Senin, 26 September 2016

Mutiara Surat Al Lahab

Mutiara Surat Al Lahab

Surat Al Lahab diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW berkenaan dengan pembelaan Allah atas dakwah Nabi yang disampaikan kepada kaumnya. Setelah Nabi Muhammad SAW menerima risalah kenabian di gua Tsur, beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Orang-orang yang menjadi pengikut Nabi di awal dakwah inila yang kemudian mendapatkan julukan as sabiquunal awwalun, orang-orang yang pertama kali masuk Islam.

Setelah dakwah Nabi secara sembunyi-sembunyi berhasil mendapatkan beberapa pengikut, akhirnya Allah SWT memerintahkan Nabi dakwah secara terang-terangan. hal ini ditandai dengan turunnya surat AL Hijr ayat : 94 yang berbunyi :
فَصْدَعْ بِمَا تُؤمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ
Artinya : “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

Selain itu Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mendakwahi kaum kerabatnya sebagaimana dalam firman-Nya :
وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ اْلاَقْرَبِيْنَ
“Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”

Kemudian Rasulullah SAW mengumpulkan famili-famili beliau, dan beliau pun kemudian berkata kepada mereka : “Wahai kalian semua saya ingatkan agar kalian mengesakan Allah SWT dalam beribadah kepada-Nya. Jika tidak maka kalian semua akan disiksa oleh Allah SWT dengan siksa yang amat pedih. Kemudian Abu Lahab pun berkata : “Semoga engkau celaka wahai Muhammad, jadi hanya karena ini kita semua engkau kumpulkan ? Kemudian Abu Jahal pun pulang dan di jalan sambil menggerutu : Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, mudah bagi saya, cukup dengan kekayaan maka siksa itu bisa saya beli. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu dari Allah yang berbunyi :
ما اغنى عنه..الخ
Istri Abu Lahab yang bernama Ummu Jamil saudara Abu Sufyan bin Harb dan suaminya Abu Lahab itu termasuk golongan orang yang mulia di kota Makkah. Karena begitu bencinya kepada Nabi Muhammad SAW Ummu Jamil mencari sendiri kayu yang berduri. Jika telah mendapatkan satu gendongan, kayu berduri itu disebar di jalan yang dilewati oleh Nabi Muhammad SAW pada saat malam. Pada suatu hari ketika Ummu Jamil mendapat satu bongkok kayu ia menggendongnya dengan selendang dari kulit kayu. Karena sangat capek ia duduk di sebongkah batu. Saat itu datanglah Malaikat yang berubah wujud menjadi seorang manusia, kemudian tali yang dililitkan dileher Ummu Jamil ditarik oleh malaikat tadi, sehingga Ummu Jamil meninggal dunia dengan kondisi tercekik lehernya.

Jika kita membaca surat ini yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kita berbuat seperti yang dilakukan oleh Abu Lahab, yaitu menyombongkan harta benda kita yang nanti saat kita mati harta itu kita pakai untuk menebus dosa.

Kita harus berusaha mengembangkan iman kita, menguatkan apa yang kiya yakini dengan memperbanyak amal ibadah dan menuntut ilmu, lebih-lebih ilmu al hal, artinya ilmu yang kita pakai untuk menata anggota lahir kita seperti lisan, mata, dan lain-lainnya, dan juga ilmu yang kita pakai untuk menata anggota batin kita yaitu hati.


Sabtu, 24 September 2016

Cangkruk-kan Buku Komunitas Kali Kening #2

Bangilan, 23/9/2016- Seri kedua Cangkruk-kan Buku Komunitas Kali Kening (CBKK) di gelar di rumah Mas Rahmat Sholihin Bangilan, tepatnya selatannya kantor BRI Bangilan berjalan santai dan gayeng. Jika di edisi perdana kegiatan yang dilaksanakan adalah bedah bukunya Pramodya Ananta Toer, Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels, maka edisi kedua CBKK ini lebih santai, yaitu membaca cerpen secara bergantian.

Cerpen yang dipilih adalah karya A.S. Laksana yang berjudul "Dijual : Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya". Cerpen A.S. Laksana ini bercerita mengenai persoalan rumah tangga sepasang suami istri dengan beberapa anak dan juga pengasuhnya di sebuah rumah berlantai dua. 

Banyak pelajaran yang tersurat maupun yang tersirat dari teks-teks dan susunan kalimat dari penulis yang dapat kita ambil pelajaran, banyak pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh penulis melalui tulisannya. Hal itulah yang menjadi tugas dari pembaca untuk berusaha mengambilnya dan mengikatnya menjadi hal yang bermakna.

Membaca adalah sebuah aktifitas penting bagi perubahan-perubahan yang terjadi di tengah masyarakat, dengan catatan membaca dengan mengambil makna dari yang dibaca, jadi bukan hanya sekedar membaca. Sebuah puisi indah dari Wiji Tukul layak untuk kita renungkan bersama :

"Apa gunanya ilmu tinggi
kalau hanya untuk mengibuli

Apa gunanya banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu

Mari membaca sebagaimana yang dimaksud oleh puisi dari Wiji Tukul yang luar biasa itu. Membaca bukan dengan diam, namun membaca dengan terus bergerak dan bergolak, demi kemaslahatan bersama. Salam membaca.

Mutiara Surat Al Falaq

Mutiara Surat Al Falaq

Surat Al-Falaq ini turun bersamaan dengan surat An-Naas, Surat Al Falaq dan surat An-Naas menjadi pasangan surat yang biasanya dipakai untuk memohon perlindungan Allah SWT dari penyakit jasmani maupun penyakit rohani yang disebabkan oleh pengaruh sihir dari orang-orang yang tidak suka dan mendengki kita. Al Falaq sendiri berasal dari kata falaqa yang artinya memisah atau menyobek hingga luluh lantak, atau juga berarti fajar yang menghalau gelapnya malam. Gelap sendiri bermakna kejahatan yang mana kita perlu meminta perlindungan diri dari Allah Swt dari kejahatan itu.

Diantara sebab turunnya ayat ini adalah karena kondisi Nabi Muhammad SAW yang sakit karena terkena sihir yang dilakukan oleh orang Yahudi. Adapun kisah mengenai Nabi kena sihir adalah sebagai berikut :

Setelah kepulangan Nabi Muhammad Saw dari perang Khaibar memerangi orang-orang Yahudi dan membawa kemenangan, ternyata kemenangan ini menjadikan orang-orang Yahudi yang kalah perang tidak terima. Mereka kemudian sama mendatangi tukang sihir yang masyhur dari bani Zuraiq yang bernama Lubaid bin Al-A’sham. Karena mendapatkan iming-iming dinar, selanjutnya tidak membutuhkan waktu yang lama Lubaid segera melakukan aksinya, ia menyihir Nabi. Tidak lama kemudian Nabi Muhammad SAW pun menderita sakit kurang lebih selama empat puluh hari.

Pada saat beliau tertidur beliau bermimpi melihat dua malaikat, yang pertama malaikat itu berada di sisi kaki beliau dan malaikat yang satunya lagi berada di dekat kepala beliau. Kemudian dua malaikat itu sama saling bertanya.

Malaikat Pertama : Muhammad ini kena apa ?
Malaikat kedua     : Terkena Sihir.
Malaikat Pertama : Siapa yang menyihirnya ?
Malaikat kedua     : Orang Yahudi, namanya Lubaid
Malaikat pertama : Dengan apa ia menyihirnya ?
Malaikat kedua     : Memakai media helai rambut dan gigi-gigi sisirnya Nabi yang rontok
Malaikat pertama : Sihirnya  dipasang di mana ?
Malaikat kedua     : Ditaruh di mayang kurma yang diletakkan di bawah batu yang ada di dalam sumur Dzirwan.

Selanjutnya Rasulullah SAW terbangun dari tidurnya, kemudian beliau memanggil Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwan, dan Amr bin Yasir. Mereka bertiga diperintahkan untuk mencari mayang kurma yang berisi sihirnya Lubaid. Setelah sumur dikuras ternyata apa yang dikatakan oleh malaikat tadi benar adanya. Di bawah sebongkah batu di dalam sumur memang terdapat mayang kurma yang berisi helai-helai rambut dan bekas potongan-potongan sisirnya Nabi. Helai rambutnya Nabi diikat dengan benang bekas tali gendewa panah sebanyak sebelas ikatan, selain itu juga terdapat lilin yang dibentuk seperti patung yang menyerupai Nabi, patung lilin itu kemudian ditusuk dengan jarum sebanyak sebelas biji. Temuan itu kemudian diserahkan kepada Nabi.

Pada saat itu pula Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu dari Allah berupa dua surat yang jumlah ayatnya ada sebelas, yaitu surat Al-Falaq dan surat An- Naas. Kemudian dua surat tersebut dibaca dihadapan mayang kurma tadi. Setiap satu ayat selesai dibaca, ikatan-ikatan tali itupun terlepas satu-persatu. Begitu pula jarum yang tertancap di patung lilin pun ikut terlepas. Sakitnya Nabi pun akhirnya berkurang, setelah dua surat tadi selesai dibaca maka seluruh ikatan-ikatan tali sihir sama terlepas semuanya, begitu juga jarum-jarumnya juga sama terlepas. Nabi pun akhirnya sembuh dari sakitnya,  dan beliau pun sehat seperti hari-hari biasa.


Oleh karena itu untuk membentengi diri dari pengaruh jahat tukang sihir dan para pendengki hendaklah kita memakai surat Al Falaq dan An Naas ini sebagai perlindungan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi yang diriwiyatkan oleh Imam Bukhari yang artinya : “Rasulullah SAW meruqyah diri sendiri tatkala hendak tidur dengan membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas, lalu beliau meniupkan pada kedua telapak tangnnya, kemudian beliau mengusapkan ke seluruh tubuh yang terjangkau oleh kedua tangannya”.

Jumat, 23 September 2016

Dijodohkan Tuhan

Dijodohkan Tuhan

Umurku saat itu telah menginjak usia dua puluh delapam tahun, tepat setahun sesudah Rasulullah melangsungkan akad nikahnya dengan sayyidah Khadijah binti Khuwailid. Namun sayang salah satu sunnah dari beliau untuk menikah di usia yang ke 25 tak terpenuhi olehku. Padahal ini adalah sunnah yang katanya paling enak dan mudah untuk dikerjakan. Sunnah menikah ini banyak dikhutbahkan oleh para muballigh khususnya di bulan Besar, saat musim pengantin. Dalam ajaran Islam tidak ada kerahiban, menikahlah kalau ingin diaku sebagai umatnya kanjeng Nabi, jika kau miskin menikahlah maka kamu akan kaya, dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang berbau sugestif di ucapkan oleh sang penceramah.

Kegalauan diriku mencapai puncak Himalaya, walau aku sendiri tidak pernah tahu di mana puncaknya, kerisauanku mencapai tingkat dewa walau aku juga belum pernah sekalipun bertemu dengan dewa. Mau menikah dengan siapa ? setelah menikah kerja apa ? adakah orang tua yang mau dan mempercayakan anak perempuannya bersanding dengan pemuda tanpa penghasilan ? dan masih banyak lagi tanda tanya-tanda tanya yang harus aku buat di akhir kalimat,  pertanyaan-pertanyaan yang tiada habisnya.

Memang   saat itu diriku sudah mengajar di sebuah sekolah swasta di lingkungan pesantren, tapi posisi itu tidak punya daya tawar sama sekali. Mengajar di pesantren saat itu bukanlah sebuah pekerjaan yang menjanjikan materi. Sebagai guru pengabdian, seorang guru hanya mendapatkan gaji atau bisyarah sekedarnya saja, asal cukup dipakai beli sabun dan es jikalau kehausan. Aku pun tidak pernah berfikir lebih daripada itu. Ketika usia semakin dewasa, mau tidak mau diriku harus berfikir tentang masa depan, tentang calon istri, tentang rumah, tentang anak-anak dan seabrek tentang yang tiada habisnya.

Aku adalah sulung dari dua orang bersaudara, adik saya laki-laki sudah terlebih dahulu menikah. Dalam adat Jawa jika ada seorang kakak dilangkahi adiknya menikah, maka sang kakak harus dibuang di pluruhan (tempat pembuangan sampah). Ah...sungguh mengenaskan bukan, menjadi kakak bukanlah pilihan, belum menikah pun juga bukan keinginanku, namun nyatanya diriku harus kena kutuk dibuang di pluruhan tadi. Walau tentu pembuangan ini adalah simbolis semata. Baju yang biasa kupakai dibuang, kemudian diganti dengan hadiah satu stel baju baru dari adik, ya begitulah adat berbicara dengan cara yang tidak dimengerti dan kadang menyakitkan, walau diriku sama sekali tidak sakit hati ataupun jengkel.

          Di tengah kegalauan itu, suatu saat ketika diriku sedang duduk-duduk di serambi masjid pesantren sesudah shalat jama’ah Asar, tak disangka ketemu dengan seorang wali santri dari Waloram. Entah mengapa dan darimana kami berbincang dan saling bercerita. Dari obrolan ngalor-ngidul itu akhirnya nyrempet-nyrempet masalah nikah, Dengan agak tersipu aku meminta do’a restunyanya agar dapat segera mendapatkan jodoh. Karena memang saat itu sudah ada keinginan untuk menikah. Selain itu tentu juga faktor umur yang kayaknya juga sudah tepat dan cukup matang dalam membina sebuah rumah tangga.

Gayung pun bersambut, walau si wali santri tadi punya anak perempuan yang di pondokkan di pesantren bukan berarti aku ke-GRan akan diambil menantu dan dijodohkan dengan anaknya. Beliau kemudian memberikan amalan yang konon katanya sangat manjur bin mujarab. Dan aku pun dengan senang hati mendengarkan petuah dan nasehatnya.

“Begini mas, jika kamu pengin segera menikah, maka kamu harus diruwat” begitu kata pak wali santri mulai membuka dengan tanpa tedeng aling-aling ilmu rahasianya.

“Di ruwat bagaimana pak” tanyaku agak penasaran

“Carilah pisang jenis Raja kemudian ambillah di tandanan pisang yang pertama, atau istilahnya yang tadah hujan, kemudian mintalah ibumu untuk menyisiri rambutmu dengan sesisir pisang Raja” lanjut pak wali santri meneruskan wejangannya.

“Apa cukup itu saja pak” tanyaku semakin penasaran dan tidak sabaran

Jika untuk menikah hanya bermodal sesisir atau bahkan setandan pisang Raja, tak begitu sulit pikirku, ah...kenapa tidak dari dulu saja ilmu ini aku ketahui. Kalaupun tidak mampu beli pisang, di rumah pun bapak emak punya, jangankan hanya satu tandan satu kebun pun punya batinku.

“Ada lagi mas, kamu harus mengamalkan wiridan surat Yasin ayat yang ke-36, kamu baca sebanyak-banyaknya sesudah shalat fardhu” begitu pak wali santri memaparkan resepnya untuk mendapatkan jodoh.

“Aku pun mengingat-ingat surat andalan itu, tidak mungkin santri tidak hafal surat Yasin yang ke-36, dengan agak pede kubaca surat itu dalam hati, ah surat itu toh ternyata. Gumamku.

“Baik pak, sangat faham dan minta do’anya semoga amalanku nantinya maqbul diterima oleh Allah Swt dan segera dipertemukan dengan sang jodoh”
Obrolan itu pun akhirnya selesai dengan turunnya ijazah ajaib itu, karena waktu sudah sore bapak wali santri tadi pamit untuk pulang. Kami pun bersalaman. Suasana menjadi sepi, aku sendiri diam dan merenung di serambi masjid pesantren. Pikiranku kemana-mana, berfikir dan menebak-nebak nama siapa yang akan kubawa ke hadapan Tuhan untuk kujadikan istri. Hingga tak terasa bedug magrib pun bertalu, suara muadzin dari toa masjid membuyarkan lamunanku.

Hari-hariku pun terus berlalu, setiap usai shalat tak lupa diriku menghadap Tuhan sambil memuji-Nya, mensucikan-Nya, serta mengagungkan asma-asma-Nya. Tidak lupa bacaan-bacaan shalawat kuhaturkan untuk kekasih-Nya yang mulia, Muhammad Rasulullah Saw.

Menurut yang aku dengar dari guru-guruku do’a itu harus didahului dengan shalawat, karena shalawat diibaratkan perangko dalam mengirimkan surat. Tanpa itu do’a kita sukar untuk diterima, atau bahkan sia-sia. Setelah ritual pujian dan shalawatan baru kemudian dengan membaca ijazah Yasinan ayat yang ke-36 “Subhaanal lazdii khalaqal azwaaja kullahaa mimmaa tumbitul ardu wa min anfusihim wa mimmaa laa ya’lamuuna” terus saja do’a-do’a itu kulantunkan, batinku seakan sedang melayang ke langit sap pitu untuk ketemu Tuhan dan meminta berkah serta anugerah-Nya.

          Untuk menajamkan do’a-do’a permintaan agar segera menemukan jodoh, Aku pun melakukan tirakatan, tidak tanggung-tanggung puasa sunnah terbaik kupakai yaitu puasanya Nabi Dawud. Sehari puasa sehari berbuka. Aku betul-betul sedang membersihkan ruangan batinku sehingga Tuhan berkenan hadir atau setidaknya singgah walau mungkin hanya sebentar, ya sebentar saja sambil mengucapkan sabda “Kun-Nya”. Jika batin kotor dan gelap mana mungkin Tuhan akan menyinggahi lorong-lorong batinku.

          Di tengah menjalankan tirakatan dan ritual membaca ijazah Yasinan, rencana demi rencana berkelebat di kepala, diantaranya adalah nanti akan kubuatkan sebuah proposal cinta, ya sebuah proposal yang akan kukirimkan kepada gadis-gadis yang nantinya akan kuketuk pintu hatinya. Sepertinya konyol, tapi ya begitulah namanya usaha, mungkin seperti seorang pengangguran akut yang sedang sibuk mengirimkan proposal kerjanya ke berbagai perusahaan-perusahaan. Diterima atau ditolak bukan urusan, yang terpenting maju dulu, dan berani dulu. Urusan lain biar belakangan saja.

          Selang satu bulan tanda-tanda Tuhan akan menurunkan pertolongannya belum juga kelihatan. Hari-hari masih gelap, tapi rasa galau dan risau serta kecemasan-kecemasan tidak mendapatkan jodoh serta tidak mendapatkan tulang rusuk sudah mulai hilang. Bahkan diriku sudah tidak fokus lagi untuk itu,  Sujud demi sujud, munajat demi munajat menjadi semacam kerinduan yang tak terkirakan. Bercakap-cakap mesra dengan-Nya adalah kebahagiaan yang tiada bandingnya. Ada rasa ketentraman dan kedamaian yang tidak dapat digambarkan. Semakin hari semakin ku merindukan saat-saat shalat dan bermunajat, ketika menjalankan shalat, seakan-akan tubuh batinku mengangkasa menaiki tangga-tangga cahaya menuju ke sidratil muntaha. Benar dawuhnya Kanjeng Nabi “Asshalaatu mi’raajul mu’min” shalat adalah mi’rajnya orang yang beriman, ya pengalaman batin yang luar biasa.

Ah jadi teringat kisah Nabi Idris yang tidak mau kembali ke dunia gara-gara ia mengambil sepatunya yang tertinggal di surga, atau ingat Nabi Ilyas yang juga ditangguhkan kematiannya karena ia tidak ingin kehilangan kenikmatan berdzikir kepada Tuhannya. Lalu mengapa Nabi Muhammad yang sudah diundang langsung oleh Tuhan di sidratil muntaha masih mau kembali ke dunia untuk menjalani segala kehidupan di dunia serta kodrat kemanusiaannya ? rahasianya Nabi Muhammad sangat sayang dan cinta kepada kaumnya. Tak mungkin beliau meninggalkan kaumnya demi kebahagiannya sendiri. Nabi Muhammad adalah pecinta sejati, namun kadang kita menyakiti perasaannya.

Jika kenikmatan-kenikmatan dalam shalat itu telah dapat direngkuh, rasa-rasanya enggan untuk mengakhiri shalat, ingin diri ini di posisi itu selalu, tepatnya saat merendahkan kepala serendah-rendahnya larut dalam bersujud. Dunia di hadapanku seakan hanya sebesar kerikil saja, mudah rasanya untuk menggegamnya, atau menelannya sekaligus. Tidak ada yang penting di dunia jika Tuhan dan Nur Muhammad berada di dalam dada. Mungkin ini yang dirasakan Kresna ketika ia bertiwikrama menjadi raksasa besar sebagai penjelmaan dari Sang Wisnu.

Makin hari cahaya ketuhanan semakin melingkupi, bahkan diriku sudah hampir lupa tentang jodoh, tentang proposal cinta, tentang sesisir pisang raja, atau tentang masa depan, tentang keturunan, serta tentang keduniaan-keduniaan. Atau bahkan tidak kufikirkan lagi apakah kaki ini masih menapak bumi atau sudah naik satu senti dari tanah. Mungkin ini yang dirasakan Rabi’ah Al Adawiyah sehingga ia tetap menjadi perawan suci hingga Tuhan sendiri yang menjemput cintanya dalam mahligai suci. Maha Suci Tuhan yang telah merengkuh hamba-hamba-Nya ke dalam pelukan-Nya.

Setelah sekitar tiga bulan dimabuk ketuhanan, akhirnya terjadi sebuah peristiwa yang menarik perhatianku dari pelukan-Nya. Bukan, tertarik terbuang namun lebih pada pengalihan perhatian saja. Tuhan melalui garis-garis takdir-Nya mengirimkan berita gembira. Saat itu ada dua mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi negeri yang sedang penelitian untuk skripsinya. Salah satunya rumahnya dekat dengan pesantrenku. Sebenarnya saat itu pun tidak ada yang istimewa, biasa saja dan semua berjalan prosedural dan administratif. Begitulah dalam hal yang biasa kadang tersimpan sesuatu yang luar biasa.

Dari diantara dua mahasiswa itu ternyata punya adik yang kebetulan dulu murid yang kuajar di pesantren. Namun begitulah cara Tuhan mempertemukan jodoh kadang tidak pernah diduga sebelumnya. Sudah lama aku tidak ketemu dengannya, karena ia melanjutkan studinya di kota lain. Karena mbaknya mengambil skripsi di sekolah di mana saya mengajar, kontak yang telah lama hilang itu akhirnya tersambung kembali.


Tuhan Maha Tahu, Diriku dipaksanya untuk menaiki satu level tingkatan yang lebih tinggi agar jodoh dapat kudapatkan. Bukankah Tuhan telah berjanji “Lelaki yang baik untuk perempuan yang baik” maka saat berada diri ini berada di level satu sedang jodoh kita berada di level dua, maka sampai kapanpun tidak akan pernah ketemu. Hampir selama tiga bulan Tuhan mentraining jiwa dan ragaku untuk mencapai frekuansi yang sama dengan calon istriku, yang levelnya di atasku. Atas izin-Nya kami pun bertemu dan bersatu dalam ikatan “miitsaaqan ghaliidan” membangun kebersamaan dalam mahligai cinta suci hingga pada saatnya nanti.

Kamis, 22 September 2016

Mutiara Surat An-Nas

Mutiara Surat An-Nas

Surat An-Nas adalah surat terakhir yang ada di dalam susunan Al Qur’an, surat ini termasuk surat Madaniyyah yang terdiri dari enam ayat. Surat An-Nas adalah termasuk ke dalam surat yang disebut sebagai surat al-Muawwidzatain, yaitu bersama dengan surat Al-Alaq yang berfungsi sebagai perlindungan diri dari hal-hal yang akan mencelakakan kita baik secara jasmani maupun rohani.

Di dalam surat Al-Falaq kita disuruh meminta perlindungan Allah dari empat perkara yang mungkin akan membahayakan badan jasmani kita, empat perkara itu diantaranya : Pertama dari kejahatan makhluk Allah, kedua kejahatan waktu malam, ketiga kejahatan tukang sihir, dan yang keempat kejahatan orang yang dengki kepada kita.

Di dalam surat An-Nas ini kita diperintahkan oleh Allah untuk meminta perlindungan dari hal-hal yang mungkin akan mengganggu dan membahayakan hati dan jiwa kita. Hal-hal yang mengganggu itu berupa waswas (kejahatan bisikan syetan), baik itu dari syetan yang berwujud jin maupun syetan yang berwujud manusia.

Waswas adalah sebuah telaga yang bermuatan energi negatif, jika energi ini mengalir dan menimpa seseorang maka orang tersebut akan mengalami sakit, baik secara dhohir maupun batin. Tegala waswas itu memiliki jalur atau aliran-aliran sungai yang menggerakkannya hingga menyentuh kita, oleh karena itu kita perlu mewaspadai aliran sungai dari telaga waswas. Aliran Pertama adalah ketamakan, aliran ini bisa dilawan dengan sikap tawakkal dan qona’ah.

Aliran kedua adalah amal atau pengharapan, yang mana aliran ini dapat kita potong dengan memperbanyak zikir kepada Allah SWT.

Aliran ketiga adalah syahwat al-dunya, nafsu keduniaan, kita dapat menyelamatkan diri kita dari syahwat dunia dengan cara mengingat selalu nikmat-nikmat itu berasal dari Tuhan.

Aliran keempat adalah bala’ atau kesusahan, jika kita tertimpa bala’ maka yakinlah Allah sedang berusaha menguji kita untuk menaikkan derajad kita di sisi-Nya, ambillah hikmah dalam setiap musibah.

Aliran kelima adalah kibr, atau kesombongan, bilamana kibr ini menyentuh hati kita maka berusahalah untuk berendah hati kepada sesama.

Aliran keenam adalah tahqir, yaitu meremehkan orang lain, aliran ini dapat dibendung dengan cara kita selalu menghormati terhadap manusia dan kemanusiaannya.

Aliran ketujuh adalah sikap kikir, sifat ini sangat dibenci Tuhan dan sebaliknya dicintai oleh syetan. Oleh karena itu aliran dari sifat kikir bin bakhil ini dapat kita atasi dengan sifat dermawan kepada siapapun.

Demikianlah Allah Swt mengajari manusia untuk melindungi diri dari gangguan waswas dari setan, sehingga kita bisa selamat darinya. Begitu pentingnya perlindungan hati hingga Allah memberikan penolak dan penangkal dari kejahatan yang mengancaam jiwa manusia, hal ini menjadi tanda bahwa menjaga kerusakan hati itu lebih penting daripada hanya menjaga kerusakan anggota badan jasmani saja. Oleh karena itu kita diperintahkan menolak kejahatan-kejahatan itu dengan meminta perlindungan Allah Swt, melalui perantara tiga asma kebesaran-Nya, yaitu : Rabbi An-Nas, Malik An-Nas, dan Ilahi An-Nas. Wallahu a’lam.


Senin, 19 September 2016

Semut Bertiwikrama

Semut Bertiwikrama

Semut adalah binatang kecil yang memiliki kemampuan laksana raksasa, semut mampu mengangkat beban delapan puluh kali lipat dari bobot tubuhnya. Tenaga dan kekuatan semut setara dengan kekuatan Anda jika Anda mampu mengangkat sebuah mobil, sungguh luar biasa strongnya bukan, dan itu hanya bisa dilakukan oleh manusia tiwikrama atau manusia yang berubah menjadi raksasa, seperti dalam dunia pewayangan atau seperti dalam film-film animasi.

Semut termasuk hewan yang memiliki perilaku berjamaah, gotong-royong yang solid, rapi, konsisten dan organizer. Lihatlah semut akan selalu berjalan dalam barisan dan taat terhadap aturan yang mereka sepakati dalam dunia persemutan,mereka juga termasuk hewan yang teramah dalam ruang lingkup dunia mereka. Saya dulu sering memperhatikan dan mengamati perilaku semut yang selalu memberikan salam dengan isyarat kaki depan diangkat, atau kadang dengan sentuhan-sentuhan sungutnya jika mereka berpapasan dengan semut lainnya, ya tentu salamnya hanya mereka yang tahu maksudnya.

Semut juga terkenal sebagai binatang yang amanah, tiap bagian dalam kehidupan semut telah diatur sedemikian rupa sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing, mereka akan mentaati dan bertanggung jawab dengan sangat teratur tanpa melakukan intervensi dengan tugas-tugas dari semut yang lainnya.

Dalam permainan-permainan tradisional masyarakat semut juga dijadikan sebagai simbol ketika kita sedang mengundi dengan jari-jemari kita sebelum permainan dimulai. Karena semut kecil ia disimbolkan menjadi jari kelingking, sedang ibu jari yang gemuk adalah gambaran dari gajah, kemudian jari telunjuk adalah manusia. Aturan pengundian itu jika jari kelingking ketemu jari telunjuk maka yang kalah adalah jari kelingking, semut melawan manusia, maka semutnya yang kalah, jika jari telunjuk ketemu ibu jari maka jari telunjukknya yang kalah, gajah melawan manusia maka manusianya kalah, dan yang terakhir jika jari kelingking ketemu ibu jari maka yang kalah adalah ibu jarinya atau gajahnya kalah melawan semut. Begitu sebuah logika yang dibangun oleh foklore masyarakat.

Hebatnya lagi nama semut ini diabadikan menjadi salah satu surat yang ada di dalam Al Qur’an, yaitu surat An-Naml (semut) yang diantara isinya menceritakan tentang kisah Nabi Sulaiman yang ketika itu berada di lembah semut. Kisah-kisah Nabi Sulaiman ini sangat melegenda, tidak hanya yang ada di dalam kisah Al Qur’an saja nama Nabi Sulaiman disebut, namun cerita-cerita atau dongeng fabel  juga banyak menyertakan nama Nabi Sulaiman yang memiliki kemampuan berbicara dengan binatang. Saya dulu sering didongengi Kancil yang setiap di dalam kondisi terjepit si Kancil ini mencatut nama Nabi Sulaiman demi keselamatan dirinya dari ancaman binatang lainnya.

Dari analogi-analogi serta kisah-kisah Al Qur’an di atas maka banyak pelajaran yang dapat kita petik dan kita ambil dari seekor semut, binatang yang notabenenya kelihatan kecil dan lemah namun menyimpan potensi dan kekuatan yang luar biasa.  Alam semesta dan segala isinya adalah kitab Tuhan yang terbentang luas untuk kita baca dan kita tadabburi maknanya, seraya kita selalu menyeru dan berdo’a : Wahai Tuhan kami, tiada Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Surat 3 : 14). 

Jumat, 16 September 2016

Agama Bedak dan Lipstik

Agama Bedak dan Lipstik

Sebutan  pak Kyai, ajengan, panggilan ustadz, label haji dan istilah-istilah lainnya belum tentu mencerminkan kepribadian seseorang. Jangan dulu tertipu dengan panggilan dan gelar, karena pada dasarnya gelar-gelar itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sikap beragama seseorang. Seorang yang beragama sejatinya tidak harus memakai gelar-gelar itu, karena agama adalah sikap bukan hanya sekedar asesoris semata. Namun sayang masyarakat kita terlanjur mempunyai pandangan yang keliru dengan masalah ini.

Sikap beragama juga bukan digambarkan dengan memakai sorban yang besar, memakai jubah panjang, hingga hal-hal lain yang bersifat asesoris semata, walau sebenarnya tanda orang yang beragama juga bisa dilihat dari tampilan fisik dan lahiriahnya. Namun sekali lagi kita jangan tertipu dengan hal itu semua. Lihatlah fenomena yang marak akhir-akhir ini, karena sudah bisa pasang surban, dipanggil pak kyai, bisa sedikit membaca dalil-dalil sudah  dianggap ahli agama. Ya agama hanya sekedar dipakai sebagai bagian dari infotainment belaka, agama hanya dipakai sebagai komoditas hiburan yang layak diperjual belikan.

Sikap orang yang beragama itu jelas, jumbuh antarane lahir dan batin, antara hati dan perbuatan itu singkron, njero abang njaba ya abang, njero putih njaba putih, tidak mencla-mencle itulah sikap orang yang beragama. Jadi agama itu timbul dari kesadaran bukan muncul dari sebuah kepentingan.

Sungguh sangat miris melihat fenomena beragamanya orang-orang di era sekarang, khususnya yang di ekspos di televisi-televisi, tentu tidak semuanya namun kita perlu mawas diri dan berhati-hati. Agama sekarang itu kedudukannya tidak difahami dan dihayati sebagai bagian dari tata nilai kemanusiaan serta keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun agama lebih ditempatkan pada posisi sebagai asesoris dalam dunia bisnis infotainment.

Dalam syair diwannya Imam Asy Syafi’I, beliau berkata :
إنّ الفقيه هو الفقيه بفعله, ليس الفقيه بنطقه ومقاله
Artinya : “Ahli agama adalah orang yang ahli dalam mengamalkan ilmu agamanya, orang yang hanya mampu berucap dan berkata-kata tentang agama belum tentu dikatakan sebagai seorang ahli agama”.

Dari pengertian diwan di atas diketahui bahwa orang yang ahli agama itu adalah orang yang mengamalkan ajaran agamanya, bukan orang yang hanya pandai ngomong belaka. Oleh karena itu jangan tertipu oleh gelar-gelar dan tampilan luarnya saja, jangan-jangan agama memang hanya sekedar dijadikan sebagai bedak dan lipstik belaka.


Kamis, 15 September 2016

Menjadi Santri Yang Cinta Membaca

Menjadi Santri Yang Cinta Membaca

“Nak...Jangan Mengaku menjadi santri ASSALAM
sebelum kalian cinta membaca” (KH. Abd. Moehaimin Tamam)

Kalimat itulah yang sering dinasehatkan dan digemblengkan oleh Mbah Yai Moehaimin Tamam di sela-sela beliau mengajar. Menurut beliau santri Pondok pesantren ASSALAM harus cinta membaca, kemanapun bawa buku. Sambil antri makan membaca, antri mandi membaca, jangan nganggur, jangan kosong, pokoknya waktunya harus dipenuhi dengan membaca. Tiada hari tanpa membaca, La yauma illa biqiraa’atin, tiada hari tanpa membaca, Not time without reading begitu yang sering mbah yai dawuhkan kepada santri-santrinya.

Begitulah kami para santri di pesantren dididik untuk menggunakan waktu sebaik mungkin dengan membaca. Tidak ada waktu kosong, jika capek maka beristirahatlah. Yang dinamakan istirahat itu adalah tabaadulil a’mal, ganti pekerjaan, bukan nganggur tanpa kegiatan. Jika membaca capek, ganti menulis, jika menulis capek, bisa menghafal pelajaran, bisa juga diselingi olah raga biar badan sehat dan jika telah capek maka lebih baik tidur saja. Jangan sia-siakan waktu kalian di pesantren ini dengan banyak bruwah dan nganggur tanpa mendapatkan manfaat apapun, begitu gemblengan yang sering saya dengar.

Saya merasa beruntung berada dilingkungan yang serba disiplin dan lingkungan yang menjadikan saya mulai cinta membaca. Ya tadi pamrihnya biar diaku menjadi santrinya mbah Yai, biar menjadi bagian dari santri pesantren. Tidak ada yang membahagiakan rasanya kecuali bisa menyandang gelar sebagai seorang santri.

Pesantren memang tidak hanya sekedar sekolahan, pesantren tidak hanya sekedar mengajari santrinya mengaji, namun lebih dari itu pesantren adalah tempat menempa kader-kader bangsa. Untuk mempersiapkan itu semua waktu yang tersedia tentu tidak akan cukup, oleh karena itu santri-santri perlu dibekali kemampuan membaca yang baik. Dengan membiasakan membaca tentu santri-santri akan memiliki kemampuan menyerap segala informasi baik dari buku maupun dari lingkungannya. Dari situlah diharapkan santri selalu uptudate dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Dengan membaca santri bisa membuka khasanah ilmu pengetahuan dan cakrawala berfikir yang luas hingga sesuai motto pesantren santri harus berwawasan luas.

Hal ini tentu selaras dengan visi dan misi pesantren yang mengedepankan santri-santri untuk menguasai bahasa pergaulan dunia, yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris. Menguasai bahasa ibarat menguasai kunci-kunci perbendaharaan ilmu pengetahuan. Jadi pesantren tidak hanya memberi makanan yang siap dikunyah oleh santri,namun pesantren pada dasarnya membekali santri-santrinya pancing yang nantinya bisa dipakai sendiri untuk mencari sumber air yang banyak ikannya, sehingga santri bisa mancing sendiri, mencari ikan sendiri, dan memanfaatkannya sepanjang waktu, dan membaca adalah salah satu kunci mandiri dan berdikari dalam menuntut ilmu, walau tentu juga diperlukan seorang guru.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” bisa dihubungi di WA 085258611993


Rabu, 14 September 2016

Nun


Nun
Nun...
Samudra ma’rifat Tuhan
Memendam peram rahasia semesta
Percik tinta-tinta pengetahuan
Lenyap di kedalaman lengkungmu

Nun...
Titikmu adalah mentari
Yang menebar pendar sabda suci Tuhan
Dalam kun fayakun -Nya
Meniti garis-garis cahaya takdir
menjelma menuju kodrat alam raya


Nun...
Lengkungmu adalah lembah rahasia
Titikmu adalah pepohonan
Yang diraut menjadi pena
Menari di atas jagad metacosmik
Lembar lauhil mahfuz

Nun...pena...jagad raya...

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” bisa dihubungi di WA 085258611993

Senin, 12 September 2016

Di Persimpangan Jalan

Di Persimpangan Jalan

Ilustrasi : google
Tiit..tit...tiiit... mbrem, mbreem...macetnya kendaraan, bau asap knalpot yang membuat perut mual, dan bising serta kerasnya jalanan menjadi ladang penghasilan bagi Sholeh untuk menangguk beberapa lembar rupiah guna mencukupi kebutuhannya sehari-hari, Ia hidup dengan emaknya yang telah berusia udzur di rumah, tepatnya di sebuah gubuk kecil di sudut gang perkampungan. Tiap pagi Sholeh harus berdesak-desakan mengatur laju kendaraan dipersimpangan jalan. Dengan berbekal peluit dan keahliannya melambai-lambaikan kedua tangannya Sholeh berusaha mengurai kemacetan.

Sholeh  berangkat dulu ya Mak” seru Sholeh pamit kepada emaknya sambil mencium tangan yang keriput yang  berbaring lemah di dipan kusam.

Di rumah emaknya akan selalu setia menunggu kedatangannya, ya... menunggu sarapan pagi yang diperoleh Sholeh dari warung Yu Marni di tempat ia menjalani profesinya. Maklum emak Sholeh sudah sangat tua, untuk berjalan ia harus di dukung, makan pun demikian. Sholeh dengan sabar akan menyuapi orang tuanya yang hanya tinggal satu itu. Ayahnya telah lama meninggal dunia ketika ia masih kecil, dan sekarang diumurnya yang ke 15, ia merawat emaknya seorang diri.

“Hati-hati di jalan ya nak”  begitu pesan emaknya serak, lirih dan nyaris tidak kedengaran. Namun Sholeh tahu itu, karena memang selalu pesan itu yang diucapkan emaknya ketika ia pergi keluar rumah.

Kendaraan berlalu lalang memenuhi jalan raya, makin hari bukannya makin berkurang tapi justru terus bertambah, sedang jalan tentu tidak bertambah lebarnya. Pagi itu Sholeh sudah berada di persimpangan jalan. Banyak kendaraan berlalu-lalang yang harus diaturnya bergantian untuk berbelok arah, maupun untuk menyeberang. Sholeh memang bukan petugas kepolisian yang mengatur lalu-lintas, ia bersama seorang kawannya Bang Shomad menjadi tenaga sukarela mengatur kendaraan di jalan raya. Bang Shomad lelaki berusia 60 an itulah yang dulu mengajak dan menawarinya untuk terjun di jalan raya.

Kiri-kiri...ayo terus” teriak Sholeh yang suaranya agak parau, sesekali peliut di tangannya ia tiup sambil melambai-lambaikan tangan atau menyetop kendaraan. Dari pekerjaannya itu Sholeh kadang diberi uang lima ratus perak atau kadang selembar uang seribu dari pengemudi yang baik hati. Dari kaca mobil yang dibuka oleh pengemudi itulah yang menjadi jendela rezekinya. Walau bermandi peluh dan didera rasa haus dan lapar sholeh terus menjalankan aksinya, karena memang ia belum sarapan pagi. Menunggu mendapat uluran uang ribuan sholeh baru berhenti untuk sekedar mengisi perutnya yang keroncongan dengan sebungkus nasi kucing  di warungnya Yu Marni yang berada di tepi jalan raya.

Jika Sholeh berhenti untuk sarapan maka gantian Bang Shomad yang tadinya duduk-duduk sambil menikmati kreteknya di sebuah lincak milik Yu Marni itu terjun ke jalan raya untuk menata arus lalu lintas. Tiga insan itu memang saling melengkapi, Yu Marni mengais rezeki dengan membuka warung, sedang Sholeh serta Bang Shomad menjadikan warung itu sebagai pangkalannya. Jika mereka haus dan lapar dari warung itulah mereka menyantap makanan. Kadang-kadang jika kondisi sepi, Yu Marni pun tidak segan-segan mempersilahkan Sholeh dan Bang Shomad untuk ngutang.

“Bagaimana kabar emaknya Sol ? tanya Yu Marni sambil membuatkan teh untuk Sholeh yang sedang lahap menyantap nasi kucingnya.

 “Ya begitulah Yu, emak hanya bisa berbaring di rumah” jawab Sholeh sambil terus menikmati sarapannya.

“Owh...walau begitu kau harus terus merawatnya Sol, jangan kau sia-siakan emakmu itu” lanjut Yu Marni menasehati.

“Tentu Yu, siapa lagi yang merawatnya kalau bukan saya, satu-saatunya anaknya. Owh ya Yu nanti saya dibungkuskan nasi sayur lodeh untuk sarapan emak ya, pasti beliau suka, tadi malam emak bilang minta sayur lodehnya Yu Marni”

“Tapi ya itu Yu...saya ngutang dulu”

“Iya Sol, gak papa...nanti tak bungkuskan, itu sana Bang Shomad kayaknya sudah kelelahan, kamu gantiin dia, biar dia minum-minum dulu...kasihan”

Sholeh pun beranjak meninggalkan tepat duduknya, ia menyeberang ke tengah jalan raya untuk menggantikan Bang Shomad yang memang sudah tampak kelelahan.

“Bang Sono minum dulu...saya gantiin” teriak shomad di tengah deru kendaraan yang berlalu-lalang.

Bang Shomad pun menepi, Sholeh kembali beraksi melambaikan tangannya, sesekali peliut di mulutnya ia tiup nyaring. 

Kiri-kiri...ayo terus” teriak Sholeh dengan suaranya yang parau, di tengah kesibukannya mengatur lalu-lintas, tiba-tiba mobil patroli Polisi dari arah belakang Sholeh mendekat, Bang Shomad yang duduk di lincaknya Yu Marni berteriak sambil berlari ke dalam gang perkampungan.

“Sholll...awas Polisi !!! larii...” teriaknya

Namun na’as bagi Sholeh, ia tidak sempat lari walau Bang Shomad sempat meneriakinya, dua orang Polisi yang duduk di bangku mobil bak terbuka itu segera bergerak meloncat dengan gesit untuk menangkapnya.

“Lepas..lepaskan Pak...saya tidak berbuat salah” teriak Sholeh sambil berusaha melepaskan tangannya dari jerataan borgol dua polisi yang menyergapnya.

Sholeh meronta, namun sia-sia. Tenaga nasi kucingnya tak mampu menandingi kekekaran otot-otot polisi yang tentu lebih bergizi dari sekedar nasinya Yu Marni. Karena terus berusaha meronta, dengan sigap polisi memukul tengkuk Sholeh.


Kepala Sholeh terasa pusing, deru kendaraan masih saja bising terdengar, begitu pula dengan bau asap knalpot membuat perutnya mual. Bayang-bayang emaknya yang masih tertidur di dipan dan belum sarapan samar-samar memenuhi kepalanya, ia ingat bungkusan nasi lodeh di Yu Marni. Namun tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Ber-Idul Adha melebur sifat Angkara

Hari Raya Idul Adha atau hari korban adalah hari raya yang sejatinya penuh makna dalam kehidupan sosial kita. Berkorban dan menjadi korban adalah sebuah peristiwa yang secara dhohir sama, namun memiliki tendensi, nilai dan makna yang berbeda. Menjadi korban adalah karena keterpaksaan untuk kehilangan, baik itu kehilangan secara materi maupun ruhani, sedang berkorban adalah kerelaan dan keridhoan untuk kehilangan. Karena ia merasa ia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, hanya Dzat Tuhan yang sejatinya ada.

Peristiwa berkorban ini hampir selalu ada dalam setiap kehidupan manusia. Agama dan kepercayaan apapun mengajarkan akan berkorban. Berkorban biasanya menggunakan media hewan yang disembelih melalui suatu upacara. Namun pada zaman dahulu berkorban juga ada yang menjadikan manusia sebagai medianya. Semisal masa Khalifah Umar Bin Khattab di Mesir yang saat itu gubernurnya Amr bin Ash. 

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika sungai Nil airnya mengering maka perlu ada seorang gadis perawan yang harus dikorbankan dengan cara di tenggelamkan ke dalam sungai. Setelah Islam masuk, ritual itu dihapuskan. Berkorban ini dianggap sebagai upaya pembuangan dosa dan kesialan yang dialami masyarakat.

Dalam ajaran Islam sendiri juga ada upacara pengorbanan, tepatnya di hari Idul Adha. Ritual ini sejatinya adalah pengorbanan terhadap Ismail yang dilakukan oleh ayahnya sendiri Ibrahim. Namun oleh Tuhan, Ismail diganti dengan seekor kambing gibas dari surga. Bisa dibayangkan jika Ibrahim benar-benar mengorbankan anaknya, tentu juga akan menjadi syariat  dalam agama, hanya karena kasih sayang dan kelembutan dari Ibrahim kepada umatnya Tuhan akhirnya mengganti bentuk pengorbanan manusia dengan  seekor gibas. Padahal kala itu mengorbankan manusia juga banyak terjadi di beberapa kalangan di masyarakat.

Ketika kita berbicara maslaah korban ini, sebenarnya sedang membicarakan masalah dimensi kemanusiaan. Manusia itu memiliki ego dan nafsu untuk menguasai dan memperbudak manusia lain. manusia itu sukar mengendalikan sifat tinggi hati dan angkara. Maka untuk meredam nafsu-nafsu negatif itu semua Tuhan mengajari agar kita siap berkorban.

Secara jasmani orang yang berkorban itu menyembelih binatang, menyembelih kambing, onta, sapi, dan kerbau, namun pada hakekatnya yang perlu disembelih adalah jiwa dan ego dari manusia itu sendiri. Bersamaan dengan mengalirnya darah korban, manusia juga harus membuang dan meleburkan sifat ego dan angkaranya ke dalam tanah, sebagaimana darah dari binatang yang disembelihnya. Oleh karena itu disyariatkan yang menyembelih korban adalah orangnya sendiri, kalau memang tidak bisa dapat diwakilkan. 

Jadi menyembelih hewan korban bisa bermakna yang sebenarnya dan bermakna filosofis.Sebagaimana korban itu yang diterima dan sampai di sisi Allah bukanlah darah dan dagingnya, namun kerelaan dan kesediaan jiwa berkorban dari manusia.