Minggu, 05 Maret 2017

Ojo Dumeh

Ojo Dumeh

oleh : Joyojuwoto*


Filosofis ajaran adi luhung yang digali dari nilai-nilai kearifan masyarakat Jawa mengajarkan agar manusia bisa menghargai dan menghormati orang lain, bersifat welas asih terhadap sesama, dan tidak merasa paling diantara orang lain.  Merasa paling inilah yang biasanya menimbulkan masalah dalam berperikehidupan di tengah masyarakat luas. Oleh karena itu mbah-mbah buyut kita mengajarkan kearifan urip iku ojo dumeh (hidup itu jangan merasa diri paling, menganggap diri lebih dari yang lainnya.

Ojo Dumeh adalah sikap dan perilaku yang mengajarkan ketawadhuan terhadap sesama makhluk Tuhan, dan tidak sombong serta angkuh, ora adigang adigung diguna, karena pada dasarnya manusia sama derajadnya, hanya ketaqwaannya yang membedakan nilai dari diri manusia di hadapan Tuhannya.

Kita harus selalu mawas diri dan ingat bahwa kehidupan ini seperti roda yang berputar, kadya cakra manggilingan, ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah. Tidak selamanya bunga akan mekar, ada saat layu dan luruh ke bawah. Jika kita sedang di puncak kesuksesan dan kejayaan, maka tetaplah bersikap rendah hati, andap asor dan menghargai orang lain, jangan sampai kita lupa daratan di mana bumi dipijak.

Jangan sampai kita mengandalkan harta kekayaan, derajad, dan pangkat di dunia ini, karena itu hanyalah fatamorgana. Perhiasan-perhiasaan keduniaan itu semua hanya semu semata, tidak akan kita bawa di alam kelanggengan, kecuali jika kita mempergunakan anugerah Tuhan itu untuk amal kebaikan, maka nikmat Tuhan itu akan langgeng, namun jika pangkat dan derajad serta harta kekayaan kita gunakan untuk kesombongan dan wah-wahan, maka tunggu saja karma kehidupan.

Bandha bakal lungo, pangkat bakal oncat (harta akan pergi, pangkat akan lepas) begitu yang sering diwejangkan sesepuh-sesepuh kita, hal ini menjadi pelajaran berharga bahwa manusia hendaknya selalu eling dan waspada, ojo dumeh, dan bisa meletakkan diri  dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

Oleh karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk dumeh, terhadap apa yang kita punyai, karena pada hekekatnya semua yang kita miliki adalah titipan, bahkan dengan hidup kita pun kita tidak punya hak dan wewenang apapun. Jika Tuhan mengambilnya maka tiada kekuatan apapun yang dapat menghalanginya.

Sangat banyak contoh dalam sejarah masa silam orang-orang dumeh, yang akhirnya mereka hancur lebur dalam kehinaan. Fir’aun dumeh dengan kekuasaannya, akhir kehidupannya ditenggelamkan ke dalam laut merah, Qarun dumeh dengan banyaknya emas dan permata, seluruh harta kekayaannya hilang ditelan bumi, Namrud, Jalut, adalah raja-raja yang dumeh, diakhir kehidupannya sangat jelas, terhina di dunia, dan tentu dimurkai Tuhan di akhirat. Oleh karena itu ojo dumeh sapada padaning tumitah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar