Selasa, 31 Januari 2017

Menikmati Keindahan Wisata Alam dan Sejarah di Sambonglombok

Menikmati  Keindahan Wisata Alam dan Sejarah di Sambonglombok
Oleh : Joyojuwoto

Sambonglombok adalah sebuah bendungan yang dibangun pada masa kolonial Belanda, yang berada di perbatasan antara dusun Mundri desa Sidodadi dengan dusun Sambonglombok desa Bangilan. Bendungan ini memiliki satu sudetan pintu air ke selatan yang mengalir membelah kota Kecamatan Bangilan hingga sampai di Kec. Senori. Bendungan Sambonglombok ini dipakai untuk membendung aliran sungai Kali Kening, agar air sungai bisa dimanfaatkan sebagai sarana irigrasi untuk pertanian. 

Bendungan yang memiliki luas sekitar dua hektar ini dibangun sejak pemerintah kolonial Belanda mencanangkan program politik etisnya, yang salah satu programnya adalah membangun sarana dan jaringan irigrasi untuk kepentingan pertanian. Tapi jangan salah, Belanda menerapkan program politik etis atau politik balas budi bukan sebab Belanda benar-benar ingin membalas budi kepada rakyat Indonesia, melainkan juga demi kepentingan kaum penjajah itu sendiri.

Politik etis yang digagas oleh Van De Venter ini kemudian direspon oleh Ratu Belanda, Ratu Wihelmina.  Dalam pidato kenegaraannya tahun 1901, Ratu Belanda ini mengatakan :

“Negeri Belanda mempunyai kewajiban untuk mengusahakan kemakmuran  dari penduduk Hindia Belanda.”

Pidato inilah yang akhirnya berimbas pada pembangunan sarana dan jaringan irigrasi, termasuk salah satunya adalah Bendungan Sambonglombok yang ada di Kec. Bangilan.

Selain disebut sebagai sambonglombok, orang-orang juga menyebutnya sebagai sambong Mundri, karena sebagian dari bangunan bendungan ini berada di wilayah Mundri. Namun saya lebih suka menyebutnya sebagai sambonglombok. Menurut cerita dari masyarakat setempat, bendungan ini dinamakan bendungan Sambonglombok  karena wilayah ini dulunya sering dilanda kebanjiran.  Dibendung bagaimanapun banjir tetap melanda pemukiman warga. Akhirnya setelah memalui tirakat dan petunjuk dari sesepuh dusun, warga disarankan untuk menanam lombok di sepanjang bantaran sungai .  Setelah warga menanam lombok inilah banjir tidak lagi menghantui rumah warga.

Mungkin kita bertanya apa hubungan tanaman lombok dengan banjir, tentu tidak ada hubungannya sama sekali. Tanaman lombok setinggi dan sebanyak apapun tidak akan mampu menahan arus banjir sungai Kali Kening, namun begitulah cerita yang ada di masyarakat setempat.  Bagaimanapun juga foklore memang tidak perlu diuji dan ditanyakan kebenarannya secara ilmiah.

Selain difungsikan sebagai sarana irigrasi bendungan Sambonglombok juga bisa dijadikan destinasi wisata bagi masyarakat. Hanya saja masalah yang selalu muncul selalu sama, yaitu kurangnya perhatian dari yang berwenang. Walau demikian, bendungan Sambonglombok dengan kondisi yang apa adanya tetap menawarkan panorama keindahan alam yang mempesona.

Selain panoramanya yang indah, bendungan Sambonglombok juga bisa dijadikan sebagai tempat pemancingan. Banyak ikan yang hidup di bendungan ini, seperti ikan Mujair, ikan wader bader, keting, dendeng, dan berbagai jenis ikan lainnya. Selain itu pengunjung juga bisa menjadikan tempat ini sebagai spot untuk selfi.

“Pemandangan di sini memang indah sekali, apalagi diramu dengan secawan romantisme dan kenangan yang manis” Kata Ical, salah seorang pemuda dari desa Sidodadi menuturkan kenangannya tentang sambonglombok.

“Kita bisa menangkap senja dan kemudian membawanya pulang sebagai kenangan di tempat ini” Kata Adib Riyanto, salah seorang penikmat senja sekaligus cerpenis ternama dari Kota Bangilan. Salah satu cerpennya yang berjudul “Senja Tenggelam di Kali Kening” yang diterbitkan oleh salah satu koran ternama adalah hasil inspirasi dari bendungan Sambonglombok.


Tidak berlebihan memang, jika bendungan Sambonglombok menyimpan keindahan dan bahkan juga kenangan yang manis. Khususnya bagi yang masa kecilnya banyak dihabiskan dengan bluron (mandi di kali) dan mencari ikan di bendungan ini. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar