Sabtu, 25 Juni 2016

Sang Tiran


Sang Tiran

Fir’aun tidak pernah mati, mungkin Fir’aun di zaman Nabi Musa telah tenggelam di laut merah, namun gema dan kutukan jiwa Sang Tiran selalu berkumandangan keras di labirin-labirin jiwa manusia. Akan selalu ada Fir’aun-Fir’aun di sepanjang zaman, disetiap lembaran sejarah peradapan umat manusia. Karena Fir’aun bukanlah badan jasmani yang rusak, Fir’aun adalah ego ke-akuan abadi yang hampir selalu ada dalam diri manusia.

Di setiap perjalanan sejarah umat manusia Fir’aun akan selalu maujud dengan bentuk dan takaran yang berbeda, menyesuaikan besar kecilnya ego serta kemampuan untuk menjelma menjadi Sang Tiran. Tetapi tak perlu khawatir sunnatullah akan selalu mengirimkan Musa-Musa baru untuk menandingi dan meredam kepongahan dari Sang Tiran tadi. Ya selalu ada avatar kebaikan yang akan meredam kejahatan-kejahatan avatar yang muncul dari jiwa yang kelam. Kapanpun akan selalu muncul Ashabul Kahfi sebagai antitesa dari Raja yang lalim, akan selalu muncul Ibrahim sebagai lawan yang sebanding dengan Namrud, dunia dengan segala harmoninya akan mencipta satu tatanan menuju altar suci ke Tuhanan.

Ambisi dan kekuasaan selalu memberikan jalan bagi para tiran untuk memenuhi dan memuaskan ego dan ke-akuannya, sebagaimana Fir’aun yang dengan penuh kesombongan berkata kepada pembesar kaumnya, sebagaimana yang diabadikan Allah dalam Al Qur’an surat Al Qashaash ayat 38 :

38. dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku.

Jiwa tiran jika kebetulan muncul pada orang yang lemah tentu tidak masalah, ego ke-akuannya juga akan lemah, lain lagi ketika jiwa ini menemukan jodohnya pada orang yang berkuasa dan memiliki sumber daya, maka klaim Sang Tiran itu akan menjadi pedang tajam yang menebas kebenaran. Power tends to corrupt, atau lengkapnya Absolute Power tends to Corrupt Absolutely” sebagaimana judul dissertasi seorang jenius asal Jerman, Emmanuel Kant. Kata-kata ini muncul sebagai reaksi atas tuntutan demokrasi yang melanda daratan Eropa. Dan begitulah fir’aunisme ini berbuat sewenang-wenang, menginjak-injak konstitusi, memperbudak, bahkan mempertuhankan dirinya sendiri, mempertuhankan egonya sendiri.

Jiwa tiran ini sangat bertentangan dengan jiwa kebebasan yang digaungkan Islam dan yang di suarakan oleh nilai-nilai kebebasan universal. Oleh karena itu cepat atau lambat sang Tiran akan runtuh dengan sendirinya, karena jiwa tiran tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Siapapun yang melanggar sunnah zaman dengan segala perubahan dan dinamikanya maka dia harus siap-siap digilas dan dihancur leburkan oleh zaman. Oleh karena itu sangat menarik ketika kita melihat fenomena Napoleon Bonaparte yang berusaha meniru gaya fir’aunisme, namun ia gagal dan tidak mampu meniru pendahulunya Louis XIV, yang selalu berkata : “Letat cest moi...! Negara adalah saya !.” Napoleon gagal karena ia tidak mampu membangun citra sebagaimana Fir’aun dengan propaganda dusta dan kuasa wacananya.

Dua hal inilah yang dibangun oleh Fir’aun untuk meneguhkan posisinya sebagai Sang Tiran sejati. Bukan hanya sekedar membangun propaganda dan wacana dengan tuduhan dusta. Musa sebagai lawan politik Fir’aun dituduh dengan berbagai tuduhan yang memojokkannya. Tuduhan sebagai pengacau, tuduhan sebagai pengrusak dan lain sebagainya. Fir’aun berusaha membangun klaim-klaim sepihak secara subjektif untuk menghancurkan Musa, bahkan ia juga membuat pembenaran-pembenaran atas apa yang ia lakukan. Bahkan Fir’aun tidak segan-segan melakukan konfrontasi langsung, personal attack kepada Musa.

Inilah Sang Tiran dengan segala potensinya berusaha membangun dunianya sendiri, bahkan ia sampai mengaku sebagai Tuhan, dengan sombongnya Fir’aun  berkata : “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku” Namun sunnatullah tidak akan pernah berubah sehebat apapun Sang Tiran pada saatnya ia akan tumbang dan tenggelam, sebagaimana Fir’aun di hadapan Musa Alaihissalam. Joyojuwoto



Jiwa Pengecut

Jiwa Pengecut

Diantara sifat tercela yang bersemayam di dalam jiwa manusia adalah sifat pengecut, sifat ini jika telah menjangkiti diantara manusia maka kekuatan suatu bangsa akan lemah. Pengecut adalah tidak adanya keberanian menegakkan nilai-nilai kebenaran dikarenakan ketakutan-ketakutan yang kadang hanya dalam angan-angannya saja. seorang yang berjiwa pengecut tidak memiliki jiwa untuk membela bangsa dan negaranya jika diserang oleh musuh, mereka akan bersembunyi bahkan mereka tidak segan untuk berada di pihak musuh demi keuntungan dan keselamatan diri dan keluarganya.

Sifat pengecut ini muncul dalam diri seseorang  dikarenakan beberapa hal diantaranya adalah kecintaan yang berlebihan terhadap harta benda, sehingga ia ketakutan suatu saat akan kehilangan harta bendanya. Sikap pengecut juga muncul karena takut akan kesengsaraan dan kematian sehingga dalam diri seorang yang pengecut tertanam ketakutan terhadap sesuatu yang menjadi kewajaran bahkan sebuah kepastian. Semisal kesengsaraan dan kematian adalah sesuatu yang wajar di dalam kehidupan, tidak ada seorangpun di dunia ini tanpa dua hal tadi.

Sikap terlalu mencintai dunia dan menakutkan akan datangnya kematian adalah dua penyakit yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai penyakit “wahn” yang kelak menjangkiti umat Islam. Para sahabat menanyakan apa itu “wahn”, maka Rasulullah menjawab bahwa penyakit wahn adalah : “Hubbu al dun-ya wa karahiyatul maut”  yaitu terlalu cinta dunia dan takut mati. Padahal jelas-jelas sekali bahwa dunia kedudukannya sangat rendah dan ringan di sisi Allah  Swt, bahkan lebih ringan dibandingkan  sayap seekor lalat, begitu pula dengan kematian pun pasti akan mendatangi setiap makhluk yang bernyawa.

Jika demikian adalah suatu kebodohan jika kita terlalu merisaukan dunia dan mengkhawatirkan kematian yang telah menjadi ketetapan sejak zaman azali. Sikap takut dan risau  inilah yang kadang menjadikan orang-orang tidak berani bergerak untuk melawan musuh-musuh yang  menggerogoti pilar-pilar peradapan suatu bangsa hingga menjadikan bangsa menjadi lemah dan akhirnya secara perlahan akan  roboh dan tumbang.

Betapa banyak bangsa-bangsa yang mundur dan hancur dikarenakan penyakit pengecut ini telah menjadi wabah yang menjangkiti jiwa para masyarakatnya, mereka punya kemampuan untuk mempertahankan harga diri dan identitas bangsa, namun karena penyakit ini telah merusak keberanian dan jiwa ksatria dalam suatu masyarakat. Akibatnya bisa ditebak, mereka membiarkan segala kerusakan yang terjadi tanpa mau dan punya keinginan untuk membela harga diri bangsa dan negara.

Sikap diam dan tidak adanya keberanian untuk melawan orang-orang yang zalim ini adalah perbuatan yang sangat tercela, kadang-kadang kejahatan dan kemungkaran terjadi karena memang kita membiarkan perbuatan itu dan tidak berusaha untuk mencegahnya dikarenakan sikap pengecut yang bersarang di dalam dada kita. Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk melawan segala bentuk kedzaliman, baik itu dengan ucapan, perbuatan, maupun dengan kekuasaan jika kita memilikinya? Dan selemah-lemahnya iman jika kita hanya mengandalkan potensi lisan saja guna untuk mencegah segala bentuk kedzaliman.
Sikap pengecut ini sangat tercela sekali karena sikap ini sangat dekat dengan kemunafikan, yang mana kemunafikan adalah hal yang dibenci oleh Allah, dan orang munafiq akan ditempatkan di neraka yang paling bawah serta tidak akan ada yang seorangpun yang menjadi penolong bagi mereka, sebagaimana ancaman di dalam Al Qur’an surat An Nisa ayat 145 yang artinya :
¨   
145. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Begitu berbahayanya sikap pengecut ini maka kita perlu waspada jangan sampai penyakit ini melumpuhkan mental keberanian suatu bangsa hingga bangsa menjadi lemah tak berdaya. Oleh karena itu untuk mengantisipasi dan melawan sikap pengecut ini perlu kiranya kita pompakan semangat keberanian kepada generasi muda sebagai lawan dari sikap pengecut. Diantara hal yang bisa kita gunakan untuk mengobati sikap pengecut adalah :

1.      Menanamkan sikap keberanian untuk membela kebenaran
Keberanian adalah sikap utama yang menjadi lawan dari jiwa pengecut, oleh karena itu sikap ini harus kita bangun dan kita tanamkan dalam jiwa masyarakat. keberanian ini ibarat api yang akan meleburkan karat-karat pada besi, dan memurnikan emas dari loyang dan kotoran-kotoran. Sikap berani adalah sikapnya para Rasul dan ulama-ulama sholeh, karena di dalam hati dan jiwa mereka tidak ada yang ditakuti kecuali Allah Swt semata.

Sikap berani ini bisa bermakna berani secara moril dan materiil. Berani secara moril adalah sikap berani untuk melawan kedzaliman yang akan merugikan bangsa dan negaranya, dan memberi petunjuk guna kemaslahatan umat, sedang berani secara materiil adalah sikap berani berkorban dengan harta bendanya untuk kemakmuran dan kejayaan umat.

2.      Mengajarkan bela diri
Beladiri sangatlah penting guna menunjang keberanian seseorang. Rasulullah SAW juga mengajarkan agar kita membekali anak-anak kita dengan bela diri, sebagaimana yang beliau sabdakan : “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah” dari hadits ini jelaslah Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk menjadi umat yang mampu membela diri, bahkan dalam hadits lain jelas-jelas Rasulullah mengatakan bahwa orang mu’min yang kuat itu lebih dicintai oleh Allah daripada mu’min yang lemah.

3.      Menanamkan keyakinan akan Qadha’ dan Qadar Allah Swt
Keyakinan akan qadha’ dan qadar Allah sangat penting untuk membentuk pondasi keberanian yang akan mengusir jiwa pengecut di dalam jiwa. Sebagaimana yang saya tulis di atas bahwa diantara sebab jiwa pengecut adalah ketakutannya akan kekurangan harta dan kekhawatirannya akan kematian.  Tentu dua hal ini telah ditulis Allah di lauhil mahfudz sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk takut. Kita harus meyakini akan qadha’ dan qadarnya Allah bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang luput dari pengawasan-Nya, bahkan daun yang jatuh telah ada dalam ketetapan-Nya. Sesungguhnya keberanian menantang maut kita tidak akan mendekatkan kita pada kematian, begitu juga ketakutan kita akan kematian tidak akan menjauhkan kita padanya. Karena kematian adalah sebuah kepastian.


Demikian beberapa hal yang dapat kita tanamkan kepada umat bahwa tidak ada alasan untuk berjiwa pengecut, karena pengecut adalah sikap yang perlu kita singkirkan jauh-jauh dari kamus kemajuan dan kejayaan umat. Oleh karena itu mari bersama menyongsong kejayaan dan kebesaran bangsa dan negara dengan menjauhi sikap pengecut. Joyojuwoto

Senin, 20 Juni 2016

Jangan Marah

Jangan Marah

لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةْ

Artinya : Jangan marah, maka bagimu adalah surga (HR. Thabrani)

Marah adalah tabiat yang diciptakan Allah di dalam diri manusia sebagaimana tabiat-tabiat yang lain, seperti lemah lembut, kasih sayang, simpati, empati, toleransi dan lain sebagainya. Yang namanya tabiat tentu manusia tidak terhindar sama sekali dari amarah ini. marah sebenarnya tidak terlarang jika tepat dan sesuai dengan proposinya. Bahkan marah adalah energi yang berfungsi menjadi pembela bagi nilai-nilai kebaikan dan melindungi diri dari hal-hal yang merusak dari luar. Oleh karena itu Imam Syafi’i  pernah berkata : “Barang siapa yang dibuat marah tetapi tidak marah maka ia  adalah keledai”

Perkataan Imam Syafi’i tentu bukan dalam rangka menyelisihi sabda Nabi yang berbunyi Laa Taghdhob, namun beliau menempatkan marah pada proposinya. Jika nilai-nilai kebaikan dalam ajaran agama diabaikan dan dilecehkan tentu sebagai seorang mu’min kita wajib marah, namun marah kita bukan pada individunya, namun lebih pada sikap dan perilakunya. Marah terhadap hal-hal yang memang diperlukan tentu sangat wajar dan manusiawi, sedang larangan marah sebagaimana hadits Nabi di atas adalah marah yang dzalim, marah yang bukan pada tempatnya.

Marah yang dilarang adalah marah yang membutakan mata hati dan akal sehat, sehingga menyebabkan kita tidak adil dalam menilai sesuatu. Rasulullah SAW sendiri pun sangat marah jika larangam-larangan Allah diabaikan dan dilanggar. Namun kasih sayang dan kelembutan Rasulullah mengalahkan sikap amarahnya, sehingga beliau lebih banyak bersabar dan mengedepankan kasih  sayangnya kepada manusia. Bahkan beliau sendiri bersabda :
لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةْ
Artinya : Jangan marah, maka bagimu adalah surga

Rasulullah melarang mengumbar kemarahan karena orang yang sering marah itu tidak bisa mengendalikan diri dan mudah dikuasai oleh setan, karena setan memang berasal dari bara api. Di dalam Alur’an pun banyak ayat yang memerintahkan seseorang untuk menahan amarahnya, seperti dalam surat Ali Imron ayat 134 yang artinya : “Dan orang-orang yang menahan amarahnya”, kemudian dalam surat Al-A’raf ayat 199 Allah Swt juga memerintahkan seseorang untuk lembut hati dan pemaaf serta menjahui perbuatan orang-orang yang bodoh.

Oleh karena itu seyogianya seseorang berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghindari gelora amarah yang tak terkendali. Karena banyak kejadian yang sebenarnya sepele namun karena amarah telah menguasai jiwa maka akibatnya menjadi hal yang sangat tak terduga. Banyak kasus-kasus kekerasan yang terjadi di masyarakat bahkan berakhir dengan pembunuhan juga karena dipicu oleh kemarahan yang tidak terkendali.

Jadi ikutilah petunjun Nabi untuk jangan menumbar api kemarahan agar kita selamat, baik itu di dunia lebih-lebih di akhirat kelak. Jika seseorang dilanda api kemarahan hendaknya ia diam dan jangan melakukan hal apapun, karena tentu hasilnya tidak akan baik. Rasulullah SAW bersabda :
إِذَاْ غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
Artinya : “Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam”

Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada orang yang marah, jika ia dalam kondisi berdiri maka duduklah, jika dalam keadaan duduk bersandarlah, jika dalam keadaan bersandar maka berbaringlah. Jika ternyata belum reda hendaknya orang yang marah segera mengambil wudlu atau mandi, karena api hanya bisa dipadamkan dengan air. Nabi SAW bersabda :
إِذَاْ غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ بِالْمَاءِ فَإِنَّمَا الْغَضَبُ مِنَ النَّارِ

Artinya : “Apabila salah seorang diantara kamu marah maka hendaklah ia berwudlu dengan air karena marah adalah dari api” 
                                                                                                                                                Joyojuwoto

Rabu, 15 Juni 2016

Inilah Pintu-pintu Masuknya Setan


Inilah Pintu-pintu  Masuknya Setan

Hati adalah benteng yang melindungi seorang hamba dari serangan musuh dari luar. Musuh manusia adalah setan-setan yang setiap saat berusaha menghancurkan benteng-benteng itu. Jika hati seorang hamba kuat maka setan akan kesulitan memasukinya, namun jika hati lemah maka setan dengan mudah akan masuk dan merusak serta menghancurkan sarana perlindungan seorang hamba. Setan mempengaruhi jiwa seorang hamba melalui pintu-pintu instink dan syahwat, baik itu sayahwat inderawi maupun syahwat maknawi. Oleh karena itu untuk melindungi diri dari serangan setan, seorang hamba perlu mengenali titik-titik lemah dari hati manusia.

Pada hakekatnya setan tidak akan mampu masuk dan merusak perlindungan jiwa manusia kecuali manusia itu sendiri membuka celah masuknya setan, oleh karena itu manusia perlu meminta perlindungan dari Allah SWT agar ia selalu dipelihara dari gangguan dan godaan setan. Sebagaimana yang selalu diajarkan oleh Rasululah SAW agar kita selalu berta’awudz untuk melindungi diri dari godaan setan. Dan tentu hanya orang-orang yang dipelihara oleh Allah sajalah yang akan selamat dari godaan setan yang terkutuk.

Agar seorang hamba waspada akan tipu daya setan untuk memasuki hati manusia, maka hendaknya seorang hamba mengenali pintu-pintu setan yang akan masuk ke dalam jiwanya. Diantara pintu-pintu itu adalah :

1.      Marah dan syahwat
Marah adalah sifat api, dan setan tercipta dari kobaran api oleh karena itu hindari nafsu amarah agar kita juga terhindar dari tipu daya setan. Pada saat seseorang marah, akalnya menjadi lemah begitu juga syahwat yang tidak terkendali juga menyebabkan mudahnya setan memasuki jiwa manusia.

2.      Dengki
Dengki adalah salah satu penyakit hati yang ditimbulkan oleh rasa iri hati akan nikmat yang diterima oleh orang lain. Seorang pendengki menginginkan nikmat tersebut hilang dari orang lain dengan mengharapkan berpindaah kepada dirinya. Oleh Rosulullah SAW dengki diibaratkan sebagai bara api yang akan membakar kayu-kayu amal kebaikan kita. Beliau Bersabda :

اَلْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya : “Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” 
(AL Hadits)
Begitulah sifat dengki dapat merusak amal kebaikan manusia, dan tentu setan sangat berkepentingan agar manusia tidak melakukan amal kebaikan, jikalau pun manusia beramal kebaikan setan akan berusaha merusaknya, diantaranya adalah dengan menanamkan benih-benih kedengkian di dalam hati hamba.

3.      Terlalu Kenyang dengan makanan, walau itu halal
Dalam perut yang kenyang itu terdapat enam kejelekan, Pertama, menghilangkan rasa takut kepada Allah dari dalam hatinya. Kedua, menghilangkan kasih sayang kepada makhluk, karena ia menyangka mereka semua kenyang seperti dirinya. Ketiga, menghambat ketaatan. Keempat, apabila ia mendengarkan ucapan hikmah tidak tanggap. Kelima, apabila menyampaikan nasehat dan hikmah tidak menyentuh hati. Keenam, menimbulkan banyak penyakit.

4.      Suka kemewahan dan harta kekayaan yang berlebihan
Kemewahan adalah musuh peradapan, begitu kata Ibnu Khaldun, apabila kemewahan dan sikap berlebihan telah mendominasi jiwa seseorang, maka dengan mudah setan akan bertahta di jiwa manusia. Jiwanya akan selalu mengajaknya untuk berlebih-lebihan dan selalu merasa kurang dengan harta keduniaan.
Karena pada hakekatnya jiwa manusia selalu menuntut lebih, jika manusia memiliki satu gunung emas maka ia akan menginginkan satu gunung emas lagi, dan begitu seterusnya. Manusia tidak akan pernah puas dengan harta dunia hingga mulutnya tersumpal dengan tanah pekuburan.

5.      Tamak kepada manusia
Tamak merupakan sifat yang tercela, seorang yang tamak akan keduniaan menyebabkan ia buta terhadap nilai-nilai kebaikan. Rasulullah SAW bersabda :

حبّك للشّيء يعمي ويصمُّ

Artinya : “Cintamu pada sesuatu membuat buta dan tuli”

6.      Terburu-buru dan tidak mengkonfirmasi suatu persoalan
Rasulullah SAW bersabda :
العجلة من الشّيطان والتّأنّي من الله تعالى
Artinya : “Terburu-buru adalah dari syetan dan berhati-hati adalah dari Allah Ta’ala”

7.      Bakhil dan Takut Miskin
Orang bakhil disebabkan karena ia merasa dengan hartanya maka ia akan bahagia, tercukupi segala kebutuhannya, dan menyebabkan ia tidak jatuh miskin.sehingga ia bakhil dan tidak mau membagi rezekinya kepada orang lain. Padahal Allah lah yang menanggung rezeki seseorang, jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk takut miskin karena bermurah hati dan  dermawan.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :

السخي قريب من الله، بعيد من النار، قريب من الجنة، قريب من الناس، والبخيل بعيد من الله، بعيد من الجنة، بعيد من الناس، قريب من النار، والجاهل السخي أحب إلى الله عز وجل من العابد البخيل.

Artinya : “Orang yang dermawan lebih dekat kepada Allah dan jauh dari neraka, dekat kepada surga dan dekat pula kepada manusia. Adapun orang bakhil maka jauh dari Allah dan jauh dari surga serta jauh dari manusia dekat dengan neraka. Orang jahil yang dermawan lebih dicintai Allah azza wa jaala dari ahli ibadah yang bakhil."

8.      Fanatik kepada Madzhab dan Hawa nafsu
Berkenaan dengan sikap fanatis ini Rasulullah SAW  telah mengingatkan dalam sabda sucinya :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَى إلىَ عِصْبِيَّةِ ...(رواه أبو داود)
Artinya : “Bukan termasuk golongan kami orang-orang yang menyeru kepada fanatic kesukuan.”

9.      Mengajak orang awam untuk berfikir tentang Dzat Allah
Kepada orang-orang yang masih awam hendaknya kita tidak terburu-buru mengajak mereka berfikir tentang Dzat Allah, karena dengan segala keterbatasan indera manusia tentunya kita tidak akan pernah sampai memikirkannya akan Dzat Sang Pencipta.
Oleh karena itu berfikirlah tentang ciptaan-Nya bukan berfikir tentang Dzat Yang Menciptakan, karena hal itu hanya hanya akan membingungkan orang-orang awam saja.
Rasulullah SAW bersabda :
تفكّروا في خلق الله ولا تفكّروا في الله
Artinya : Berfikirlah tentang ciptaan Allah, dan jangan berfikir tentang Allah”

10.  Buruk sangka kepada kaum muslimin
Allah SWT berfirman :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.”
Demikianlah beberapa hal yang dijadikan sarana bagi setan untuk memasuki jiwa manusia, yang akhirnya setan akan dengan leluasa merusak dan menghancurkan jiwa manusia. Oleh karena itu hendaknya kita selalu waspada dan selalu meminta perlindungan dari Allah SWT. Joyojuwoto

Kamis, 09 Juni 2016

Resensi Buku “Jejak Sang Rasul”

Resensi Buku “Jejak Sang Rasul”
Identitas Buku
Judul Buku      : Jejak Sang Rasul
                          Sebuah Tarikh Singkat Nabi Muhammad SAW
Penulis             : Joyojuwoto
Penerbit           : Dreamedia
Cetakan           : Mei 2016
Tebal               : 177
Kategori          : Nonfiksi
ISBN               : 978-602-6226-09-9

Ulasan buku
Buku Jejak Sang Rasul adalah buku yang menjadi jejak pertama sama dalam menulis sebuah buku. Seperti lazimnya yang pertama ada nuansa romatis dan keindahan yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang mengalaminya saja.

Buku ini hadir sebagaimana yang saya tulis sebagai sebuah bentuk lain dari shalawat kepada Nabi, sebuah ungkapan yang tulus serta rasa cinta dan kerinduan yang mendalam kepada beliau Rasulullah SAW, dengan harapan dan pamrih kelak kita termasuk umat yang diakui oleh beliau Rasulullah SAW.

Buku itu saya tulis dalam rentang waktu yang cukup lama, dalam artian naskah itu lama tidak saya tulis-tulis, saya bingung, ragu-ragu, dan sejumlah perasaan yang tidak menentu Ibaratnya buku adalah anak dari diri dan jiwa kita, jadi sebelum kita melahirkan anak itu, tentu ada berbagai macam perasaan yang menghantuinya. Kalau dalam istilah Jawa seorang yang hampir melahirkan didera rasa sakit yang berkepanjangan yang dikenal dengan istilah mar marti, begitu juga dengan saya, - saya harus melawan berbagai macam rasa itu, akhirnya pada tahun 2015 saya menemukan momentum untuk berani melahirkan. Dengan bergabungnya saya dengan Komunitas Sahabat Pena Nusantara yang digagas dan diketuai Oleh : Ustadz M. Husnaini saya akhirnya punya keberanian untuk meneruskan program menulis saya.

Saya berusaha rutin menulis agar naskah itu segera selesai, alhamdulillah berkat dorongan semangat, dan bimbingan dari para guru, sahabat semua di Komunitas Sahabat Pena Nusantara akhirnya naskah saya bisa diterbitkan, walau  tentu saya sangat menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan yang perlu perbaikan di sana-sini.


Mengenai ulasan buku “Jejak Sang Rasul” saya kutipkan testimoni dari para pembaca, monggo disimak :
Testimoni Pembaca

“Segala “Proses menjadi” harus bermula dari dasar. Dan buku yang sedang dalam genggaman Anda ini adalah sebuah dasar kuat untuk mempelajari sejarah dan kebudayaan Islam secara keseluruhan. Jika dihayati, saya yakin buku ini akan menginspirasi umat dalam melanjutkan perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.”
Mohammad Haris Suhud
Penulis Buku Best Seller “Bening Senja”

“Sebagai sebuah karya perdana, buku ini patut diapresiasi. Penulis menuturkan kisah tentang sejarah hidup Rasulullah SAW secara runtut, gamblang dan tidak berbelit-belit sehingga memudahkan pembaca dalam menelusuri Sirah Nabawiyyah. Semoga buku ini  menginspirasi pembaca semua.”
Yuniarta Ita Purnama, S.Pd, M.Pd
Dosen IKIP PGRI Bojonegoro


“Di tengah-tengah mental yang sering mulai goyah akibat kehidupan duniawi. Buku ini hadir untuk mengingatkan kembali perjuangan dan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW.”
Endrik Safudin
Penulis Buku “Langkahkan Kakimu”



“Buku yang sangat layak untuk di telaah! Racikan tulisan penulis terasa renyah. Iqra’ tafham, bacalah! Maka anda akan faham bahwa buku yang ada ditangan anda ini terlalu sayang untuk dilewatkan!

Farichatul Aulia
Mahasiswi PBA UIN Surabaya

Buku ini berisi tentang kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Kemurahan hati, kesetiaan, keramahan, kejujuran, kedamaian, sifat pemaaf, dan semua kebaikan dalam diri Rasulullah SAW patut untuk kita teladani. Semoga kelak kita diakui sebagai umat-Nya di hari kiamat. Amiin.”

Didik Jatmiko
Ketua Komunitas Blogger Bojonegoro


"Sebuah karya yang layak dibaca bagi mereka yang  punya waktu sempit namun ingin mendapat gambaran umum tentang figur dan perjuangan Rasulullah SAW.” 

Rita Audriyanti - Ibu Rumah Tangga dan Penulis Buku "Haji Koboi. Catatan Perjalanan Haji Backpacker"

“Buku sejarah biasanya tebal, melihatnya saja sudah enggan, apalagi menikmati. Buku ini berbeda, kisah manusia utama pilihan Allah Swt diulas dengan ringkas, padat, dan renyah. Sangat bermanfaat dan mencerahkan.”
Hidayati Nur, Ketua Forum Lingkar Pena Tuban

Demikian sekilas mengenai buku saya “Jejah Sang Rasul” semoga bisa membawa manfaat untuk kita semua.

Terima kasih saya sampaikan kepada para guru dan sahabat saya semuanya yang telah ikut membantu terbitnya buku ini, terima kasih untuk Ustadz Husnaini, Kang Haris Suhud, Yuniarta Ita P., Mas Endrik Safudin, Aulia, Mas Didik Jatmiko, Ibu Rita Audriyanti, Mbak Hidayati Nur, dan semua saja yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu. Dan akhirnya Tegur dan sapa dari pembaca sangat saya harapkaan demi perbaikan tentunya. Salam. Joyojuwoto

Resensi Buku “Quantum Ramadhan”

Resensi Buku “Quantum Ramadhan”
Identitas Buku
Judul Buku      : Quantum Ramadhan
                          Cerdas Meningkatkan Kualitas Diri di Bulan Suci
Penulis             : Joyojuwoto dkk (Sahabat Pena Nusantara)
Penerbit           : Genius Media
Cetakan           : 2015
Tebal               : 180
Kategori          : Nonfiksi-Populer/Agama
ISBN               : 978-602-1033-10-4
Ukuran buku   : 13.5 x 20.5 cm

Ulasan buku
Quantum Ramadhan adalah buku perdana dari Komunitas Sahabat Pena Nusantara yang terbit tahun 2015 silam. Buku ini ditulis dalam rangka menyambut bulan yang penuh berkah yaitu bulan ramadhan, kapanpun bulan ramadhan hadir buku ini bisa menjadi salah satu referensi untuk memperbarui dan meningkatkan kualitas diri di bulan suci. Apalagi bulan ramadhan adalah bulan iqra’ maka sangat tepat jika kita memperbanyak membaca baik itu membaca Al Qur’an ataupun membaca buku-buku yang dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.

Berikut saya kutipkan beberapa kalimat yang luar biasa yang ada di dalam buku ini :
“Ramadhan, sebuah kata yang mengingatkan kita pada suatu bulan yang penuh dengan segala rahasia kebaikan dan keutamaan. Bulan yang mampu mengubah orang-orang menjadi lebih tertata, peduli terhadap lingkungan, dan bahkan peduli terhadap akidahnya sendiri” (Mutiara Ramadhan, Abdul Halim Fathani. Hal. 1)

“Semoga kita disucikan oleh Allah dari segala dosa, sehingga ketika menyambut Idul Fitri, kita benar-benar berjiwa pemenang, jiwa yang sukses mengalahkan nafsu yang bersarang dalam dirinya. Aamin. (Apakah Ibadah Ramadhanku diterima?, Ahmad Rifa’i Rif’an, hal. 11)

“Puasa mempunya arti penting dari segi ruhani. Tanpa itu maka puasa seperti tempurung kosong tanpa isi. (Ramadhan Bulan Pencerahan, Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. hal. 99)

“Jangan sampai umur kita sampai di bulan ramadhan sedang jiwa kita kosong dari mengharap ampunan Allah SWT. (Ramadhan Bukan Basa-basi. Joyojuwoto, hal. 97).

Demikian beberapa kutipan yang saya ambil dari beberapa penulis di buku Quantum Ramadhan, semoga memberikan sedikit peta mengenai isi buku tersebut.

Yang pasti buku ini hadir ke tangan pembaca sebagai ikhtiar para penulis “Saahbat Pena Nusantara” dalam rangka membumikan “makna” ramadhan agar terinternalisasikan dalam kehidupan kita umat Islam, agar umat Islam dalam beramadhan tidak hanya sekedarnya saja namun benar-benar mampu meraih derajad ketaqwaan di sisi Allah SWT sebagaimana yang menjadi tujuan dari puasa itu sendiri, la’allaqum tattaquuna. Joyojuwoto

Rabu, 08 Juni 2016

Kenduren Fiqh Dakwahnya Sunan Bonang

Kenduren Fiqh Dakwahnya Sunan Bonang

Dakwah adalah kewajiban setiap muslim, siapapun dia tanpa memandang status sosial ataupun status keagamaannya. Dakwah adalah sebuah keniscayaan bagi seorang muslim sebagai perwujudan dari sabda Nabi ballighuunii wa law aayatan. (sampaikan apa yang ada padaku walaupun hanya satu ayat saja). jadi untuk berdakwah tida perlu menunggu menjadi Ustadz, tidak perlu menunggu menjadi Kyai, da’i dan apapun namanya, yang terpenting jika kita seorang muslim maka kewajiban dakwah menempel pada diri kita.

Berdakwah tentu perlu melihat kapasitas masyarakat yang kita dakwahi, dalam bahasa haditsnya Rasulullah SAW mengatakan khotibun an-nas biqadri uqulihim, omongilah masyarakat berdasarkan kadar cara berfikirnya. Jadi sesorang da’i harus mengetahui dan memahami benar kondisi masyarakat yang dijadikan objek dakwah.

Di zaman Walisongo mayoritas masyarakat adalah pemeluk Hindu-Budha, tidak mudah tentunya ajaran agama baru bisa diterima di tengah-tengah masyarakat yang telah lama dan mapan dalam berkeyakinan. Ada rentang waktu yang sangat lama sekali mulai awal masuknya Islam di Nusantara hingga agama Rasul ini benar-benar diakui dan dipeluk oleh masyarakat Nusantara.

Menurut catatan Dinasti Tang dari Cina yang berkunjung ke kerajaan Kalingga di Jawa pada tahun 674 M telah ada pemeluk agama Islam. Dalam catatan Marcopolo tahun 1292 M ketika ia singgah di pelabuhan Perlak Aceh setidaknya ada tiga kelompok masyarakat yaitu 1. Cina yang semuanya beragama Islam, 2. Barat (Persia), 3. Pribumi penyembah Batu, pohon, ruh. Pada tahun 1405 M datanglah Laksamana Cheng Ho ke Jawa dan singgah di Tuban. Ia mencatat setidaknya terdapat 1000 keluarga Cina yang memeluk agama Islam. Pada tahun 1433 M, Cheng Ho kembali berkunjung ke Jawa dengan mengajak juru tulisnya Ma Huan. Menurut catata Ma Huan saat itu pemeluk agama Islam hanyalah pendatang dari Arab dan Cina, sedang penduduk pribumi masih menyembah batu dan ruh-ruh nenek moyang.

Baru pada tahun 1440 M, datanglah seorang wali dari Champa yaitu Syekh Ibrahim Samarqandi dan kedua anaknya Ali Murtadho dan Ali Rahmat datang ke Jawa. Pada fase ini Islam juga masih sulit berkembang. Baru setelah masa Ali Rahmat yang dikenal dengan nama Sunan Ampel berdakwah dan mendirikan pesantren, Islam mulai diterima oleh penduduk pribumi. Apalagi setelah anak-anaknya dan murid-muridnya membantunya berdakwah dalam institusi Walisongo Islam dengan cepat merambah ke pedalaman-pedalaman.

Jika pada tahun 1443 M Islam hanya dipeluk oleh penduduk pendatang maka dalam rentang 40 tahun, menurut catatan Tome Pires seorang Portugis yang datang ke Jawa tahun 1513 M, ia mencatat bahwa sepanjang pantai utara Jawa, penguasanya adalah Bupati-bupati yang telah memeluk ajaran Islam. Sungguh pencapaian dakwah yang sangat luar biasa dan menakjubkan.

Diantara rahasia dakwah Walisongo yang dengan mudah bisa diterima oleh masyarakat diantaranya adalah dari cara dakwah dan komunikasi dakwah yang dibangun Walisongo yang memahami benar apa yang disebut sebagai Fiqh Dakwah. Walisongo tidak terjebak pada ajaran tekstualitas sebuah kitab suci, namun ajaran-ajaran dari kitab suci itu dialihbahasakan dengan cara yang sederhana, mudah dipahami dan sesuai dengan kondisi serta kultur masyarakat. Atau dalam bahasanya Gus Dur disebut membumikan Al Qur’an.

Kita ambil contoh fiqh dakwahnya Sunan Bonang, di dalam serat Darmo Gandhul yang ditulis oleh Ki Kalamwadi dinyatakan bahwa kala itu Sunan Bonang bersama dua santrinya pergi ke desa Gedah yang ada di Kediri. Kalau kita mengupas isi dari serat Darmo Gandhul di situ banyak kepalsuan-kepalsuan dan fitnah yang sengaja dihembuskan untuk merusak citra dan ajaran Islam, termasuk diantaranya merusak citra dari Sunan Bonang Sendiri. Kita tahu tahu Kediri kala itu adalah pusat dari ajaran sesat penganut ajaran Tantrayana dari sekte Bairawa Tantra, sebuah aliran yang memuja Dewi Durga. Bairawa Tantra tidak hanya dipandang sesat menurut ajaran Islam namun oleh keyakinan masyarakat sendiri aliran ini sesat dan meresahkan.

Menutut KH. Agus Sunyoto, Bairawa Tantra mempunyai ritual yang disebut sebagai Panca Makara atau malima. Malima di sini bukan seperti yang kita kenal sekarang, namun malima menurut ajaran Bairawa Tantra adalah mamsa (daging), matsya (ikan), madya (arak), maithuna (seksual), dan mudra (semedi). Selanjutnya penganut Bairawa Tantra baik laki-laki maupun perempuan bertelanjang membuat lingkaran yang dikenal dengan istilah Ksetra. Di tengah-tengahnya disediakan daging, ikan dan arak. Setelah makan-makan bersama mereka melakukan persetubuhan (maituna) beramai-ramai. Setelah itu mereka melakukan semedi. Lebih mengerikan lagi jika tingkatan dari para penganut bairawa ini telah tinggi daging yang disediakan bukan lagi daging hewan namun daging manusia, ikannya ikan sura (hiu), sedang araknya diganti dengan darah manusia.

Kedatangan Sunan Bonang ke Kediri ini dalam rangka berdakwah dan mengajarkan Islam kepada masyarakat kediri. Tentu ritual Bairawa Tantra sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang melarang memakan binatang untuk persembahan, melarang hubungan seks bebas, dan melarang minum-minuman keras, apalagi sampai makan daging manusia dan meminum darahnya.  Oleh karena itu Sunan Bonang membuat acara yang mirip dengan upacara Panca Makaranya Bairawa Tantra yaitu ia kumpulkan masyarakat yang pada saat itu laki-laki semua di sebuah tempat, kemudian disediakan makanan, kemudian Sunan Bonang mengajari mereka berdo’a, setelah itu mereka makan bersama. Inilah yang akhirnya kita kenal dengan nama kenduri atau slametan. Untuk menandingi aliran Bairawa Sunan Bonang menggunakan gelar Sunan Wadat Cakrawati, karena pemimpin aliran Bairawa saat itu bergelar Cakra Iswara (Cakreswara). Sungguh sangat sempurna dakwah yang dipilih oleh Wali dari Tuban ini.

Jika dulu aliran Bairawa Tantra di Kediri pada masa Raja Airlangga yang di pendekari oleh seorang Janda dari desa Girah yaitu Nyai Calon Arang yang menebar petaka diseluruh penjuru Kediri dapat ditaklukkan oleh Empu Barada, maka di zaman Majapahit akhir, pendeta bairawa Cakra Iswara yang menebar Panca makara dapat ditaklukkan oleh Sunan Bonang Sang Sunan Wadat Cakrawati dari Tuban dengan kendurinya.


Masyarakat ternyata pun sangat respek dengan upacara yang baru dibuat oleh Sunan Bonang ini sehingga mereka melestarikannya hingga sampai sekarang. Jadi pada hakekatnya Kenduri atau selamaten bukanlah ajaran Hindu maupun Budha, namun ini adalah hasil dari ijtihad Fiqih yang dilakukan oleh Sunan Bonang dan Sunan-sunan yang lainnya dalam rangka berdakwah kepada masyarakat Jawa pada khususnya dan masyarakat Nusantara pada umumnya. Joyojuwoto

Selasa, 07 Juni 2016

Dalam Pelukan Ramadan

Dalam Pelukan Ramadan

Hari ini tepatnya tanggal enam, bulan enam, tahun dua ribu enam belas (6/6/2016) adalah hari yang sangat dinanti dan dirindukan oleh umat Islam. Jauh-jauh hari aroma kehadirannya telah terasa di tengah-tengah kita umat Islam, khususnya umat Islam tradisional yang menyambut tamu agung ini dengan berbagai tradisi maupun kegiatan keagamaan seperti tradisi mapak (kenduri menyambut bulan puasa) dan ziarah kubur. Tamu yang ditunggu itu adalah bulan ramadan, bulan di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Puasa itu sendiri adalah sebuah ritual ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT bagi orang-orang yang beriman.

Sejatinya ibadah puasa bukanlah hal yang baru, sejak zaman dahulu orang-orang juga telah menjalankan ibadah ini dengan model dan hitungan yang berbeda-beda tentunya. Dalam Al Qur’an disebutkan Kutiba ‘alaikum as-syiyaamu kama kutiba ala al-ladzina min qablikum (diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu), ayat ini memberitahukan bahwa puasa bukan monopoli milik umat Islam, karena kaum terdahulu juga telah diwajibkan untuk berpuasa. Baik itu kaum Yahudi, Nasrani, maupun kaum-kaum yang lainnya.

Puasa adalah salah satu dari model peribadatan tertua dalam sejarah manusia, oleh karena itu puasa sangat erat dengan sisi kemanusiaan itu sendiri. Jadi puasa pada hakekatnya bukan masalah ibadah individual namun juga menyangkut ibadah sosial kemasyarakatan. Jika puasa seseorang baik dan benar tentu memberikan imbas bagi habituasi seseorang yang  lebih baik dan bermanfaat. Oleh karena itu Rasulullah SAW mengatakan banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya lapar dan dahaga semata, ini mengindikasikan bahwa puasa seseorang itu hampa belum menyentuh hakekat dari puasa itu sendiri dan belum bisa memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan masyarakatnya.

Puasa sebenarnya bukan istilah yang dipakai oleh Islam, karena dalam Al Qur’an maupun hadits istilah yang dipakai adalah Siyam, yang berakar dari kata Sha-wa-ma yang artinya “menahan” yang secara kontekstualnya adalah menahan diri atau mengendalikan diri dalam rangka menjadi  apa yang disebut  la’allakum tattaqun (semoga kalian menjadi orang yang bertaqwa).

Istilah puasa menurut penulis buku Atlas Walisongo KH. Agus Sunyoto berasal dari istilah Sansekerta  yaitu dari kata upa dan wasa. Upa berarti dekat, sedang wasa artinya Tuhan. Jadi upawasa yang kemudian diucapkan menjadi puasa artinya mendekat kepada Tuhan. Para Walisongo dalam berdakwah memang menggunakan pendekatan kultural masyarakat sehingga mereka memakai istilah yang dekat dan lazim dipakai oleh masyarakat kala itu. Menilik dari arti dan maknanya tidak ada pertentangan antara kata Sha-wa-ma dengan kata upawasa bahkan cenderung sama, yaitu puasa sama-sama dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan yang dalam bahasa Al Qur’an disebut sebagai taqwa.

Orang yang mencapai derajad taqwa di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 2-5 telah dijelaskan secara rinci yaitu :
  
2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
5. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Sebagaimana yang dijelaskan pada ayat di atas bahwa ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah : mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, beriman kepada kita-kitab Allah dan yakin akan adanya (kehidupan) akhirat, memiliki dimensi ibadah vertikal (habl min Allah)- hubungan manusia dengan Tuhan. Sedang menafkahkan sebahagian rezki memiliki dimensi ibadah horisontal (habl min al-nas)- hubungan manusia dengan manusia. Jadi ketaqwaan pada hakekatnya memiliki implikasi dengan keimanan dan kemanusiaan.

Jika seseorang hanya baik ditingkat keimanannya saja dia belumlah layak disebut orang yang bertaqwa, begitu juga jika seseorang hanya baik di sisi kemanusiaannya maka jelas juga bukan orang yang bertaqwa. Karena taqwa adalah konsekuensi dari dua hal tadi, habl min Allah (hubungan manusia dengan Tuhan) dan habl min al-nas (hubungan manusia dengan manusia). Beriman kepada Allah serta bekerja untuk kemanusiaan.

Taqwa inilah sebenarnya yang menjadi puncak penghambaan seorang hamba kepada Tuhannya, yang mana dengan taqwa seseorang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah di surat Al Baqarah ayat 5 yang disebut sebagai orang-orang yang beruntung. Jadi startnya puasa adalah pengendalian diri dan finisnya adalah keberuntungan baik di dunia maupun keberuntungan di akhirat.
Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang dijanjikan oleh Allah SWT akan mendapatkan kemenangan dan keberuntungan, sebagaimana yang termaktub dalam surat Al Naba ayat 31 :
إنّ للمتّقين مفازا

. Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan

Dengan demikian, dengan menjalankan ibadah puasa memberikan kesempatan istimewa bagi umat Islam untuk mendapatkan janji Allah SWT, yaitu menjadi orang yang bertaqwa yang dapat meraih kemenangan di hari di mana umat Islam kembali kepada kesucian atau dikenal dengan istilah ‘id al-fithr (idul Fitri). Idul fitri ini bermakna kembali kepada fitrah atau kembali kepada kesucian seperti di mana manusia terlahir kembali ke muka bumi.

Hari raya idul fitri inilah yang kemudian dirayakan secara meriah dan besar-besaran oleh umat Islam diberbagai belahan dunia, bukan saja karena mereka telah terbebas dari kewajiban puasa selama satu bulan, namun juga sebagai momentum di mana mereka telah kembali kepada kesucian di mana dosa-dosa pada hari itu terbasuh oleh ibadah puasa selama sebulan penuh.

Momen idul fitri ini adalah momen ishlah, rekonsiliasi baik rekonsiliasi dengan Tuhan maupun dengan manusia lain, momen di mana kita saling memberi dan saling menerima maaf dengan penuh ketulusan, baik diantara maupun antara umat manusia agar terjalin suatu hubungan yang baik di muka bumi guna menciptakan kedamaian dan rahmatan lil’alamin.

Bangilan, 1 Ramadan 1437 H