Minggu, 02 April 2017

Bincang Sajak, Menempuh Pucuk Ilalang

Bincang Sajak, Menempuh Pucuk Ilalang
oleh : Joyojuwoto

Langit sore yang cerah, saat matahari senja sedang lembut-lembutnya mengusap wajah-wajah bahagia anggota komunitas kali kening, Sore itu kali kening membincang sajak dalam ngaji literasinya yang ke-15. Kali ini sajak yang diperbincangkan adalah karya seorang penulis berbakat dari hulu kali kening, tepatnya dari tlatah Jatirogo.

Jika teman-teman ingat sebuah event yang digelar oleh Gerakan Tuban Menulis (GTM), beberapa bulan silam, yaitu event menulis surat cinta untuk Bupati Tuban, pemenangnya tidak lain adalah yang sore ini tadi mengisi bincang sajak “Menempuh Pucuk Ilalang.” Beliau adalah mbak @i_lalang, penulis buku “Pucuk Ilalang” yang sebentar lagi akan rilis ke pembaca.

Selain menulis sajak, mbak i_lalang ini juga menulis essai dan cerpen. Salah satu cerpen mbak dari Sugihan, Jatirogo ini, yang pernah dimuat di radar berjudul “Kembang Melati.” Demikian sedikit stalking yang saya lakukan di instagramnya mbak i_lalang.



Dipandu moderator handal Mas Ical, bincang-bincang sajak yang diikuti oleh anggota dari kali kening ini berjalan cukup ceria. Saya sendiri telat hadir, sehingga secara detail saya kurang bisa menuliskan apa yang telah dibincangkan oleh mbak i_lalang. Namun dari apa yang saya tangkap diakhir-akhir bincang, bahwa sajak itu mewakili perasaan si penulisnya. Sajak ibarat komposisi dari emosi, emajinasi, kiasan, dan citraan, dari penulisnya itu sendiri.

Untuk sajak “Menempuh Pucuk Ilalang” yang ditulis oleh mbak i_lalang bergenre romantisme. Sajak ini sebenarnya oleh penulis diproduksi dan dihasilkan dari Instagram. Oleh karena itu struktur sajaknya pendek-pendek. Walaupun demikian sama sekali tidak mengurangi kejernihan dan ketajaman dari sajak yang ditulis oleh arek Jatirogo ini.

Berikut saya kutipkan sebuah sajak dari mbak i_lalang yang dijadikan DM di instagramya :

“Di depan senyummu aku diam-diam bersumpah
Akan kuterjemahkan kamu,
pada bahasa yang tidak bisa dimengerti
selain oleh jantungku dan degub dadaku”

Sajak yang ditulis oleh mbak i_lalang ini memang sangat singkat, namun sebagaimana lazimnya sajak, memang ia ditulis bukan dengan deskripsi yang jelas dan panjang lebar, sajak bukanlah pintu yang bebas terbuka, namun sajak ibarat jendela bertirai kain tembus pandang, menampilkan siluet-siluet kata-kata yang kadang-kadang memancing rasa penasaran bagi yang melihatnya. Begitupula dengan deretan dari rajutan sebuah sajak.

Bagaimanapun keindahan dalam membuat sajak, jangan sampai sajak hanyalah kumpulan kata hampa dan kosong makna. Sajak sejatinya adalah sebuah karya seni estestis dan bermakna, sehingga sajak bukan hanya menjadi sebuah bualan semata. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mas Rohmat, bahwa sajak yang bagus adalah sajak yang memiliki ruh untuk membela nilai kemanusiaan. Sebagaimana sajaknya Wiji Thukul, pungkasnya.

Demikian sedikit apa yang saya tangkap dan apa yang saya pikirkan dalam bincang sajak “Menempuh Pucuk Ilalang” sore itu bersama kawan-kawan anggota Komunitas Kali Kening.  Semoga ada manfaatnya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar