Kamis, 22 Desember 2016

Ibu Sang Bumi Cinta

Ibu Sang Bumi Cinta
Oleh : Joyo Juwoto

“Oh ibu, jika engkau adalah matahari, aku tak ingin datang malam hari. Jika engkau adalah embun, aku ingin selalu pagi hari. Ibu durhakalah aku, jika di telapak kakimu, tidak aku temui surga itu.”

(Fatin Hamama)

Puisi yang ditulis oleh Fatin Hamama seorang penyair Mesir di atas tentu terinspirasi dari sebuah hadits Nabi  yang berbunyi : “Al Jannatu Tahta Aqdaamil Ummahat” (Surga itu berada di telapak kaki Sang Ibu). Begitulah gambaran kemuliaan seorang ibu terhadap  anaknya, siapa yang menginginkan surga maka hendaknya ia mencarinya di bawah telapak kaki ibunya.

Tentu ungkapan surga di bawah telapak kaki ibu adalah penggambaran begitu tingginya kemuliaan dan kedudukan seorang ibu, bahkan dalam sebuah haditsnya ketika Rasulullah saw ditanya seorang laki-laki tentang siapa yang berhak untuk ia hormati, kemudian Rosulullah saw pun menjawab : “Ummuka, ummuka, ummuka, tsumma Abuuka” “Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.”.  Kata “Ummuka” yang berarti ibu disebut tiga kali oleh Nabi baru kemudian nama ayah mengikutinya.

                Kemuliaan seorang ibu laksana bumi cinta bagi tumbuh kembangnya kehidupan, tanpa kehadiran sosok ibu mustahil kelangsungan hidup ini berjalan. Semenjak di dalam kandungan seorang anak telah dihidupi oleh ibunya, janin  makan dan minum menghisap sari makanan di dalam tubuh ibu melalui tali pusarnya, janin dilindungi di tempat yang kokoh dan aman di dalam rahim sang ibu. Hingga kondisi ibu yang hamil semakin hari semakin melemah, namun hal itu tidak menyusahkannya namun justru menggembirakannya.

          Dalam surat Al Ahqah ayat 15 Allah swt berfirman :

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (١٥)

15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri".

Ayat di atas menjelaskan betapa susah dan payahnya mengandung seorang anak, kemudian melahirkannya juga dengan susah payah bahkan nyawa taruhannya. Setelah itu seorang ibu masih harus mengasuhnya, menyusuinya hingga dua tahun batu kemudian menyapihnya. Semenjak kecil anak diajari mulai dari hal-hal yang terkecil hingga mereka bisa mandiri. Oleh karena itu kita sebagai anak punya kewajiban mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan yang telah diberikan kepada kita dan juga agar mendoakan kedua orang tua kita, ibu dan bapak kita mendapatkan kebaikan dan ridha dari Allah swt.

          Pengorbanan, kasih sayang, dan amal kebaikan orang tua kita, ibu bapak kita selamanya tak kan terbalaskan dengan apapun. Ibu kita ikhlas lahir batin menjadi bumi bagi pertumbuhan kita, yang dengannya doa dan harapan-harapannya memancarkan mata air keberkahan dan bagi kesuksesan bagi anak-anaknya. Maka seorang anak wajib hukumnya menghormati ibunya yang menjadi pusaka bagi kehidupannya.

          Jika kehidupan kita ingin tumbuh berkah maka kita harus masuk  dan berendah diri di kedalaman bumi cinta Sang Ibu. Tumbuhan tak akan tumbuh berkembang tanpa berpijak dan masuk ke dalam tanah, begitulah gambaran bakti anak kepada ibunya. Jika seorang anak tercerabut akarnya dari bumi cintanya, maka kehidupanya akan kering kerontang dan kemudian akan mati secara mengenaskan. Oleh karena itu berbaktilah kepada ibumu, agar hidupnya penuh berkah.

          Diantara bakti anak kepada ibunya adalah selalu mendo’akannya selagi beliau masih ada maupun telah tiada. Mari selalu mendoakan ibu juga bapak kita serta orang mukmin semua, semoga mereka diampuni oleh Allah swt.

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (٤١)  

41. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".
         
          Do'a dan Sayangku untuk ibu, baik ibuku sendiri dan ibu-ibu yang lain di seluruh penjuru bumi. Ibu Cinta dan Kasih sayangmu abadi. Selamat Hari Ibu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar