Rabu, 08 Maret 2017

Penggembala

google.com
Penggembala
Oleh : Joyojuwoto

Penggembala yang saya maksud di sini adalah merujuk kepada seseorang yang aktivitasnya menjaga dan memiara hewan ternak baik itu sapi, kerbau, atau pun kambing. Bukan penggembala yang mengacu pada istilah yang dipakai dalam misionaris Kristen. Penggembala binatang ternak ini biasanya melepaskan hewan-hewan gembalaannya di padang rumput, tanah lapang atau di hutan. Aktivitas menggembala  biasa dilakukan oleh anak-anak desa di pinggiran hutan, atau di tempat yang memiliki padang rumput yang luas.

Dahulu saat saya masa kecil hingga beranjak remaja, menggembala dan menyabit rumput menjadi aktivitas sehari-hari sepulang dari sekolah, atau pada saat hari libur. Walau pekerjaan menjaga dan mengurusi binatang ternak kadang membosankan, tapi menggembala dan menyabit rumput menjadi kenangan indah yang sulit saya lupakan. Saya masih selalu bahagia jika mengenang momen-momen menggembala.

Waktu itu bapak saya memiliki dua ekor sapi, karena bapak dan emak sibuk mengurus sawah dan ladang, maka sebagai anak sulung, sayalah yang punya tugas untuk menggembalakan sapi-sapi itu. Biasanya bersama teman-teman di kampung, saya bawa sapi-sapi ke pinggiran hutan. Di sana kami tinggal melepaskan sapi-sapi itu merumput. Dan kami tinggal menunggu sambil bermain-main di persil, membuat rumah pohon, mencari buah juwet, mencari sarang burung, mencari jangkrik, belalang, atau kadang juga kami tinggal rumpuk jagung atau singkong.

Sangat menyenangkan, di tepi hutan bersama teman-teman mbakar jagung, singkong ataupun telo. Sambil menunggu sapi yang merumput, kami makan bersama, bercanda, bercerita, dengan penuh keakraban. Untuk minum biasanya kami bawa sebotol air dari rumah, kalau tidak begitu kami pun tidak perlu susah. Di tepi hutan banyak tersimpan sumber air atau belik yang bisa kami minum tanpa perlu memasakknya terlebih dahulu. Atau lebih ekstrim lagi kami juga biasa minum dari leng yuyu degan sedotan dari papah pohon pepaya.

Jika kami dapat belalang atau manuk emprit, biasanya kami bakar dengan bara api yang kami buat dengan kotoran sapi kering, atau biasanya kami bawa umplung wadah cat ukuran sedang. Umplung itu kedua sisinya kami beri tali dari kawat biar bisa  dicangking kemana-mana.  Umplung yang telah kami lubangi sisi-sisinya itu kami isi dengan kayu atau arang, kemudian kami nyalakan sebagai tungku untuk membakar binatang buruan tadi.

Selain berfungsi sebagai tungku, umplung itu juga kami pakai untuk mengasapi sapi agar terhindar dari gigitan nyamuk, lalat, dan pela-pelu. Biasanya tungku umplung itu kami bawa jika kami menggembala seharian mulai dari pagi hingga sore hari. Selain itu juga kami pakai untuk penghangat badan  saat menggembala di musim bediding.

Rutinitas menggembala pada musim kemarau lebih sering saya lakukan daripada musim penghujan, karena di musim kemarau untuk mencari rumput susah, sehingga lebih baik sapinya dilepas di padang gembala saja. Jika di musim hujan saya agak jarang membawa sapi-sapi itu ke padang rumput, karena selain banyak rumput yang bisa di sabit untuk makanan sapi, biasanya di musim penghujan sapi-sapi itu dipakai oleh bapak saya untuk menggarap lahan sawah dan ladangnya.

Waktu itu memang alat membajak sawah seperti traktor belum ada, kalaupun ada itupun masih sangat sedikit dan hanya dipunyai oleh petani kaya. Sedang petani seperti bapak saya cukup memakai alat bajak tradisional yang ditarik dengan sapi-sapi yang kami pelihara sendiri. Yah, mungkin seperti marhaen, petani kecil mandiri, yang konon ditemui oleh Bung Karno saat beliau jalan-jalan di pedalaman Bandung, Jawa Barat.

Mungkin nanti tentang bapak saya yang mirip marhean akan saya ceritakan sendiri dibagian lain tulisan saya. Di sini saya ingin bernostalgia dengan masa-masa kecil saya saat menggembalakan sapi-sapi di padang rumput, di tegalan dan di tepian hutan.

Namun sayang aktivitas menggembala sekarang sudah jarang dilakukan oleh anak-anak desa, selain sekarang para pemilik sapi lebih suka membeli pakan untuk sapinya, anak-anak sekarang juga lebih asyik dan sibuk dengan sekolahnya, dengan lesnya, dengan ngajinya, dan seabrek aktivitas lain yang membuat anak kehilangan masa bermainnya. Anak-anak sekarang sudah jarang bermain menikmati alam terbuka, di sawah, tegalan, kali, dan hutan-hutan.

Tapi mungkin itu sudah menjadi tuntutan zaman, dan kita tidak mungkin melawan jika zaman telah menuntut. Tapi yang pasti anak-anak perlu dikenalkan dengan alam di mana mereka tinggal. Karena alam juga bagian dari guru kehidupan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar