Selasa, 21 Februari 2017

Bahtera Nabi Nuh dan Kan’an

Bahtera Nabi Nuh dan Kan’an
Oleh : Joyojuwoto

Kisah Nabi  Nuh dengan salah satu anaknya yang bernama Kan’an diabadikan oleh Allah Swt, di dalam Al Qur’an surat  Hud ayat 42-45. Sebagai seorang Rasul yang menyeru umatnya untuk beriman kepada Allah, Nabi Nuh berdakwah dengan sungguh-sungguh di tengah-tengah kaum yang mendustakannya, walau dakwahnya tidak banyak yang menggubrisnya.

Selama berdakwah kurang lebih 500-an tahun, Nabi Nuh lebih banyak dihina dan dikatakan sebagai orang gila oleh kaumnya. Walau demikian beliau terus mendakwahkan ajaran tauhid, ada sekitar 80 orang yang mau mengikuti ajaran Nabi Nuh, sedang lainnya tetap dalam kesesatan.

Nabi Nuh pun tentu tidak lupa mengajak pula keluarganya untuk beriman kepada Allah. Namun Sayang istri (Q.S. At-Tahrim : 10) dan anaknya yang bernama Kan’an ingkar dan tidak mau mengikuti seruan ayahnya.

Karena kedurhakaan umatnya semakin menjadi-jadi akhirnya Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk membuat sebuah bahtera di atas sebuah bukit. Dalam surat Hud ayat : 38 Allah Swt, berfirman :

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ (٣٨)

Artinya : “Dan mulailah Nuh membuat bahtera. dan Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek Kami, Maka Sesungguhnya Kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).”

Sebagaimana yang disebutkan di ayat tersebut di atas, Nabi Nuh selalu diejek oleh kaumnya, hingga Allah Swt menurunkan adzab berupa hujan deras yang turun selama satu bulan. Orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Nuh dinaikkan bahtera. Banjir besar pun menenggelamkan seluruh kaum Nabi Nuh termasuk istri dan anaknya yang durhaka dan tidak mau menumpang di dalam bahtera Nabi Nuh.

Sebagai seorang ayah, tentu Nabi Nuh tidak ingin anaknya mati tenggelam, beliau pun memanggil-manggil anaknya :

“Wahai anakku ! Naiklah (ke kapal) bersama kami daan jangan engkau bersama orang-orang kafir.”

Kan’an pun menjawab dengan penuh sombong seruan dari ayahnya itu :
“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah !

Nabi Nuh sangat sedih melihat anaknya tetap tidak mau mengindahkan ajakannya untuk naik ke atas bahtera, dengan penuh harap nabi Nuh berusaha menyadarkan anaknya :

“Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.”

Akhirnya sebuah sapuan gelombang besar pun menenggelamkan tubuh Kan’an yang terapung-apung di air, anak yang durhaka kepada ayahnya itu pun akhirnya hilang dalam pusaran air bah yang melanda.

Bencana air bah yang diturunkan oleh Allah Swt telah menenggelamkan seluruh kaum Nabi Nuh tak tersisa, kecuali para pengikutnya dan hewan-hewan berpasangan (jantan dan betina) yang ikut naik di atas bahtera Nabi Nuh.

Pada hari itu tidak ada perlindungan yang mampu menyelamatkan kaum yang durhaka dari terjangan air bah. Siapapun juga yang tidak berada di barsaan Nabi Nuh tenggelam tak tersisa, tidak juga bukit dan gunung-gunung yang tinggi mampu menyelamatkan mereka.

Kisah bahtera Nabi Nuh dan anaknya Kan’an adalah sebuah pelajaran berharga yang dapat kita petik, bahwa siapapun yang ingkar dan tidak mau berada dalam barisan Nabi Nuh, pasti lambat laun akan tenggelam dalam pusaran air bah. Dan kisah seperti ini pun akan terus terulang sepanjang perjalanan sejarah umat manusia, walau mungkin dengan cerita, setting dan model yang berbeda namun alurnya akan tetap sama. Karena sejarah pasti berulang.

Salam,
Joyojuwoto, Santri PP. ASSALAM Bangilan Tuban.




1 komentar: