Jumat, 24 Februari 2017

Saminisme dan Perlawanan Terhadap Kapitalisme

Saminisme dan Perlawanan Terhadap Kapitalisme
Oleh : Joyojuwoto

Saminisme merujuk pada sebuah ajaran kebatinan yang dibawa oleh Samin Surosentiko anak dari Bupati Sumoroto (sekarang Ponorogo), pada awal abad ke-20 yang menyebar di daerah pedalaman Bojonegoro, Tuban, Blora,  Rembang, Purwodadi, Pati,  dan daerah di sekitarnya. Walau pendirinya telah meninggal dunia di Sawah Lunto Sumatera Barat tahun 1914, pengaruh dari ajaran Samin Surosentiko ini masih dapat dijumpai hingga sekarang.

Pengikut ajaran Samin dikenal dengan sebutan Wong Sikep, atau Sedulur Sikep.  Di Kabupaten Bojonegoro terdapat komunitas masyarakat Samin yang berada di desa Margomulyo, di daerah Cepu juga ada yaitu di desa Tanduran Kec. Kedungtuban, di Blora masyarakat Samin berada di desa Karang Pace, Klopo Duwur, sedang lainnya menyebar di pegunungan Kendeng Utara dari Rembang hingga Pati Jawa Tengah.

Ajaran kebatinan Saminisme ini mengajarkan akan nilai kejujuran, kesabaran, berbuat baik terhadap sesama, meninggalkan iri, drengki, srei dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tingkah batin manusia yang berkenaan dengan Manunggaling Kawula Gusti.

Walaupun awalnya adalah sebuah aliran kebatinan, namun pada akhirnya gerakan Saminisme ini pernah membuat gempar pemerintah kolonial Belanda, orang-orang Samin ini melawan kolonial Belanda dengan cara  melakukan pembangkangan sosial secara masif. Namun pembangkangan yang dilakukan oleh pengikut  Samin ini dengan cara yang sangat unik. Ia membangkang namun seperti tidak membangkang, atau istilah lokalnya dikenal sebagai perilaku yang nyamin.

Logika dari nyamin ini menurut Gus Mus, dalam  khasanah pesantren dikenal dengan sebutan tauriyah. Tauriyah ini adalah sebuah lafal yang bermakna ganda, menurut yang berbicara bermakna A, namun yang ditangkap oleh si pendengar bisa bermakna B.  Bisa juga istilah nyamin ini disebut sebagai kata bersayab atau oleh masyarakat Banjarmasin disebut sebagai mahalabiu.

Mahalabiu ini menurut Ust. Salim A Fillah mirip overturned assumption. Apa yang dimaksud komunikator, disengaja untuk berbeda dengan maksud yang ditangkap komunikan. Rasulullah Saw pernah ternyata juga pernah melakukan hal ini, ketika beliau ditanya oleh seorang nenek “Ya Rasulallah, doakan agar aku kelak masuk surga” Rasulullah Saw, pun menjawab bahwa di surga tidak ada nenek-nenek.” Setelah si nenek menangis karena mendengar jawaban Nabi tersebut, kemudian beliau menerangkan bahwa seorang yang masuk surga besok akan menjadi muda kembali, demikian yang dimaksud Rasulullah Saw berbeda dengan apa yang ditangkap oleh si nenek tadi.

Metode nyamin yang dipakai oleh pengikut Samin Surosentiko sedikit banyak pun demikian, ketika mereka ditanya dari mana mereka akan menjawab dari utara, ketika ditanya mau kemana, mereka akan menjawab akan ke selatan, demikian seterusnya. Jawaban itu tentu tidak salah, tapi hal ini tentu membuat si penanya akan bingung dengan sikap nyamin ini. Begitupula perlawanan yang dilakukan oleh Wong Sikep dalam melawan penjajahan Belanda, mereka melawan segala bentuk kebijakan Belanda seperti tidak mau membayar pajak, tidak mau bekerja sama dengan Pemerintah, dan bahkan menebangi kayu hutan yang oleh Belanda telah ditetapkan sebagai wilayah houtvesterijen yaitu membatasi dan melarang akses rakyat ke dalam hutan dengan logika sederhana Samin, bahwa hutan adalah milik bersama.

Masyarakat Samin memiliki semboyan, “Lemah Padha Duwe, Banyu Padha Duwe, Kayu Padha Duwe” kurang lebih maknanya adalah “Tanah milik bersama, air milik bersama, pohon-pohon milik bersama.” dengan falsafah inilah pengikut Samin menolak membayar pajak kepada pemerintah Belanda, menolak larangan menebang pohon di hutan. Bagi masyarakat Samin tanah dan hutan adalah milik bersama yang tidak boleh salah satu pihak menguasainya dan menghalangi pihak lain untuk memanfaatkannya.

Dalam ajaran Islam sendiri, terdapat sebuah hadits yang melarang individu atau kelompok menguasai tiga hal yang berkenaan dengan hajat hidup orang banyak.  Dalam sebuah haditsnya Rasulullah Saw, bersabda :

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْكَلإَ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ

Artinya : “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.”  (HR Abu Dawud, Ahmad, al-Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah).

Sekilas ajaran yang dibawa oleh Samin Surosentiko ini hampir mirip dengan ajaran Islam dalam hal memandang pengelolaan sumber daya alam, dan juga hampir serupa dengan sosialis-komunisme yang berusaha melawan hegemoni sistem kapitalisme, sehingga para pengikut ajaran saminisme di era Orba tiarap karena harus berhadap-hadapan dengan penguasa saat itu. Bahkan tidak jarang para pengikut dari ajaran samin ditangkap dan diinterograsi oleh pihak pemerintah daerah karena ajaran saminisme lebih dianggap berafiliasi pada ajaran sosialis-komunisme yang menjadi musuh utama Orba.

          Ciri dari kapitalisme adalah menguasai sumber daya alam demi kepentingan segelintir orang dan mengabaikan kepentingan bersama. Hal ini yang oleh Samin Surosentiko ditentang dengan logika nyleneh  ala nyaminismenya. Mau tidak mau perlawanan masif yan dibangun oleh Samin mendapat reaksi keras dari Belanda, sehingga Samin Surosentiko dengan beberapa anak buahnya ditangkap oleh Belanda kemudian diasingkan ke Sawah Lunto, hingga meninggal dunia di sana.


          Gerakan pembangkangan yang dilakukan oleh para petani dari pedalaman Blora ini tidak serta merta padam dengan ditangkapnya Samin Surosentiko, ajaran saminisme masih terus ada dan lestari bahkan hingga sekarang. Walau tentu pembangkangan itu sudah tidak lagi dilakukan di era pemerintahan yang sekarang. Namun kearifan dan nilai-nilai lokal ajaran samin masih bisa kita jumpai di tengah-tengah masyarakat Samin yang sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar