Jumat, 17 Februari 2017

Memilih Istri Yang Sholihah

Memilih  Istri Yang Sholihah
Oleh  : Joyojuwoto

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ‘Ash , Rasulullah Saw bersabda :

الدُّنْيا مَتَاعٌ, وخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيا المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Artinya : “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri shalihah”

          Istri dalam istilah jawa disebut garwa, yaitu dari sebuah tembung  yang berasal dari kalimat sigaraning nyawa (Separuhnya nyawa). Jadi istri adalah bagian yang tidak terpisah dari seorang suami, baik secara lahiriah maupun ruhiyah. Istri adalah bagian dari suami itu sendiri, begitu pula suami bagian yang tidak terpisah dari seorang istri.

          Oleh karena itu, Rasulullah Saw menganjurkan untuk memilih istri yang baik, karena istri yang baik dan shalihah adalah sebaik-baik perhiasan di dunia. Istri adalah pendamping hidup di dunia, jika pendamping kita baik, maka baik pula urusan kita di dunia, begitupula sebaliknya jika pendamping kita jahat tentu akan membuat kehidupan dunia kita juga sengsara.

          Diantara metode untuk memiliki anak yang sholihah adalah dengan cara memilihkan calon untuk anak-anak kita ibu yang sholihah. Seorang ibu yang sholihah, secara DNA telah mewariskan kebaikan-kebaikan untuk calon anak-anaknya. Selain pewarisan kebaikan secara genetis, tentu ibu yang sholihah akan memberikan keteladanan yang baik untuk anak-anaknya kelak.

          Mbah Moen Sarang (KH. Maimoen Zubair) pernah dawuh, jika ingin memiliki anak yang alim dan sholeh, maka dalam memilih istri hendaknya mencari wanita yang wira’i dan sufi, “Nek milih bojo iku sing ora patiyo ngerti dunyo. Mergo sepiro anakmu sholeh, sepiro sholehahe ibune”, begitu dawuh beliau.

          Di dalam Al Qur’an istri disebut sebagai ladang, “Nisaa’ukum harsul lakum” istrimu adalah ladang tempatmu bercocok tanam. Jika ladang kita subur maka bibit yang kita tanam akan tumbuh berkembang dengan baik, begitu juga jika ladangnya kering kerontang, sebaik apapun bibit yang kita tanam tidak akan tumbuh dengan baik.

          Oleh karena itu pilihlah ladang yang baik dan subur untuk bibit yang akan kita tanam, agar kelak menghasilkan tanaman yang baik dan bermanfaat. Dalam khasanah masyarakat Jawa dalam memilih jodoh itu harus mempertimbangkan bibit, bobot, dan bebetnya.

          Bibit adalah melihat asal-usul atau keturunan. bibit ini tentu sangat penting walaupun tidak mutlak, karena kadang pula ada seorang yang baik terlahir dari keturunan yang tidak baik. Tetapi bibit ini menjadi salah satu faktor dalam memilih jodoh, karena kita tentu tidak mau membeli kucing dalam karung bukan ?

          Sebagaimana bentuk fisik seperti warna rambut, warna kulit, tinggi badan dan sebagainya yang menurun kepada anak-anaknya, tentu secara kejiwaan juga ada hal-hal yang diwariskan kepada keturunannya. Oleh karena itu bibit ini sangat penting untuk memilih calon istri maupun calon suami. Karena hanya sumber yang jernih yang akan mengalirkan air yang jerih pula.

          Bobot adalah kualitas dari calon yang akan kita pilih, baik secara  lahiriah maupun batiniah.  Kualitas diri seseorang tentu sangat penting sekali, oleh karena itu jika kita ingin mencari jodoh yang berkualitas maka kita juga harus memantaskan diri. Dalam bahasa Al Qur’an dinyatakan “lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula”

          Bebet adalah status sosial dalam masyarakat. Bebet ini di posisi yang ketiga atau terakhir, karena memang status sosial atau harkat dan martabat juga penting, walaupun tidak menjadi sebuah prioritas. Jika bebet ini dalam rangka mencari orang yang baik dan orang yang bermanfaat tentu tidak ada salahnya sama sekali justru sangat dianjurkan untuk menjadi orang yang bermartabat. Daripada memilih orang yang tidak memiliki peran kebaikan apapun untuk lingkungannya. Jadi bebet di sini bukan untuk gaya-gayaan dan sombong-sombongan tapi murni mencari kebaikan baik untuk rumah tangga yang akan kita bangun dan untuk masyarakat yang kita tempati.

          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar