Kamis, 26 Januari 2017

Potensi Nelayan Darat Di Waduk Pacal Bojonegoro

Potensi Nelayan Darat Di Waduk Pacal Bojonegoro
Oleh : Joyojuwoto

Kabupaten Bojonegoro secara geografis memang tidak memiliki laut maupun area pertambakan yang luas, namun walau demikian wilayah Kabupaten Bojonegoro memiliki potensi menghasilkan sumber daya alam dari  biota laut maupun tambak khususnya yang berupa ikan dan udang. Masyarakat di daerah sepanjang aliran bengawan Solo dan daerah yang memiliki waduk yang cukup luas ini bisa bermata pencaharian sebagai nelayan darat. Dari Sungai dan waduk inilah masyarakat bisa menambah penghasilannya dengan mencari ikan dan udang di sungai atau di waduk.

Salah satu waduk yang cukup luas yang dimiliki oleh Kabupaten Bojonegoro adalah waduk Pacal. Luasnya sekitar 3.878 KM, denga kedalaman sekitar 25 M. Waduk ini terletak di desa Kedungsumber Kec. Temayang. Beberapa waktu yang lalu saya sempat mampir dan mengunjungi waduk ini, menurut tulisan yang saya baca di salah satu sudut bangunan, waduk ini dibangun sekitar tahun 1933. Ternyata prediksi saya benar, setelah saya lihat di google waduk ini dibangun oleh Belanda pada tahun itu.

Waduk Pacal selain dipakai untuk keperluan irigrasi pertanian, ternyata juga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mencari sumber penghasilan dari mencari ikan. Banyak jenis ikan yang bisa diambil dari waduk ini, mulai dari udang, ikan Nila, Ikan Patin, Ikan wader, dan ikan Gloso.
Seperti lazimnya nelayan di laut, nelayan darat di waduk Pacal juga memakai peralatan yang biasa dipakai oleh nelayan laut, seperti jaring, jala, pancing dan tidak ketinggalan perahu jukung. Dari waduk itulah para warga mencari ikan. Hasil tangkapan dari waduk biasanya langsung dijual di pinggiran waduk kepada para pengunjung atau warga setempat.

Ketika mampir kesana bersama anak dan istri, Kami tertarik untuk membeli ikan hasil tangkapan dari waduk Pacal sebagai oleh-oleh. Ikan Nila, Patin, atau wader mungkin sudah biasa, dan yang menarik perhatian saya dan istri adalah jenis ikan Gloso. Di jalan poros Bojonegoro-Nganjuk, tepatnya di dekat Jembatan di tepi hutan saya sempat melihat warung yang menyediakan masakan ikan Gloso, tapi kami tidak mampir.

Ikan-ikan yang dijual di rentengi dengan tali dari janur daun kelapa, satu renteng berisi sekitar 10-12 ikan. Satu renteng ikan Nila dijual seharga 35 ribu rupiah, sedang ikan Gloso lebih murah lagi, satu renteng ikan Gloso seharga 15 ribu rupiah.

Saya sendiri belum pernah tahu dan belum pernah makan jenis ikan ini, mungkin saja jenis ikan ini hanya ada di waduk pacal, saya sendiri kurang tahu. Akhirnya saya dan istri pun membeli satu renteng ikan Gloso untuk kami bawa pulang. Rasa-rasanya tidak sabar ikan merasakan sensasi dan citarasa ikan Gloso dari waduk pacal. Kira-kira enaknya dimasak apa ya ?

Ikan Gloso dan ikan-ikan lain dari waduk pacal bisa dimanfaatkan warga sekitar untuk menambah penghasilan, selain dijual mentah, ikan ini juga dijual di warung-warung di sekitar waduk. Masyarakat Bojonegoro bisa menjadikan ikan Gloso sebagai brand bagi wisata kuliner di sekitar waduk Pacal. Penasaran dengan ikan Gloso, silahkan kunjungi waduk pacal yang ada di desa Kedungsumber, Temayang Kab. Bojonegoro.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar