Senin, 05 Desember 2016

Pengabdian Bukan Perbudakan

Pengabdian Bukan Perbudakan
Oleh : Joyo Juwoto

Dalam sebuah hikmah yang saya petik dari kitab Ta’limul Muta’allim, Imam Ali bin Abi Thalib Karramahullahu Wajhahu berkata :
انا عبد من علّمنى حرفا واحدا
Artinya : Saya adalah budaknya orang yang mengajari saya walaupun satu huruf.

Kita tahu sahabat Ali bin Abi Thalib adalah orang yang sangat alim, bakan Rasulullah saw mengibaratkan diri beliau sebagai gudangnya ilmu, sedang Ali bin Abi Thalib adalah pintunya ilmu. Dengan kealiman dan kepandaiannya itu tidak menjadikan Imam Ali sebagai orang yang sombong dan merasa paling hebat.

Imam Ali sangat rendah hati dan tawadhu’ lebih-lebih kepada orang yang mengajari beliau, walau itu satu huruf beliau sanggup menjadi abdi, sanggup menjadi budak dari sang guru. Menjadi abdi di sini maksudnya adalah kesiapan dan ketulusan seorang santri untuk berbakti, mengabdi, melayani, menghormati, menta’dzimi seorang guru.

Sikap rendah hati dan tawadhu’nya seorang murid kepada gurunya adalah bentuk penghormatan kepada ahli ilmu, pengabdian seorang murid kepada gurunya adalah bentuk keta’dziman bukan perbudakan. Walau mungkin ada ciri dan kesamaan dalam hal pengabdian dan perbudakan namun spirit yang dibangun sangat berbeda.

Pengabdian adalah ketulusan niat untuk melayani dengan sepenuh hati, sedangkan perbudakan adalah nafsu untuk menguasai dan merendahkan terhadap sesama. Rasa pengabdian ini muncul dari rasa tanggung jawab dan kewajiban dari seorang murid kepada gurunya, sedangkan perbudakan muncul dari rasa kesombongan dan ingin merendahkan martabat orang lain.

Namun sayang di tengah masyarakat kita kadang ada hal yang salah kaprah, sikap rendah hati dan tawadhu’ hanya diberlakukan bagi orang yang dianggap lebih rendah kedudukannya, baik dari segi keilmuan, derajat, ekonomi, maupun dari segi jabatan. Seakan hanya orang lemah saja yang harus memiliki sifat rendah hati dan tawadhu’ ini. sedangkan orang-orang yang dianggap alim, kaya, berpangkat tidak perlu memiliki sifat ini. padahal di dalam Islam tidak ada yang namanya status-status keduniaan, semua adalah sama di hadapan Tuhan.

Semisal seorang santri atau murid harus rendah hati dan tawadhu’ kepada guru-gurunya, maka si murid harus belajar kitab Ta’limul Muta’allim sebagai pedoman dalam menuntut ilmu. Termasuk di dalamnya siap menjadi abdi bagi seorang guru, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali di atas. Menjadi kewajiban bagi murid untuk tawadhu’ dan berendah diri kepada gurunya. Walau demikian sang guru jangan menggunakan kitab Ta’limul Muta’allim sebagai pegangan ia sebagai guru, sehingga ia merasa harus di hormati dan di tawadhu’i oleh santri atau muridnya. 

Penghormatan seorang santri atau seorang murid kepada gurunya bukan bersifat vertikal, atau garis komando, garis perintah dari atas ke bawah, namun bentuk penghormatan itu harus didasarkan pada sikap kewajiban untuk memuliakan ilmu dan ahli ilmu. Jadi harus bisa dibedakan antara sikap feodalis dengan sikap pengabdian dan penghormatan.

Sebagai seorang guru kitab yang harus ia jadikan pegangan harusnya adalah kitab Adabul “alim wal Muta’allim. Sehingga guru mengerti akan tugas dan kewajibannya pula, bukan malah menggunakan kitab Ta’limul Muta’allim yang memungkinkannya timbulnya jiwa superioritas atas murid-muridnya. 

Jadi khidmah seorang murid kepada gurunya, seorang pelayan kepada majikannya adalah berdasar pada hak dan kewajiban masing-masing, bukan karena berdasar sikap penindasan dari yang kuat kepada pihak yang dianggap lemah. Bukan berdasar pada sikap perbudakan diantara sesama manusia, karena Islam telah menghapus perbudakan dan penghambaan diantara manusia, karena penghambaan sejati hanya kepada Tuhan semata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar