Selasa, 11 April 2017

Bapakku Seorang Marhaen

Bapakku Seorang Marhaen
Oleh : Joyojuwoto

Udara persawahan panas menyengat, burung-burung emprit beterbangan hinggap di tanaman padi yang mulai menguning, sesekali bapakku menggerakkan ujung tali rafia dari sebuah gubuk, tali diujung satunya dikaitkan pada sebuah boneka sawah untuk menakut-nakuti emprit yang akan memakan padi-padi itu.

Pada kedua tangan-tangan boneka sawah diganduli bekas kaleng susu yang dalamnya diisi kerikil agar mengeluarkan suara glontang-glontang yang membuat kawanan emprit lari terbirit-birit.

Sawah bapakku tidak begitu luas, hanya beberapa kedok saja, ukuran kedok-annya pun hanya sekitar empat atau lima meteran kali tujuh hingga delapan meter. Sawah tadah hujan inilah yang menghidupi keluarga kami. Jika musim penghujan bapak bisa menanam padi, sedangkan di musim lainnya biasanya ditanami jagung ataupun ketela.

Selain menggarap sawah, seperti penduduk di kampungku pada umumnya yang berprofesi sebagai petani biasanya juga memiliki sapi-sapi peliharaan. Sapi-sapi ini bukan dipelihara untuk diambil dagingnya namun dipelihara untuk dimanfaatkan tenaganya, membantu para petani menggarap sawah dan ladang.

Bapakku adalah seorang pekerja yang ulet, daya juangnya sebagai kepala rumah tangga sangat luar biasa, tentu emakku pun orangnya demikian. Mereka berdua bahu membahu mengerjakan sawah ladangnya sendiri untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Saya ingat, setiap musim bertanam jagung atau saat musim nandur pari, emak dan bapak bersinergi dalam proyek ini. Saya kadang pun ikut membantu jika libur sekolah, jika tidak saat libur, bapak dan emakku tidak akan mengijinkan. Walau bapak dan emakku tidak pernah sekolah, namun beliau berdua menginginkan anak-anaknya harus sekolah. Tidak boleh membolos dengan alasan apapun.

 Untuk bertanam padi atau jagung, bapak mempersiapkan semuanya mulai dari pra tanam, saat bertanam dan sampai pada masa pasca tanam. Lahan sebelum ditanami akan dicangkuli, dibajak, diberi pupuk kandang hingga siap masa tanam. Semuanya dilakukan sendiri oleh bapak dan emak. Maklum tanahnya memang tidak begitu luas, jadi cukup dikerjakan berdua oleh mereka.
Dari dulu sampai sekarang bapak tidak pernah menggunakan traktor untuk membajak sawahnya, beliau membuat kerakal dan garu sendiri. Peralatan pertanian itu dibuat dari kayu jati yang ditanam  sendiri di belakang rumah. Bapak memang benar-benar mandiri berdikari dalam hal bertani.

Jika Bung Karno pernah bertemu dengan seorang petani di daerah Bandung selatan, seorang yang disebutnya sebagai Marhaen, maka saya menyebut bapak saya sebagai seorang marhaenis sejati. Walau bapak saya tidak pernah mengenal istilah yang dibuat oleh Bung Karno ini, namun beliau adalah pengamal dari ajaran marhaenisme. Mempunyai sarana produksi sendiri, mengerjakannya sendiri, dan hasilnya dipakai untuk kepentingan bersama keluarga.

Ajaran marhaenis adalah ajaran untuk berdikari dari segala bentuk penindasan dan eksploitasi kaum pemodal. Kaum marhaenis inilah yang menginspirasi, dan dijadikan simbol semangat perlawanan terhadap kaum kapitalis. Ada yang mengatakan bahwa marhaenis ini adalah sintesa dari ajaran marxisme yang telah disesuaikan dengan nilai-nilai kemanusiaan masyarakat Nusantara. Bung Karno pun bilang demikian, bahwa marhaenisme adalah marxisme yang diterapkan di Indonesia. Apapun itu, semangat berdikari inilah yang harus dikembangkan untuk menangkal segala bentuk ketergantungan yang akan mengancam kemandirian nasional.

Semangat marhaenis telah dijadikan oleh Bung Karno sebagai kerangka berfikir yang akhirnya melahirkan satu konsep yang kita kenal dengan nama Pancasila. Sayang penafsiran terhadap Pancasila ini kadang beragam, sesuainya dengan nafsu dan keinginan dari para pemegang kekuasaan. Tentang penafsiran dan pemberlakuan Pancasila, di waktu lain mungkin akan saya papar ditulis lain, agar tidak terlalu panjang dan lepas dari judul yang saya buat di atas. 

Terakhir saya ingin menggarisbawahi bahwa, ajaran marhaenisme ini adalah ajaran yang sesuai dengan cita-cita dan citarasa bangsa Indonesia, dan akan selalu sejalan dengan denyut nadi peradaban bangsa yang kita cintai ini. Salam Marhaenisme salam berdikari. Merdeka !!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar