Kamis, 02 Februari 2017

Kang Tejo

Kang Tejo
Oleh : Joyojuwoto

Sebut saja Kang Tejo, seorang santri di sebuah pondok pesantren yang ada di sebuah desa di Kecamatan Bangilan. Lazimnya seorang santri Kang Tejo tinggal di sebuah gothakan bersama santri-santri yang lainnya. Gothakan itu berukuran sekitar 6 x 7 M2, di dalamnya di huni sekitar 10 hingga 12 orang santri beserta almari dan perlengkapan-perlengkapan santri lainnya.

Pesantren itu adalah sebuah pesantren salaf yang tidak hanya mengajarkan teori ilmu pengetahuan semata di bangku kelas, namun juga mempelajari dan menerapkan ilmu-ilmu muamalah kehidupan secara langsung di dalam dunia pesantren.

Khazanah dunia pesantren memang sangat kaya bahkan kadang unik dan tidak termuat dan terwadahi di teori para ahli pendidikan manapun. Sering kita mendengar seorang santri di pondok pesantren tidak pernah belajar, dia oleh Sang Kyai hanya disuruh membersihkan lingkungan pondok saja, namun ketika pulang Allah membukakan pintu ilmu hingga si santri tadi menjadi seorang yang alim  di masyarakat.

Seperti halnya Kang Tejo, dia di pondok menjadi khodamnya Ndalem Kyai. Membantu keluarga Kyai membersihkan rumah, kamar mandi, pekarangan, membantu belanja, mencuci pakaian kyai dan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan rumah Sang Kyai.

“Kang Tejo, setelah menyapu halaman, kamar mandinya dikuras ya” perintah Kyai kepada Tejo yang sedang menyapu di halaman rumah kyai.

“Enggih Kyai” jawab Tejo penuh takdzim sambil membungkukkan badan

Karena sering sibuk membantu keluarga ndalem, Tejo lebih banyak telat mengaji, dan bahkan sering tidak ikut pengajian. Walaupun demikian, dengan penuh keikhlasan Tejo tetap menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang khodam.

“Kang Tejo, sudah berapa bait nadzom Alfiyah yang kamu hafal ? tanya Kang Rohmad, saat mereka sedang nderes hafalan dengan beberapa santri di serambi masjid.

“Ah..Kang Rohmad kan tahu sendiri, hanya beberapa bait alfiyah yang saya hafal, itu pun masih sering lupa” Jawab Kang Tejo, sambil membolak-balikkan kitab nadzom alfiyahnya.

“Tapi kamu beruntung Kang, bisa ngodam di ndalem Kyai, tidak setiap santri sanggup dan bisa menjadi khodamnya Pak Kyai” sambung Kang Misbah yang juga ikut nimbrung obrolan mereka berdua

“Iya Kang, saya juga bersyukur bertahun-tahun bisa membantu Ndalem, menjadi khodam Pak Kyai, walau waktu saya lebih banyak saya gunakan untuk keluarga ndalem daripada untuk mengaji” Jawab Kang Tejo

Memang ketika santri-santri lain sibuk menghafal, Kang Tejo sibuk membersihkan halaman rumah Kyai, ketika teman-teman gothakannya memuthola’ah pelajaran, Kang Tejo sibuk mencuci dan menguras kamar mandi. begitulah aktivitas yang dikerjakan oleh Tejo selama bertahun-tahun nyantri.

Karena sering telat dan bahkan tidak mengikuti pengajian, Tejo  tentu tidak seperti teman-teman santri lainnya yang rajin mengaji. Teman-temannya sudah faham dan hafal ratusan bait-bait kitab Jurumiyah, Imrity, Alfiyah, dan kitab-kitab  standart pesantren lainnya untuk bekal membaca kitab gundul. Jangankan hafal, Tejo membaca kitab-kitab itu pun kadang masih kesulitan untuk memahaminya.
***

Sejak lulus dari MTs di kampungya Kauman, Kang Tejo Nyantri di sebuah pesantren di Kota Bangilan. Telah hampir enam tahun Kang Tejo belajar di pesantren itu. Segala suka duka di pesantren telah dirasakannya.

Setelah mondok selama bertahun-tahun dan mengkhatamkan kitab-kitab kuning di pesantren akhirnya para santri yang sampai di kelas akhir, diuji di depan Sang Kyai untuk membaca kitab gundul. Ujian itu sebagai prasyarat kelulusan dari pesantren.

 Sejak sore hari para santri sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Ujian itu akan dilaksanakan setelah sholat Isya’ tepat. Bagaimanapun juga, para santri tetap berdebar-debar menunggu ujian munaqosah itu. Karena setelah ujian munaqosah santri tinggal menunggu keputusan Kyai, boleh pulang untuk berkhidmat di tengah masyarakat atau tetap tinggal di pondok karena tidak lulus munaqosah dan harus tetap nyantri kembali.

Kang Tejo pun malam itu bersama diantara santri yang akan mengikuti munaqosah, hanya saja dia bingung karena walau sudah nyantri bertahun-tahun dia merasa belum mampu membaca kitab-kitab gundul itu. Hatinya deg-ded-kan, dia hanya pasrah, pastinya nasibnya sudah jelas, tidak boleh pulang oleh Kyai dan tetap menjadi khodam di pondok yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.

“Kamu juga ikut munaqosah Kang ? Tanya Rohmad sambil mendekap kitabnya di dada menuju aula pondok.

“Iya Kang, sudah enam tahun saya mondok, dan pastinya saya juga pengin seperti kalian, boyong dari pondok. Cuma saya merasa ilmu saya belum cukup. Saya tidak bisa apa-apa, tidak seperti Kang Rohmat yang sudah nglothok dengan berbagai kitab kuning”

Santri-santri yang akan ikut munaqosah sudah sama berangkat menuju aula, mereka memakai sarung, berbaju koko dan memakai songkok hitam. Tidak ketinggalan di dada mereka mendekap sebuah kitab kuning khas pesantren.

Setelah sholat Isya’, para santri segera masuk ruangan munaqosah di aula pesantren. Masing-masing santri segera duduk dengan takdzim di hadapan Pak Kyai. Sedang Kang Tejo karena masih ada urusan di Ndalem, ia belum bisa bergabung dengan santri-santri lainnya.

Satu persatu santri maju sorogan kepada Pak Kyai untuk diuji membaca kitab gundul. Di sebuah meja kecil di hadapan pak Kyai telah tersedia satu buah kitab tafsir karya Syekh Imam Jalaluddin As Suyuti.

“Kamu Rohmad, sini maju” tunjuk Pak Kyai kepada Rohmad yang duduk paling depan

Rohmad pun maju, berhadap-hadapan dengan Pak Kyai, ia duduk bersila menghadapi kitab tafsir yang ada di atas meja di depannya. Oleh Pak Kyai, Rohmat disuruh membuka dan membaca dari isi kitab itu. Pun demikian dengan santri-santri lainnya secara bergantian.

Ketika ujian sedang berlangsung, tiba-tiba Kang Tejo membuka pintu aula dan masuk ke ruangan munaqosah. Saat itu Pak Kyai sedang menguji salah satu santri. Karena suasananya hening, mau tidak mau kedatangan Kang Tejo mengusik suasana ujian.

“Kamu Tejo, sini ke depan !!!” suara Pak Kyai terdengar keras memanggil Kang Tejo yang baru masuk.

“Kamu tidak usah ikut ujian, sana boyong, sana pulang !!! bentak pak Kyai setelah Kang Tejo mendekat. Dengan gerakan reflek pak Kyai memukul kepala Tejo dengan kitab tafsir yang ada di atas meja. Sontak para santri lainnya terdiam. Suasana menjadi hening. Tejo pun hanya diam. Kemudian dengan perlahan Tejo pun matur kepada Pak Kyai “Matur suwun kyai, dalem telah diijinkan untuk boyong” tutur Kang Tejo pelan, sambil mencium tangan Pak Kyai.

Dengan perlahan Kang Tejo kemudian keluar ruangan munaqosah. Hatinya gembira, walau ia belum ikut munaqasah Pak Kyai telah menyuruhnya pulang. Ibarat melewati jembatan siratol mustaqim, Kang Tejo memasukinya dengan tanpa hisab. Ibarat rejeki, Kang Tejo telah mendapatkan rejeki min haitsu la yahtasib. Dan ilmu yang didapat dari Kang Tejo adalah ‘allamal insaana maa lam ya’lam.
***
Sayup-sayup dari Toa masjid di kampung Kauman, terdengar pengajian, suaranya merdu, bacaan ayat al Qur’annya fasih, penjelasannya pun gamblang dan mudah difahami oleh jamaah. Tidak heran jika jama’ahnya membludak memenuhi masjid dan serambinya. Sepulang dari mondok Kang Tejo diserahi mengajar wetonan di Masjid kampung. Kitab yang diajarkannya adalah tafsir Jalalain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar