Senin, 27 Februari 2017

Berguru Menulis Di Sahabat Pena Nusantara

Berguru Menulis Di Sahabat Pena Nusantara
Oleh : Joyojuwoto*

Menulis menjadi momok menakutkan tidak hanya bagi kalangan awam, bahkan akademisi pun tidak semuanya mampu menulis. Sebenarnya menulis itu mudah, tidak ubahnya ketrampilan lain seperti berlatih berjalan, bersepeda, menyopir, berenang, yang dapat dikuasai oleh siapapun juga, asal mau dan giat berlatih, dipastikan dia akan bisa melakukannya, begitu juga dengan ketrampilan menulis.
Keterlibatan saya dalam dunia tulis menulis diawali sebuah interaksi sosial di Facebook dengan seorang Ust. Dari Lamongan, M. Husnaini. Waktu itu beliau menulis di wall facebooknya sekitar tahun 2015 mengenai siapa yang akan ikut bergabung di group whatshap literasi. Karena waktu itu saya punya keinginan untuk menulis hingga bisa menjadi sebuah buku, maka saya pun menyatakan ikut bergabung.
Di group whatshap yang diberi nama Sahabat Pena Nusantara (SPN) itulah akhirnya saya mulai berguru menulis dengan para pakar dunia tulis menulis, seperti Ust. M. Husnaini sendiri, Prof. Muhammad Chirzin, Pak Didi Junaedi, Pak Much. Khoiri, Pak Hernowo Hasyim, Pak Dr. Ngainun Naim, Pak Dr. M. Taufiqi, Pak KH. Dawam Sholeh, Pak KH. Masruri Abd Muchit dan sederet tokoh hebat yang ada di group SPN.
Saat awal masuk di group Sahabat Pena Nusantara, saya sudah sering menulis, Cuma bagaimana membuat tulisan menjadi sebuah buku menjadi hal yang tidak mudah bagi saya, seperti seorang yang kebingungan di dalam kegelapan malam, tak tahu arah dan mencari jalan yang terang. Obor SPN menyala melalui keteladanan guru-guru hebat yang saya sebutkan di atas.
Dari Pak Husnaini saya belajar kedisiplinan dan ketegasan beliau dalam menulis bulanan, dari Prof. Muhammad Chirzin saya belajar, bagaimana beliau membuat buku yang bermanfaat dengan bahan dan setting Al Qur’an, dari dari Pak Didi saya belajar keistiqamahan beliau dalam menulis setiap hari dan mempostingnya di laman group, dari pak Much Khoiri saya belajar mencari dan menciptakan diksi-diksi yang kuat dan menggigit untuk sebuah tulisan, dari Hernowo saya belajar bagaimana membaca, mengikat makna dalam membaca, ngemil baca, dan hal-hal lain yang berkaitan dalam berliterasi, dari Pak Dr. Ngainun saya belajar gigihnya beliau dalam menciptakan buku-buku akademisi kampus, dari pak Dr. Taufiqi saya belajar hypnoteaching dan hypnosellingnya, dari Kyai Dawam saya belajar tentang puisi-puisi yang tidak hanya sekedar bunga-bunga kata tanpa makna, namun puisi bisa menjadi media dakwah yag efektif, dari Kyai Masruri pemgasuh Pondok Darul Istiqomah saya belajar bahwa menulis adalah salah satu medan jihad, dan perintah agama. Dari beliau-beliau inilah semangat menulis saya ikut berkobar-kobar.
Selang enam bulan bergabung di SPN, akhirnya terbitlah buku Antologi pertama SPN, judulnya Quantum Ramadhan, betapa senang dan bahagianya saya bisa ikut menjadi salah satu penulis di buku itu. Ini adalah buku saya pertama yang terbit bersama SPN, ibarat anak  buku itu adalah anak pertama dalam kehidupan saya, bisa dibayangkan sendiri bagaimana perasaan saya.
Saya selalu ingat apa yang sering dipesankan oleh Pak Husnaini, jika telah terbit buku jangan terlalu terlena, senang boleh, bangga boleh, tapi sekedarnya saja, terbitnya buku pertama harus diikuti dengan buku kedua, ketiga, dan selanjutnya. Faidzaa Faraghta Fanshab. Aplikasi dari firman Allah tersebut dalam dunia literasi adalah jika selesai satu buku, maka segera menyelesaikan buku yang lainnya.
Setelah buku Quantum Ramadhan terbit, saya berniat harus membuat buku, dengan segala upaya dan daya akhirnya di tahun 2016 saya berhasil menerbitkan dua buku solo. Tidak sia-sia saya berguru di SPN, walau SPN bukanlah tempat formal, bukan pula kelas menulis premium, namun nyatanya dengan keteladanan dan juga kewajiban untuk terus menulis akhirnya membuahkan hasil.
Saya sangat berterima kasih kepada guru-guru dan sahabat-sahabat di SPN, karena telah memprofokasi dan membakar semangat seluruh anggotanya untuk terus menulis dan berkarya. Karena sebagaimana yang dikatakan oleh sastrawan kondang dari Blora, Pramoedya Ananta Toer, bahwa : “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Selamat menulis, selamat berkarya dan selamat mengabadi bersama Sahabat Pena Nusantara. Salam Literasi.


*Joyojuwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan, Lahir di Bangilan Tuban. Penulis aktif di www.4bangilan.blogspot.com. Saat ini telah menulis dua buku solo, Jejak Sang Rasul (Dreamedia: 2016); Secercah Cahaya Hikmah (Pustaka Ilalang: 2016) dan menulis beebrapa buku antologi. Silaturrahin bisa via WA 085258611993 atau email joyojuwoto@gmail.com.

2 komentar:

  1. Menginsspirasi Pak Joyojuwoto ... Saya selalu membaca tulisan inspirasi setiap postingan terbaru Bapak

    BalasHapus
  2. Terima kasih, mbak Eka... Succes selalu:)

    BalasHapus