Jumat, 13 Oktober 2017

Mbolang Bareng Kawan Blogger Tuban

Mbolang Bareng Kawan Blogger Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Urusan mbolang adalah kesukaan saya, walau hanya menjadi pembolang kelas lokal di Tuban, namun di situ saya merasa bahagia. Bersepeda ria menjelajahi tempat-tempat yang menyenangkan, blusukan ke alam liar, melihat-lihat pemandangan, dan tentu yang tidak boleh ditinggalkan adalah ritual mencicipi kuliner saat mbolang.

Kemarin saya berkesempatan kopdar dan mbolang bareng dengan salah satu kawan blogger Tuban ke tempat wisata yang baru ngehits di Tuban, Sendang Asmoro di desa Ngino. Kawan blogger saya ini namanya Cak Jun, rumahnya Tlogowaru Merakurak.

Ketepatan Cak Jun yang saat itu sedang nganggur menunggu shift kerja, sehingga pemuda yang bekerja di pabrik semen ini punya waktu mbolang. Setelah janjian via whatshap akhirnya kami bertemu di masjid Al Falah Tuban.

Setelah bertemu tanpa babibu kami pun berangkat dengan bermotor ke lokasi Sendang Asmoro. Sekitar 20 menitan dari kota Tuban, sampailah kami di lokasi sendang.

Sambil mencicipi segarnya es dari warung, di bawah rindangnya pohon trembesi yang cukup besar yang ada di lokasi sendang, kami mengorek informasi mengenai tempat wisata yang baru saja diresmikan oleh Bapak Bupati Tuban.
Menurut penuturan warga, sendang itu adalah sumber utama pengairan warga sekitar. Warga sekitar juga memanfaatkan mata air sendang itu untuk kebutuhan rumah tangga. Caranya mereka memasang pompa air di sekitar mata air, kemudian dialirkan ke rumah-rumah. Saya lihat hampir sekitar 50an lebih pompa air dipasang di dekat mata air.


Di sendang itu biasanya setelah masa panen, oleh masyarakat sekitar digelar manganan dengan hiburan tayub. Di dekat sumber terdapat cungkup kecil yang biasanya dipakai untuk menaruh sesajen oleh para warga saat upacara  manganan.

Setelah mengobrol dengan warga dan mengambil foto-foto dari lokasi sendang Asmoro, kami pun meluncur menuju mata air Goa Srunggo yang ada di Tuwiri Merakurak. Goa Srunggo berdekatan dengan maqam waliyullah Syekh Gentaru.

Goa Srunggo jika dikelola dengan baik juga bisa dimanfaatkan untuk wisata desa sebagaimana sendang Asmoro. Tempatnya cukup bagus dengan pohon-pohon besar yang rindang. Apalagi di situ ada maqam wali, sehingga bisa dikemas dengan nuansa wisata religi pula.

Karena hari telah sore, dan perut pun mulai bermusik keroncong ria, kami pun mencari makan. Tahu kan, di Merakurak terdapat kuliner belut maknyus super pedas Mak Cemplon. Tempatnya di jalan raya Merakurak Tuban, di sebelah selatan Polsek Merakurak.

Sampai di warung saya dan Cak Jun memesan dua porsi belut dengan nasi jagung yang menjadi menu andalan yang saya kolaborasikan dengan nasi putih. Dengan lahap kami pun makan, sambil meminta mbak penjualnya memotret kami.

Ah, lega rasanya mbolang dengan ritual penutupan mencicipi kuliner andalan belut dan nasi jagung. Lebih melegakan lagi, saya tak perlu membayar karena sudah ditraktir sama Cak Jun yang baik hati. Hehe...:)




Terima kasih Cak Jun, semoga rezekinya makin bertambah dan makin berkah, dan yang terpenting juga, semoga segera selesai bertugas sebagai pasukan jomblo baik hati, agar kelak bisa kembali nraktir saya di rumah mencicipi dapur yang mengepul. Salam Mbolang.

Kamis, 12 Oktober 2017

Pesona Sendang Asmoro di Desa Ngino Semanding

Pesona Sendang Asmoro di Desa Ngino Semanding
Oleh : Joyo Juwoto

Banyak sekali destinasi wisata di Kota Tuban yang bisa kita kunjungi, mulai dari yang sudah banyak dikenal masyarakat hingga tempat-tempat yang baru tereksplore. Tuban sebagai kota yang berada di jajaran pegunungan Kendeng Utara memiliki beberapa tempat wisata yang cukup menarik seperti goa, air terjun, dan juga sendang.

Hari ini tempat wisata di Tuban yang lagi ngehits di media sosial adalah Sendang Asmoro yang berada di desa Ngino Kec. Semanding. Untuk mencapai lokasi sendang cukup mudah. Dari Kota Tuban jaraknya sekitar 13 KM dengan jalan yang sudah halus teraspal semuanya.

Rute yang dapat diambil oleh pengunjung dari kota Tuban ke arah selatan melalui desa Bejagung, desanya para Wali. Sebelum sampai di pemandian Bekti Harjo ada gapura masuk desa Penambangan. Dari Gapura ini terus lurus ke selatan hingga sampai di desa Ngino. Dari Ngino bisa bertanya kepada masyarakat setempat di mana letak Sendang Ngino.

Jika dari Bojonegoro bisa mengambil rute dari Jembatan Glendeng terus k e utara arah kota Tuban hingga sampai di Sendang Jaka Tarub. Dari situ carilah pertigaan menuju arah Semanding. Jalannya cukup rindang dengan hutan-hutan Jati yang masih cukup lebat di kiri kanan jalan.

Masyarakat sekitar sangat welcome dengan para pengunjung, dan ini yang perlu diteladani oleh masyarakat lain, bahwa penduduk Ngino mendukung aktif adanya tempat wisata ini. Terlebih Bapak Kades Desa Ngino, sangat memperhatikan keberadaan dan kebersihan sendang Ngino.

Menurut informasi yang saya terima dari teman blogger Tuban, Mas Wid, Kades Ngino baru saja mendapatkan penghargaan sebagai Pembina Anugerah Pangan Nusantara terbaik nomer 3 se Jawa Timur. Selamat ya bapak Kades semoga prestasi bapak menginspirasi kades-kades lainnya dan bermanfaat untuk masyarakat Tuban pada khususnya dan Indonesia tentunya.

Sendang Asmoro yang baru saja diresmikan oleh Bapak Bupati Tuban, Bapak Fathul Huda ini terus berbenah. Ke depan akan disiapkan arena bermain untuk anak dan juga tempat pemancingan. Wow keren banget.


Semoga Pak Kades beserta warga Ngino terus bisa berperan aktif dalam mengelola dan memajukan potensi wisata desa. Selain itu semoga masyarakat menyadari dan ikut serta menjaga kelestarian mata air dari Sendang Asmoro sebagai sumber mata air dan kehidupan bagi warga sekitar.

Selasa, 10 Oktober 2017

Inilah Nasehat KH. Muchit Muzadi Al Bangilani

Inilah Nasehat KH. Muchit Muzadi Al Bangilani
Oleh : Joyo Juwoto

Siapa yang tidak kenal  salah satu Kiai kharismatik kelahiran asli dari Bumi Bangilan Tuban, sosok Kiai yang sederhana, tawadhu’ dan ikhlas. Mbah Muchit adalah salah seorang Ulama NU yang tahu banyak tentang NU dengan segala isinya. Menurut K.H. M.A. Sahal Mahfudh, mbah Muchit itu orang yang tahu seperti apa NU, kemana NU, dan bagaimana seharusnya NU. Pokoknya Mbah Muchit adalah sosok yang mengerti NU sak jerohane.
Tidak aneh memang jika mbah Muchit mengerti benar organisasi kemasyarakatan terbesar di Nusantara ini, karena beliau masuk NU tahun 1965 yaitu sejak masa Mbah Muchit menjadi santri hadratus Syekh di pondok pesantren Tebu Ireng Jombang. Saat itu untuk masuk menjadi anggota NU membayar iuran sebesar 25 sen, sedang uang syahriyah yang harus dibayarkan adalah sekitar 20 sen. Kartu tanda keanggotaan NU mbah Muchit saat itu ditanda tangani langsung oleh Mbah Abdul Wahab Chasbullah.
Oleh karena itu, karena pengetahuan mbah Muchit tentang NU telah khatam, dan juga karena kedekatan mbah Muchit dengan tokoh-tokoh kunci NU, serta telah masuk NU sejak awal, maka mbah Muchit ini layak  dijuluki sebagai Kiai pakar Khittah NU. Tidak jarang banyak tokoh-tokoh NU yang berkonsultasi dengan mbah Muchit tentang ke-NU-an, karena beliau memang mengerti luar dalam apa itu NU.
Oleh karena itu, para kader dan tokoh NU sebagai generasi penerus perjuangan para Ulama Nahdlatul Ulama untuk terus belajar dan meneladani nilai-nilai kearifan yang dicontohkan oleh Ulama-ulama terdahulu.
Salah satu pesan yang selalu disampaikan dan diwanti-wanti oleh Mbah Muchit Muzadi untuk warga NU bahwasanya NU adalah tempat ndandakno awak “memperbaiki diri” bukan tempat rebutan iwak “tempat berebut rezeki”. Masuk NU harus dengan ikhlas untuk memperbaiki diri, bukan karena pamrih untuk mengais rezeki, demikian pesan yang disampaikan oleh Mbah Muchit Muzadi seorang Kiai kelahiran Bangilan Tuban yang kini tinggal dan menetap di dekat Masjid Sunan Kalijaga Jember hingga akhir hayat beliau. Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah Swt, dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Aamin.



Senin, 09 Oktober 2017

Ulama dan Santri Pusaka Nusantara

Ulama dan Santri  Pusaka Nusantara
Oleh : Joyo Juwoto*

Tidak diragukan lagi peran Ulama dan santri bagi negeri  Nusantara kita tercinta, hampir di setiap tempat di desa-desa di wilayah Nusantara dan Jawa khususnya memiliki punden atau sesepuh desa. Dipercaya punden atau tempat yang dianggap keramat dan dihormati adalah maqamnya para ulama yang berjasa membuka perkampungan atau menjadi penyebar agama Islam yang pertama.
Ulama-ulama dan para santri tersebut dianggap menjadi cikal bakalnya suatu perkampungan, sehingga tidak heran masyarakat menjaga punden dan maqamnya para ulama dengan cara menggelar kegiatan rutin tahunan yang dikenal dengan sebutan Khaul.
Penghormatan masyarakat terhadap maqam para ulama tentu tidak berlebihan dan melampaui batas. Masyarakat berusaha memberikan bakti syukur dengan cara mengadakan tahlilan, yasinan, khataman Al Qur’an, dan mendoakan para arwah terdahulu yang telah berjasa membuka desa dan mengajarkan agama Islam kepada generasi selanjutnya.
Ulama dan santri memang menjadi pusaka bagi daerah mereka masing-masing. Bahkan dalam sebuah riwayat cerita ketika pulau Jawa belum ada manusia yang menempati, saat pulau jawa masih angker gung lewang lewung, jalma moro jalma mati. Hutan-hutan dan gunungnya dihuni oleh berbagai makhluk angker, Jin-jin, setan, gendruwo, brekasaan, kuntil anak, kemamang, banaspati dan berbagai makhluk mengerikan lainnya.
Sultan Rum, kemudian mengirimkan ekspedisi manusia untuk menempati tanah Jawa. Namun ekspedisi itu gagal, karena rombongan itu banyak yang mati ditelan oleh makhluk-makhluk ghaib tanah Jawa. Singkat kata kemudian Sang Sultan mengirimkan seorang sakti yang bernama Syekh Subakir. Dipercaya Syekh Subakir inilah yang kemudian menumbali tanah Jawa sehingga bisa ditempati oleh manusia.
Jika kita melihat fenomena sejarah yang ada di masyarakat Nusantara, cerita mengenai Syekh Subakir ini bukanlah hal yang aneh. Dibanyak tempat di tanah Jawa terdapat maqam para wali sebagai pepunden yang dihormati oleh masyarakat. Sebut saja di Tuban yang dikenal sebagai Bumi Wali, hampir disemua tempat terdapat maqam para wali yang menjadi pusaka bagi masyarakat sekitar. Hal ini pula yang mengilhami Pemerintah daerah Tuban menyebut Tuban sebagai Bumi Wali, walau tentu ada kontroversi juga dalam penyebutan ini.
Tidak berlebihan sekiranya saya mengatakan bahwa Ulama dan santri pada hakekatnya adalah pusaka-pusaka negeri nusantara ini. Selain karena banyaknya punden-punden keramat para wali yang notabenenya adalah para Ulama dan santri, perjuangan dalam merebut dan membela kedaulatan Negeri Nusantara ini juga tidak terlepas dari peran para Ulama dan Santri.
Seperti yang saya tulis di depan tentang penumbalan tanah Jawa oleh Syekh Subakir, kemudian dilanjutkan masa penyebaran Islam era Walisongo, dan peran ulama dan santri terus berlangsung hingga kini. Sebut saja perjuangan pangeran Diponegoro seorang santri yang didukung oleh Kyai Maja, Sentot Ali Basya, dan beberapa Kiai lainnya.
 Termasuk juga yang menjadi cikal bakal pondok pesantren Tambak Beras dan Tebu Ireng di Jombang adalah pengikut dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro yang berhasil meloloskan diri dari kejaran Belanda. Namanya Mbah Abdussalam. Dari Mbah Abdussalam inilah terlahir tokoh besar pendiri Nahdhatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari dan Mbah Wahab Chasbullah.
Selain tokoh-tokoh ternama di atas kita juga sering mendengar wali-wali yang menjaga dan menjadi pusaka Nusantara tercinta ini. Kisah-kisah kelebihan para ulama dan santri sudah menjadi kisah yang begitu melegenda di tengah masyarakat. Seperti kisah Kiai Abbas yang mampu menaklukkan bom pada perang 10 November di Surabaya, Kisah Gus Maksum sang pendekar NU, Kisah Mbah Hamid Pasuruan yang ngerti sak durunge winarah, Kisah Gus Dur dengan berbagai kelebihannya, di Tuban ada juga ada kisah karamahnya  Syekh Assomadiyah Makam Agung yang ketika berjalan untuk shalat jama’ah di Masjid Agung Tuban, melewati tempat hiburan orang-orang Belanda musiknya tiba-tiba mati, dan masih banyak sekali kisah ulama dan santri yang menjadi khasanah dan kearifan lokal di tengah masyarakat.
Yang saya ceritakan di atas itu yang kelihatan, belum lagi para ulama-ulama yang menjadi waliyullah yang duduk diam berkhidmat untuk umat dengan seribu karamah yang mereka miliki. Yang pasti Negeri Nusantara ini dipusakai oleh Ulama dan santri, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.

*Joyo Juwoto. Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.


Minggu, 08 Oktober 2017

Persembahan Cinta Negeri Dari Santri Untuk Indonesia

Persembahan Cinta Negeri Dari Santri Untuk Indonesia
Oleh : Joyo Juwoto

Paham kebangsaan dalam bahasa arabnya disebut al-wathaniyyah, sedang cinta tanah air bahasa arabnya hubb al-wathan. Tanah air menurut Sayyid Muhammad adalah tanah di mana kita lahir dan  tumbuh berkembang di sana, memanfaatkan tumbuhan dan binatang ternaknya, mencecap air dan udaranya, tinggal di atas tanah dan di bawah kolong langitnya, serta menikmati berbagai hasil bumi dan lautnya sepanjang masa.
Sepanjang yang saya ketahui belum ada dalil shorih dari al-hadits ataupun dalil dari al-Qur’an yang melarang paham al-wathaniyyah, ataupun hubb al-wathan. Sebagai orang yang tinggal di bumi pertiwi ini tentu wajib hukumnya mencintai negeri yang kita tempati, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt.
Di dalam hadits memang ada dalil yang melarang ashabiyyah, namun ashabiyyah atau fanatisme tentu beda dengan al-wathaniyyah. Jika kita cermati di dalam Al Qur’an justru ada dalil cinta tanah air. Nabi Ibrahim mendoakan negeri yang ditempatinya menjadi negeri yang aman sentausa dan penduduknya diliputi rezeki yang barakah sebagai wujud hubb al-wathannya Nabi Ibrahim kepada negeri yang baru saja dibukanya.
Di dalam Al Qur’an surat al Baqarah ayat 126 Allah Swt, berfirman :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٢٦)
126. dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali".
          Dari ayat di atas jelas sekali bahwa Nabi Ibrahim sangat mencintai negeri di mana ia dan keluarganya bertempat tinggal. Doa Nabi Ibrahim yang diabadikan di dalam Al Qur’an menjadi bukti bahwa beliau sangat mencintai negerinya. Dan saya kira doa ini wajib dibaca oleh semua orang yang menginginkan negeri ini aman, damai, sejahtera, dan masyarakatnya mendapatkan keberlimpahan rezeki dan barakah dari Allah Swt.
Rasulullah Saw, sendiri pun menyerukan untuk menjaga negeri di mana beliau tinggal. Konsep Negara Madinah adalah gambaran konkret hasil konsensus dengan banyak pihak, agar selalu dijaga ketentramannya dan dibela serta dipertahankan kedaulatannya dari serangan pihak yang tidak suka kedamaian negeri Madinah.
Oleh karena itu, jika berbicara tentang pengabdian kepada tanah air, cinta negeri, santri tentu berada di garis depan dan menjadi corong utama yang menyerukan untuk cinta tanah air. Hal ini semenjak dahulu sudah dicontohkan oleh Ulama-ulama yang berjuang dengan penuh keikhlasan demi membela kedaulatan tanah air dari rongrongan kaum penjajah.
Nasionalisme dan kecintaan para santri kepada bangsa dan negara bukanlah nasionalisme sempit, buta dan tanpa arah. Nasionalisme santri sebagaimana yang dikatakan oleh KH. Agus Salim adalah nasionalisme yang sejalan dengan ajaran Islam, nasionalisme yang berdasarkan nilai-nilai ketauhidan, bukan fanatisme semata. Nasionalisme yang berdasarkan niat lillahi ta’ala, bukan nasionalisme kebangsaan sebagai berhala dan tempat menyembah.
Singkat kata nasionalisme adalah harga mati yang harus dijaga dan diperjuangkan bersama demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana yang dikatakan oleh The Grand Old Man” negeri ini,:
“Ia, nationalisme kita, jang oleh biroe-biroenja goenoeng, oleh molek-moleknja ladang, oleh segarnja air jang sehari-hari kita minoem, oleh njamannja nasi jang sehari-hari kita makan, mendjoendjoeng tanah air Indonesia dimana kita akan mati itoe mendjadi Iboe kita jang haroes kita abdi dan haroes kita hambai.” (KH Agus Salim).

*Joyo Juwoto, Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia

Sabtu, 07 Oktober 2017

Nasionalisme Ulama dan Santri Untuk Nusantara

Nasionalisme Ulama dan Santri Untuk Nusantara
Oleh : Joyo Juwoto*

Peran Ulama dan santri dalam memperjuangkan, membela  dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak perlu dipertanyakan. Baik di zaman sebelum kemerdekaan hingga zaman kemerdekaan, peran Ulama dan santri dalam perjuangan bangsa Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi dan dinafikan.

Sebut saja nama Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Jendral Sudirman, KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansoer, KH. Ahmad Dahlan dan masih banyak lagi dan tak terhitung jumlahnya adalah ulama-ulama yang mumpuni dan santri yang berbakti kepada Ibu Pertiwi.

Jika hari ini ada upaya penggiringan opini bahwa seorang yang beragama Islam bukanlah seorang nasionalis, atau ajaran Islam bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan adalah hal yang basi, menuduh tanpa bukti, dan ahistoris yang tidak memiliki dasar sama sekali. Ada upaya dari pihak-pihak tertentu, yang entah karena agenda apa mereka ingin menjauhkan Islam dari rasa nasionalisme, sehingga dengan mudah mereka akan mengacak-acak negeri tercinta ini.

Sangat jelas dan tidak dipungkiri bahwa Ulama dan santri mulai semenjak dulu hingga sekarang terus berjuang bahu membahu menjadi benteng yang kokoh dan berada di garda terdepan bagi kedaulatan dan kesatuan nusantara tercinta ini. Sehingga tidak heran banyak pihak yang berusaha memecah belah kekuatan sinergis Ulama dan santri demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Nilai nasionalisme sebagai nilai dasar kecintaan seseorang terhadap tanah airnya bukanlah hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Apalagi sampai menganggap nasionalisme bukan dari ajaran Islam. Rasulullah Saw, telah mencontohkan dalam Piagam Madinah, bahwa siapapun dan dari kelompok manapun wajib hukumnya membela kedaulatan negara Madinah Al Munawwarah hasil konsensus bersama dengan suku-suku di Madinah dan para pemeluk agama Yahudi.

Nilai-nilai nasionalisme santri termanifestasikan dalam semboyan hubbul wathan minal Iman, cinta tanah air adalah bagian dari iman. Mbah Yai Abdul Wahab Chasbullah Rais Aam Syuriyah PBNU pengganti dari Mbah Yai Hasyim Asy’ari juga menciptakan mars Syubbanul Wathan tahun 1934 untuk menanamkan rasa cinta tanah air kepada para santri-santri saat itu. Liriknya membakar semangat nasionalisme :

Ya Lal Wathon Ya Lal WathonYa Lal Wathon 
Hubbul Wathon Minal Iman
Wa la takun minal hirman
Inhaduu Ahlal Wathon
Indonesia Bilaadii
Anta 'Unwaanul Fakhoma
Kullu Man Ya'tiika Yauman
Thoomihan Yalqo Himaaman
...

Rasa nasionalisme santri bukanlah hal yang baru dan aneh, karena santri tentu telah memiliki modal konsep besar Ukhuwwah. Konsep Ukhuwwah yang diajarkan oleh Islam ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa kearifan lokal sebagai tri ukhuwwah yang meliputi : Ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan sesama pemeluk Islam), Ukhuwwah Wathaniyyah (persaudaraan sesama bangsa), dan Ukhuwwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia) atau ukhuwwah insaniyyah.


Nilai-nilai dari tri ukhuwwah inilah yang menjadi dasar berpijak bagi Ulama dan santri untuk membangun semangat nasionalisme dan meneguhkan nilai-nilai kebangsaan Nusantara demi terciptanya peradaban dunia yang rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana yang menjadi cita-cita luhur kita bersama.

*Joyo Juwoto, Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.

Jumat, 06 Oktober 2017

Resolusi Jihad Dari Ulama dan Santri Untuk Indonesia

 Resolusi Jihad Dari Ulama dan Santri Untuk Indonesia
Oleh : Joyo Juwoto*

 Hari santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober memiliki akar sejarah yang cukup panjang dan heroik.  Penetapan hari santri nasional ini tentu tidak terlepas dari peran central ulama’ dan santri di dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah mencatat, puncak perjuangan santri dan ulama adalah karunia dan limpahan rahmat Allah Swt. yang ditandai dengan diproklamirkannya NKRI pada tanggal 9 Ramadhan 1364, Jumat Legi,  17 Agustus 1945.

Perjuangan  memang tidak boleh berhenti dan selesai, sampai kapanpun Ulama dan santri akan terus berjuang membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah Indonesia menyatakan victory day,-hari kemenangan dan freedom day-hari kemerdekaannya, negara yang baru berdiri seumur jagung itu ingin dirusak dan dihancurkan oleh nafsu imperialisme yang dilakukan oleh Belanda Nica (Netherlands Indies Civil Administration) yang dibonceng oleh tentara Sekoetoe.

Pendaratan tentara Sekoetoe di jakarta tanggal 29 September 1945 yang berusaha menjajah kembali negara kesatuan republik Indonesia mendapatkan reaksi keras dari umat Islam. Pertempuran-demi pertempuran meledak diberbagai wilayah. Tanggal 10 Oktober 1945 Sekoetoe dan Nica menguasai Medan, Palembang, dan Bandung. Tanggal 19 Oktober Semarang pun mereka kuasai. Di Surabaya kota kelahiran Nahdlatul Ulama pun tak luput dari pertempuran dahsyat sejak Belanda mendarat di pelabuhan Surabaya bulan September.

Pemerintah yang saat itu sedang sibuk menyusun birokrasi negeri seakan lamban mengantisipasi agresi militer Sekoetoe dan Nica. Bung Karno sebagai pemimpin tertinggi menghubungi Chodroetoes Sjeich KH. Hasyim Asj’ari di Tebu Ireng menanyakan tentang hukumnya perang membela tanah air.

Selanjutnya Rais Akbar Chodroetoes Sjeich KH. Hasyim Asj’ari, memanggil Kiai Wahab Tambakberas, dan Kiai Bisri Denanyar dan beberapa Kiai lainnya untuk merundingkan situasi yang terjadi saat itu.  Akhirnya HBNO (Hoofdbesstuur Nahdlatoel Oelama) yang sekarang menjadi PBNU membuat undangan untuk seluruh pengurus NU di seluruh Jawa dan Madura.  Mereka diminta untuk hadir di kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) di Jalan Bubutan Surabaya.

Tanggal 21 Oktober 1945, para Kiai sudah sama berdatangan, namun karena jarak saat itu yang tidak bisa ditempuh perjalanan cepat, Chodroetoes Sjeich KH. Hasyim Asj’ari meminta para undangan untuk menunggu beberapa Kiai yang belum hadir. Seperti Kiai Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon, KH. Satori dari Pesantren Arjowinangun Cirebon, KH. Amin dari Pesantren Ciwaringin Cirebon, serta Kiai Sujai dari Indramayu.

Setelah Kiai-kiai dari Jawa Barat datang akhirnya Chodroetoes Sjeich KH. Hasyim Asj’ari menunjuk Kiai Wahab untuk memimpin rapat. Hasil akhir dari rapat di Jalan Bubutan Surabaya itu adalah sebuah deklarasi seruan jihad perang sabil yang sekarang kita kenal sebagai Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.

Diantara isi Resolusi Jihad yang paling berharga untuk NKRI adalah seruan jihad bagi umat Islam yang tinggal di radius 94 kilometer dari Surabaya berkewajiban fardhu ‘ain untuk mengangkat senjata membela Negara Kesatuan Republik Indonesia dari rongrongan penjajah. Perang pun berkobar dahsyat antara santri dan tentara Sekoetoe dan Nica diberbagai wilayah, termasuk palagan Surabaya 10 November 1945 yang begitu melegenda.

Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama yang digagas oleh Chodroetoes Sjeich KH. Hasyim Asj’ari ini kemudian mengilhami Mu’tamar Umat Islam Indonesiadi Jogyakarta tanggal 7-8 November 1945. Isi dari mu’tamar itu antara lain :

“Bahwa tiap2 bentoek pendjadjahan adalah  soeatoe kezaliman jang melanggar perikemanoesiaan dan njata2 diharamkan oleh Agama Islam, maka 60 Miljoen Kaoem M oeslimin Indonesia Siap Berdjihad Fi Sabilillah. Perang Di djalan Allah Oentoek Menentang Tiap-tiap Pendjadjahan.”

Demikianlah peran Santri dan Ulama dalam membela dan mempertahankan tanah air Indonesia, serta berjihad dengan harta, jiwa, dan bahkan nyawa demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selamat Hari Santri Nasional, dari pesantren untuk Indonesia tercinta.


*Joyo Juwoto, Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.

Selasa, 03 Oktober 2017

Teman baruku itu Bernama https://masbek.id/

Di era digital ini kehidupan nyaris tanpa batas teritorial. Kita bisa bertemu, bertegur sapa dengan siapapun, kapanpun, dan di manapun tanpa perlu bertatap muka, dan bertemu secara langsung.

Dunia telah kehilangan sekat, jarak, dan waktu. Semua bisa terjalin, berkelindan, dan saling terhubung dengan begitu mudahnya.

Tinggal kita perlu belajar dengan baik dengan revolusi informasi dan digitalisasi yang begitu luar biasa. Bagaimanapun juga tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan Iptek tentu akan diikuti oleh berbagai masalah yang menjadi bagian dari proses berkemajuan itu sendiri.

Oleh karena itu kita tetap harus menerapkan konsep berhati-hati dan waspada dalam menjalin pertemanan maupun berhubungan dengan jalur bebas dunia maya. Dengan kehati-hatian itu kita berharap jangan sampai salah jalur sehingga membuat kita menjadi korban dan tersesat di belantara dunia maya.

Saya perkenalkan seorang teman baru saya di dunia maya yaitu di blogger Tuban namanya https://masbek.id/ jika anda ingin kenal lebih jauh dan tertarik berkenalan juga, saya persilakan untuk mengkontak baik lewat tatap muka secara langsung maupun dalam pertemuan dunia maya dengan teman baru saya itu. Semoga ada manfaat yang Anda peroleh. Terima kasih.


Minggu, 01 Oktober 2017

Beridul Adha Melebur Sifat Angkara

Beridul Adha Melebur Sifat Angkara
Oleh : Joyo Juwoto

Hari Raya Idul Adha atau hari raya kurban adalah hari raya yang sejatinya penuh makna dalam kehidupan sosial kita. Baik bermakna vertikal (ilahiyyah) maupun makna horizontal (insaniyyah). Berkurban adalah ritual mengorbankan binatang ternak berupa kambing, sapi, kerbau atau unta guna mencapai tujuan tertentu.
Berkurban adalah salah satu dari upaya manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Menilik makna bahasa dari kurban sendiri berasal dari bahasa arab, yaitu qarib yang artinya dekat. Makna dekat di sini adalah upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Berbicara mengenai kurban adalah berbicara mengenai pengorbanan manusia terhadap apa yang dimilikinya. Karena dengan berkorban manusia akan menemukan nilai kesejatian dalam hidupnya, bahwa apa yang sebenarnya berada dalam genggaman tangannya bukanlah miliknya semata, ada hal-hal yang harus dikorbankan untuk kehidupan ini.
Oleh karena itu manusia dianjurkan setiap tahunnya untuk berkurban di hari raya idul adha, demi mengingatkan sebuah nilai pengorbanan kepada Tuhan.
Berkorban dan menjadi korban adalah sebuah peristiwa yang secara dhohir sama, namun memiliki tendensi, nilai dan makna yang berbeda. Menjadi korban adalah karena keterpaksaan untuk kehilangan, baik itu kehilangan secara materi maupun ruhani, sedang berkorban adalah kerelaan dan keridhoan untuk kehilangan. Karena orang yang berkorban merasa dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, hanya Dzat Tuhan yang sejatinya ada.
Mau tidak mau, suka ataupun tidak sebenarnya di dalam kehidupan ini banyak yang harus kita korbankan, baik itu berupa harta benda, uang, tenaga, keinginan, bahkan hingga nyawa sekalipun. Kita tidak akan pernah bisa menahan atau menghalangi fitrah berkorban ini. Oleh karena itu lebih baik kita berkorban apa yang kita miliki dengan rela hati daripada menjadi korban dengan penuh kedukaan dan penyesalan.
KH. Hasyim Muzadi pernah berkata : “Jangan takut berkorban, agar kalian tidak menjadi korban”.  Berkorbanlah selagi mampu dan bisa, give, give dan give, tak perlu berasional dan itung-itungan dengan Tuhan, maka Tuhan tentu akan memberikan balasan yang tak terhitung jumlahnya, berkali lipat dan tidak terbayangkan oleh kita.
Dalam hal berkorban ini, saya pribadi selalu ingat dawuhnya KH. Ahmad Sahal, salah seorang dari Trimurti Gontor, beliau bilang : “Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane sisan”. berkorban itu harus totalitas, tanpa reserve, harta, tenaga, pikiran, kalau perlu nyawa sekalian kita korbankan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Rasulullah Saw, sebagai teladan agung telah memberikan contoh nyata akan pengorbanan beliau untuk umatnya yang tak pernah selesai, bahkan hingga kelak di pengadilan padang makhsyar beliau meminta kepada Allah agar beliau bisa memberikan pembelaan, memberikan syafaat kepada kita umatnya. Aduhai sungguh besar pengorbananmu ya Rasulallah!
Peristiwa berkurban ini hampir selalu ada dalam setiap kehidupan manusia. Agama dan kepercayaan apapun mengajarkan akan berkurban. Berkurban biasanya menggunakan media hewan yang disembelih melalui suatu upacara. Namun pada zaman dahulu berkurban juga ada yang menjadikan manusia sebagai medianya. Semisal masa Khalifah Umar Bin Khattab di Mesir yang saat itu gubernurnya Amr bin Ash. 
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika sungai Nil airnya mengering maka perlu ada seorang gadis perawan yang harus dikorbankan dengan cara di tenggelamkan ke dalam sungai. Sebuah perilaku yang tidak manusiawi dan menciderai akal sehat. Alhamdulillah, setelah Islam masuk, ritual itu dihapuskan.
Berkorban ini dianggap sebagai upaya pembuangan dosa dan kesialan yang dialami masyarakat. Sehingga para dewa berkenan menerima kurban itu, kemudian permintaan dari orang yang berkurban dikabulkan.
Dalam kisah Walisongo, Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim juga pernah mendapati suatu kampung yang mengorbankan gadis cantik sebagai syarat meminta hujan. Kemudian Sunan Gresik mengganti ritual sadis itu dengan jalan mengerjakan salat istiska sebagai permohonan meminta hujan kepada Allah Swt.
Dalam ajaran Islam sendiri juga ada upacara pengorbanan, tepatnya di hari Idul Adha. Ritual ini sejatinya adalah pengorbanan terhadap Ismail yang dilakukan oleh ayahnya sendiri Ibrahim. Namun oleh Tuhan, Ismail diganti dengan seekor kambing gibas besar dari surga.
Bisa dibayangkan jika Ibrahim benar-benar mengorbankan anaknya, tentu juga akan menjadi syariat  dalam agama, hanya karena kasih sayang dan kelembutan dari Nabi Ibrahim kepada umatnya, Tuhan akhirnya mengganti bentuk pengorbanan manusia dengan  seekor gibas. Padahal kala itu mengorbankan manusia juga lazim dan banyak terjadi di beberapa kalangan di masyarakat.
Ketika kita berbicara masalah kurban ini, sebenarnya sedang membicarakan masalah dimensi kemanusiaan. Manusia itu memiliki ego dan nafsu untuk menguasai dan memperbudak manusia lain. manusia itu sukar mengendalikan sifat tinggi hati dan angkara. Maka untuk meredam nafsu-nafsu negatif itu semua Tuhan mengajari agar kita siap berkorban.
Secara jasmani orang yang berkurban itu menyembelih binatang, menyembelih kambing, unta, sapi, dan kerbau, namun pada hakekatnya yang perlu disembelih adalah jiwa dan ego dari manusia itu sendiri. Agar manusia tidak tinggi hati, merasa berpunya, merasa paling berharga, adigang adigung adiguna (merasa paling kuasa, merasa paling agung, dan merasa paling berguna diantara sesama).
Bersamaan dengan mengalirnya darah kurban, manusia juga harus membuang dan meleburkan sifat ego dan angkaranya ke dalam tanah, sebagaimana darah dari binatang yang disembelihnya. Oleh karena itu disyariatkan yang menyembelih korban adalah orangnya sendiri, kalau memang tidak bisa dapat diwakilkan. 
Jadi menyembelih hewan kurban bisa bermakna yang sebenarnya dan bermakna filosofis. Sebagaimana kurban itu yang diterima dan sampai di sisi Allah bukanlah darah dan dagingnya, namun kerelaan dan kesediaan jiwa berkorban dari manusia yang akan sampai ke surga.
Dalam surat Al Hajj ayat 37 Allah Swt, berfirman yang artinya :
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Setelah ritual tahunan ibadah agung Idul Adha atau Idul qurban kita lewati, masihkan tersisa di dalam jiwa ini sikap rela untuk berkorban sebagaimana teladan Abiina Ibrahim Alaihissalam?
Bisakah kita merelakan diri untuk disembelih oleh Allah sebagaimana kepasrahan dari diri Ismail?
Ataukah ritual perayaan kurban itu hanya sekedar agenda tahunan nir makna yang telah kehilangan makna dan substansi sucinya?
Masih relakah segala kenikmatan hidup ini kita tukar dengan sikap lebih mendahulukan kepentingan bersama dari pada hanya sekedar hasrat diri dan pemenuhan nafsu insani?
Ataukah jangan-jangan berkurban itu hanya sekedar lift servis, pemanis bibir semata, dan hanya memenuhi tuntutan hawa nafsu belaka?
“Katakanlah sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (Q.S. Al-An’am: 162)
Teori, tulisan, dan segala macam retorika memanglah tidaklah sama dengan pengamalan dan praktek, oleh karena itu, mari beristighfar, mari bertahmid...bertahlil...dan bertakbir bersama, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa lillahil hamd.
          Semoga kita bisa menjadi Ibrahim, Hajar sekaligus menjadi Ismail yang menyerahkan diri kepada Allah  dengan penuh keridhoan dan kepasrahan. Aamiin.


Sabtu, 30 September 2017

Menggapai Khusyu’ Dalam Shalat

google.com
Menggapai Khusyu’ Dalam Shalat
Oleh : Joyo Juwoto

Shalat adalah salah satu cara seorang hamba menyapa Tuhannya, seseorang tidak akan bisa menyapa Tuhan dengan penuh kekhusyukan dan ketawadhuan, sebelum hamba tersebut benar-benar mengenal Tuhannya dengan baik. Dan seseorang tidak akan sampai pada maqam mengenal Tuhan jika ia belum mengenal dan memahami dirinya sendiri.

Ada istilah tak kenal maka tak cinta, begitu pula dalam ibadah shalat, jika seorang hamba belum mengenali Tuhannya mustahil ia bisa menyapa Tuhan dalam shalatnya. Sehingga dalam shalat tidak didapati rasa kenikmatan, ketenangan dan keintiman. Hamba yang kehilangan makna dan hakekat shalat akan menjadikan shalat hanya sebagai penggugur kewajiban saja, shalat sambil lalu, tanpa sampai pada maqam hakekat dari ibadah shalat.

Seorang hamba yang merasakan cinta, tentu akan merasa butuh dan ingin selalu bertemu dengan yang dicintainya.  Begitu juga perumpamaan jika kita mencintai Tuhan dan butuh akan kehadiran-Nya. Perasaan cinta dan merasa butuh inilah yang akan menjadi sebuah energi untuk mendekatkan diri seorang hamba kepada Tuhannya. Karena tak ada kedekatan dan keintiman melebihi perasaan jatuh cinta.

Ibadah shalat ini adalah ibadah yang paling utama, ibadah yang menjadi barometer amal ibadah lain diterima atau tidak. Ibadah yang besok pertama kalinya dihisap di hari kiamat. Ibadah shalat adalah salah satu medium pertemuan sakral antara makhluk dengan Sang Khaliq. Dalam shalat yang khusyu’ seorang hamba akan mampu menghadirkan eksistensi ilahiyyah ke tempat di mana ia bersujud.

Jika Rasulullah Saw bertemu Tuhan di sidratil muntaha dengan cara di isra’ dan dimi’rajkan, maka seorang hamba yang beriman bisa menemui Tuhannya dengan cara menjalankan shalat. Rasulullah Saw, menyabdakan bahwasanya ibadah shalat adalah mi’rajnya seorang hamba yang beriman kehadirat Tuhannya.

Sungguh beruntung sekali orang-orang yang bisa menjalankan shalat dengan khuyu’, karena ukuran keimanan seseorang terletak sampai seberapa ia bisa khusyu’ dalam menjalankan shalat. Dalam Al Qur’an Allah Swt, berfirman yang artinya :

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.” (Al Mu’min  ayat 1-2)

Ibadah shalat bukan hanya sekedar aktifitas fiqhiyyah semata, bisa saja secara hukum fiqih shalat seseorang sah, namun amalan shalatnya tidak mampu mewarnai kehidupannya sehari-hari. Shalat hanya sekedar rutinitas tanpa makna. Hal ini karena shalat yang dikerjakan hanya sebagai peristiwa biologis semata, tanpa menyertakan amal batiniyyah, tanpa menyertakan kekhusyukan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. bersabda : “Barang siapa yang hatinya belum bisa khusyu’, maka shalatnya dikembalikan (ditolak).

Oleh karena itu selain menetapi rukun dan syarat sahnya shalat, seorang hamba perlu menghadirkan rasa khusyu’ dalam shalatnya sehingga ia merasakan cahaya ketuhanan merasuk memenuhi rongga jiwanya. Setelah cahaya ketuhanan masuk, menembus hijab hamba dengan Tuhannya maka cahaya itu akan menjelma menjadi rahmatan lil ‘alamin yang terpancar memenuhi lingkungan sosial dan semesta.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menyempurnakan shalat dengan kekhusyukan dan ketawadhuan di hadapan Tuhan.



*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Diantara buku yang ditulisnya adalah: Jejak Sang Rasul (2016); Secercah Cahaya Hikmah (2016), Dalang Kentrung Terakhir (2017,) dan menulis beberapa buku antologi bersama Sahabat Pena Nusantara dan beberapa komunitas literasi lainnya.”