Sabtu, 18 Maret 2017

Tawadhu’nya KH. Hasyim Muzadi

Tawadhu’nya KH. Hasyim Muzadi
Oleh : Joyo Juwoto

Ibarat seperti padi, semakin berisi semakin merunduk, begitupula dengan seorang yang alim, semakin tinggi keilmuannya semakin rendah hatinya. Demikian saya menggambarkan sosok Abah Hasyim Muzadi, walau saya tidak nyantri langsung kepada beliau, namun karena antara Abah Hasyim Muzadi dan kiai saya, Abah Moehaimin Tamam masih kerabat, maka Abah Hasyim ini kadang-kadang ke pondok saya. Memberi mauidhoh dalam acara haflah akhirussanah, maupun acara-acara di pondok yang berada di tempat kelahiran beliau.

Selain mendengar nasehat-nasehat dari Abah Hasyim, kadang saya juga mendengar cerita tentang Abah Hasyim dari Bu Nyai Hanifah Muzadi (almh). Pernah suatu malam bakda isya’ Abah Hasyim dolan ke Bangilan di rumah punjer Bani Wustho yang ditempati oleh Bu Nyai Hanifah. Waktu itu saya sedang di jalan raya karena suatu keperluan, saat di jalan itulah saya ketemu seorang yang berjalan sambil berdzikir memegang tasbih, setelah saya perhatikan ternyata beliau adalah Abah Hasyim Muzadi dari ndalemnya  Bu Nyai Hanifah menuju pondok pesantren ASSALAM. Abah Hasyim ndolani kiai saya, Abah Moehaimin Tamam. Karena selain kerabat, Bu Nyai Mutammimah, istri dari Abah Hasyim adalah adiknya Abah Moehaimin Tamam, kiai saya.

Melihat Abah Hasyim secara langsung dari dekat hati ini rasanya marem dan maknyess. Membekas hingga tulisan ini saya buat. Saya juga masih merasakan keteduhan dari wajah Abah Hasyim Muzadi. Beliau begitu tawadhu’ dan grapyak sumanak. Orang yang ditemuinya di jalan disapa dengan senyum yang ramah, waktu itu saya tidak berani mendekat, hanya melihatnya saja, dan itu terasa cukup bagi saya.

Memandang wajah orang alim itu memang menyejukkan, seperti memandang purnama dua belas yang indah menawan. Bahkan dalam kitab Lubabul Hadits disebutkan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang siapa yang memandang wajah orang alim dengan satu pandangan, lalu dia merasa senang dengannya, maka Allah Ta’ala menciptakan malaikat dari pandangan itu yang memohonkan ampunan kepadanya sampai hari kiamat” (Al Hadits).

Saya berharap dan berdoa kepada Allah Swt, semoga satu pandangan saya dahulu melihat keteduhan dari wajah Abah Hasyim Muzadi adalah pandangan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi di atas.

Setelah itu saya jarang melihat secara langsung Abah Hasyim Muzadi, walaupun Abah Hasyim juga beberapa kali ke Bangilan, paling lihat ya di koran, di Tv, maupun di media sosial. Memandang secara langsung dengan melalui media perantara memang terasa beda, alaqah batiniah, dan rasa kadang tidak kita dapati dari sebuah perantara. Oleh karena itu bermuwajahah secara langsung dengan orang alim itu sangat luar biasa pengaruhnya ke dalam alam batiniah kita.

Abah Hasyim Muzadi pernah suatu ketika pidato dalam satu acara di pondok pesantren ASSALAM Bangilan, beliau  menyatakan bahwa, Abah Moehaimin Tamam itu orangnya istiqamah, ulet, disiplin, dan tekun, “Saya masih kalah dengan beliau.” kata Abah Hasyim Muzadi merendah. Tentu ini adalah teladan yang diberikan oleh Abah Hasyim Muzadi, bahwa seseorang itu harus tawadhu’ kepada siapapun.

Demikian sekilas kenangan saya tentang Abah  Hasyim Muzadi, saya menuliskannya semoga ini menjadi obat kerinduan dan kesedihan saya dengan berpulangnya beliau ke rahmatullah. Semoga Allah Swt menempatkan beliau di sisi-Nya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar