Minggu, 23 April 2017

Perlukah Menulis Buku ?

Perlukah Menulis Buku ?
Oleh : Joyojuwoto

Menulis mungkin ada yang mengatakan sebagai pekerjaan yang sia-sia belaka, menghabiskan waktu, dan pekerjaan orang yang tidak punya pekerjaan. Anggapan seperti ini tentu lahir dari ketidaktahuan akan pentingnya sebuah buku. Saya sendiri kadangpula punya anggapan demikian pula, untuk apa menulis, toh sudah banyak yang nulis, untuk apa menulis toh tulisanku jelek, tidak bermutu dan seabrek kalimat-kalimat yang sebenarnya melemahkan semangat menulis, dan tentu pertanyaan-pertanyaan itu tidak penting sama sekali.

Jika bukan karena berniat menebar manfaat dengan menulis, saya sebenarnya enggan untuk menulis. Rasa tidak pede dengan tulisan yang kurang bermutu benar-benar mengganggu semangat dan pikiran untuk menulis. Jika bukan karena saya merasa ada beban yang terlepas dari jiwa ketika menulis, jika bukan karena saya merasa bahagia kalau menulis, saya juga enggan melakukan aktivitas ini. Sejelek apapun tulisan yang saya hasilkan, setelah saya menuliskannya ada kebahagian yang membuncah di dalam hati. Dan perasaan ini tidak pernah saya dapatkan dari aktivitas apapun kecuali ya menulis tadi. Ringkasnya dengan alasan-alasan saya itu akhirnya saya menulis juga, walau tulisan saya masih belum bagus, tapi kebahagiaan ini selalu ada di sana.

Saya menulis sebenarnya sudah sangat lama, tapi niat benar-benar untuk menulis baru sekitar tahun 2015, saat itu saya ikut bergabung di group literasi Sahabat Pena Nusantara (SNP) di Whatshap yang didirikan oleh Ustadz Husnaini dari Lamongan. Dengan bergabung di group itu akhirnya saya terpacu untuk bisa menulis. Sejak group itu didirikan ada aturan anggota SPN harus rutin setor tulisan dengan tema yang telah ditentukan. Saya sangat gembira akhirnya  di tahun 2015 buku antologi pertama saya dengan SPN terbit judulnya Quantum Ramadhan, setelah itu setiap enam bulan sekali SPN selalu menerbitkan buku antologi, hingga sekarang.

Setelah buku perdana terbit, saya akhirnya semakin terpacu untuk menulis mandiri, hasilnya dua buku solo saya terbit di tahun 2016, yang pertama adalah buku Sirah Nabawiyyah judulnya “Jejak Sang Rasul” sebuah sejarah singkat Nabi Muhammad  Saw, dan solo  buku kedua yang saya hasilkan adalah”Secercah Cahaya Hikmah.”Saya merasa senang dan bahagia akhirnya saya bisa menerbitkan buku secara indie.

Untuk tahun 2017 ini saya juga punya keinginan menerbitkan buku, sudah ada puluhan cerpen yang rencananya akan saya antologikan menjadi sebuah buku mandiri. Ya setidaknya dalam hidup ini ada yang saya tinggalkan untuk peradaban, yaitu buku. Bagaimanapun bentuk rupa dan isi dari sebuah buku tentu ada hal yang bisa dipetik untuk kehidupan kita. Karena bagaimanapun buku dan tulisan akan lebih lama hidup dan bertahan dibanding usia kita sendiri. Oleh karena itu menulislah walau hanya satu buku yang kita tinggalkan dalam hidup ini. Karena dengan buku dan tulisan engkau akan mengabadi, begitu kira-kira pesan sastrawan dari Blora, Pramoedya Ananta Toer.

Jadi menulis buku menurutku sangatlah penting, dari  buku kita bisa membagikan ilmu dan pengalaman. Bisa kita bayangkan jika generasi zaman dahulu tidak meninggalkan tulisan apapun, maka kita akan kesulitan dan kebingungan dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Bahkan mu’jizat terbesar di dunia ini pun bukan milik Nabi Isa yang bisa menghidupkan orang mati, bukan milik Nabi Musa yang tongkatnya bisa membelas lautan, bukan pula milik Nabi Ibrahim yang tidak mempan dibakar api yang berkobar-kobar, namun mu’jizat terbesar adalah milik Nabi Muhammad Saw, yaitu berupa buku, tulisan di dalam kitab suci Al-Qur’an.

Menyitir dari perkataan Somerset Maugham di dalam buku “SOS” yang ditulis oleh Pak Emcho (Much. Khoiri ), dikatakan bahwa : “We do not write because we want to; we write because we have to,” Kita tidak menulis karena kita ingin menulis; kita menulis karena harus menulis. Dari perkataan ini menyatakan menulis adalah sebuah keharusan dan keniscayaan, oleh karena itu menulislah dan lakukan sekarang juga. Nun Wal Qalami Wa Maa Yasthuruun.


Selasa, 18 April 2017

Setiap Doa Pasti Dikabulkan Oleh Tuhan

Setiap Doa Pasti Dikabulkan Oleh Tuhan
Oleh : Joyojuwoto

Doa adalah segalanya, karena berdoa adalah bentuk intimnya ibadah seorang hamba kepada Tuhannya. Berdoa kadang hanya difahami sebagai permintaan hamba kepada Tuhan saja, namun lebih daripada itu, hakekatnya do’a adalah inti dari segala ibadah itu sendiri. Sholat adalah ibadah wajib yang jika diperas secara hakekat intinya juga doa. Oleh karena itu Nabi Muhammad bersabda : Ad-Du’a Mukhhul Ibadah, doa adalah inti dari ibadah.

Saya mengatakan bahwa setiap doa seorang hamba pasti dikabulkan oleh Tuhan bukan tanpa alasan, dalam berbagai firman-Nya, Tuhan telah menjanjikan akan mengabulkan doa-doa seorang hamba. Jika yang berjanji itu Tuhan sendiri apakah kita tidak yakin ? Di dalam kitab suci Allah Swt, telah berfirman : “Ud’uunii Astajib Lakum” (Berdo’alah kepadaKu, maka akan Aku kabulkan doamu).

Keraguan akan diterima atau ditolaknya permohonan seorang hamba ini pada hakekatnya menjadi salah satu sebab tertolaknya doa itu sendiri. Jadi jika kita memohon kita harus yakin bahwa permohonan itu pasti akan diperkenankan-Nya. Jangan ragu dan yakinlah, pasti Tuhan akan menjawab setiap lantunan doa yang kita munajatkan kepada-Nya.

Dalam kitab Hikam yang ditulis oleh Ibnu Athaillah as-Sakandari dikatakan bahwa “Ketika seorang hamba berdoa kepada Allah, lebih-lebih doa itu dipanjatkan dengan penuh istiqomah, maka pastilah doa itu akan dijawab dan diijabahi-Nya. Karena mustahil bagi Allah mengingkari janji-Nya.

Rasulullah Saw, dalam sebuah haditsnya juga menegaskan : “Setiap doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Allah asal tidak bercampur dengan dosa dan memutuskan tali silaturrahmi, doa itu akan dikabulkan dalam tiga pilihan : (1) Diturunkan seketika di dunia dalam bentuk pemberian sesuai dengan permintaan; (2) Dijadikan simpanan di akhirat sebagai kafarat dari dosa-dosanya; (3) Digantikan sebagai ganti musibah yang tidak jadi diturunkan demi keselamatannya.”

Demikianlah doa seorang hamba kepada Tuhannya, sebagai benteng dan sebagai senjata utama dalam kehidupan seorang hamba. Oleh karena itu berdoalah selalu kepada Tuhanmu, semoga Allah memberikan taufiq, hidayah, dan ma’unah-nya kepada kita semua. Aamiin.

Senin, 17 April 2017

Kun Ma'allah

Kun Ma'allah
Oleh : Joyojuwoto

Semesta raya adalah kekosongan belaka, ada dalam ketiadaan, ibarat bayang-bayang dalam cermin, yang hanya merupakan pantulan dari wujud kesejatian. Tiada yang maujud kecuali waajibul wujud itu sendiri, semua yang terlihat hanyalah semu dan kefanaan belaka.

Fa ainamaa tuwalluu wujuuhakum fa tsamma wajhullah, di mana pun kita memalingkan wajah ini, maka di situ adalah wajah Tuhan, wujud dari kesejatian Dzat Yang Maha Maujud. Dia nyata dalam samudera ma’rifat hamba-Nya.

Dalam Al-Qur’an surat Qaf, ayat 16 Allah berfirman :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (١٦)

Artinya : “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Oleh karena itu selalulah bersama-Nya, agar kita tidak lupa pada hakekat hidup yang sedang kita jalani. Kun Ma'allah, bersama Allah-lah selalu, dari tiada menjadi tiada pula, dari bukan apa-apa menjadi bukan apa-apa, hanya karena-Nya, qudrah dan iradah-Nya dalam firman Kun Fayakun-Nya, semua menjadi ada.

Kun Ma'allah, berarti meniadakan diri, melenyapkan ego, lebur dalam nur cahaya ketuhanan, berada dalam puncak cahaya ilahiah, nuurun 'ala nur, cahaya di atas cahaya. Membersamai Allah berarti fana' fillah, lebur dalam kesejatian Tuhan.

Kun Ma’allah, dan jika kita belum mampu menangkap kesejatian Tuhan, belum mampu bersama Allah, maka  bersamailah orang-orang yang telah berma’rifat kepada-Nya, yang telah mencapai kesejatian-Nya. Kun Ma’allah Fa in lam takun ma’allahi fa kun ma’a man ma’allahi, fa innahu yushiluka ilallahi ( HR. Abu Dawud)


Mari membuka jalan hidup dengan nama Allah, Bismillah, mari menjalankan kodrat hidup karena Allah semata, dengan Lillah, mari meminta pertolongan hanya kepada-Nya, Billahi tawakkalna, mari selalu dalam fillah, ilallah, kepada Allah, dengan Allah, di dalam Allah, dan akhirnya menuju Allah Swt, jua. Akhir dari segala pencarian perjalanan panjang menuju kesejatian hidup. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.

Jumat, 14 April 2017

The Power Of Mestakung

The Power Of Mestakung
Oleh : Joyojuwoto

Istilah mestakung pertama kali saya dengar dari sebuah pidato pengarahan dewan asatidz pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban oleh Abah Yai Abd. Moehaimin Tamam, namun kapannya saya lupa. Abah Yai mengatakan jika manusia dengan penuh keikhlasan berjuang untuk umat, bercita-cita kebaikan untuk masyarakat, maka akan mendapatkan bantuan dari malaikat, bantuan dari makhluk-makhluk yang ada di alam semesta, MestaKung, Semesta mendukung.

Beliau mencontohkan, dalam mendirikan pondok pesantren ASSALAM, Abah Yai hanya berkapitalkan yakin, beliau secara finansial dalam kondisi terpuruk, menanggung hutang, dan dalam kondisi bangkrut dari bisnisnya, namun dengan tekat kuat dan penuh dengan keyakinan, mantap dan optimis pasti pesantren akan berdiri. Entah dengan cara bagaimana dan siapa yang akan membantu. Semua diserahkan kepada Allah, Tuhan yang Maha segalanya.

Dengan penuh keyakinan dan perjuangan dari para santri yang saat itu hanya beberapa gelintir saja, pesantren ASSALAM dibangun. Karena kurangnya biaya untuk mendirikan gedung, maka santri harus bekerja mandiri untuk membangun gedung pesantren yang ada di Bangilan. Mulai dari menggali tanah pondasi dikerjakan sendiri oleh santri, membuat bata merah secara gotong-royong, mencari kayu glugu kelapa untuk usuk dan reng, hingga yang nukangi pun dikerjakan santri sendiri, yang memang kebetulan sedikit banyak bisa nukang batu dan kayu.

Dalam kondisi yang kritis inilah akhirnya lambat laun pesantren ASSALAM Bangilan berdiri. Pelan namun pasti, berkat tirakat dan perjuangan santri-santri kurun awal pondok pesantren ASSALAM Bangilan berdiri dan bisa kita lihat hingga sekarang.

Peristiwa yang sedemikian inilah yang dinamakan Mestakung,  semesta mendukung, yang merupakan suatu hukum alam dimana  jika suatu individu atau kelompok pada kondisi yang kritis maka hukum konektivitas semesta akan mendukung untuk keluar dari zona kritis.

Setelah saya membaca sebuah buku yang membahas mengenai fenomena ini, saya baru tahu bahwa hukum Mestakung ini pertama kalinya dicetuskan oleh Prof. Dr. Yohanes Surya, Ph.D seorang tokoh ternama dalam dunia ilmu fisika. Menurut Pak Yo, bahwa fenomena Mestakung ini tidak hanya terjadi pada gejala-gejala fisika saja, tetapi juga dalam berbagai gejala biologi, ekonomi, sosial dan sebagainya. Ringkasnya hukum alam Mestakung ini bisa terjadi untuk segala hal dalam kehidupan individu maupun kelompok.

 Jika anda pernah ketakutan dikejar oleh seekor anjing galak, kemudian tanpa sadar tembok yang tingginya 1.5 meter dapat anda lompati dengan mudah, itu adalah tanda dari sebuah gejala Mestakung. Ketika anda dalam kondisi terjepit dan tidak bisa keluar dari masalah yang membelit anda, lalu tiba-tiba ada keajaiban yang anda temukan, maka anda sedang dalam kondisi Mestakung. Apapun kadang bisa kita kerjakan dalam kondisi kepepet, inilah yang sering kita katakan sebagai The Power Of Kepepet, atau The Power Of Mestakung tadi.

Konsep Mestakung ini bisa kita pakai untuk mendongkrak keberhasilan seseorang, seperti yang ditulis di bukunya Pak Yo, untuk bisa pada kondisi Mestakung setidaknya ada tiga hukum alam yang perlu kita fahami. Ketiga hukum itu disebut sebagai Krilangkun plus (+), maksudnya adalah, untuk mencapai Mestakung seseorang harus berada pada tiga kondisi kritis, langkah, tekun dan plusnya adalah kondisi spiritual seseorang yang selalu mengharapkan taifuq, hidayah, dan maunah dari Allah Swt.

Kondisi kritis ini bisa terjadi pada siapapun, jika kita dalam kondisi tersebut kita harus segera melangkah, jangan hanya diam saja. Melangkah dan berusahalah untuk keluar dari masalah yang menimpa kita dengan tekun. Karena Mestakung tidak akan bekerja jika kita hanya diam saja, tanpa mau berusaha. Dan ketekunan serta kesabaran inilah yang akan menghantarkan seseorang pada kondisi Mestakung, sehingga kita akan sampai pada solusi dari setiap permasalahan yang kita hadapi. Setelah rumus Krilankun kita lakukan, jangan lupa nilai plusnya kita jalankan pula, yaitu kepasrahan dan pengharapan total kepada pertolongan Tuhan. Yakinlah hukum alam Mestakung akan kita dapatkan.


Ingat selalu hukum keseimbangan, Habis Gelap Terbitlah Terang, habis susah datanglah senang, dalam bahasa langitnya Tuhan Berfirman, “Inna Ma’al “Usri Yusron”, sesungguhnya sesudah kesulitan akan datang kemudahan. Aamiin.

Kamis, 13 April 2017

Berfikir Positif

Google.com
Berfikir Positif
Oleh : Joyojuwoto*

Hidup adalah apa yang kita pikirkan, karena segala aktifitas kita sehari-hari tidak terlepas dari sumber pikiran, baik pikiran yang bersumber dari akal maupun hati. Pikiran inilah yang mengendalikan gerak lahir manusia, jadi sebenarnya gerak lahir tercipta karena ada keinginan yang bersumber dari pikiran.

Dalam sebuah kalimat falsafah dunia persilatan dikatakan bahwa “Gerak lahir luluh dengan gerak batin, gerak batin tercermin oleh gerak lahir” dari kalimat tersebut difahami bahwa gerak batin yang mengendalikan gerak lahir manusia, dan gerak batin bisa muncul dan tercermin dalam gerak lahiriah manusia, oleh karena itu, maka manusia perlu mengendalikan gerak batin dengan sebaik-baiknya.

Gerak batin inilah yang dalam ilmu modern dikenal dengan istilah positif thinking, atau berfikir positif. Semesta jagad raya ini pada hakekatnya adalah satu kesatuan yang utuh. Ada tali-tali ghaib yang saling terhubung dengan baik dan membentuk satu konektivitas semesta raya yang sangat rapi.

Jika semesta raya ini diibaratkan dengan telaga yang luas, ketika melempar batu ke dalam telaga tersebut, maka bekas dari lemparan itu akan membentuk gelombang yang menyebar ke segala arah. Setelah gelombang tersebut sampai pada batasnya, maka gelombang itu akan kembali pada titik pusat atau sumber dari gelombang.

Oleh karena itu jika kita melempar gelombang kebaikan, maka kebaikan pula yang akan kita dapatkan. Begitupula jika gelombang keburukan yang kita tebar, maka jangan heran jika gelombang itu akan sampai dan kembali pada diri kita lagi.

Begitulah kira-kira gambaran sederhana dari kerja gelombang pikiran manusia, oleh karena itu dalam sebuah firman Tuhan telah ditegaskan bahwa kebaikan sekecil apapun akan dibalas dengan kebaikan, sedangkan kejahatan sekecil apapun juga akan mendapatkan balasannya (Q.S. Al Zalzalah).

Walau pada dasarnya firman Tuhan di atas berbicara mengenai amal perbuatan manusia, namun begitupula dengan gelombang pikiran manusia, jika positif yang dipikirkan, maka positif pula yang didapatkan, sebaliknya jika keburukan yang dipikirkannya hasilnya juga akan keburukan pula. Ini adalah sebuah mekanisme sunnatullah dan konektivitas semesta raya yang diciptakan oleh Tuhan.

Tuhan memerintahkan manusia untuk selalu berfikir positif, selalu berharap kepada-Nya dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Tuhan. Tuhan juga sangat membenci dan murka terhadap orang-orang yang lemah harapan dan mudah berputus asa. Bahkan ditegaskan bahwa berputus asa adalah termasuk  golongan yang ingkar terhadap bentuk kasih sayang dan kemurahan Tuhan.

Dalam sebuah hadits qudsi-Nya Tuhan berfirman, Ana ‘inda dzonni abdii bii wa Ana Ma’ahu idzaa dzakaranii” artinya : “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya jika dia mengingat dan menyebut-Ku”. Lihatlah betapa Tuhan meletakkan Qudrah-Nya pada persangkaan hamba-Nya, jika seorang hamba berprasangka baik, berfikir positif, maka Tuhan akan memperkenankan persangkaan hamba tersebut, bahkan yang luar biasa Tuhan menyertai orang-orang yang selalu mengingat dan menyertakan Tuhan dalam setiap pikiran dan aktivitasnya. Oleh karena itu mari selalu berkhusnudzon terhadap setiap hal dan mari selalu berfikir positif untuk kehidupan kita yang lebih baik.


*Joyojuwoto, Pegiat di Komunitas Kali Kening Bangilan Tuban.

Selasa, 11 April 2017

Bapakku Seorang Marhaen

Bapakku Seorang Marhaen
Oleh : Joyojuwoto

Udara persawahan panas menyengat, burung-burung emprit beterbangan hinggap di tanaman padi yang mulai menguning, sesekali bapakku menggerakkan ujung tali rafia dari sebuah gubuk, tali diujung satunya dikaitkan pada sebuah boneka sawah untuk menakut-nakuti emprit yang akan memakan padi-padi itu.

Pada kedua tangan-tangan boneka sawah diganduli bekas kaleng susu yang dalamnya diisi kerikil agar mengeluarkan suara glontang-glontang yang membuat kawanan emprit lari terbirit-birit.

Sawah bapakku tidak begitu luas, hanya beberapa kedok saja, ukuran kedok-annya pun hanya sekitar empat atau lima meteran kali tujuh hingga delapan meter. Sawah tadah hujan inilah yang menghidupi keluarga kami. Jika musim penghujan bapak bisa menanam padi, sedangkan di musim lainnya biasanya ditanami jagung ataupun ketela.

Selain menggarap sawah, seperti penduduk di kampungku pada umumnya yang berprofesi sebagai petani biasanya juga memiliki sapi-sapi peliharaan. Sapi-sapi ini bukan dipelihara untuk diambil dagingnya namun dipelihara untuk dimanfaatkan tenaganya, membantu para petani menggarap sawah dan ladang.

Bapakku adalah seorang pekerja yang ulet, daya juangnya sebagai kepala rumah tangga sangat luar biasa, tentu emakku pun orangnya demikian. Mereka berdua bahu membahu mengerjakan sawah ladangnya sendiri untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Saya ingat, setiap musim bertanam jagung atau saat musim nandur pari, emak dan bapak bersinergi dalam proyek ini. Saya kadang pun ikut membantu jika libur sekolah, jika tidak saat libur, bapak dan emakku tidak akan mengijinkan. Walau bapak dan emakku tidak pernah sekolah, namun beliau berdua menginginkan anak-anaknya harus sekolah. Tidak boleh membolos dengan alasan apapun.

 Untuk bertanam padi atau jagung, bapak mempersiapkan semuanya mulai dari pra tanam, saat bertanam dan sampai pada masa pasca tanam. Lahan sebelum ditanami akan dicangkuli, dibajak, diberi pupuk kandang hingga siap masa tanam. Semuanya dilakukan sendiri oleh bapak dan emak. Maklum tanahnya memang tidak begitu luas, jadi cukup dikerjakan berdua oleh mereka.
Dari dulu sampai sekarang bapak tidak pernah menggunakan traktor untuk membajak sawahnya, beliau membuat kerakal dan garu sendiri. Peralatan pertanian itu dibuat dari kayu jati yang ditanam  sendiri di belakang rumah. Bapak memang benar-benar mandiri berdikari dalam hal bertani.

Jika Bung Karno pernah bertemu dengan seorang petani di daerah Bandung selatan, seorang yang disebutnya sebagai Marhaen, maka saya menyebut bapak saya sebagai seorang marhaenis sejati. Walau bapak saya tidak pernah mengenal istilah yang dibuat oleh Bung Karno ini, namun beliau adalah pengamal dari ajaran marhaenisme. Mempunyai sarana produksi sendiri, mengerjakannya sendiri, dan hasilnya dipakai untuk kepentingan bersama keluarga.

Ajaran marhaenis adalah ajaran untuk berdikari dari segala bentuk penindasan dan eksploitasi kaum pemodal. Kaum marhaenis inilah yang menginspirasi, dan dijadikan simbol semangat perlawanan terhadap kaum kapitalis. Ada yang mengatakan bahwa marhaenis ini adalah sintesa dari ajaran marxisme yang telah disesuaikan dengan nilai-nilai kemanusiaan masyarakat Nusantara. Bung Karno pun bilang demikian, bahwa marhaenisme adalah marxisme yang diterapkan di Indonesia. Apapun itu, semangat berdikari inilah yang harus dikembangkan untuk menangkal segala bentuk ketergantungan yang akan mengancam kemandirian nasional.

Semangat marhaenis telah dijadikan oleh Bung Karno sebagai kerangka berfikir yang akhirnya melahirkan satu konsep yang kita kenal dengan nama Pancasila. Sayang penafsiran terhadap Pancasila ini kadang beragam, sesuainya dengan nafsu dan keinginan dari para pemegang kekuasaan. Tentang penafsiran dan pemberlakuan Pancasila, di waktu lain mungkin akan saya papar ditulis lain, agar tidak terlalu panjang dan lepas dari judul yang saya buat di atas. 

Terakhir saya ingin menggarisbawahi bahwa, ajaran marhaenisme ini adalah ajaran yang sesuai dengan cita-cita dan citarasa bangsa Indonesia, dan akan selalu sejalan dengan denyut nadi peradaban bangsa yang kita cintai ini. Salam Marhaenisme salam berdikari. Merdeka !!!

Sabtu, 08 April 2017

Inilah 6 Manfaat Menulis

Inilah 6 Manfaat Menulis
Oleh : Joyojuwoto

Jika Pramoedya Ananta Toer (Pram) mengatakan bahwa, menulis adalah bekerja untuk keabadian, maka saya mengatakan bahwa menulis adalah kerja ibadah. Karena menulis  adalah perintah Tuhan setelah membaca. Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan bahwa sesudah turunnya wahyu pertama Iqra’, maka wahyu kedua yang turun adalah surat Al Qalam. “Nun,  Wal Qalami Wa Maa Yasthuruun”, (Nun, Demi pena dan apa-apa yang dituliskannya).

Dilihat dari kronologi dan proses wahyu Tuhan di atas, maka jika ditafsirkan bahwa untuk menulis diperlukan bekal pertama, yaitu membaca. Yang dimaksud membaca ini bukan hanya sekedar membaca kitab suci atau buku saja, namun makna dari membaca membaca sangat luas. Termasuk diantaranya adalah membaca alam semesta, jagad raya yang dibentangkan Tuhan ini. Kita bisa membaca ayat-ayat Tuhan dari butiran debu, tanah, rumput, daun, air, api, udara dan lain sebagainya. Setelah membaca itulah ada perintah selanjutnya sebagai tindak lanjutnya, yaitu menuliskannya.

Oleh karena itu saya mengatakan bahwa “Menulis adalah kerja ibadah”, karena melaksanakan rangkaian dari perintah Tuhan kepada umat manusia. Selain bernilai ibadah menulis juga memiliki banyak manfaat. Menurut The Liang Gie (1992 1-3), menulis setidaknya memiliki enam manfaat, yaitu :
1.   Nilai Kecerdasan
Seorang penulis memang bukan yang tahu ilmu, mengerti segala hal, seorang penulis hanya berusaha merangkai susunan kata dari berbagai hal dan keilmuan yang terus berkembang. Setidaknya seorang penulis dituntut cerdas untuk mengumpulkan informasi-informasi dan berbagai sumber keilmuan untuk dirangkai menjadi sebuah tulisan, yang nantinya akan disajikan kepada pembaca.

2.   Nilai Kependidikan
Pada dasarnya seorang penulis adalah seorang pembelajar yang tidak pernah selesai, hal ini senada dengan sebuah hadits Nabi, bahwa menuntut ilmu itu dilakukan minal mahdi ilal lahdi, dari buaian hingga liang kematian. Jadi dengan menulis seseorang dituntut untuk terus membaca, dan kegiatan membaca ini tidak akan pernah selesai dilakukan. Hal ini memberikan penjelasan bahwa nilai kependidikan terus berlangsung sepanjang hayat.

3.   Nilai Kejiwaan
Selain dituntut kerja fisik, aktivitas menulis tentu tidak bisa meninggalkan kerja rohani, kerja jiwa. Oleh karena itu seorang penulis harus fit lahir batin biar bisa menulis yang baik. Jika jiwa buruk tentu tulisan yang dihasilkan pun buruk. Karena menulis itu pada dasarnya adalah memantulkan kembali cahaya ilmu melalui pena penulis. Jika ingin menjadi penulis yang baik perbaiki jiwa agar hasil dari pantulan pena kita baik juga.

4.   Nilai Kemasyarakatan
Seorang penulis tentu tidak bisa lepas dari lingkungan masyarakatnya, jika tulisan yang dihasilkan baik, dan bermanfaat bagi masyarakan, tentu masyarakat akan memberikan apresiasi yang positif pula. Di sinilah tugas penulis untuk melahirkan satu hal yang baru dan menginspirasi bagi masyarakat. Karena menulis adalah kerja untuk masyarakat luas, oleh karena itu mari berusaha melahirkan tulisan yang baik untuk masyarakat kita.

5.   Nilai Keuangan
Jika seorang penulis telah matang, mudah baginya untuk menghasilkan materi berupa uang, walaupun ini sebenarnya bukanlah tujuan utama dari menulis. Tapi bagaimanapun juga kerja dari seorang penulis layak dihargai. Diantaranya adalah dengan membeli bukunya atau memberikan penghargaan kepada penulis, seperti yang dilakukan oleh media masa, dengan cara memberikan sejumlah nominal uang untuk karya yang diterbitkan. Diantara contoh penulis yang telah meraup sukses dari tulisannya cukup banyak, seperti Andrea Hirata, Habiburrahman el-Syirazi, Tere Liye, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan masih banyak nama beken lainnya yang telah berhasil dalam dunia tulis menulis

6.   Nilai Kefilsafatan
Seperti yang saya kemukakan di awal, bahwa menulis adalah kerja ibadah, atau menurut Pram bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, maka nilai kefilsafatan dari menulis sangat luar biasa. Jika jasad dan umur seseorang hanya mampu bertahan di kisaran angka 80-100 tahun, maka dengan menulis seseorang memungkinkan untuk hidup lebih dari kisaran angka tahun itu. Jika menulis adalah bernilai ibadah, maka menulis menjadi bagian dari jariyah yang pahalaya tidak terputus setelah kematian penulisnya. Oleh karena itu menulislah agar kita mengabadi, maka menulislah yang baik agar kita terus mendapatkan pahala jariyahnya kelak.


          Demikian beberapa manfaat dari menulis semoga bermanfaat dan menginspirasi kita semua.  Karena semua orang adalah penulis, setidaknya menulis SMS, WA atau yang lainnya. Selamat menulis.

Cakrawala Literasi Bumi Wali

Cakrawala Literasi Bumi Wali
Oleh : Joyojuwoto

Saya merasa bangga dan bahagia, tadi sore buku antologi Cerita Mini (Cermin) bersama kawan-kawan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Tuban telah dikirimkan ke rumah. Judulnya “Saat Ramadhan Hampir Usai.” Kepada Mbak Linda saya harus mengucapkan banyak terima kasih, karena telah repot-repot mengirimkan buku ini kepada saya. Bangga dan bahagia bukan hanya sekedar karena di dalam buku itu tulisan saya terabadikan, namun perasaan ini tidak hanya sekedar itu saja. Saya merasa cakrawala baru di kota Tuban telah terbit, yaitu cakrawala membaca dan menulis mulai bersinar di bumi Wali Tuban.

Setidaknya akhir-akhir ini geliat literasi di Bumi Wali mulai terasa, banyak komunitas-komunitas menulis dan menikmati bacaan mulai bermunculan. Ada Gerakan Tuban Menulis (GTM), Forum Lingkar Pena (FLP) Tuban, Sastra Malam Minggu, Kostra, Komunitas Langit Tuban, Komunitas Kali Kening (K3), dan juga guru-guru yang tergabung dalam IGI Tuban, mungkin juga masih banyak komunitas lain yang masih tiarap dan belum saya ketahui.

Selain komunitas-komunitas yang bermunculan, saya juga mulai melihat penulis-penulis Tuban mulai eksis melahirkan karya mandiri. Sebut saja Mas Aam dari GTM dengan bukunya yang berjudul Jomblo Revolusioner, ada Mbak Yoru Akira dengan karyanya 21/04, Mas JJ. Hulux yang telah melahirkan sebuah novel fiksi fantasi tentang atlantis dengan judul “Taprobane”, ada Mas Ical dari Komunitas Kali Kening yang telah melahirkan kumcer dan antologi puisi, kemudian mas Darju Prasetyo dari Jatirogo, saya sudah membeli bukunya Mas Darju yang berjudul “Orang-orang terasing.” Mas Darju ini karyanya juga cukup banyak.

Sebentar lagi Bumi Tuban akan dipenungi penulis-penulis hebat, setidaknya tanda-tanda itu mulai tampak. Di Komunitas Kali Kening nantinya akan muncul nama-nama seperti Mas Rohmat Sholihin, sekarang sedang mengedit kumpulan cerpennya, beliau juga telah mempersiapkan kelahiran novel perdanayanya yang berjudul Putri Bahtei. Mbak Linda yang juga satu Antologi di cermin ini pun telah mempersiapkan kelahiran kumpulan puisi dan cerpen, ada lagi seorang penulis berbakat di Kali Kening, Mbak Ayra, novelnya juga akan segera rilis. Ini baru dari satu komunitas literasi yang ada di Tuban. Yang lainnya saya belum mendapatkan bocorannya. Siap-siap saja Bumi Tuban menerima pulung sebagai kota literasi.

Selain nama-nama tersebut seperti yang tercatat di lembar biografi di antologi IGI, saya mendapati orang-orang hebat yang bergerak di dalam dunia literasi, seperti Cak Sariban dengan karyanya yag sudah berjibun, ada Pak Mujihadi pengajar di SMP Jatirogo, beliau ini yang menggerakkan untuk menulis antologi cermin, ada Pak M. Choirur Rofiq ketua IGI Tuban , Pak Satriyono guru Man Rengel, Pak Nanang Syafi’i, Pak Hendra Tonik G, Pak M. Zaki Aminudun, Pak Achmad Roy Purbo Sasongko, dan Mas Fakhruddin. Dan tidak ketinggalan pula Kartini-kartini yang menjadi pelopor di dunia Literasi, ada Mbak Hiday Nur, seorang jawara literasi dari FLP Tuban, Mbak Lilik Istianah Djaelani, Bu Euis Karnengsih, Bu Atik Suroyani, Bu Dwi Risna Rahayu, Bu Nur Sholihah, Bu Evi Wahyu Lestari, bu Nur Istiqomah Hidayati, dan Bu Hilmin Dwi Astuti.


Demikian sedikit cakrawala literasi yang mulai terlihat di Bumi Wali Tuban. Semoga dengan bangkitnya gerakan literasi ini mampu memberikan sumbangsing bagi kemajuan peradaban bagi seluruh kehidupan berbangsa dan dan bernegara di Bumi Nusantara. Salam Literasi.

Jumat, 07 April 2017

Membaca Cerpen “Alia Ingin Pergi Ke Angkasa” Karya Mbak Linda

Membaca Cerpen “Alia Ingin Pergi Ke Angkasa” Karya Mbak Linda
Oleh : Joyojuwoto

Senja yang gerimis tipis-tipis, cukup membuat dingin suasana. kunikmati semangkok mie ayam hangat di pinggiran jalan raya santren, tepatnya di baratnya pom mini.
Sambil membaca cerpen di HP dari mbak Linda yang di-share di group WhatsApp Komunitas Kali Kening.
Mbak Linda memang memiliki naluri resah melihat nilai kemanusiaan dikoyak moyak oleh tangan-tangan jahat. Perhatiannya dengan realisme sosial sangat tinggi, hal ini tentu tidak terlepas dari latar belakang beliau sebagai seorang Pramis. Tidak heran jika karya-karya yang beliau tulis banyak menyoroti masalah-masalah ketimpangan sosial yang terjadi di sekitarnya.
 Begitupula dengan cerpen yang ditulis oleh Mbak Linda dengan judul ““Alia Ingin Pergi Ke Angkasa” Cerpen ini mengisahkan tentang perilaku menyimpang seorang anak manusia, karena pengaruh negatif dari sebuah teknologi kebablasan yang merajalela.
Cerpen ini juga menggambarkan kondisi lokalitas suatu dusun yg jauh dari keramaian. Namun ternyata pengaruh jahat dari media yang tk terfilter masuk juga ke desa di pedalaman. Tidak hanya di kota-kota besar, ternyata dusun di celah gunung pun tidak lepas kejahatan media.
Sambil sesekali menyendok mie ayam, saya membayangkan seorang gadis kecil yg mengalami kekerasan seksual. Tentu ini adalah pengalaman menyakitkan yang tidak mudah hilang, membekas dan akan dibawa hingga dewasa.
Kasihan Alia, seorang gadis cantik yang mempunyai impian menjadi seorang angkasawati, seharusnya Alia menghabiskan hari-harinya dengan penuh keceriaan, memandang langit yang cerah, bermain dengan lincah bersama teman-temannya, menikmati masa bahagia yang kadang tak ditemukan pada orang-orang dewasa, namun Alia harus menanggung beban perasaan yang berat. Menjadi korban kekerasan dari kakak kelasnya sendiri, Harno.
Belum lagi, Alia yang seharusnya mendapatkan advokasi dan perlindungan, karena sebagai korban kekerasan seksual, namun justru ketika Alia menceritakan tindakan asusila dari Harno, anak kepala desa, justru ia dianggap berbohong dan harus menanggung malu, dihukum dengan cara direndam di sebuah sumur keramat, sebagai hukuman adat bagi orang-orang yang bertindak tidak sesuai dengan norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.
Membaca cerpen Alia ini membuat air mata berderai bagai gerimis sore itu, menyedihkan sekaligus nggregetke ati. Kita juga akan dibuat mengelus dada, sambil berucap “amit-amit jabang bayi” kejahatan-kejahatan yang dulu hanya ada di layar televisi, sekarang nyata di depan mata. Walau cerpen adalah sebuah karya fiksi, namun saya yakin ada pijakan fakta yang melatarbelakanginya.

Demikian sedikit ungkapan dan kesan saya dalam membaca cerpen mbak Linda, semoga beliaunya terus bisa berkarya. Salam literasi.

Selasa, 04 April 2017

Kartini dan Gerakan Literasi Kaum Perempuan

Kartini dan Gerakan Literasi Kaum Perempuan
Oleh : Joyojuwoto

Bulan April adalah Kartini, dan Kartini bisa bermakna beragam, mulai dari lomba memasak, memakai sanggul, berkebaya, memakai jarit, dan berbagai hal yang berkenaan dengan kaum perempuan Jawa. Semua perayaan-perayaan dalam rangka memperingati hari Kartini yang saya sebutkan di depan tentu tidak ada salah, namun tentu kita tidak ingin peringatan hari Kartini yang kita klaim sebagai hari emansipasi kaum perempuan hanya berhenti pada tataran seremonial berdandan dan berpakaian seperti Kartini semata.

Ada makna lebih yang perlu kita kembangkan dari sekedar trend kartinian di negeri ini dengan segala pernak-perniknya. Kita harus memandang Kartini utuh sebagai pribadi wanita Jawa, sekaligus juga memandang Kartini sebagai seorang yang mempunyai tekad dan semangat yang kuat untuk mengubah nasib perempuan. Saya tekankan kembali, bahwa Kartini adalah sosok yang berani menentang ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang telah diwariskan secara turun temurun dalam tata hirarki kehidupan masyarakat Jawa kala itu.

Jadi jangan sampai kita memandang Kartini hanya dari sanggul dan kondenya, jangan hanya melihat Kartini dari jarit dan kebaya yang dipakainya, jangan hanya menilai Kartini dari sampul luarnya saja, kita harus mulai masuk ke dalam, melihat jatidiri dan apa yang menjadi cita-cita besar dari Putri R. M. Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara ini. Coba sekarang kita mulai membuka cakrawala berfikir kita, mari dengan arif kembali membuka lembaran ke masa di mana Kartini hidup.

Kartini adalah seorang anak perempuan, di masa itu nasib kaum perempuan terkungkung oleh adat, begitu pula dengan Kartini. Ia walaupun anak seorang Bupati, nasibnya tidak begitu jauh dari perempuan-perempuan kebanyakan. Perempuan menjadi kanca wingking, menjadi subordinasi bagi kaum laki-laki. Kartini sadar betul, ia tidak memiliki apa-apa untuk melawan ketertindasan kaumnya. Namun Kartini harus melawan arus besar dan membebaskan kaumnya dari perbudakan yang dibungkus atas nama adat.

Menurut apa yang ditulis olehPram, dalam “Panggil Aku Kartini Saja”, bahwa Kartini tidak memiliki masa, tidak memiliki uang, Kartini hanya memiliki kepekaan dan keprihatinan dan ia tulislah segala-gala perasaannya yang tertekan itu. Iya, ketika Kartini dalam ketidakberdayaan yang dilakukan adalah menulis, dan tulisannya inilah yang akhirnya menjadi peluru yang menerjang tembok dinding penghalang kemajuan kaumnya.

Sebagaimana yang diucapkan oleh Sayyid Qutub bahwa, satu tulisan ibarat peluru yang mampu menembus ribuan bahkan jutaan kepala. Inilah yang dilakukan oleh Kartini, ia menulis dan menulis, sehingga tulisannya mampu melambungkan namanya dan berguna bagi nasib kaumnya dan bagi masa depan bangsanya. Jadi jika kita tidak punya senjata apapun untuk mengubah dunia, maka gunakanlah ujung pena untuk mengubahnya.

Menulis adalah tugas sosial, sebagaimana tugas-tugas lain dalam membentuk dan mengembangkan peradaban umat manusia, sehingga tak ada kata berhenti untuk menulis. Jeda boleh, berhenti jangan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Stephen Leigh, “You may be able to take abreak from writing, but You won’t to be able to take a break from being a writer.” (Anda boleh jeda dari menulis, namun jangan pernah berfikir untuk berhenti sebagai penulis).

Kartini banyak menulis karya sastra, puisi, prosa, dan surat-surat. Sayang tidak semua karya Kartini terbukukan dengan baik, banyak karya tulis Kartini yang hilang. Walau demikian masih ada pula yang terselamatkan hingga sampai kepada kita. Dari karya-karya Kartini inilah yang akhirnya menjadikan ia sebagai icon gerakan emansipasi kaum wanita. Bukan karena sanggul dan kondenya, bukan karena jarit dan kebayanya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Pram, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” Kartini menulis dan mengabadi bersama karyanya “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Sehingga jika dilihat dari kiprah Kartini dalam menulis, saya ingin memberikan julukan baru bagi Kartini, yaitu sebagai Pahlawan Literasi Kaum Perempuan.

 Menjadi perempuan adalah keniscayaan, dan menulis adalah sebuah pilihan. Wahai Perempuan, mari memperingati hari Kartini dengan semangat gerakan berliterasi. Salam Kartini, salam literasi untuk Indonesia yang berperadaban.


Minggu, 02 April 2017

Bincang Sajak, Menempuh Pucuk Ilalang

Bincang Sajak, Menempuh Pucuk Ilalang
oleh : Joyojuwoto

Langit sore yang cerah, saat matahari senja sedang lembut-lembutnya mengusap wajah-wajah bahagia anggota komunitas kali kening, Sore itu kali kening membincang sajak dalam ngaji literasinya yang ke-15. Kali ini sajak yang diperbincangkan adalah karya seorang penulis berbakat dari hulu kali kening, tepatnya dari tlatah Jatirogo.

Jika teman-teman ingat sebuah event yang digelar oleh Gerakan Tuban Menulis (GTM), beberapa bulan silam, yaitu event menulis surat cinta untuk Bupati Tuban, pemenangnya tidak lain adalah yang sore ini tadi mengisi bincang sajak “Menempuh Pucuk Ilalang.” Beliau adalah mbak @i_lalang, penulis buku “Pucuk Ilalang” yang sebentar lagi akan rilis ke pembaca.

Selain menulis sajak, mbak i_lalang ini juga menulis essai dan cerpen. Salah satu cerpen mbak dari Sugihan, Jatirogo ini, yang pernah dimuat di radar berjudul “Kembang Melati.” Demikian sedikit stalking yang saya lakukan di instagramnya mbak i_lalang.



Dipandu moderator handal Mas Ical, bincang-bincang sajak yang diikuti oleh anggota dari kali kening ini berjalan cukup ceria. Saya sendiri telat hadir, sehingga secara detail saya kurang bisa menuliskan apa yang telah dibincangkan oleh mbak i_lalang. Namun dari apa yang saya tangkap diakhir-akhir bincang, bahwa sajak itu mewakili perasaan si penulisnya. Sajak ibarat komposisi dari emosi, emajinasi, kiasan, dan citraan, dari penulisnya itu sendiri.

Untuk sajak “Menempuh Pucuk Ilalang” yang ditulis oleh mbak i_lalang bergenre romantisme. Sajak ini sebenarnya oleh penulis diproduksi dan dihasilkan dari Instagram. Oleh karena itu struktur sajaknya pendek-pendek. Walaupun demikian sama sekali tidak mengurangi kejernihan dan ketajaman dari sajak yang ditulis oleh arek Jatirogo ini.

Berikut saya kutipkan sebuah sajak dari mbak i_lalang yang dijadikan DM di instagramya :

“Di depan senyummu aku diam-diam bersumpah
Akan kuterjemahkan kamu,
pada bahasa yang tidak bisa dimengerti
selain oleh jantungku dan degub dadaku”

Sajak yang ditulis oleh mbak i_lalang ini memang sangat singkat, namun sebagaimana lazimnya sajak, memang ia ditulis bukan dengan deskripsi yang jelas dan panjang lebar, sajak bukanlah pintu yang bebas terbuka, namun sajak ibarat jendela bertirai kain tembus pandang, menampilkan siluet-siluet kata-kata yang kadang-kadang memancing rasa penasaran bagi yang melihatnya. Begitupula dengan deretan dari rajutan sebuah sajak.

Bagaimanapun keindahan dalam membuat sajak, jangan sampai sajak hanyalah kumpulan kata hampa dan kosong makna. Sajak sejatinya adalah sebuah karya seni estestis dan bermakna, sehingga sajak bukan hanya menjadi sebuah bualan semata. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mas Rohmat, bahwa sajak yang bagus adalah sajak yang memiliki ruh untuk membela nilai kemanusiaan. Sebagaimana sajaknya Wiji Thukul, pungkasnya.

Demikian sedikit apa yang saya tangkap dan apa yang saya pikirkan dalam bincang sajak “Menempuh Pucuk Ilalang” sore itu bersama kawan-kawan anggota Komunitas Kali Kening.  Semoga ada manfaatnya.



Sabtu, 01 April 2017

Resensi Novel “Taprobane Atlantis Indonesia”

Resensi Novel “Taprobane Atlantis Indonesia”
Identitas Buku
Judul Buku                    : Taprobane Atlantis Indonesia
Penulis                  : J.J. Hulux
Penerbit                : Epistemic
Cetakan                : 2016
Tebal                     : 246
Kategori                : Fiksi Fantasi
ISBN                     : 978-602-69504-5-1
Ukuran buku       : 14.5 x 21 cm
Peresensi              : Joyojuwoto

Ulasan Sekilas Mengenai Novel Taprobane Atlantis Indonesia
Membaca novel fiksi fantasi yang ditulis oleh sahabat saya, Mas J.J. Hulux dari Singgahan Tuban, seakan kita ikut asyik berpetualangan, dan tinggal memilih menjadi tokoh mana yang kita inginkan. Mau menjadi Adam, atau Thom manusia tahun 2007 yang berpetualang di dimensi ribuan tahun masa silam, atau mungkin mau menjadi Putri kerajaan Atlantis, Auora yang cantik jelita.

Novel ini tebalnya adalah 246 halaman, namun ketika saya membacanya seperti hanya membaca beberapa lembar saja. Saya tidak sadar sudah berlembar-lembar halaman selesai saya baca. Saking asyiknya hingga tidak terasa saya sudah berada di halaman terakhir buku.

Mas Hulux rupanya punya keahlian dalam membuat alur, konflik, dan teka-teki yang menyegarkan pikiran, sehingga belum sampai kepala ini penat, novel telah selesai. Denger-denger novel ini akan dwilogi, jadi saya tentu sangat menunggu kelanjutan dari novel yang ditulis oleh Mas Hulux.

Novel ini dimulai tanggal 10 Januari 2007, saat Adam dan Thom menjadi bagian dari regu pencari tenggelamnya pesawat milik salah satu maskapai penerbangan 574 yang diperkirakan hilang di perairan segitiga Masalembo.

Di setiap lembar novel ini, saya tertarik untuk terus melanjutkan membaca. Memang spada dasarnya saya  suka petualangan, jadi klop kesukaan saya dengan alur dari Taprobane Atlantis Indonesia, yang menawarkan petualangan di dunia fiksi. Saya sangat menikmati setiap perjalanan Adam, Thom, dan Auora dalam mencari panah api sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nesos, Raja Klan Drav, ayah Auora.

Ketegangan-ketegangan yang dibangun oleh Mas Hulux cukup menambah RPM jantung, seperti saat tiga pejuang Klan Drav dikejar-kejar oleh pasukan Asura, seorang panglima andalan dari Raja jahat Marica yang menguasai kerajaan Atlantis.

Teka-teki sebagai ciri dari sebuah petualangan di novel ini juga bagus. Seperti saat Auora menerjemahkan tulisan aneh bagi Adam dan Thom yang  ada di dinding pintu gerbang.

Imajinasi yang dibangun Mas Hulux juga luar biasa, berpetualang naik ular raksasa, naik burung garudanya Leuka,bertemu Raja Mu, dan akhirnya Adam, Thom dan Auora mencari kebun legendaris. Kebun itu ternyata tidak kelihatan, namun ketika hanya Adam saja yang diperbolehkan masuk, Adam bisa melihat kebun legendaris yang tampak indah,  dengan pohon-pohon yang rindah dan buah-buahan yang banyak.

Di kebun legendaris Adam ketemu dengan penggembala yang namanya Muso, Muso inilah yang akhirnya membimbing Adam untuk mendapatkan anak panah dari panah api, yang didapatkan Adam di kerajaan Gunung Krakaca.

Saya sangat suka dengan kutipan dari perkataan Muso kepada Adam, “Dunia lamamu adalah duniaku, dan dunia baruku adalah duniamu” Kalimat ini sebenarnya membingungkan, namu ketika Adam minta penjelasan dan dijawab oleh Muso dengan enteng, “Kita tidak harus memikirkannya terlalu dalam,” selesailah pertanyaan yang memang tidak perlu jawaban itu.

Setelah mendapatkan panah api dan anak panahnya, Adam, Thom, dan Auora kembali bersama Klan Drav  melawan pasukan jahat para raksasa yang dipimpin oleh Raja Marica yang bermuka empat di keempat sisi kepalanya.

Dengan perjauangan yang berat, dan dibantu oleh Raja Singa dari Klan Hewan, Raja Uto  dari Ethopia, Leuka dengan pasukan garudanya, nenek So, dan juga sepasang hewan mitologi Garuda dan Ular Shesa penjaga Atlantis, akhirnya Klan Drav berhasil mengalahkan kekuatan jahat yang dipimpin oleh Asura dan Raja Marica.

di akhir cerita Auora dinobatkan menjadi ratu di kerajaan Atalntis, sedang Adam dan Thom kembali ke masanya lagi yaitu 12 Januari 2007, setelah dua hari dinyatakan hilang oleh teamnya.


Demikian sedikit ulasan mengenai novel Taprobane Atlantis Indonesia yang ditulis oleh sahabat saya Mas J.J. Hulux. Semoga buku ini membawa manfaat bagi masa depan generasi bangsa Indonesia. Selamat membaca dan selamat berpetualangan di setiap lembar novel ini.