Kamis, 13 April 2017

Berfikir Positif

Google.com
Berfikir Positif
Oleh : Joyojuwoto*

Hidup adalah apa yang kita pikirkan, karena segala aktifitas kita sehari-hari tidak terlepas dari sumber pikiran, baik pikiran yang bersumber dari akal maupun hati. Pikiran inilah yang mengendalikan gerak lahir manusia, jadi sebenarnya gerak lahir tercipta karena ada keinginan yang bersumber dari pikiran.

Dalam sebuah kalimat falsafah dunia persilatan dikatakan bahwa “Gerak lahir luluh dengan gerak batin, gerak batin tercermin oleh gerak lahir” dari kalimat tersebut difahami bahwa gerak batin yang mengendalikan gerak lahir manusia, dan gerak batin bisa muncul dan tercermin dalam gerak lahiriah manusia, oleh karena itu, maka manusia perlu mengendalikan gerak batin dengan sebaik-baiknya.

Gerak batin inilah yang dalam ilmu modern dikenal dengan istilah positif thinking, atau berfikir positif. Semesta jagad raya ini pada hakekatnya adalah satu kesatuan yang utuh. Ada tali-tali ghaib yang saling terhubung dengan baik dan membentuk satu konektivitas semesta raya yang sangat rapi.

Jika semesta raya ini diibaratkan dengan telaga yang luas, ketika melempar batu ke dalam telaga tersebut, maka bekas dari lemparan itu akan membentuk gelombang yang menyebar ke segala arah. Setelah gelombang tersebut sampai pada batasnya, maka gelombang itu akan kembali pada titik pusat atau sumber dari gelombang.

Oleh karena itu jika kita melempar gelombang kebaikan, maka kebaikan pula yang akan kita dapatkan. Begitupula jika gelombang keburukan yang kita tebar, maka jangan heran jika gelombang itu akan sampai dan kembali pada diri kita lagi.

Begitulah kira-kira gambaran sederhana dari kerja gelombang pikiran manusia, oleh karena itu dalam sebuah firman Tuhan telah ditegaskan bahwa kebaikan sekecil apapun akan dibalas dengan kebaikan, sedangkan kejahatan sekecil apapun juga akan mendapatkan balasannya (Q.S. Al Zalzalah).

Walau pada dasarnya firman Tuhan di atas berbicara mengenai amal perbuatan manusia, namun begitupula dengan gelombang pikiran manusia, jika positif yang dipikirkan, maka positif pula yang didapatkan, sebaliknya jika keburukan yang dipikirkannya hasilnya juga akan keburukan pula. Ini adalah sebuah mekanisme sunnatullah dan konektivitas semesta raya yang diciptakan oleh Tuhan.

Tuhan memerintahkan manusia untuk selalu berfikir positif, selalu berharap kepada-Nya dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Tuhan. Tuhan juga sangat membenci dan murka terhadap orang-orang yang lemah harapan dan mudah berputus asa. Bahkan ditegaskan bahwa berputus asa adalah termasuk  golongan yang ingkar terhadap bentuk kasih sayang dan kemurahan Tuhan.

Dalam sebuah hadits qudsi-Nya Tuhan berfirman, Ana ‘inda dzonni abdii bii wa Ana Ma’ahu idzaa dzakaranii” artinya : “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika dia mengingat dan menyebut-Ku”. Lihatlah betapa Tuhan meletakkan Qudrah-Nya pada persangkaan hamba-Nya, jika seorang hamba berprasangka baik, berfikir positif, maka Tuhan akan memperkenankan persangkaan hamba tersebut, bahkan yang luar biasa Tuhan menyertai orang-orang yang selalu mengingat dan menyertakan Tuhan dalam setiap pikiran dan aktivitasnya. Oleh karena itu mari selalu berkhusnudzon terhadap setiap hal dan mari selalu berfikir positif untuk kehidupan kita yang lebih baik.


*Joyojuwoto, Pegiat di Komunitas Kali Kening Bangilan Tuban.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar