik, dan sadar berliterasi, karena santri adalah ujung tombak bagi keberlangsungan peradaban bangsa dan negara, karena kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari dunia literasi juga. 

2 komentar:

  1. Semangat menulis mbah. Kpn2 aku melu nak ono neh ben tambah pengalaman. 😁😜

    BalasHapus