Senin, 05 Desember 2016

Pram, Sampah dan Api Keberanian

Pram, Sampah dan Api Keberanian
Oleh : Joyo Juwoto

Entah kapan saya sendiri lupa, namun saat itu Pram sapaan akrab sastrawan besar dari Blora Pramoedya Ananta Toer masih ada, saya membaca sebuah berita di halaman koran  Jawa Pos tentang salah satu dari kegemaran Pram yaitu bakar-bakar sampah. Saat itu Pram berada di rumahnya yang berada di Jl. Sumbawa No. 40 Kauman Blora, yang sekarang ditempati oleh adik kandungnya Soesilo Toer. Menurut penuturan Pram sendiri yang ditulis di Jawa Pos, ia sangat suka berdekat-dekatan dengan api, sehingga rutinitas membakar sampah menjadi ritual yang sangat menyenangkan baginya.

Api bagi Pram adalah semangat keberanian, sehingga ia perlu terus mengobarkan api itu dengan simbol bakar-bakar sampah. Tentu bakar-bakar sampah bisa kita tafsiri sebagai upaya membersihkan lingkungan dari kotoran. Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna dan mengganggu keindahan lingkungan, maka perlu dibakar habis. Pram ingin menegaskan bahwa dirinya hadir ke dunia ini sebagai tukang bakar sampah di lingkungannya, sehingga apapun itu jika berpotensi menjadi sampah akan dibakarnya habis.

Dalam dunia kepenulisan, Pram memang tampil sebagai seorang yang membawa api keberanian untuk membakar sampah-sampah yang tidak berguna dan mengganggu. Faktanya banyak karya Pram yang terlahir dan akhirnya benar-benar menjadi Naar (api) dan Nuur (cahaya) bagi masyarakat.

Menjadi Naar (api) karena buku-buku beliau dianggap berhaluan kiri, berafiliasi dengan partai terlarang saat Orde Baru yang kemudian akibatnya buku Pram banyak dibakar oleh penguasa melalui tentara.  Jadilah buku-buku Pram menjadi api yang berkobar-kobar.

Selain menjadi Naar (api) buku-buku Pram juga menjadi Nuur (cahaya) yang menyinari peradaban anak bangsa. Berapa banyak anak-anak muda negeri ini yang terinspirasi dengan karya-karya Pram yang sangat luar biasa. Sebutlah nama besar Rohmat Sholihin esais dan novelis terkenal dari Bangilan, Linda Tria Sumarno, seorang penyair sekaligus penulis skenario drama yang juga kebetulan dari Bangilan adalah sederet nama besar yang juga seorang Pramisme (pengagum Pram).

Membaca karya Pram mungkin hari ini adalah hal yang biasa, berjualan bukunya Pram pun mengundang untung yang tidak sedikit, belum lagi pembajakan-pembajakan karya Pram juga ikut menggerakkan roda perekonomian para kaum proletar di negeri ini. karena mereka tahu karya Pram akan laku keras tidak lapuk oleh waktu, tidak lekang oleh hujan. Karya Pram akan terus diburu oleh para pecintanya.

Itu sekarang, jaman dahulu di era Orba jangankan mau menerbitkan atau menjual karya Pram di tempat umum, membaca saja harus di tempat yang sepi, sunyi dan dengan sembunyi-sembunyi. Hanya para ksatria pemberani saja yang berani menyelamatkan Tuan Putri, eh! Maksudnya hanya kaum pemberani saja yang berani membaca buku-bukunya Pramoedya Ananta Toer. Jika ketahuan kita membawa, memiliki, atau bahkan sekedar membaca karya Pram maka sudah menjadi alasan yang sah bagi penguasa untuk menjebloskan kita ke dalam penjara dengan tuduhan yang macam-macam.

Itulah keunikan dan sensasi dari membaca bukunya Pram, sangat memacu adrenalin saudara-saudara. Jika ada indikasi jantungan Anda tidak perlu mencobanya. Namun itu dulu, dulu sekali, sekarang siapapun bebas membaca buku apapun, dan buku siapapun tanpa perlu khawatir dengan ancaman siapapun.

Dalam essay yang ditulis oleh Rohmat Sholihin, kehidupan Pram banyak dihabiskan di dalam penjara. Dalam pengantar penerbit buku Panggil Aku Kartini Saja, bahwa Pram berada pada sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat : 3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru. Bisa kita bayangkan betapa sengsara dan menderitanya kehidupan yang dijalani seorang Pram. Namun benarkah demikian ?

Penjara-penjara itu ternyata hanya mampu memberangus fisiknya saja, namun tidak pernah memadamkan api keberanian dari seorang Pram. Ia dengan gagah berani terus melakukan provokasi bakar-membakar sampah, itu memang sudah menjadi hobi dan kegemaran dari Pram mau apa lagi. Hanya maut yang mampu menghentikannya. Walau begitu mati akan berarti karena berani. Ah ! Pram hidupnya selalu dilingkupi dua hal ini, Sampah, dan api (keberanian). Ia tidak pernah berhenti  untuk mengobarkan perlawanan terhadap sampah, apapun itu.


Saya jadi ingat kata-kata Pram di sampul belakang buku berwarna pink, sampul depannya seorang gadis cantik yang sedang tersenyum memperlihatkan gigi-giginya. Judulnya Larasati, Pram menulis : “Kalau mati dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.” Masih mau jadi penakut !!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar