Senin, 06 Maret 2017

Tugu Prasasti Proklamasi, Tulisan Tangan Mbah Muchit Muzadi

Tugu Proklamasi di Depan Psar Bangilan
Tugu Prasasti Proklamasi, Tulisan Tangan Mbah Muchit Muzadi
Oleh : Joyojuwoto

Masyarakat Bangilan Tuban tentu mengenal sosok kiai karismatik, Mbah Muchit Muzadi, baik itu dari golongan generasi tua hingga yang muda-muda. Mbah Muchit tidak hanya dikenal oleh masyarakat Bangilan saja, namun nama beliau dikenal hampir di seluruh pelosok nusantara, khususnya oleh warga nahdliyin. Karena beliau adalah termasuk tokoh sepuh NU, semenjak NU berdiri hingga di akhir hayatnya (Jember, 2015)  beliau berperan aktif sebagai pengawal perjalanan sejarah NU dan bangsa ini, sehingga tak mengherankan jika Mbah Muchit Muzadi dijuluki sebagai pakar khittah NU 1926.

KH. Muchit Muzadi

        Mbah Muchit Muzadi adalah salah satu putra terbaik Bangilan yang berhasil menorehkan tinta emas sejarah baik sebagai tokoh NU, tokoh bangsa, maupun dengan karya-karya tulis beliau yang cukup banyak. Salah satunya beliau menulis buku kalau tidak salah berjudul “Menjadi NU Menjadi Indonesia”. Tidak heran memang jika mbah Muchit sangat mencintai negerinya tercinta Indonesia, karena beliau ikut serta berjuang mengisi dan membangun peradaban bangsa melalui kiprahnya di organisasi terbesar yang ada di Indonesia ini.

      Salah satu peninggalan mbah Muchit yang ada di Bangilan selain rumah kelahiran beliau adalah tugu proklamasi yang ada di depan pasar Bangilan. Mungkin tidak semua orang tahu jika tulisan teks proklamasi yang ada di bawah pohon beringin di depan pasar Bangilan adalah asli tulisan tangan beliau.

Tulisan Tangan Mbah Muchit

Menurut saya, sejarah sangat penting untuk diketahui oleh generasi muda sekarang, agar mereka mengenal dengan betul orang-orang terdahulu yang telah berjasa untuk bangsanya. Karena salah satu dari fungsi sejarah adalah memberikan identitas kepada masyarakat. Oleh karena itu Bung Karno menyatakan bahwa, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya". Orang yang tidak tahu akan sejarah bangsanya akan sulit untuk mencintai dan menghargai hasil perjuangan para pendahulunya. Maka kenalilah sejarah bangsamu.

          Saya sendiri juga baru tahu jika tugu proklamasi yang ada di depan pasar Bangilan memiliki nilai historis setelah mendapat cerita dari KH. Yunan Jauhar (Gus Yunan), pengasuh pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban, yang masih kerabat dekat Mbah Muchit Muzadi.  Menurut Gus Yunan,  mbah Muchit adalah tokoh yang sangat konsen dalam memperjuangkan NU dan bangsa Indonesia. Beliau adalah santri langsung dari KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU.

          Jika dalam sejarah kemerdekaan Indonesia teks asli proklamasi diketik oleh Sayuti Melik, maka di Bangilan ada teks proklamasi yang dijadikan tugu peringatan dan prasasti kemerdekaan di depan pasar Bangilan, dan penulisnya adalah Mbah Muchit Muzadi, salah satu putra terbaik yang terlahir dari rahim bumi Bangilan. Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi pengingat bagi generasi kita sekarang. Jas Merah, Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah. Salam.

          

2 komentar: