Sabtu, 03 Desember 2016

Rendah Hati dan Tawadhu’

Rendah Hati dan Tawadhu’
Oleh : Joyo Juwoto

لكلِّ عالمٍ هفوةٌ
“Setiap orang yang berilmu pasti memiliki kesalahan”

Kalimat hikmah di atas adalah perkataan dari Imam Asy-Syafi’i, salah  seorang dari imam arba’ah yang banyak diikuti oleh umat Islam. Beliau memang bukan seorang yang bergelar doktor, profesor, dan sederet gelar akademik lainnya, namun siapa yang berani mengatakan beliau bukan seorang yang alim ? tentu tidak akan ada yang berani bilang seperti itu. Walau demikian, Imam Syafi’i dan imam-imam yang lain adalah seorang yang rendah hati serta tawadhu’.

Betapa indah dan menyejukkannya kata-kata beliau “Setiap orang yang berilmu pasti memiliki kesalahan”. Walau ilmu dan kealiman beliau tak akan tertandingi sampai hari ini, namun itulah yang keluar dari lisan beliau yang mulia, hanya sumber yang jernih saja yang akan mengeluarkan air jernih pula.
Betapa para Imam-imam madzhab yang menjadi panutan umat itu sangat luar biasa, mereka tidak pernah mengklaim kebenaran mereka sendiri, dengan penuh rendah hati dan tawadhu’ jika mereka menghadapi perbedaan mereka akan bilang “Pendapatku benar, tapi bisa jadi salah. Dan pendapat selain ku itu salah, tapi bisa jadi benar”.

Kalimat-kalimat para Imam Madzhab di atas adalah sebagai bentuk penegasan bahwa tidak ada yang ma’sum di dunia ini kecuali Nabi Muhammad saw, siapapun dia masih ada peluang salah dan benar. Karena seperti pepatah tidak ada gading yang tidak retak, sebaik apapun, sesempurna bagaimanapun, setinggi dan sepandai apapun ilmu seseorang tentu ia masih punya kekurangan, maka hendaknya manusia selalu bersikap rendah hati dan tawadhu’.

Sudah seharusnya memang seorang yang alim berendah hati dan tawadhu’ kepada siapapun, karena seorang alim adalah contoh dan panutan umat.

Abu Yazid berkata : “Selagi seorang hamba masih mengira bahwa diantara makhluk masih ada orang yang lebih buruk darinya maka ia adalah orang yang sombong.” Dikatakan kepadanya : Lalu kapan ia menjadi orang yang tawadhu’ ? Abu Yazid menjawab : “Apabila tidak memandang adanya kedudukan dan hal bagi dirinya.”

Betapa luar bisa sikap rendah hati dan tawadhu’ yang dicontohkan oleh para ulama-ulama zaman dahulu. Mereka tidak pernah merendahkan siapapun itu, lebih lebih-merendahkan umat Islam saudara seiman dan seaqidahnya sendiri. Bukankah di dalam al Qur’an umat Islam disuruh berendah diri dengan sesama saudaranya ?

Dalam Al Qur’an Allah swt berfirman :

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِيْن َ 
Artinya : “Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (Al Hijr : 88)

Sangat disayangkan ketika seorang yang dikenal sebagai cendikiawan muslim merendahkan saudaranya sesama muslim hanya karena beda faham dan pandangan. Dalam sebuah status di media sosialnya beliau yang terhormat ini menyatakan :

“Kalau ingin lihat bukti sabda Nabi umat Islam kualitasnya spt buih seolah byk tapi tdk berkualitas lihat kerumunan di Monas hari ini”

Lihatlah betapa menyedihkannya kadar intelektual kita jika kita tidak bisa berendah diri dan tawadhu’ kepada sesama, dengan kepandaiannya beliau ini mengutip sebuah hadits Nabi kemudian dipakai mengklaim dan menuduh sedemikian rupa. Tapi sekali lagi sebagaimana yang diucapkan oleh Imam Syafi’i “Setiap orang yang berilmu pasti memiliki kesalahan”.

Mari kita sadari bersama bahwa sehebat apapun ilmu seseorang dan sebanyak gelar apapun yang dimiliki dan disandang seseorang, tentu ia tetaplah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Mari berinstropeksi diri, dan tidak saling menyalahkan.

Cukup indah sebuah tulisan yang saya kutip dari seorang penulis ternama Ustadz Didi Junaedi, beliau berkata : “Orang yang gemar menista orang lain atau apa pun, sesungguhnya menunjukkan betapa nistanya dia, Karena orang mulia selalu memuliakan sesama dan apa pun yang layak dimuliakan”.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memuliakan orang lain, lebih-lebih saudara seiman dan seaqidah dan tidak mudah mencela dan menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan yang keji. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar