Senin, 31 Oktober 2016

Nabi Muhammad Bermi’raj di Sidratil Muntaha

Nabi Muhammad Bermi’raj di Sidratil Muntaha,
Orang Mu’min  Bermi’raj di Dalam Shalatnya.

Oleh : Joyojuwoto

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١)
1. Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
Ayat di atas adalah awalan dari Surat Al-Isra’ yang menceritakan sebuah perjalanan maha dahsyat yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban umat manusia, perjalanan ini tidak hanya menjadi misteri besar pada 1500 tahun silam, namun peristiwa itu juga akan terus menjadi misteri yang tidak akan terpecahkan sampai kapanpun. Ayat Al Isra’ ayat 1 merekam perjalanan Nabi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, sedang peristiwa kedua yang terjadi sesudah itu adalah peristiwa Mi’raj yaitu peristiwa bertemunya Nabi Muhammad saw dengan Allah swt secara langsung di Sidratul Muntaha. Hal ini terekam dalam firman Allah surat An-Najm 13-18 :
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (١٣)عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤)عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (١٥)إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (١٦) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (١٧)لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (١٨)
13. dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
14. (yaitu) di Sidratil Muntaha.
15. di dekatnya ada syurga tempat tinggal,
16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
17. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
18. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.



Mungkin dengan setetes pengetahuan yang Allah anugerahkan kepada manusia mereka mampu melanglang hingga ke penjuru jagad raya dan pelosok tata surya, namun peristiwa Isra’ dan mi’rajnya Nabi Muhammad saw akan tetap menjadi keajaiban yang tak terkalahkan sepanjang masa. Tidak untuk zaman dahulu bahkan esok yang akan datang.
Perjalanan Rasulullah saw yang terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke sepuluh kenabian adalah perjalanan untuk bertemu dengan Allah swt di Sidrotil Muntaha. Perjalanan ini bukan kemauan dari Rasulullah sendiri, namun perjalanan ini adalah kehendak dari Allah, oleh karena itu dalam surat Al-Isra disebutkan, “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya...”. Jika perjalanan ini adalah dari Allah untuk hambanya Muhammad maka apapun itu bisa terjadi. Keajaiban bagaimanapun juga sesuatu yang bukan hal yang mustahil bagi Allah swt. Karena Allah adalah Dzat yang “Fa’aalul lima yuriid” dapat memperbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.
Dalam tulisan saya di sini tidak ingin mempermasalahkan tentang peristiwa ini terjadi dengan cara yang bagaimana seperti yang banyak diperdebatkan, jika kita benar-benar beriman tentu apapun itu tentang Nabi Muhammad, kita wajib sami’na wa atha’na, begitu pula walau mungkin kita tidak mengimani  Nabi Muhammad, namun jika kita tidak mengkhianati tradisi ilmu pengetahuan maka perjalanan Nabi Muhammad sangatlah ilmiah dan tidak terbantahkan. Jangan karena keterbatasan kita dalam mencerna suatu peristiwa kemudian kita mengatakan itu hal yang mustahil, dan hanya orang-orang yang berpenyakit hati dan sempit wawasan saja yang tidak membenarkan peristiwa ini.
Peristiwa Isra’-Mi’raj ini terjadi setelah Rasulullah saw ditinggal wafat orang-orang yang menjadi pembela beliau dalam berdakwah. Istri beliau Khadijah yang menjadi sandaran keluh kesah dalam dakwah meninggal dunia, Abu Thalib yang menjadi pembela beliau pun menyusul meninggal dunia. Seakan Allah memang telah merencanakan dan memurnikan bahwa hanya kepada-Nya semata tempat bersandar dan meminta pertolongan dalam dakwah.
Rasulullah sendiri mengakui betapa dahsyatnya cobaan dan gangguan dakwah Nabi sepeninggal pamannya Abu Thalib. Dalam sebuah hadits beliau bersabda yang artinya : “Setelah Abu Thalib wafat, barulah aku mengalami gangguan yang paling tidak kusukai dari orang-orang Quraisy”. Tidak hanya itu saja, ketika Rasulullah berusaha mencari perlindungan dakwah di Thaif, namun justru orang-orang Thaif pun menolak beliau bahkan mengusir beliau dari tanah Thaif. Kepedihan demi kepedihan ini mencapai puncaknya, hingga Allah swt memberikan kegembiraan kepada Nabi dengan cara memanggilnya menghadap dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini.
Dalam rangkain peristiwa Mi’raj yang paling penting adalah pertemuan Nabi Muhammad saw dengan Allah swt yang tanpa perantara. Ketika melihat Allah, Nabi bersalam kepada-Nya :
التّحيّات الله والصّلوات والطّيّبات
Salam, segala puji dan kebaikan untuk Allah”.
Kemudian Allah pun menjawabnya :
الشلام عليك أي!ها النّبيّ ورحمة الله وبركاته
“Damai, besertamu, ya Nabi, juga kasih sayang dan berkah Allah”.
Nabi menjawab lagi :
السلام علينا وعلى عباده الصّالحين
“Damai beserta kita dan para hamba Allah yang taat”.
Kemudian semua malaikat yang menyaksikan peristiwa agung itu sama berkata :
أشهد أن لا إله إلاّ الله وأشهد أن محمّدا عبده ورسوله
“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.
Percakapan Allah dan Nabi Muhammad inilah yang akhirnya menjadi salah satu dari rukun shalat yang juga diperintahkan Allah swt pada saat itu pula. Shalat adalah satu-satunya syariat yang diturunkan langsung tanpa perantara. Langsung Nabi Muhammad berhadapan dengan Allah swt di Sidratil Muntaha. Melihat redaksi percakapan itu dapat kita ambil pelajaran bahwa shalat pada hakekatnya juga bagian dari peristiwa mi’raj. Tinggal orang yang shalat itu mampu menghadirkan diri di hadapan Allah atau hanya sekedar gerakan fighiyah semata.
Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa : As-shalaatu Mi’raajul Mu’min” artinya “Shalat itu mi’rajnya orang mu’min”. Dari hadits ini dapat diambil satu kesimpulan bahwa jika Rasulullah saw ketika menghadapi segala coba dan godaan dakwah, dan tidak ada lagi yang dimintai perlindungan maka Allah menyediakan diri-Nya sebagai pelindung. Begitu pula sebaliknya jika kita menghadapi segala ujian dan cobaan di dunia ini, maka tempat yang tepat untuk meminta perlindungan juga hanya Allah semata, yaitu dengan menjalankan ibadah shalat sebagai sarana mi’raj dan pertemuan seorang hamba kepada Tuhannya. “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu” (Al-Baqarah : 6).



Sabtu, 29 Oktober 2016

Padepokan Arga Wilis Jenu Tuban Diresmikan

Padepokan Arga Wilis Jenu Tuban Diresmikan
Oleh : Joyojuwoto

Di daerah Kec. Jenu Kabupaten Tuban tepatnya di dusun Gunung Desa Suwalan terdapat sebuah tempat yang dikenal dengan nama Arga Kalak Wilis. Di tempat itu terdapat situs yang konon adalah bekas Kadipaten Tuban, situs itu bernama Pertapaan Raden Haryo Randu Kuning. Di tempat itu dulu pernah dibangun pesanggrahan yang di wengku oleh juru kunci Kalak Wilis Mbah Irfan.

Sekitar tahun 2002 Mbah Irfan pernah berusaha menghidupkan pesanggrahan dengan cara menggelar pagelaran wayang kulit, namun usaha beliau belum berhasil membawa kemajuan bagi pesanggrahan Kalak Wilis. Di usia beliau yang semakin tua, Mbah Irfan ingin mencari pengganti sosok yang sekiranya bisa meneruskan cita-citanya.

Setelah melakukan olah batin dan laku prihatin kurang lebih selama dua bulan, akhirnya Mbah Irfan mendapatkan ilham tentang siapa yang kelak diserahi Arga Wilis. Atas petunjuk yang diterimanya maka dipilihlah Kang Thohir seorang tokoh agama dari desa Suwalan yang akan melanjutkan cita-cita dari mbah Irfan. 

Setelah ditunjuk sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap Arga Kalak Wilis, kemudian Kang Thohir bersama santri-santrinya membangun sebuah mushola di sebelah barat petilasan Haryo Randu Kuning, tepatnya dibawah pohon randu hutan. Mushola itu diberi nama  Mushola Nurul Yaqin, atau Padepokan Nurul Yaqin. Disebut Padepokan menurut Kang Thohir, karena mushola itu fungsinya dipakai ndepok, atau ndepe-ndepe di hadapan Allah swt.

Mushola itu kemudian diresmikan pada tanggal 28 Oktober 2016, bertepatan dengan tanggal 27 Muharram 1438 H, yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, kepala desa, serta warga masyarakat Suwalan dan sekitarnya.

Harapan besar dari kepala desa Suwalan bapak Sukirman pada saat menghadiri peresmian Padepokan Arga Wilis, dan juga harapan dari mbah Irfan sebagai juru kunci Arga Kalak Wilis agar supaya kelak Padepokan Arga Kalak Wilis bisa membawa berkah dan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Menebar kebaikan, serta mendapatkan barakah Allah swt, dan mendapatkan syafaatnya Rasul yang mulia.


*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” bisa dihubungi di WA 085258611993

Jumat, 28 Oktober 2016

Inilah Keuntungannya Jika Kamu Sakit

Inilah Keuntungannya Jika Kamu Sakit
Oleh : Joyojuwoto


Sakit adalah siklus wajar yang dialami oleh seseorang, hampir mayoritas manusia tertimpa yang namanya sakit, baik itu yang skalanya ringan mulai dari flu, sakit kepala, panas badan hingga mungkin yang berat seperti tumor ganas, kanker, diabetes dan lain sebagainya. Kondisi sakit yang menimpa seseorang pada hakekatnya adalah ujian yang diberikan oleh Allah swt kepada hamba-hambanya. Ketika kita tertimpa musibah berupa sakit hendaknya kita bersabar dan berikhtiar untuk meminta kesembuhan kepada Allah swt melalui pengobatan dan do’a.

Selain sebagai ujian sakit pada hakekatnya juga merupakan nikmat dari Allah swt dalam bentuk lain. Dengan sakit bisa jadi seseorang lebih selamat dan menjadi lebih baik dibanding kondisi sehatnya. Karena seorang hamba tidak pernah tahu rahasia di balik Allah memberikan rasa sakit kepadanya. Bagaimanapun kondisi seseorang yang terpenting ia bisa bersabar dan bersyukur serta berprasangka baik kepada-Nya.

Jadi yang terpenting bagi seorang hamba sebenarnya bukan saat sakit atau saat sehatnya ia, namun sampai di mana kondisi seorang hamba mampu mendekatkan dirinya kepada Allah swt.  Sebenarnya ada beberapa keuntungan yang dapat dipetik bagi seorang yang sakit, keuntungan itu diantaranya adalah :

1.   Terhapusnya dosa
Dalam surat Asy-Syura ayat 30 Allah swt berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (٣٠)

30. dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Ketika seseorang terkena musibah termasuk di dalamnya adalah sakit, maka Allah swt akan memaafkan sebagian besar dosa-dosa hamba, bukankah dengan dihapuskannya dosa-dosa di dunia maka Allah sebenarnya sedang memberikan anugerah yang tidak terkira di kehidupan seorang hamba asal ia bersabar dengan sakitnya dan tidak mengeluh dan berputus asa dari rahmat-Nya.

Dalam sebuah riwayat hadits juga dijelaskan, jika seorang hamba sedang sakit maka Allah memerintahkan kepada empat Malaikat untuk mendatanginya. Malaikat pertama bertugas mengambil kekuatannya sehingga ia lemah, Malaikat kedua mengambil rasa lezatnya makanan yang ia makan, Malaikat ketiga mengambil cahaya wajahnya, sedang Malaikat yang keempat bertugas mengambil dosa-dosanya. Jika seorang hamba telah sembuh dari sakitnya, maka Allah memerintahkan Malaikat-malaikat tadi untuk mengembalikan apa yang telah diambilnya kecuali malaikat yang keempat.

2.   Bukti Cinta Allah Kepada Hamba
Cinta Allah kepada seorang hamba tidak melulu diwujudkan dalam bentuk anugerah kenikmatan. Kadang bukti cinta Allah bisa berupa rasa sakit yang diberikan-Nya kepada hambanya. Nabi Ayub adalah seorang Nabi yang menjadi kekasih dan kecintaan Allah swt. Beliau diuji dengan derita dan sakit yang terus menerus menimpanya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda :

إن الله إذا أحبّ عبدا إبتلاه
Artinya : Jika Allah mencintai seorang hamba maka hamba itu akan diujinya.

Jadi ketika seorang mengalami sakit, maka berbaik sangkalah kepada Allah, bahwa Allah swt sedang benar-benar mencintainya.

3.   Sarana Instropeksi Diri
Seorang yang tertimpa suatu penyakit akan merasa ia sedang butuh kepada sesuatu. Lha perasaan butuh inilah yang menjadikan seseorang instropeksi diri. Ternyata dia bukanlah manusia super yang tidak membutuhkan orang lain. Perasaan super atau sombong karena dia tidak pernah sakit sangat berbahaya sekali. Seperti Fir’aun yang selama hidupnya tidak pernah merasakan sakit sehingga ia mendakwakan diri sebagai Tuhan.

Oleh karena itu rasa sakit yang diderita oleh seseorang harus bisa mendekatkan dirinya kepada Allah swt, dengan demikian sakitnya akan berpahala dan menjadikannya dicintai Tuhan.

4.   Allah mengangkat Derajad Orang yang Sakit
Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas Ra, beliau bertanya kepada seorang sahabatnya, “Maukah kamu saya tunjukkan seorang wanita penduduk surga ?, sahabatnya menjawab “Ya”. Lalu Ibn Abbas menceritakan, “Wanita tersebut adalah seorang wanita berkulit hitam yang dating kepada Rasulullah saw kemudian berkata : “Wahai Rasulullah saw, aku terkena penyakit ayan (epilepsy)  dan pakaianku tersingkap ketika penyakitku kambuh, maka doakanlah kesembuhan untukku wahai Rasulullah”,  kata wanita itu kepada Nabi. Kemudian Rasulullah saw menjawab : “Jika engkau mau bersabar maka bagimu surge, dan jika engkau mau akan aku doakan kesembuhan untukmu,”. Wanita tersebut menjawab, “Aku bersabar wahai Rasulullah, tapi pakaianku tersingkap ketika aku kambuh, maka doakan agar pakaianku tidak tersingkap,” maka Rasulullah mendo’akan untuknya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari riwayat hadits yang panjang di atas bisa kita ambil kesimpulan jika seseorang terkena sakit dan ia bersabar serta  ridho atas sakitnya maka Allah akan mengangkat derajad orang tersebut dan menempatkannya ke dalam surga-Nya. Amin.



*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” bisa dihubungi di WA 085258611993

Sang Pengembara

 Sang Pengembara

Oleh : Joyojuwoto

Dia adalah Sang pengembara, seorang lelaki yang terbuang dari tempatnya berpijak, telah terhapus tanah merah tumpah darah, tercerabut dari akar desanya, terlepas dari pohon-pohon keturunan, tiada sanak kadang dan keluarga tempat ia bersandar, atau sekedar tempat menempelkan identitas. Bentangan langit dan hamparan bumi menjadi rumah dan tempat tinggalnya. Seorang lelaki yang telah kehilangan segalanya, bahkan ia pun telah lupa siapa dirinya sendiri. Hilang keakuannya, musnah jejak kakinya, dan kabur identitas dan lebur jati dirinya ia hanya mengikuti anggapan orang lain kepadanya.

Sang Pengembara itu hanya berjalan dan berjalan menuruti langkah-langkah kakinya, ia akan selalu ada di setiap prosesi kematian masyarakat entah itu di desa mana. Seakan ia telah mengetahui dan membawa lembaran jadwal kematian seseorang. Jika ada orang yang meninggal dunia lelaki pengembara itu selalu tampak hadir di sana, membantu pemilik rumah yang sedang ditimpa musibah dan kesusahan. Ia akan dengan sukarela membantu mengambilkan air untuk menyucikan si mayit atau membantu menata tempat duduk para petakziyah, membagikan air minum, rokok dan hal-hal lain yang bisa dilakukan.

Selain itu jika ada orang yang punya gawe resepsi pernikahan, sunatan, atau bancaan apapun dia juga selalu hadir untuk sekedar memberikan tenaganya jika dibutuhkan.  Begitulah keseharian dari lelaki itu yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Kang Mad, biasanya ia tinggal sekedar menumpang di langgar atau di pos-pos ronda. Hampir seluruh langgar di kampung ini ada bekas telapak kakinya, ada bekas sujudnya, dan lelehan keringat dan air matanya.

 Kang Mad selalu membersihkan langgar, jika lantainya kotor ia akan mengepelnya, dan juga mengisi padasannya, agar orang yang mau sholat langsung bisa mengambil air wudhu tanpa perlu menimba dari sumur. Kang Mad akan selalu berganti tempat, jika subuh ia berada di langgar pinggir kampung, nanti dhuhur ia pindah ke langgar di tengah kampung, saat waktu menjelang ashar Kang Mad biasanya telah berada di ujung langgar yang lain. Untuk magrib dan isya’ biasanya ia berada di masjid utama kampung. Ia yang memukul bedugnya, membunyikan kenthongan, mengumandangkan adzan serta menyalakan lampu-lampu masjid, begitulah kesehariannya berotasi dari satu langgar ke langgar yang lain, bergerak dinamis berputar bagai orang yang sedang menjalani laku thawaf di Ka’bah kehidupan.

          Satu hal yang kami sukai dari Kang Mad adalah jika ia sedang berada di langgar dekat rumahku, biasanya di waktu Asar, sesudah sholat kang Mad duduk-duduk di serambi langgar dan anak-anak kampung akan mengerumuninya agar ia bercerita.  Kang Mad memang pandai mendongeng tentang kisah-kisah para Nabi, Wali, dan orang-orang sholeh zaman dahulu, anak-anak selalu suka jika ia bercerita.

“Ayo kang sore ini cerita tentang para wali”

Seru beberapa anak sambil duduk mendekat membuat lingkaran mengerubungi Kang Mad yang sedang duduk santai di serambi langgar.

“Hehe..kalian mau cerita tentang wali, - wali siapa ? tanya Kang Mad kepada anak-anak dengan senyum yang sumringah.

“Sunan Kalijaga”...
“Sunan Bonang”...
“Sunan Kudus”...

Suara anak-anak ganti-ganti, bersautan meminta agar Kang Mad bercerita tentang Walisongo

“Sunan...emm..anu, Nabi saja Kang, Khidir, yang katanya masih hidup sampai hari ini”, seru Kadir, seorang anak yang berbaju hijau dan juga bersarung hijau.

Kadir memang berobsesi bisa bertemu dan berguru langsung kepada Nabi Khidir, entah mengapa, apa mungkin namanya yang memang mirip dengan Nabi Khidir itu yang menjadikannya ingin bertemu dengan sosok Nabi yang memiliki umur panjang, mendapat anugerah dari Allah hidup seusia langit dan bumi. Itu pula yang menjadikan Kadir sangat menyukai warna hijau, warna dari Nabi Khidir yang juga berarti memiliki arti Nabi yang hijau.

“Baiklah anak-anak, sesuai usulan temanmu Kadir, saya akan bercerita mengenai sosok Nabi Khidir” bagaimana, setuju ?

“Setuju...setuju... kang” Jawab mereka bersamaan.

Semua anak-anak serentak diam, mereka memasang telinga, dan wajah serius. Mereka khawatir jika ketinggalan jalannya cerita yang akan dibawakan oleh Kang Mad. Lebih-lebih Kadir, tentu yang merasa paling bahagia, ia akan mendengarkan kisah sosok Nabi yang selalu ada dalam hati dan pikirannya.

“Nabi Khidir adalah Nabi yang dianugerahi oleh Allah umur yang panjang, ya panjang sekali hingga hari ini dan nanti, selama matahari masih terbit dari ufuk timur, dan selama bumi masih dipijak oleh manusia” ucap Kang Mad membuka ceritanya.

“Bisakah kita bertemu Nabi Khidir Kang ? adakah amalannya ? tanya Kadir tidak sabar dengan obsesinya

“Bisa-bisa... kalian semua bisa bertemu dengan Nabi Khidir, karena Khidir sangat dekat dengan kita, Cuma ia selalu menyamar. Kadang Khidir berwajah seorang tua peminta-minta, kadang Khidir menyamar sebagai gelandangan bahkan sebagai orang gila”.

“Khidir adalah gurunya Nabi Musa, gurunya para wali dan penjaga agar kebaikan terus lestari di muka bumi, sekecil apapun itu kebaikan harus dipelihara. Tugas Nabi Khidir seperti namanya, yang berarti hijau, yaitu menjaga agar kebaikan selalu hijau, tumbuh berkembang tidak pernah layu dan  mati”

“Bekas jejak telapak kaki Khidir akan selalu ditumbuhi rumput-rumput, di padang pasir kering kerontang sekalipun. Jerami yang kering ketika diinjak oleh Khidir maka akan berubah menjadi hijau kembali, begitulah perumpamaan seorang Khidir”

“Wah... hebat ya Nabi Khidir, dia sekarang kira-kira di mana Kang ? tanya Kadir masih dengan wajah penasarannya.

Teman-teman Kadir sangat asyik mendengarkan cerita dari Kang Mad tentang Nabi Khidir yang misterius dan penuh keajaiban itu, sedang Kadir terus berfikir bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan Khidir.

“Nabi Khidir juga sangat dekat dengan air, karena air juga lambang kehidupan. Di dalam Al Qur’an diceritakan ketika Musa diperintahkan oleh Allah untuk mencari seorang guru yang akan mengajarinya ilmu hikmah, Allah menyuruh Nabi Musa agar mencari orang itu di pertemuan arus lautan” kata Kang Mad melanjutkan ceritanya tentang Khidir.

“Jadi Saya bisa mencarinya di tempat yang banyak airnya Kang ? tanya Kadir kembali

“Khidir itu sebenarnya diri kamu sendiri cah bagus, selama engkau terus berusaha untuk menebar kebaikan di dunia ini, sekecil apapun itu, baik kepada sesama makhluk Tuhan yang berupa hewan, tumbuhan, lebih-lebih kepada sesama manusia, maka ketahuilah pada saat itu Khidir sedang menjelma menjadi dirimu sendiri, bukankah Khidir suka menyamar ?” hehe...

“Kita bisa saja menjalani laku spiritual agar bisa bertemu dengannya, dan jika Allah swt memberikan anugerah-Nya, pada saatnya kita akan bisa bertemu dan melihat Khidir secara langsung, tapi sebenarnya bukan itu tujuan dari sebuah laku spiritual cah bagus”

***

Kadir mengeryitkan kepalanya, nasehat dan cerita yang disampaikan Kang Mad tentang sosok Khidir telah menyeret dan menenggelamkan batinnya, Kadir merasakan dirinya terbang melayang ke alam keheningan. Tiba-tiba Ia telah berdiri bermain hujan-hujanan di sebuah tanah lapang yang gersang. Ia merasa heran, di musim penghujan seperti ini mengapa tanah itu gersang. Tidak ada satu pun rumput yang tumbuh, seakan-akan tanah itu adalah tanah mati seperti terkena radiasi nuklir yang tidak bisa ditumbuhi rerumputan. Di tengah kebingungannya sekonyong-konyong datanglah seorang kakek tua berjubah warna hijau.

“Cah bagus, kamu sedang apa di sini ? Sapa kakek tua

“Bermain hujan-hujanan Kek” Jawab Kadir sambil melirik ke arah kakek yang menyapanya, wajahnya tidak asing seperti telah lama ia kenal. Namun kadir tidak begitu menghiraukannya.

“Ayo ikutlah aku, berteduhlah tidak baik terlalu lama bermain hujan-hujanan” ajak kakek itu sambil berjalan meninggalkan Kadir yang masih terbengong di tengah tanah lapang yang gersang. Kadir hanya tertunduk di bawah derasnya guyuran air hujan, sekilas ia melihat telapak kaki kakek itu berjalan menjauh meninggalkan dirinya yang masih terpaku.

Telapak kaki itu ....” Seru Kadir terkejut, di bawah rintik hujan, tanah yang tadinya tampak tandus tiba-tiba ditumbuhi rumput-rumput hijau, makin lama rumput itu makin banyak dan meluas memenuhi lapangan yang tadinya tandus. Sepanjang memandang mata Kadir hanya menatap warna kehijauan, ia mendongakkan pandangannya mencari kakek tadi, namun sang kakek juga telah raib  balik warna hijau.

“Dir... Kadir, ayo bangun, ceritanya sudah selesai tu, ayo bangun, ambil wudhu sana ! teriak Rahmat teman Kadir sambil membangunkan Kadir yang tidur sambil duduk.

Kadir terhenyak dari tidurnya, “Lho... sudah selesai toh ceritanya Nabi Khidir? di mana Kang Mad ?

“Ia telah pergi, mungkin ke Masjid kampung seperti biasanya Dir” jawab Rahmat.

Senja semakin senyap, matahari telah tenggelam di peraduannya. Adzan Magrib sayup-sayup berkumandang. Kadir terdiam, dalam bayangannya melintas wajah Kang Mad kemudian bergantian muncul wajah kakek yang ditemuinya di dalam mimpi, wajah itu kemudian menjadi satu.

Kamis, 27 Oktober 2016

Double Bom

Double Bom

Dengan cekatan jari-jemari tangan Ical membagi kartu remi kepada keempat lawan mainnya. Masing-masing pemain mendapatkan tiga belas kartu remi, sedang yang mendapat giliran bertugas mengocok kartu mendapatkan empat belas lembar kartu. Jumlah keseluruhan kartu remi adalah lima puluh tiga  lembar, kartu-kartu itu secara bergantian akan dibuang dengan aturan tertentu hingga tak tersisa, yang pertama kali habislah yang menang. Permainan itu adalah permainan poker, aturan mainnya mungkin tidak sama dengan aturan permainan poker yang digelar di bar-bar, atau kasino-kasino tingkat internasional. Namun setidaknya permainan itu mampu membunuh sepi dan mengurai penat setelah seharian mereka disibukkan oleh seabrek kegiatan yang menyita pikiran.
“Ayo saya yang membagi dulu kartunya, silahkan ambil tempat”, kata Ical memulai permainan malam itu. Ia begitu semangat menata kartu mengocoknya, kemudian membagikannya kepada lawan mainnya.
Dengan ditemani secangkir kopi, malam itu terasa  hangat dan semarak, apalagi kebul-kebul sigaret yang di hisap dan dihembuskan secara bergantian dan berirama oleh perokok-perokok melukis magis di kanvas-kanvas hitam pekatnya malam.
          Keempat pemain poker dengan penuh khusyu’ dan semangat mengambil lembar kartu yang telah dibagikan oleh tukang kocok. Nantinya tukang kocok ini diambil dari pemain yang nilai akumulasinya paling rendah. Nilai tertinggi dalam sekali permainan adalah tiga dan ini diberikan kepada pemaian yang pertama kali menyelesaikan permainannya, yaitu habisnya kartu yang di bawa. Pemain kedua yang selesai akan mendapatkan nilai dua, dan pemaian ketiga akan mendapatkan nilai satu, sedang pemain terakhir atau yang keempat tidak mendapatkan nilai, alias nol.
          “Mana buku catetannya, saya yang pegang” ujar hari sebagai pemain yang mendapatkan nilai tertinggi mengambil peran menulis skor permainan. Karena ia lebih sering menyelesaikan permainannya  terlebih dahulu.
          Permaianan ini akan diulangi lagi seperti awal dimulai hingga sepuluh kali putaran atau sesuai dengan kesepakatan bersama, dan masing-masing pemaian akan berusaka mendapat akumulasi nilai tertinggi. Pemain dengan skor yang paling rendah ialah yang kalah. Semua skor itu dicatat disebuah buku khusus, sebagai kitab sucinya permainan poker di sebuah gardu yang berada di sudut kampung itu.
          Kali itu entah tempat duduk yang dipilih Ical tepat di singgahsana dewi keberuntungan atau apa, setiap membuka kartu ia mendapat kartu pilihan. Mungkin itu adalah hari keberuntungannya, menurut perhitungan Jawa mendapatkan “Sri”-nya hari, dan berhasil mendapatkan tempat yang jauh dari Naga Dina. Padahal di malam-malam biasanya ia selalu mendapatkan kartu-kartu yang nilainya kecil, dan selalu kalah dalam permainan. Saya yang juga berada dilingkaran permainan malam itu ternyata kurang beruntung, sudah putaran yang ke terakhir nilai saya masih menduduki peringkat bawah, dan saya harus rela menjadi pengocok terbanyak malam itu. Bahkan yang paling menyedihkan saumpama di putaran akhir itu saya mendapat nilai full sekalipun saya tetap tidak akan menang. Selisihnya lebih dari tiga skor.
          Hanya keajaiban yang mampu menolong skor saya malam itu. Skornya ketiga lawan saya sudah di atas saya semua. Saya bisa menang jika memiliki rangkaian kartu bom atau double bom, kartu bom terdiri dari empat sampai lima kartu berurutan yang bisa dipakai untuk menaklukkan poker  atau angka dua yang dianggap memiliki nilai tertinggi dari semua kartu. sedang double bom dipakai untuk membunuh dua poker sekaligus yang diturunkan di gelanggang permainan. Walau sebuah kemustahilan double bom kadang juga akan muncul. Ia ibarat wahyu keberuntungan bagi pemegangnya. Jangankan double satu bom saja cukup membuat pemegang kartu berada di atas angin permainan.
          Namun tamatlah riwayat saya, walau tetap diam dan berusaha menyembunyikan kartu, ternyata kartuku tidak ada bomnya. Saya hanya bisa pasrah, dipastikan malaikat maut telah bertengger di kartuku. Saya kalah.
          “Hah..malam ini saya seperti sedang memangku Dewi keberuntungan, biasanya jari-jari saya sudah agak kaku jam sekian. Terlalu banyak kalahnya. Namun kali ini saya hampir selalu menang”, sombong Ical sambil menata kartunya. Dilihat dari caranya tersenyum dia memang sedang memperoleh kartu yang super. Skornya saat itu 12, sedang saya hanya 9. Jika saya mendapat nilai full 3, maka masih belum bisa menggeser skornya. Tamatlah saya, sedang Ical sudah sangat PD akan mengakhiri pertempuran dengan sangat sempurna.
          Mbah Moel yang sedari awal tidak pernah mengocok kartu, tampak santai. Kartu yang melekat di tangannya ibarat  pedang-pedangnya yang tajam. Sebagai jagoan yang sudah malang melintang di dunia poker ia dengan mudah mampu mempermainkan lawan-lawan mainnya, seperti seorang pesilat tangguh dengan jurus mabuknya dari kuil shaolin ia leluasa mengoyak dan mempermainkan lawan tandingnya. Namun kali itu ia tampaknya juga tidak begitu bersemangat. Tidak tahu kartu model apa saja yang dia pegang.
          Hari, ekspresinya juga biasa saja, karena apapun hasilnya ia tetap menang dan tak terkalahkan skor tertingginya. Sedang Ical sedari tadi tampak tersenyum riang, ia sepertinya memegang kartu Raja Naga yang tidak akan pernah tertaklukkan dan siap membelit dan meremukkan kartu-kartu lawannya.  Hanya saya yang tampaknya memegang kartu cempe. Kecil-kecil dan tak beraturan, seperti cempe yang kehilangan induk semangnya.
          Sebagai pihak yang kalah saya yang pertama melempar kartu di gelanggang perang. Kartu terkecil angka 3 saya lempar, kemudian kartu saya disambut oleh kartunya mbah Moel yang lebih besar, angka 5. Kemudian Hari pun menyambutnya dengan kartu angka 6. Ical yang sudah kepedean dari awal langsung menyambut dengan kartu naganya.“As..” Serunya penuh semangat.
          “Kartumu, kayak apa Cul, baru masuk angka tujuh sudah kau sambar dengan AS ? seru mbah Moel sambil sedikit memanasi suasana.
          “Haha...apapun kartumu  kali ini akan saya libas, lihat saja nanti ! Jawab Ical tetap dengan aura kemenangan di wajahnya. Ical kemudian melemparkan double kartunya.
          “Double Sepuluh” serunya mantap. Saya yang tidak punya hanya bilang, lanjut !!. kartu doublenya Ical segera disambut mbah moel dengan antusias melempar kartu pamungkasnya, Double King !. Mashari pun hanya bilang lanjut, ia ternyata juga tidak memiliki doble kartu. Ical yang ternyata telah menyetel kartunya double-double segera menyambutnya dengan teriakan nyaring “Double poker !     
          Selesailah permainan dengan turunnya raja naga double poker, susah mencari tandingan kartu yang super itu. Dan saya pasti menjadi pihak yang kalah malam itu.
          Saya hanya memandangi ekspresi wajah Ical yang bahagia bagai remaja yang di lamar oleh Cinderella matanya berbinar. Namun “Astaga ! saya sangat kaget, di belakang Ical tiba-tiba muncul dua ekor naga besar yang sedang menungguinya. Naga itu menunjukkan taring-taringnya yang tajam bagai pisau-pisau komando Kopassus dan siap menerkam. Ah ini ternyata yang akan menjadi keajaiban malam yang mulai sunyi. Tempat duduk saya yang sejak tadi memang terasa panas seakan mulai sejuk dan nyaman. Dewi Sri telah berpindah, dan singgahsananya seakan sekarang telah saya duduki. Waktu menunjukkan pukul 00.01 WIB, dan blarrr...!!!!
          “Double boommm !!!! teriak mbah moel nyaring sambil berjingkrak. Saya dan hari pun tertawa terpingkal melihat Ical disergap naganya sendiri, hancurlah benteng-benteng pertahanannya yang sangat kuat itu.
Ical pun terkaget, hingga ia hampir saja terjengkang dari tempatnya duduk, ia tidak menyangka kartunya yang Raja Naga, double poker yang super itu ditaklukkan oleh cempe-cempe yang berjejer berurutan membentuk delapan formasi sehingga menjadi double bom. Dan permainan pun berakhir dengan kekalahan di pihak Ical. Walau skornya sekarang sama dengan saya 9. Mujurlah saya malam itu.
Malam semakin larut, kami pun puas menikmati malam itu dengan permainan poker. Kadang di dalam hidup ini seperti dunia perpokeran, kadang menang kadang kalah, bersusulan saling bergantian. Begitupula komposisi hidup seperti lembar-lembar kartu yang selalu berubah dan beragam, namun kita harus bisa mengolah dan mengombinasikannya dengan baik dan tepat. Melepas atau menahan kartu pada saat yang tepat pula, hingga kemenangan dapat kita dapatkan.
Tidak jarang kartu yang kita miliki menyesuaikan kondisi hati. Entah karena koneksitas yang tak terbatas di dunia ini, olah rasa itu sangat berpengaruh dalam permainan. Oleh karena itu sebagaimana roda yang selalu berputar kemenangan dan kekalahan adalah hal yang lumrah dan biasa. Jadikan semua itu sebagai pelajaran yang berharga, galilah hikmah yang terpendam di dalamnya. Semua itu adalah bagian dari dinamika kehidupan. Maka mainkanlah kartu kehidupanmu dengan baik dan tepat agar agar kita tidak kehilangan cita rasa hidup yang beragam dan penuh warna.

Rabu, 26 Oktober 2016

Janji Suci di Lembah Cinta

Janji Suci di Lembah Cinta
Joyojuwoto*



Musim kemarau baru saja tiba, pohon-pohon jati di puncak bukit Lodito meranggas, daunnya berguguran diterpa angin siang yang panas. Burung-burung beterbangan mencari makanan untuk anak-anaknya di sarang, nanti jika senja tiba burung-burung itu akan pulang ke kandang menemui induk dan anak-anaknya yang menunggunya sepanjang hari. Pohon-pohon di lembah bukit itu tampak lesu memandang langit yang juga  diam membisu.

Cinta semesta mengatur harmoni kehidupan makhluk-makhluk Tuhan di jagad raya dengan keteraturan yang luar biasa. Ada siang ada malam, ada kalanya musim penghujan dan ada kalanya musim kemarau, seperti saat itu kemarau sedang melanda pedukuhan Juron. Sawah dan ladang mengering, rerumputan sama mati, hewan ternak hanya memakan jerami-jerami kering sisa panen tahun lalu, dan kadang juga hanya makan daun-daun bambu kering. Keadaan yang sulit ini  memaksa Sarip meninggalkan pedukuhan yang dicintainya guna mencari kerja di kota.

Di suatu senja di lembah Nganget di pinggiran pedukuhan, sejoli muda-mudi sedang duduk berdua di sebongkah batu di pinggiran sendang Nganget. Air sendang itu hangat sesuai dengan namanya Sendang Nganget, yang berarti Sendang yang airnya hangat. Sendang yang bersumber dari bukit Lodito itu menjadi saksi atas cinta suci sepasang kekasih Sarip dan Nimas.

“Nimas Ayu, ijinkan aku pergi, aku akan merantau ke kota” kata Sarip terbata-bata, lidahnya kelu ketika ia mengutarakan maksudnya hatinya kepada kekasihnya Nimas Ayu pada suatu senja di lembah Nganget”.

Nimas Ayu yang duduk di sebelah Sarip, hanya diam. Dari kedua bola matanya tampak butiran-butiran bening berkilauan tertimpa sinar emas matahari senja yang mempesona. Gadis cantik itu masih diam seribu bahasa, ia berusaha menahan mutiara-mutiara yang akan berjatuhan dari kedua bola matanya yang mempesona.

“Ini demi masa depan kita, tak ada yang bisa kita harapkan dari desa ini jika musim kemarau seperti sekarang, lihatlah bukit-bukit meranggas, tegal sawah tanahnya terbelah-belah, tidak ada tanaman yang hidup dari kekeringan ini”

“Aku berjanji, demi senja yang hadir saat ini, demi sendang Nganget dan bukit Lodito tempat kita memadu cinta kasih dan kesetiaan, pada saatnya aku akan pulang membawa cinta kasih dan kesetiaanku kembali kepadamu. Cintaku bagai permata yang tak kan pudar walau dimakan waktu” Janji Sarip kepada kekasihnya itu”.

“Aku takut kang Mas, kota adalah tempat yang jauh. Engkau belumlah tahu ujung pangkalnya, dan tentu di setiap sudut kota yang gemerlapan akan banyak gadis-gadis cantik yang akan memalingkan cintamu kepadaku. Aku takut kehilangan kamu Kang Mas.”

Nimas Ayu tak lagi mampu membendung air mata dan kesedihannya, ia menangis sesenggukan. Senja semakin gelap, angin bebukitan terasa mulai dingin sedingin kedua kekasih yang duduk mematung di tepi sendang. Gremisik dedaunan pohon jati  yang tinggal beberapa helai yang ditiup angin seperti melodi sepi yang mencekam. Walau senja telah beranjak pergi dan burung pun pun telah pulang ke sarang, namun sendang Nganget tidak sepi, bahkan justru semakin ramai, pengunjungnya sama berdatangan dan bertambah banyak.

Malam itu adalah malam minggu orang-orang banyak mempergunakan waktu libur akhir pekan untuk mandi dan berendam di kolamnya yang hangat dan berbau khas belerang. Menurut keyakinan yang entah dari mana air sendang Nganget mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, oleh karena itu tidak heran jika pengunjungnya membludak dari berbagai daerah bahkan dari luar kabupaten Tuban itu sendiri.

Sarip dan Nimas Ayu telah berkemas, mereka berdua pulang dengan membisu, sepi seperti senja yang baru saja berenjak pergi. Rumah Sarip dan Nimas tidak begitu jauh dari Nganget, tepatnya di tepi hutan di pinggiran desa, sehingga mereka berdua dengan mudah dapat ke Nganget dengan berjalan kaki tanpa kesulitan. Terlebih Sarip biasa menggembalakan ternak-ternaknya ke hutan, sedang Nimas Ayu sendiri juga sering mengikuti simbok dan bapaknya bertanam jagung di lahan persil milik perhutani.

***

Esok hari saat matahari merobek tirai malam, bening embun di pucuk-pucuk rerumputan dan daun-daun pun sama berguguran. Kicau burung kutilang di dahan  randu di belakang pekarangan rumah Nimas Ayu terdengar menggemaskan, semerbak harum angin pagi yang bertiup dari arah sawah dan tegalan membawa hawa kemurnian desa. Suara lenguh sapi, kokok ayam, dan kambing-kambing yang mengembik menyemarakkan desa kecil di tepi hutan jati itu.

Nimas Ayu baru saja bangun, hatinya risau, matanya sayu, menjelang pagi ia baru bisa memaksa kedua kelopak matanya untuk terpejam, ia terkenang kekasihnya yang akan pergi meninggalkan desa, demi mencari masa depan yang entah ada di mana.  

Nimas segera beranjak dari peraduannya, ia ke belakang rumah untuk mencuci muka di sebuah pancuran yang airnya jernih mengalir dari sebuah bukit di belakang rumah. Keluarganya tidak perlu membuat sumur untuk keperluan mandi, mencuci, dan minum. Sumber air yang dialirkan dari puncak bukit Lodito menggunakan batang-batang bambu, namun sayang sumber air itu makin lama makin mengecil dan kadang-kadang airnya mengering karena musim kemarau yang membakar bulan September.

Selepas membasuh muka Nimas Ayu terperangah, ada gelora semangat yang membakar dadanya di pagi yang sepi itu. Ia segera berlari ke arah rumah Sarip. Nimas Ayu berpacu dengan waktu, ia tidak ingin ketinggalan sedetik pun. Perjuangan Nimas Ayu tidak sia-sia, Sarip masih tampak di belakang rumah membelah batang kayu untuk dijadikan kayu bakar oleh simboknya.

“”Kang Mas... Kang Mas..., kau tak perlu pergi ke kota Kang Mas. Kau tak perlu mengejar masa depan seperti apa yang kau katakan tadi sore kepadaku”

Sarip terkejut dengan teriakan Nimas Ayu, dia menghentikan pekerjaannya. Sepagi itu peluhnya telah membasangi kaosnya. Sambil mengusap dahinya Sarip mendekati Nimas Ayu yang berdiri tidak jauh darinya.

“Nimas Ayu, tekadku sudah bulat, aku akan pergi ke kota. Tidak ada yang bisa menghalangiku Nimas, tunggulah aku di sini, di kampung kita ini. aku pasti kembali kepadamu. Aku berjanji !.”

Tapi Kang Mas... !

“Tidak ada tapi-tapian Nimas, hidup tidak hanya bermodalkan cinta saja, aku harus kerja, untuk anak-anak kita, untuk keluarga kita. Sepulang dari kota nanti aku pasti akan melamarmu Nimas, jangan khawatirkan Kang Masmu ini. Jangan khawatirkan cintaku yang seteguh bukit di belakang kampung kita itu Nimas, tunggulah nanti sampai pohon-pohon jati itu bersemi, aku pasti akan kembali.”

“Nah... itu Kang Mas maksudku. Masa depan ada pada puncak bukit itu. Lihatlah Kang Mas, air bebukitan itu bisa menciptakan sendang, dan juga mengalirkan air yang jernih yang kita pakai untuk keperluan sehari-hari”

“Apa maksudmu Nimas, aku belum begitu paham ?

“Begini Kang Mas, kemarau seperti ini kan yang menjadi masalah buat kampung kita ini, saya punya ide Kang Mas, mari kita gali sumber air yang ada di puncak bukit itu. Kita buatkan saluran hingga ke tegal sawah penduduk kampung, agar bisa dipakai untuk pengairan di musim kemarau”.

“Usulmu sangat luar biasa Nimas, dari mana kau bisa menemukan ide yang cemerlang itu ? kita masyarakat pedukuhan sini memang tidak pernah memikirkan potensi sumber air dari puncak bukit di belakang kampung kita. Penduduk kampung tidak akan kekurangan air lagi jika musim kemarau seperti ini”.

“Semalam saya tidak bisa tidur Kang Mas, memikirkan engkau akan pergi ke kota, dan tadi saat saya membasuh muka saya teringat dengan air dari pancuran bambu di belakang rumah, saya terpikir puncak bukit di sana Kang Mas”

Jadi Kang Mas setuju dengan usulku ? dan Kang Mas tidak akan pergi ke kota kan ?

Langit pagi itu semakin cerah, matahari bersinar terang, kabut-kabut tipis mulai menghilang. Wajah Nimas Ayu pun cemerlang, matanya bersinar bagai matahari kembar. Angin pagi membelai dedaunan, rumput dan ilalang pun ikut bergoyang, melodi cinta sepasang anak manusia mengalun merdu di lereng-bereng bebukitan membangun harmoni kehidupan surga di pedukuhan yang terpencil nan sepi.

Pagi itu, Nimas Ayu dan kekasihnya pergi ke puncak bukit, menelisik semak belukar, mengais tanah-tanah padas bebatuan, mencari sumber air sebagai sumber kehidupan pedukuhan. Mereka telah merencanakan membuat kanal untuk disalurkan ke bawah bukit. Mengairi tegal dan sawah-sawah yang kering. Sarip juga telah merencanakan untuk merundingkan proyek besar itu kepada kepala pedukuhan. Hutan-hutan yang kerontang di sepanjang bukit harus direboisasi kembali, pohon-pohon di sekitar sumber air harus dilindungi demi kehidupan masa depan dan anak cucu yang lebih baik.

Di tepi sendang, di bawah pohon jati saat matahari tepat di garis tengah cakrawala langit, disaksikan langit dan bumi, serta pohon-pohon jati yang meranggas sunyi, sejoli muda-mudi itu mengikat janji suci.

“Nimas Ayu, tunggu aku pasti melamarmu, saat nanti pohon-pohon jati itu bersemi kembali, dan kembang-kembangnya mekar berseri”