Senin, 21 Agustus 2017

Epistemologi Jomblo Revolusioner

Epistemologi Jomblo Revolusioner
Oleh : Joyo Juwoto

Jomblo Revolusioner adalah sebuah judul buku yang ditulis oleh sesepuh literasi di Tuban, Mas Amrullah AM atau lebih akrab dipanggil oleh kawan-kawannya sebagai Mas Aam. Bukunya mas Aam, ini diterbitkan oleh penerbit epistemic Jogja sekitar bulan September 2016.

Saya merasa senang sekaligus bangga gaung literasi di bumi Wali, yang salah satunya dibibitkan oleh Mas Aam dan kawan-kawan di Gerakan Tuban Menulis (GTM) mulai bersemai. Salah satunya dibuktikan dengan lahirnya buku bercover putih, dengan sampul foto tertawa renyah dari penulisnya, Jomblo Revolusioner.

Perlu saya singgung di sini, awal ketertarikan saya untuk menulis dan menerbitkan buku dimulai saat Mas Mutholibin yang sebelas dua belas dengan Mas Aam dalam dunia literasi datang ke madrasah saya mengirimkan proposal pelatihan menulis dari GTM. Pas ketepatan saya ketemu dengan beliaunya. Jodoh memang tidak akan lari kemana, saya yang sejak dalam pikiran memang menyenangi dunia tulis menulis akhirnya ketemu dengan jodoh saya.

Dari undangan itu, saya bersama dengan dua santri hadir mengikuti pelatihan yang diadakan di Sanggar Belajar UPTD Kab. Tuban. Pada momentum itulah akhirnya saya bertemu dengan pemateri kondang , ada Pak Ngainun Naim, Mas Anas AG, dan  mbak Ditta Hakha penulis dari Bojonegoro, sayang saya kehilangan kontak penulis ketiga, Mbak Ditta.

Singkat cerita saya mulai agak rajin menulis karena pengaruh dan berkah dari penulis buku Jomblo Revolusioner ini. Alhamdulillah pertemuan yang mawaddah, wa rahmah nan barakah, sehingga saya ketularan menulis buku dan akhirnya saya juga ketularan menerbitkan buku.

Mas Aam ini memang seorang jurnalis sebuah media cetak, kerjanya ya nulis-nulis. Jadi ketika ia menerbitkan buku, ini memang sudah menjadi keharusan, dan hukumnya fardhu ain. Buku pertama Mas Aam yang sedang menjalani laku jomblo kontemporer ini cukup bagus dan bikin greget. Dari judulnya saja sudah tercium aroma provokasinya, "Jomblo Revolusioner". Jomblo revolusioner adalah bahasa yang sangat politis dan ideologis sekali, kayaknya sangat cocok dipakai slogan penyemangat atau yel-yel saat demo-demo mahasiswa.

Entah sebuah alibi atau hanya kebetulan saja, Mas Aam yang sedang menjomblo berusaha memaparkan tentang sebuah ideologi kejombloan. Ideologi yang mungkin sangat baru dan orisinil di jagad dunia pergerakan atau pun dalam teori-teori ilmu sosial. 

Dalam bukunya Mas Aam banyak menceritakan serba-serbi jomblo secara revolusioner, tentu pembaca bisa mendedahnya sendiri dengan nyaman, agar saya tidak terkesan menggurui dan banyak memaparkan apa yang ditulis oleh Mas Aam, apalagi saya juga lupa isi dari keseluruhan isi bukunya.

Yang pasti buku Mas Aam ini renyah bagai camilan, gurih dan menggoyangkan lidah-lidah pembaca, tapi kadang juga asin, pedes namun ngangenin kayak rujak petisnya wong pantura, pokoknya sensasi kenikmatannya bisa anda rasakan setelah mencicipinya sendiri. Selamat Membaca.


Kamis, 17 Agustus 2017

Emak-emak Ngeblog, Kelar Hidup Lo!

Emak-emak Ngeblog, Kelar Hidup Lo!
Oleh : Joyo Juwoto


Saya selalu ketawa ngeklek, jika melihat meme-meme lucu, (n)akal, dan menyentil yang ada di media sosial. Sepanjang penelusuran saya di google, saya belum menemukan kalimat seperti yang saya tulis dan menjadi judul tulisan saya. Akhirnya saya merangkai sebuah kalimat yang berbunyi :

 "Jangan remehkan emak-emak, kalau udah ngeblog, kelar hidup loe!!! (Joyo Juwoto)

Aktivitas Emak-emak memang biasanya hanya berkisar pada urusan dapur, sumur, kasur, dan nyayur,  hehe...namun jangan salah, ini jaman cyber bro, emak sekarang itu tidak sama dengan emak jaman Joko kendil, soalnya sekarang udah jamannya Pak Jokowi. Emak tidak hanya pandai urusan dalam negeri rumah tangga saja, namun harus juga menguasai banyak hal, termasuk di dalamnya adalah ngeblog.

Saya punya teman blogger Emak-emak, namanya Mbak Nur Rochma. Beliau ini seorang Ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Bisa dibayangkan sendiri ya, ibu rumah tangga dan masih mengurus tiga buah hati, dan tentu juga mengurus suaminya tercinta. Nah..walaupun super sibuk, Mbak Nur ini ternyata sangat telaten mengurusi blognya yang beralamat di sini http://www.nurrochma.com/.

Walau seorang perempuan, blognya Mbak Nur tidak hanya berbicara masalah dunia perempuan saja, Ketika saya intip blognya, ada banya menu yang siap memanjakan selera baca kita, seperti parenting, kuliner, dunia wanita, destinasi wisata, dan fiksi juga. Ternyata Mbak Nur ini memang jago dalam menulis banyak segmen. 

Denger-denger, selain menulis di blog, mbak Nur ini juga sudah banyak menulis di media cetak, dan asyiknya mbak Nur juga sudah punya beberapa buku antologi. Pengin tahu buku-buku yang telah ditulis mbak Nur ? Sana kepoin orangnya. 

Kita doain ya, semoga selain karya-karya antologi, Mbak Nur juga segera merilis yang solo, sekalian jogja boleh dah mbak ! hehe...:)

Khidmat, Santri ASSALAM Bangilan Upacara HUT RI Ke-72

Khidmat, Santri ASSALAM Bangilan Upacara HUT RI Ke-72
Oleh : Joyo Juwoto

Di bawah naungan langit merah putih, ratusan santri ASSALAM Bangilan Tuban mengadakan upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72, di halaman Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban.

Selain mengikuti upacara akbar di lapangan Gelora Bangilan, Santri-santri ASSALAM Bangilan juga mengadakan upacara sendiri di lokasi Pesantren. 

"Karena permintaan dari pihak panitia HUT RI hanya beberapa peleton saja, maka santri-santri yang tidak bisa hadir di lapangan kecamatan mengadakan upacara di lokasi pesantren" Ujar Ust. Puput Priyo Santoso, selaku koordinator pelaksanaan upacara.

Suasana upacara berjalan cukup khidmat, para santri mendengarkan dengan serius amanah dari pembina upacara yang disampaikan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan, KH. Yunan Jauhar, M.Pd.I.

"Agar para santri paham, arti dari sebuah perjuangan untuk meraih kemerdekaan itu tidak mudah, maka santri perlu mengenang ulang sejarah bangsanya, salah satunya adalah melalui momentum upacara" Kata Ust. Mudhakir, salah seorang pengajar di ponpes ASSALAM Bangilan.

Suasana upacara terasa memompa semangat perjuangan, manakala bendera Sang Saka Merah Putih dikibarkan di atas langit pesantren. "Kepada Sang Merah Putih, Hormaatttt....grak! Semua santri pun serentak menghormat, dan lantunan lagu Indonesia Raya menggema dan membahana memenuhi relung dada santri semuanya. 

Indonesia Tanah Airku
Tanah Tumpah Darahku
...
*
Salam Merdeka!!!

Selasa, 15 Agustus 2017

Sikap Toleransi Untuk Kebhinnekaan yang Tunggal Ika

Sikap Toleransi Untuk Kebhinnekaan yang Tunggal Ika
Oleh : Joyo Juwoto

Berbicara mengenai istilah kebhinekaan adalah hal sangat mudah, bahkan dengan ringannya lisan ini bisa mengucapkan kata bhinneka tunggal ika berkali-kali, hafal di luar kepala, menjadi jargon yang memukau dan semboyan yang sangat bagus, penuh muatan energi sosial yang positif dan membuka ruang dialektika kehidupan yang dinamis.

Kita tentu bersyukur dan sangat, sangat bersyukur, mendapatkan satu warisan azimat yang luar biasa dari sebuah rumusan bhineka tunggal ika. Para the founding fathers negeri Nusantara Indonesia Raya tercinta ini tentu sangat  menyadari akan hakekat kebangsaan yang dibangun di atas perbedaan ras, suku, bahasa, agama dan kepercayaan.

Oleh Karena itu, untuk mengikat keberagaman unsur-unsur itu, maka dibutuhkan satu landasan filosofis yang kuat dan universal. Maka dipilihlah satu kalimat yang berbunyi bhinneka tunggal ika, yang memiliki makna secara bebas berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Filosofis kebangsaan bhinneka tunggal ika sudah diajarkan kepada kita semenjak dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi, dengan harapan setiap generasi muda bangsa Indonesia memahami betul makna dan penerapan dari kalimat ini. Bukan hanya sekedar hafal, namun hafal yang disertai dengan pemahaman dan kesadaran akan nilai-nilai yang dilahirkan dari kebhinnekaan.

Salah satu nilai dari rahim kebhinnekaan adalah sikap toleransi terhadap segala perbedaan yang menjadi platform bangsa ini. Toleransi sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sikap menghargai pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan kelakuan yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri). Jadi dalam kebhinnekaan wajib hukumnya melahirkan satu pemahaman dan sikap serta konstruksi diri yang toleran kepada orang lain.

Kita tentu harus menyadari bahwa perbedaan adalah suatu hal yang wajar dan lumrah, karena memang kita terdiri dari berbagai ragam suku,ras, agama dan bahasa yang berbeda-beda. Segala macam perbedaan ini harus kita rawat biar bertumbuh kembang yang selaras sehingga mencipta harmoni semesta.

Sikap toleransi ini harus dikembangkan, dijiwai, dan dijadikan pengetahuan dan pemahaman bersama untuk diejawentahkan dalam kehidupan yang nyata, bukan hanya sekedar wacana, bukan hanya sekedar jargon, dan bahan pembicaraan di panggung seminar saja. Toleransi harus kita rawat dan kita perjuangkan bersama dengan penuh semangat kebersamaan dalam keberagaman.

Sikap toleransi ini adalah sebuah keniscayaan sikap yang harus ada dalam ruang individu maupun ruang publik, guna membangun kehidupan yang selaras dan damai diantara kelompok masyarakat yang berbeda-beda, seperti negeri Nusantara Indonesia tercinta.


Tidak ada pelangi yang tercipta dari satu unsur warna, dan pelangi terbesar serta terindah yang dianugerahkan Tuhan di jagad raya ini adalah kebhinnekaan warna di bumi Nusantara Indonesia Raya ini. Oleh karena itu mari kita rawat bersama kebhinnekaan yang tunggal ika dengan sikap toleransi antar kelompok masyarakat yang berbeda, baik itu berbeda sukunya, bahasanya, rasnya, maupun agamanya. 

Rabu, 09 Agustus 2017

Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis

Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis
Oleh : Joyo Juwoto

Pemuda ganteng dengan nama pena Jaka Tarub, eh maksudku Djacka Artub ini adalah seorang blogger fiksionis romantis yang dimiliki oleh Kabupaten Tuban. Tidak heran jika pemuda yang sudah menyunting secara sah, satu bidadari jelita di hadapan Pak Penghulu ini sangat flamboyan, lha wong menurut mata batin saya Kang Djacka ini keturunan dari putri rembulan sang Dewi Nawang Wulan. Ini terlihat dari nama penyamaran Kang Djacka yang hampir mirip dengan nama leluhurnya yaitu Jaka Tarub pemuda yang suka ngintip bidadari mandi di sendang.

Saya semakin yakin kalau Kang Djacka ini keturunan makhluk langit dapat kita lihat dalam satu bait puisinya yang sangat syarat merindukan rembulan datang. Dalam bait puisi yang berjudul "Dia; Secuil Rembulan" Kang Djacka ini berpuisi :

Aku, ... Masih tetap di sini. Berdiri terpaku menatap hitamnya gelap malam.
Kerlip bintang hanya terlihat indah di kejauhan

Tak mampu kusentuh  dalam dekapan.

Dia ... 
Secuil rembulan yang datang, hanya sekejap lalu menghilang.
Aku ingin menunggu, tapi rasanya mustahil malam ini ia akan kembali datang.

Akankah rembulan itu akan kutemui di malam berikutnya?
Entahlah.
Ah, kayaknya kerinduannya dengan simbah moyangnya yang ada di langit kayaknya sangat mengharu biru. Saya senang sekali membaca blognya Kang Djacka, tulisannya banyak beraliran fiksi romantis, wuihh...menghanyutkan deh pokoknya. Jika para sobat ingin melihat lebih banyak lagi dari tulisan Kang Djacka, maka kunjungi saja alamatnya di sini http://www.arektuban.com/ 

Kang Djacka ini menulis ternyata otodidak dan dengan dorongan energi cinta yang kuat. Saya berharap beliaunya segera merilis buku solo, baik itu kumpulan puisi maupun cerpen dan cerbungnya. 

Kapan-kapan saya pengin silaturahim dengan Kang Djacka, menikmati harumnya kopi hitam sambil mengobrolkan dunia antah berantah dari sebuah cerita non fiksi. Iya, kapan-kapan, menunggu purnama kelima belas menerangi remangnya malam di pinggiran desa Sekaran, Jatirogo.

Jumat, 04 Agustus 2017

Kang Rudi Blogger Top Dari Tuban

Kang Rudi Blogger  Top Dari Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Berbicara tentang Komunitas Blogger Tuban tidak akan lengkap tanpa menyebut sosok Kang Rudi, yang memiliki nama lengkap Fakhruddin ini. Lelaki yang mengaku telah memiliki Kanjeng Ratu dan Kanjeng Ratu Alit ini berasal dari desa Kapu Kec. Merakurak. Namun saat ini beliau sedang di luar kota, bekerja sebagai Analyst Infrastruktur Teknologi Informasi di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Wah, sungguh sesuatu yang sangat membanggakan, seorang anak desa dari Tuban, bisa bekerja super keren di PLN Persero.

Ketika saya mengintip profil Kang Rudi di facebook, beliau ini lulusan Jurusan Teknik Informatika di Universitas Budi Luhur Semarang, jadi jika Kang Rudi sangat concern dengan dunia blogger memang sangatlah tepat. Selain pakar dalam dunia IT, Kang Rudi orangnya suka dengan hal-hal yang baru, khususnya mengenai Sejarah lokal Tuban, UMKM Tuban, pertanian, dan segala sesuatu yang berbau pedesaan. Kang Rudi ini juga sangat suka mengendors pelaku usaha kecil di daerahnya melalui tulisan di webnya berikut https://www.kangrudi.com/. Beliau juga suka menulis mengenai wisata-wisata lokal Tuban maupun tempat wisata lain di dalam negeri, kemudian mengunggahnya ke media sosial. 

Dari beberapa postingan Kang Rudi saya banyak mengenal wisata kuliner baik di Tuban maupun tempat yang pernah dikunjungi oleh Kang Rudi, selain itu  Kang Rudi juga suka menulis opini mengenai hal-hal yang positif. Karena Kang Rudi memang sosok blogger top Tuban yang selalu menyerukan berinternet yang baik, sehat dan bijak di dunia maya. Kang Rudi ini orangnya sangat tidak suka perdebatan yang tidak ada manfaatnya. Lebih baik menulis hal-hal yang positif dari pada harus memperdebatkan sesuatu yang tidak jelas jluntrungnya.

Saya sangat salut dengan pembawaan Kang Rudi yang low profile dan friendly ini, beliau di group Blogger Tuban sering memberikan bimbingan mengenai kebloggeran dan hal-hal yang berkenaan dengan dunia maya. Pokoknya teman blogger kita dari Kapu Merakurak ini sangat luar biasa. Semoga Kang Rudi sekeluarga sehat selalu dan terus bisa berkarya untuk bangsa, baik lewat dunia blogger maupun yang lainnya. Salam.

Rabu, 02 Agustus 2017

Wanita Pertama Yang Syahid Dalam Islam

Google.com
Wanita Pertama Yang Syahid Dalam Islam
Oleh : Joyo Juwoto

Orang yang mengaku beriman tentu akan mendapatkan ujian dan godaan sebagai konsekuensi dari pengakuan keimanannya, Semakin tinggi keimanan seseorang ujiannya pun akan semakin tinggi pula. Ibarat pohon, semakin tinggi pohonnya maka angin yang bertiup pun akan semakin besar. Bersyukurlah kita yang hari ini hidup di mana iman kita mendapatkan jaminan keamanan, tanpa mendapatkan ujian yang berarti, sepertizaman awal-awal Islam disebarkan.

Ketika awal ajaran agama Islam didakwahkan oleh Rasulullah Saw, di kota Makkah, ujian keimanan yang ditimpakan kepada para pemeluk ajaran Rasul ini sungguh sangat berat. Siapapun yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka tidak akan lepas dari gangguan orang-orang kafir Quraiys. Hanya orang-orang yang mendapatkan perlindungan dari para tokoh yang selamat dari siksaan kaum kafir Quraiys, walau emikian dtetap saja gangguan dan hinaan mereka terima, seperti Nabi yang mendapatkan perlindungan dari Pamannya Abu Thalib, Abu Bakar yang mendapatkan perlindungan dari kaumnya, dan beberapa sahabat yang memiliki perlindungan dari para tokoh.

Diceritakan dari Abdullah bahwasanya orang yang pertama kali menampakkan keislamannya ada tujuh orang, salah satu diantaranya adalah Sumayyah bekas budak Hudzaifah bin al Mughirah salah seorang pembesar dari suku Bani Makhzun.

Sumayyah ini menikah dengan Yasir, seorang sahabat dari Yaman yang menetap di Makkah, kemudian mereka dianugerahi seorang anak laki-laki bernama Amr bin Yasir. Dari Amr inilah kedua orang tuanya mengenal dan memeluk ajaran agama Islam.  Setelah Bani Makhzun mengetahui keluarga Yasir ini masuk Islam, akhirnya mereka disiksa dengan siksaan yang sangat pedih. Keluarga Yasir ini dijemur diterik matahari padang pasir yang panas dengan memakai baju besi, tidak hanya itu saja tubuh mereka juga dibakar di di atas bara api yang menyala, namun keteguhan dan kesabaran mereka, segala siksa dan cobaan itu tak mampu menggoyahkan keimanan keluarga Yasir.

Suatu ketika Rasulullah Saw mengetahui akan derita yang ditanggung oleh keluarga Yasir, maka Rasulullah memberikan kabar gembira atas kesabaran akan ujian keimanan mereka. Rasulullah Saw bersabda :
صَبْرًا أَبَاالْيَقْظَانْ, صَبْرًا ألَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةَ
“Bersabarlah wahai Abul Yaqdzon, bersabarlah wahai keluarga Yasir sesungguhnya balasan untuk kalian adalah surga.”

Demi mendengar berita gembira dari Rasulullah bahwa mereka adalah termasuk ahli surga, maka segala siksa yang ditimpakan kepada mereka tiada berarti. Mereka merasa tentram dan beratnya siksaan yang dihadapi dianggap sebagai angin lalu saja, musibah yang mereka terima menjadi berkah surga kelak di hadapan Allah Swt.

Abu Jahal adalah salah seorang tokoh kafir Quraiys yang sangat kejam, melihat keluarga Yasir disiksa sedemikian rupa tidak mampu mengubah keimanannya kepada agama baru itu, akhirnya Abu Jahal melakukan tindakan yang sadis. Sumayyah disiksa dengan sangat kejam, kemudian Abu Jahal menusukkan tombak pada bagian kehormatannya, sampai Sumayyah syahid fi sabilillah.

Hal ini dikatakan oleh Mujahid, ia berkata : “Wanita pertama yang syahid pada masa permulaan Islam adalah Ummu ‘Ammar. Ia ditikam oleh Abu Jahal dengan tombak pada bagian kemaluannya.”


Kesyahidan Sumayyah ini terjadi pada tahun ke tujuh sebelum hijriyah, beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam menegakkan ajaran Islam, semoga Allah meridhoi dan merahmatinya serta menempatkannya di firdaus-Nya yang mulia.

Selasa, 01 Agustus 2017

Indahnya Persaudaraan

Indahnya Persaudaraan
Oleh : Joyo Juwoto

Telah dua kali saya berkunjung ke Madiun, dalam rangka nyekar dan mendoakan  para Kadang sepuh yang telah mendahului kita semua. Selain itu tentunya sekalian saturrahim kepada saudara-saudara tunggal banyu, tunggal kecer di Padepokan Agung Setia Hati Terate Madiun, Jalan Merak, Nambangan Kidul Kota Madiun.

Satu hal yang membuat saya terkesan adalah sambutan para kadang di Madiun yang cukup welcome. Kami sebelumnya tentu belum pernah ketemu dan tidak pernah kenal sebelumnya, tetapi saya dan rombongan yang saat itu berkunjung di Padepokan Agung sangat terkesan dengan sambutan dari para kadang di Padepokan Agung. Memang hal yang sedemikian bukan suatu hal yang aneh di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Jika kami berkunjung di tempat lain pun saya kira demikian sambutannya kepada saudara-saudaranya.

Inilah indahnya rasa persaudaraan yang dibangun dan menjadi landasan filosofis dalam berorganisasi di PSHT, sehingga saya perlu menuliskan sedikit kesan saya khususnya, dengan para kadang yang ada di Madiun, terkhususnya lagi kepada Pamter Pusat Madiun, kepada Mas Toro (Mas Subiantoro), Mas Narko dan kepada Mas Bagus yang telah menerima kedatangan kami serombongan malam-malam hari, dengan penuh keakraban dan rasa paseduluran yang sejati.

Benar sekali pesan yang diwejangkan oleh kadang sepuh bahwa “Nek ana sedulure teko, mbuh iku awan, mbuh iku bengi, bukakno lawang sing amba, mengko awakmu bakal entuk hikmahe”, ( jika ada saudaramu datang, entah itu siang, entah itu malam, maka bukakan pintu lebar-lebar, maka engkau nanti akan ketemu hikmahnya). Wejangan ini sering kita dengar, dan kelihatannya mudah sekali, namun pada kenyataannya tidak semua orang mampu melakukan ini.

Saya sangat terkesan dengan sambutan Mas Toro dan Mas Narko, yang telah menemani kami menikmati hangatnya wedang cemoe di warung dekat Padepokan. Walaupun saat itu hari telah malam, dan suasananya hujan rintik-rintik, kami diantar Mas Toro ziarah ke Maqamnya Mbah Harjdo Oetomo di Pilang bango, kemudian mengunjungi Padepokan Luhur, dan bersilaturrahmi dengan Mas Toyo.

Walau saat itu hari sudah malam, sekitar pukul 21.00 WIB, cuaca langit Madiun sedang dingin karena hujan yang mengguyur sejak sore hari, namun dengan santainya Mas Toro mengetuk pintu rumah, Mas Toyo.

“Santai wae mas, dalu-dalu gak popo. Mas Toyo wis kenek sumpah nek ana dulure teko kapan bae kudu mbukakno lawang” Kata mas Toro sambil tertawa ringan tanpa beban.

Setelah diketuk beberapa kali akhirnya pintu rumah Mas Toyo pun terbuka. “Eh, sampeyan toh Mas” kata Mas Toyo.

“Enggih mas, niki wonten derek Tuban badhe ziarah teng Padepokan Luhur” Jawab Mas Toro.

Kemudian kami pun dipersilahkan masuk ke padepokan, di situ kami napak tilas ndalemnya pendiri PSHT, Mbah Hardjo Oetomo. Mas Toyo pun menerangkan tempat-tempat yang dulu dihuni oleh Mbah Hardjo, termasuk juga, Mbah Harsono juga pernah tinggal di rumah pusaka itu. Mbah Harsono adalah putra dari Mbah Hardjo Oetomo.

Setelah puas napak tilas di Padepokan Luhur, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Maqamnya Raden Mas Imam Koesoepangat. Dengan sabar dan dengan senyumnya yang cerah Mas Toro mengantar kami berziarah di Maqamnya Pendekar yang mendapat julukan Pendita Wesi Kuning. Dari maqamnya Mas Imam ini kami meluncur ke ndalemnya Mas Bagus.

Menurut Mas Toro, Mas Bagus jam malam baru bisa ditemui, karena beliau baru perjalanan pulang dari Pekalongan hingga malam baru bisa ditemui. Saya sendiri membayangkan, setelah perjalanan jauh kok ya mau-maunya menerima tamu, Apa tidak capek, apa tidak ngantuk, begitu pikir saya. Begitulah kalau seseorang itu sudah selesai dengan dirinya, maka tidak ada sesuatu yang menjadi masalah baginya. Dan saya merasa Mas Bagus orangnya seperti ini, selesai dengan dirinya sendiri.

Sesampai di ndalemnya Mas Bagus, kami pun bersalaman. Mas Bagus menyambut kami dengan gembira, selanjutnya beliau menawari kami makan. Kemudian beliau meminta salah satu adang untuk membelikan kami makan. Sambil menunggu makan inilah beliau bertanya tentang tujuan kami jauh-jauh datang dari Tuban ke Madiun.

Percakapan pun semakin gayeng dan akrab, kapan-kapan kalau ada waktu saya akan merangkumkan obrolan kami dengan Mas Bagus, atau tepatnya wejangan Mas Bagus kepada kami tentang ilmu Setia Hati Terate  dalam prespektif santri. Begitu juga kalau ada waktu saya ingin menulis tentang ramahnya Mas Toro dan senyumnya yang penuh dengan keakraban dan persaudaraan.

Karena makanan telah datang, kami pun menikmati sensasi nasi pecel khas kota gadis. Semoga di lain waktu, kami bisa mengunjungi dan bersilaturrahmi kembali dengan kadang-kadang di Padepokan Agung Punjer Madiun.

Terima kasih Mas Toro atas waktunya, terima kasih kepada para kadang yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu namanya, dan terima kasih juga kepada Mas Bagus atas segala sambutan dan wejangannya, semoga ada manfaat yang dapat kita raih bersama. Aamin.

Senin, 31 Juli 2017

Nasi Jotos dan Wedang Cemoe Kota Gadis

Nasi Jotos dan Wedang Cemoe Kota Gadis
Oleh : Joyo Juwoto

Menikmati kuliner khas suatu daerah adalah satu kenikmatan tersendiri dalam sebuah ritual traveling. Masing-masing daerah di tanah air memang memiliki kekhasan yang tidak semua daerah lain memilikinya. Oleh karena itu, jika para sobat semua sedang melakukan perjalanan atau traveling-traveling, maka jangan lupa untuk mencicipi kekhasan daerah yang kita singgahi. Baik itu makanan atau minumannya.

Semisal nasi jotos dan wedang cemoe dari kota gadis. Saat saya berkunjung ke kota Madiun yang memiliki julukan kota gadis, saya menyempatkan berwisata kuliner nasi jotos dan wedang cemoe. Dari rasa penasaran dengan namanya, nasi jotos dan wedang cemoa, saya akhirnya mampir ke sebuah warung kaki lima yang menyediakan kedua menu itu.

Nasi jotos ternyata tidak seseram namanya, hanya karena nasi itu besarnya sekepal tangan dibungkus dengan daun pisang, maka dinamakan nasi jotos. Nasinya nasi putih biasa diberi lauk tempe atau tahu kering, mihun berkecap, dan sedikit sambal. Lumrahnya di daerah lain nasi jotos ini dikenal sebagai nasi kucing.

Sedang wedang cemoe adalah minuman yang disajikan dalam sebuah mangkok kecil. Minuman hangat ini terdiri dari kuah santan diberi gula pasir dan beberapa potong roti, serta butiran kacang tanah yang telah digoreng. Uniknya wedang ini juga diberi bawang merah goreng. Wedang cemoe ini hampir mirip wedang ronde, hanya saja wedang ronde tidak memakai kuah santan. Dan satu lagi perbedaannya wedang cemoe tidak memakai jahe, sedangkan wedang ronde, jahe menjadi ciri khasnya.


Saat senja mulai turun, dan kota gadis berselimut gelap, rinai hujan turun membasahi bumi kota yang damai, Dua bungkus nasi jotos dan semangkuk wedang cemoe mengabadikan kenanganku pada kota gadis yang manis, pada kota Madiun yang anggun.

Sabtu, 29 Juli 2017

KH. Nashiruddin Qodir, Pusaka Santri Pelita Umat

KH. Nashiruddin  Qodir, Pusaka Santri Pelita Umat
Oleh : Joyo Juwoto

“Santri iku kapan ngelmune manfaat barokah, fekir ae kepenak opo maneh sugih, surgo dunyo akhirat”
(KH. Muh. Nashiruddin Qodir. Th. 1950-2017)

Mbah Nasir, sosok Kiai karismatik dari Sendang Senori telah kembali ke hadirat Tuhan (, namun pendar pelita keilmuan beliau terus menyala di dada umat, dan barakah doa-doa beliau menjadi pusaka abadi para santri di penjuru negeri. Saya sendiri secara langsung belum pernah nyantri di hadapan beliau, namun siapapun dia, jika memiliki rasa kecintaan kepada ilmu dan ulama tentu merasa menjadi santrinya KH. Muh. Nashiruddin Qodir yang akrab dipanggil Mbah Nasir. Begitupula dengan saya, merasa menjadi santri beliau.

Saat mendengar kepastian bahwa beliau wafat, hati ini tentu sedih tak terkira. Begitu pula orang-orang yang mendapatkan kabar baik secara langsung maupun lewat pesan berantai di media sosial. Air mata duka tertumpah dan gurat kesedihan mewarnai wajah-wajah para muhibbin ulama yang tawadhu’ ini.

Sejak pagi orang-orang dari berbagai daerah sama berbondong-bondong bertakziah di kediaman beliau yang ada di lokasi Pondok Pesantren Darut Tauhid al Alawiyyah Sendang Senori Kab. Tuban. Tidak aneh memang, karena Mbah Nasir semasa hidupnya banyak diabdikan kepada umat baik lewat jalur struktural jam’iyyah Nahdlatul Ulama, lewat dunia perpolitikan, dan juga sebagai muballigh yang terkenal.

 Selain itu, Mbah Nasir ini juga membina para santri di pesantren, beliau juga menggelar pengajian untuk masyarakat umum. Kitab yang dikaji adalah kitab Ihya’ (ba’da shubuh) dan juga kitab tafsir Jalalain dan kitab al Mukhtar fi kalamil akhyar pada malam Selasa dan Jumat di pondoknya. Mbah Nasir memang terkenal sebagai Kiai yang pakar dalam ilmu tafsir, hadits, dan juga ilmu tasawuf.

Tidak heran jika Mbah Nasir menjadi sosok Kiai yang pakar dalam bidang ilmu keagamaan, karena beliau lama nyantri di Sarang (Ma’had Ilmi As Syar’iyyah), setelah sepuluh tahun mondok di Sarang  beliau mengikuti ngaji kilatan di berbagai pesantren. Seperti di Mranggen Demak mengaji kitab Mizanul Kubrodi, Sya’roni, Muhadzab di bawah asuhan Kiai Muslich, ikut khataman kitab shohih Muslim di pesantren Poncol yang diasuh Kiai Ahmad Asy’ari, dan beberapa pesantren lainnya. Setelah itu Mbah Nasir melanjutkan mondoknya di Makkah al Mukarromah di bawah asuhan Guru yang mulia As-Sayyid Muhammad Al Alawi Al Maliki.

Begitulah sanad keilmuan Mbah Nasir yang bersumber dari ulama-ulama di tanah air dan juga dari ulama Makkah Al Mukarromah. Kita semua merasa kehilangan sosok beliau yang luar biasa. Semoga Allah Swt menempatkan beliau pada maqam yang tinggi di sisi-Nya, dan kita para santri mampu meneladani dan meneruskan perjuangan beliau dalam menegakkan ajaran agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah nasehat dari al Maghfurrlah Mbah Nasir, tentang ilmu yang bermanfaat. Beliau berkata : “Santri iku kapan ngelmune manfaat barokah, fekir ae kepenak opo maneh sugih, surgo dunyo akhirat” Demikian sedikit tulisan yang saya ambil dari sumber di media sosial, semoga ada manfaatnya.


Jumat, 28 Juli 2017

Mahabbatullah

Google
Mahabbatullah
Oleh : Joyo Juwoto*

Mahabbatullah atau mencintai Allah, adalah kecenderungan hati seorang hamba untuk cinta kepada Allah Swt.  Mahabbatullah ini menjadi salah satu jalan yang dipakai oleh para pencari Tuhan untuk berma’rifat kepada-Nya. Di dalam Al Qur’an sendiri, konsep  mahabbatullah ini banyak  tersebar di dalam berbagai ayat. Diantaranya adalah :

1.      Dalam surat Al-Maidah ayat 54, “Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya”.

2.      Dalam surat Ali Imron ayat 31, “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

3.      Dan surat Al Baqarah ayat 165, “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah”.

Selain itu banyak sekali ulama-ulama yang mengkaji dan menginterpretasikan konsep mahabbatullah ini di dalam kegiatan ubudiyyahnya sehari-hari. Sehingga konsep mahabbatullah ini bukanlah sesuatu yang asing di dalam perjalanan sejarah peradaban umat Islam. Di dalam Kitab Risalah Qusyairiyah dinyatakan bahwa :

“Adapun mahabbah (cinta)  seorang hamba kepada Allah adalah suatu keadaan di mana si hamba mendapatkan /merasakan cinta itu dari hatinya suatu perasaan  yang amat halus, sulit sekali untuk digambarkan.”

Begitulah penggambaran mahabbatullah, baik dari ajaran Al Qur’an maupun dari pemaparan para ulama, di mana seorang hamba akan merasakan cinta yang sangat kepada Tuhannya, cinta yang hanya dapat dirasakan namun sulit untuk digambarkan dengan rangkaian kata-kata yang indah sekalipun.

Di dalam perjalanan perjalanan spiritual para sufi, kita mengenal seorang tokoh sufi perempuan bernama Rabi’ah Al Adawiyah, yang hidup sekitar tahun 95 M di kota Basrah. Rabi’ah ini memasukkan unsur mahabbatullah dalam kehidupan asketisnya. Menurut Rabi’ah maqam mahabbatullah adalah puncak tasawuf tertinggi, melebihi maqam lainnya, seperti maqam Khawf (rasa takut) dan maqam ar-Raja’ (pengharapan). Begitu juga dengan ulama-ulama lain seperti Muhyiddin Ibn’ Arabi yang menyatakan bahwa cinta adalah stasiun tertinggi jiwa untuk menuju Tuhannya.

Ibn al-Faridh yang mendapat julukan sebagai raja para pecinta (Al-Asyiqin) yang hidup sekitar tahun 576 H, dalam satu syairnya mengatakan : “Siapa yang tak mati karena cinta kepada Allah, tidaklah dia hidup bersama-Nya”. Oleh karena itu konsep cinta Ibn al-Faridh adalah fana’ fillah dalam mengarungi samudera kehidupan ini, seorang yang fana’ tidak akan terpengaruh dengan pesona dan daya tarik kehidupan duniawi yang melenakan.

            Cinta kepada Allah atau mahabbatullah inilah yang akan menghantarkan perjalanan suluk seorang hamba menuju Tuhannya, cinta yang suci dan murni inilah yang akan menjadi jalan penyaksian kesatuan hamba dengan Tuhannya, atau dalam khasanah sufisme Jawa dikenal sebagai term Manunggaling Kawula Gusti.

*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Diantara buku yang ditulisnya adalah: Jejak Sang Rasul (2016); Secercah Cahaya Hikmah (2016), Dalang Kentrung Terakhir (2017,) dan menulis beberapa buku antologi bersama Sahabat Pena Nusantara dan beberapa komunitas literasi lainnya.”


Selasa, 25 Juli 2017

Saya dan Kak Towo

Hai, apa kabar teman-teman semua? pada kesempatan ini, saya ingin memperkenalkan salah seorang teman blogger kita, namanya Kak Towo.

Saya mengenal sosok Kak Towo, panggilan akrab dari Kak Adhi Sutowo ini sudah cukup lama, sebelum dipertemukan Tuhan di jagad dunia maya di Komunitas Blogger Tuban (KBT), saya sudah sering ketemu dan mengobrol tipis-tipis dengan beliau. Karena memang, ketepatan kami memiliki satu sisi profesi yang sama, yaitu sama-sama mengurusi administrasi madrasah. Kak Towo menjadi tenaga administrasi di Madrasah Aliyah Merakurak sedang saya menjadi tenaga administrasi dari Madrasah Aliyah ASSALAM Bangilan. Di Tuban untuk urusan berkas dan kertas-kertas inilah kami sering ketemu.

Sekitar awal tahun 2016, dari sebuah obrolan di laman facebook, kalau tidak salah saat itu Kang Rudi menawari untuk membuat group blogger Tuban di media sosial Whatshap. Karena saya juga punya blog , akhirnya saya ikut daftar menjadi anggota blogger Tuban, blog yang saya daftarkan adalah http://4bangilan.blogspot.co.id/

Dari group itulah kemudian berkumpul para blogger Kab. Tuban dari berbagai wilayah di Kecamatan yang ada di Tuban, ada pula orang Tuban tetapi sedang berada di luar kota Tuban. Ternyata dari salah satu anggota blogger sudah ada yang mengenal saya, eh ternyata Kak Towo, alias Adhi Sutowo, sehingga beliau ini, seringkali mengomentari dan memberikan apresiasi terhadap apa yang saya tulis di blog. Wah, makasih ya Kakak yang baik hati.

Sebagai anggota blogger, Kak Towo juga punya blog lho teman-teman. Alamat blog beliau tu di sini https://kaktowo.blogspot.co.id/. Dari blog Kak Towo, temen-temen pembaca bisa mendapatkan beberapa menu yang disediakan, seperti Kajian budaya, pendidikan, wisata, kuliner dan berbagai ragam tulisan lainnya. 

Dari profilnya, Kak Towo mengatakan bahwa beliau sudah punya istri dan satu anak. Wah, kita doakan semoga keluarga Kak Towo menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, barakah dan bahagia ya teman-teman. Dan yang pasti semoga Kak Towo segera nambah istri, eh nambah  momongan maksud saya. Haha...Kaburrr!!!!

Kapan-kapan saya pengin ah mampir ke rumah Kak Towo yang ada di Tegalrejo, pengin disuguhi legen dari Boto yang melegenda itu, saya kan penyuka legen. Wuih!!! segernya itu lho bikin nagih dan nagih lagi.....Semoga tulisan saya ini dibaca Kak Towo, biar nanti pas ada acara ke Tuban, saya disuruh mampir, hehe....

Sudah duluan ya temen-temen, jika masih penasaran dengan Kak Towo, silahkan dilirik blognya. Terima kasih. Bye...bye!!!

Senin, 24 Juli 2017

DPC PGMI Kec. Bangilan Gelar Halal Bi Halal

DPC PGMI Kec. Bangilan Gelar Halal Bi Halal
Oleh : Joyo Juwoto

Bangilan Tuban (23/07/2017). Mengakhiri rangkaian kegiatan di bulan Syawal 1438 H, Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Guru Madrasah Indonesia (DPC-PGMI) Kec. Bangilan menggelar acara Halal bi Halal yang dirangkai dengan kegiatan pembinaan guru-guru Madrasah di wilayah Kec. Bangilan dari tingkat RA/TK/MTs hingga MA.

Kegiatan Halal bi Halal dan silaturrahmi ini dilaksanakan di MA Al Falah Bangilan, pada pagi hari jam 08.00 WIB hingga selesai. Tema yang diusung dalam acara halal bi halal ini adalah "Silaturrahmi Keluarga Besar Pendidikan Kecamatan Bangilan Menuju Terwujudnya Pendidikan yang Berkualitas dan  Berakhlaq dan Bermartabat."

"Kegiatan Halal bi Halal dan silaturrahmi antar guru madrasah di Kec. Bagilan ini sangat positif, semoga banyak manfaat yang kita petik bersama." Kata Ust. Mudhakir, salah seorang guru madrasah yang mengikuti acara halal bi halal kemarin.

Dalam pernyataannya melalui Whatshap, Ust. Ali Mukhsin, selaku Ketua Panitia kegiatan halal bi halal menyampaikan kesannya  bahwa "Kita cukup bersyukur PGMI Kec. Bangilan bisa mengadakqn acara yang sifatnya keagamaan, kalaupun ada kekurangan saya kira itu wajar."

Ust. Ali Mukhsin, yang juga kepala sekolah di salah satu madrasah di Kec. Bangilan ini  menyampaikan pesan, "Agar ke depannya semua guru madrasah lebih merasa memiliki organisasi PGMI ini, agar kesannya PGMI tidak milik satu orang atau satu lembaga tertentu." Demikian closing statement Pak Ali selaku ketua panitia kegiatan. J.J



Sabtu, 22 Juli 2017

Arisan Backlink Blogger Tuban

Beberapa hari yang lalu, Komunitas Blogger Tuban menggagas acara arisan link 1 dalam rangka untuk memeriahkan dan memberdayakan para blogger yang ada di kota Tuban. Acara ini atas usul dari Mas Arif SW, kemudian diolah menjadi konsep masakan yang siap saji oleh Mbak Anis, seorang Srikandi blogger Tuban.

Setelah konsep disajikan di wall group Whatshap, teman-teman blogger pun meresponnya dengan cukup positif, hal ini bisa dilihat dari peserta Arisan Link 1 Blogger Tuban, yang diikuti diikuti oleh 14 (empat belas) Blogger Tuban. 

Peserta Arisan Link Blogger Tuban adalan :
1. Anis : aniskhoir.com
2. Arif : www.punakawanku.com 
3. Joyo Juwoto : www.4bangilan.blogspot.com
4. Andhika : www.perahulayarkertas.web.id
5.Reyvan : blusukanalamtubanb.blogspot.com
6. Ifa : Ilayatifa.com
7. Adhi Sutowo : www.kaktowo.blogspot.com
8. Fakhruddin : https://www.kangrudi.com
9. Nur : www.nurrochma.com
10. Djacka : http://www.arektuban.com
11. Mashari: www.kibarkabar.top
12. Maswid : maswid.web.id
13. Bakhtiyar : masbek.id
14. Nafakhatin Nur : atin5757.com

Arisan blogger ini cukup seru, apalagi seperti saya, ini adalah sesuatu hal yang sangat baru sekali. Undian arisan ini akan dilaksanakan seminggu sekali, tepatnya dimulai hari sabtu dan diakhiri pada hari sabtu berikutnya, sambil menentukan siapa yang beruntung mendapatkan arisan. 

Jika arisan yang lazim kita kenal adalah dengan menggunakan uang, lain lagi untuk arisan blogger. Seorang yang mendapatkan arisan akan mendapatkan fasilitas blognya direview oleh anggota blogger lainnya. Hasil dari review ini akan di posting di blognya masing-masing anggota kemudian akan di share ke berbagai media sosial. Selain itu, blogger yang mendapatkan arisan juga akan dikunjungi blognya serta mendapatkan komentar dari para blogger. 

Selain berfungsi sebagai media saling berkunjung, tentu blog yang mendapatkan backlink dan komentar ini akan lebih terkenal, setidaknya akan lebih banyak dikunjungi. Secara jelasnya yang akan menjadi hadiah bagi para blogger adalah :

1. Review blog + backlink
2. Share ke sosmed pribadi
3. Dapet komen di blog. 
4. DA naik
5. Seduluran tambah erat

Eh! udah dulu ya beritanya, karena setelah ini saya punya kewajiban untuk mereview peserta arisan yang keluar dulu kocokannya.

Demikian sedikit gambaran arisan Arisan Link 1 Blogger Tuban, semoga ada manfaat dan faedahnya. Terima kasih.

Jumat, 21 Juli 2017

Majelis Warung Kopi Pra Bedah Buku

Majelis Warung Kopi Pra Bedah Buku
Oleh : Joyo Juwoto

Beberapa hari yang lalu saya dihubungi via Whatsap oleh Mas Mutholibin, salah seorang aktivis literasi di kota Tuban. Beliau ini meminta saya untuk mengisi acara bedah buku di pondok pesantren Raudhlatut Thalibin Tanggir, yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan haul KH. Munawir Muslih dan Masyayikh pondok.  Dengan tanpa banyak berfikir, saya mengiyakan ajakan beliau ini. Walau akhirnya saya merasa gamang dan menyesal setelah mengiyakannya. Buku yang dibedah adalah buku saya yang berjudul Secercah Cahaya Hikmah. Karena tidak ingin menjadi orang yang lain esuk tempe sore dele, akhirnya saya memantapkan diri dan hati untuk menaiki panggung panas itu. Ah..sekali-sekali kan kita juga butuh yang hot-hotkan !

Ketepatan memang saya belum pernah membedah buku-buku saya, jadi saya anggap ini adalah rejeki dan anugerah dari Tuhan yang tidak baik jika ditolak. Apalagi saya dapat kabar dari Mas Mutholibin bahwa pembanding saya nanti adalah seorang begawan literasi di Tuban, yaitu Mas Aam, Penulis Buku Jomblo Revolusioner.  Saya merasa senang nantinya bisa bertemu dengan sang idola dalam menulis, hal ini mungkin yang juga memberikan energi keberanian bagi saya untuk bilang iya kepada Mas Mutholibin tempo hari. Demi ketemu sang idola kadang memang seseorang perlu bertindak gila, atau minimal perlu bondo nekatlah.

Di hari H, (Kamis, 20 Juli 2017) segera saya hubungi Ikal Hidayat Nur, seorang penyair dan cerpenis melankolis dari kota B. Saya minta mas Ikal ini menemani saya ke acara bedah buku. Karena soal yang ginian ini Mas Ikal adalah jagonya. Saya dan Mas Ikal kemudian berangkat berboncengan motor menuju Tanggir. Lima belas menit kemudian sampailah kami di dekat pondok, dan kami bertemu Mas Mutholibin yang ternyata telah sampai duluan dan menunggu kami di warung kopi di pojokan pondok.

Mas Mutholibin kemudian menawari kami kopi, tentu tanpa syarat kami mengiyakannya saja. Kami bertiga kemudian nyangkruk di warung kopi sambil menunggu konfirmasi dari pihak pondok untuk memulai acara. Baru seteguk kopi berselang, Mas Aam datang. Dengan senyumnya yang khas jomblo berkelas, beliau kemudian bergabung dengan kami bertiga.

“Halo bro..” sapa Mas Aam ceria, sambil turun dari motornya.

Mas Aam yang baru datang kemudian bergabung dengan kami, beliau memesan segelas es teh dingin.

Selanjutnya obrolan dan guyonan ceria, mewarnai pertemuan kami di warung itu. Yah, obrolan ngalor-ngidul beragam tema khas warung kopi, yang merekatkan hubungan sosial di tengah masyarakat. Menurut saya pemerintah punya hutang moral yang besar kepada institusi yang bernama warung kopi ini. Tanpa menggantungkan kucuran dana dari pemerintah, warung kopi memiliki peran aktif ikut menjaga dan melestarikan nilai-nilai keberagaman di tengah masyarakat.

“Mas, doyan walang ta?” kata Mas Aam menawari kami beberapa bungkus gorengan walang beras yang dibawanya dari Jatirogo.

“Wah, iki senenganku Mas!”, jawab saya spontan sambil mengambil sebungkus plastik gorengan walang. Saya memang penghobi kuliner walang goreng, jadi begitu ditawari, langsung saja belalang-belalang itu beterbangan ke mulut saya.

Mas Ikal sendiri kayaknya gak minat dengan kuliner walang, begitu juga dengan Mas Mutholibin. Hanya saya dan Mas Aam yang menghabiskan camilan ekstrim super pedas itu.

Setelah secangkir kopi saya habis, Mas Mutholibin mengajak kami cus ke lokasi, karena acara segera dimulai. Kami pun meluncur ke lokasi yang hanya berjarak sekitar lima puluhan meter dari warung kami nyangkruk.

Setiba di pondok, kami disambut baik oleh Gus Fuad, pengasuh pondok pesantren Raudlhatut Thalibin. Gus Fuad ini ternyata sangat akrab dengan dunia literasi, beliau bercerita bahwa dulu saat mondok di Makkah, beliau sering bertemu dan bergaul dengan para aktivis literasi dari FLP cabang Makkah. Tidak heran jika beliau menggagas acara bedah buku di pesantrennya.

Kami tentu sangat mengapresiasi dan bangga dengan sosok Gus Fuad, yang memberikan perhatian dan mendukung gerakan literasi di pesantren yang beliau asuh. Sehingga dalam acara haul masyayikh pondok, kegiatan bedah buku menjadi salah satu dari rangkaian agenda kegiatan.


Pengasuh pondok pesantren Raudlhatut Thalibin ini berharap kelak santri-santri bisa menjadi penulis yang baik, dan sadar berliterasi, karena santri adalah ujung tombak bagi keberlangsungan peradaban bangsa dan negara, karena kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari dunia literasi juga.