Jumat, 16 Desember 2016

Mutiara Surat Al Fiil

Mutiara Surat Al Fiil
Oleh : Joyo Juwoto

Surat Al Fiil adalah surat yang diturunkan oleh Allah swt di Makkah al Mukarramah, surat ini terdiri dari lima ayat yang menerangkan mengenai Pasukan Gajah yang akan menghancurkan Ka’bah menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw. Di Habasyah saat itu ada seorang Raja Nasrani yang bernama Ashamah Najasi.

Pasukan Gajah ini dipimpin oleh seorang Raja Yaman yang menjadi bagian dari kerajaan Ashamah, ia bernama Abrahah. Latar belakang penyerangan Ka’bah didasari rasa dengki Abrahah terhadap kota Makkah yang menjadi pusaat peribadatan di tanah Arabia, sehingga untuk menyaingi Ka’bah, Abrahah ini mendirikan rumah peribadatan yang megah di San’a ibukota Yaman dengan maksud memalingkan kiblat peribadatan orang-orang Arab ke negeri Yaman. Rumah peribadatan itu dinamakan Al Qalish.

Abarahah kemudian menyebarkan selebaran kepada rakyat Habasyah dan Yaman agar mereka setiap tahunnya beribadah di gereja Al Qalish yang dibangun oleh Abrahah di San’a, dan tidak perlu pergi ke Ka’bah. Pada suatu ketika, ada seorang Arab yang bernama Malik bin Kinanah mengetahui akan hal ini, ia merasa tidak suka dengan isi dari selebaran yang dibuat oleh Abrahah. Di suatu malam yang sepi Malik bin Kinanah memasuki Gerejanya Abrahah, ia menaruh kotoran manusia di tempat ibadah itu kemudian Malik pun pergi.

Mendengar laporan gerejanya di kotori oleh seorang Arab, Abrahah pun murka. Segera saja Abrahah mengumpulkan pasukan untuk menggempur Ka’bah. Ia segera meminta bantuan gajah yang besar dari Raja Habasyi. Gajah itu bernama Mahmud. Dengan mengendarai  Gajah Mahmud Abrahah dengan gagah perkasa memimpin pasukan gajahnya menuju kota Makkah.

Sesampai di kota Mighmas, Abrahah mengerahkan pasukan berkudanya untuk menyerang Makkah dan mengambil harta-bendanya orang Makkah. Termasuk di dalamnya ada sebanyak 200 ekor unta milik Abdul Muthalib. Mendengar bahwa unta-untanya dirampas oleh pasukan Abrahah, Abdul Muthalib pun menemui Abarah dan meminta kembali untanya, karena itu adalah haknya. Sedang jika Abrahah mau menghancurkan Ka’bah itu urusannya dengan pemilik Ka’bah. Sesungguhnya Ka’bah itu rumah Allah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, dan Allah sendirilah yang akan menjaganya.

Sepeninggal Abdul Muthalib, Abrahah segera menyiapkan pasukan gajahnya untuk memasuki kota Makkah. Namun sayang gajah Mahmud yang dinaikinya tidak mau beranjak menuju arah Makkah. Anehnya jika gajah itu diarahkan oleh pawangnya yang bernama Nufail ke Yaman, dengan cepat gajah Mahmud pun beranjak pergi. Isyarat ini sama sekali tidak menyurutkan niat Abrahah untuk menyerang Ka’bah.

Abdul Muthalib kemudian mengungsikan penduduk Makkah ke balik bukit, ia tiada henti berdo’a meminta perlindungan kepada Allah dari serangan pasukan gajahnya Abrahah. Abdul Muthalib mengucapkan do’a permohonan kepada Allah demikian :

يا ربّ لا أرجولهم سواكا # يا ربّ فامنع عنهم حماكا

Setelah selesai berdo’a, tiba-tiba ia melihat serombongan burung dari arah langit Yaman. Burung itu belum pernah dilihat oleh penduduk Makkah. Masing-masing burung membawa tiga butir kerikil. Satu di paruhnya dan dua di cengkeram di kedua kakinya.

Burung-burung ini kemudian menghujani pasukan Gajah yang mendekati Ka’bah. Masing-masing batu tertulis nama prajurit yang akan menjadi korbannya, dan lemparan batu ini tidak pernah meleset sedikitpun. Jika batu itu dijatuhkan pasti akan mengenai kepala orang yang namanya tertulis di batu tersebut. Satu persatu pasukan gajah berguguran seperti daun-daun yang di makan ulat.

Abrahah sendiri pun tidak kalah menyedihkannya, tubuhnya rusak, jari-jari tangannya terputus satu persatu, badannya dipenuhi darah dan nanah yang sangat menjijikkan, hingga akhirnya Sang Raja yang perkasa itu meninggal dunia dengan cara yang mengerikan.

Ada seorang yang hampir berhasil meloloskan diri dari serangan burung-burung itu, dia adalah patihnya Abrahah yang bernama Abu Yaksum. Sang Patih berhasil melarikan diri dan pulang ke Habasyah, kemudian ia melaporkan kejadian itu kepada Raja. Namun ternyata ada seekor burung yang mengikuti dan telah mengincarnya. Di paruhnya telah siap sebutir kerikil yang bertuliskan nama Abu Yaksum. Ketika Abu Yaksum melapor kepada Raja, tiba-tiba masuklah seekor burung dan melemparkan batu itu ke arah sang patih. Tewaslah sang patih di hadapan Raja Ashamah.


Begitulah penyerangan Abrahah mengalami kegagalan total. Tidak ada satu pun pasukannya yang berhasil lolos dari adzab Allah swt kecuali gajah Mahmud dan pawangnya yang bernama Nufail.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar