Minggu, 08 Januari 2017

Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang

Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang
Oleh : Joyojuwoto

Berbagai problem dan masalah bangsa akhir-akhir ini yang kita hadapi, semakin menunjukkan sikap acuh tak acuhnya pemerintah yang punya tanggungjawab terhadap hajat hidup masyarakat. Saya sendiri bingung, pemerintah yang punya wewenang untuk mengurusi dan mengatur peri kehidupan manusia-manusia Indonesia ini nyatanya makin hari makin aneh saja. Sebenarnya fungsi terbentuknya dan terselenggaranya pemerintahan ini untuk apa ? Jika pejabat-pejabat pemerintah yang digaji oleh rakyat, hidup dari keringat rakyat, makan dari uang rakyat , namun pola dan cara berfikirnya sangat kacau dan seenaknya sendiri.

Coba perhatikan panggung komedi pemerintahan di negeri ini, untuk menentukan sebuah kebijakan yang berkenaan dengan hajat dan kebutuhan dasar masyarakat, tiap-tiap lembaga pemerintah yang seharusnya mengaturnya dan bertanggungjawab namun akan kebijakan itu justru saling tuding dan saling lempar hasil dari sebuah kebijakan. Rakyat di bola pingpongkan, mulai dari Kemenkeu, Polri, bahkan dari Presiden sendiri, sangat lucu memang mereka merasa tidak bertanggungjawab akan kebijakan yang dibuat oleh lembaga yang bernama pemerintah.

Saya jadi teringat sebuah judul catatan yang ditulis oleh Soe Hok Gie dalam buku Zaman Peralihan yang berjudul “Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang” yang juga saya pakai untuk judul tulisan saya. Di catatan ini Soe Hok Gie mengkritisi pemerintah yang kerjanya hanya cuma berusaha menunda bayar utang-utang lama. Atau cari utang-utang baru. Catatn Gie saya perhatikan sangat relevan dengan kondisi pemerintahan sekarang yang juga terus mencari hutang baru untuk menutup divisit anggaran negara, kalau tidak begitu yang beban negara ini di bebankan di pundak rakyat dengan cara menaikkan pajak, dan berbagai aturan yang mencekik kepentingan rakyat.

Tahun 2017 rakyat Indonesia mendapat kado dengan naiknya Tarif Dasar Listrik, kenaikan pajak kendaraan bermotor, naiknya bahan bakar minyak dan tentu hal ini secara otomatis akan diikuti oleh kenaikan-kenaikan bahan pokok lainnya. Mungkin dengan nada yang sumir akan ada yang bilang, “Beli kendaraan saja kuat kok ! masak beli BBM minta disubsidi” atau kalau tidak begitu ya akan bilang “Kalau tak mau bayar pajak, ya jangan beli motor, mobil, sana jalan kaki saja !”  dan tentu masih banyak kalimat-kalimat sederhana yang berlogika sesat dan menyesatkan.

Saya mencatat tulisan saya ini mungkin ada yang menganggap saya adalah barisan sakit hati, barisan wedus bukan barisan sapi, pendukung ini, pendukung itu, kelompok ini, kelompok itu, atau mungkin juga akan secara ekstrim saya akan dilabeli anti NKRI, tukang makar dan tuduhan-tuduhan lain. Bagi yang suka memberikan label dan tukang stempel silahkan dicatat, bahwa dunia ini tidak akan pernah ada jika isinya hanya agreement saja, barisan yes bos, kelompok sendiko dawuh. Pro kontra adalah sesuatu yang sangat wajar dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak akan ada pelangi jika komposisi warna hanya putih saja, justru keindahan pelangi dapat kita nikmati karena banyak warna dan gradasi, banyak perbedaan dan banya macam dan ragamnya.

Jadi bersikaplah yang wajar dan biasa saja menghadapi keabsolutan dari perbedaan-perbedaan di alam semesta ini. Apa engkau akan berkonflik dan menggugat Tuhan? karena perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang telah ditetapkan oleh-Nya.

 Ketahuilah bahwa rakyat akan mengikuti segala kebijakan dari pemerintah, saya pun juga akan demikian, saya punya motor saya bayar pajaknya, saya beli barang-barang yang disitu terinclude pajak juga saya bayar, karena pada dasarnya rakyat telah mempercayakan segala urusannya kepada kelompok yang menamakan dirinya sebagai pejabat negara. Tetapi perlu diingat kembali bahwa, bosnya negara ini rakyat bukan pejabat. Kita telah sepakat akan hal ini bukan? kita telah satu kata demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Camkan !

Oleh karena itu cita-cita besar yang hendak diraih oleh pemerintah harus sejalan dan sehaluan dengan cita-cita rakyat semuanya. Pemerintah jangan membuat reel kebijakan sendiri tanpa menyertakan kepentingan rakyat yang sebenarnya. Cita-cita pemerintah harus sama dengan cita-citanya para tukang becak, pak sopir, petani kecil, bakul-bakul rengkek yang memimpikan dan mengharapkan kehidupan yang layak dan sejahtera. Kehidupan yang murah sandang, murah papan, dan seger kuwarasan.

Cita-cita rakyat itu harus diwujudkan, karena adanya negara ini tentu dalam rangka mewujudkan cita-cita seluruh rakyat Indonesia tadi. Tidak pandang bulu, tidak pandang ia dari partai mana, pendukungnya siapa, rakyat adalah rakyat yang menjadi tanggungjawab negara.


Namun sayang sekali cita-cita besar bangsa dan negara ini sering tergadaikan dengan kepentingan-kepentingan yang jauh dari tujuan dan harapan dari rakyat Indonesia pemilik kekuasaan yang sah atas negeri yang kita cintai ini. Di sini saya ingin mengingatkan kembali akan agar para pengatur dan peyelenggara pemerintahan membaca, menghafalkan dan menghayati tujuan besar bangsa ini yang tersurat maupun yang tersirat di dalam landasan idiil bangsa yaitu Pancasila. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar