Jumat, 30 Desember 2016

Cermin Buat Ani

Cermin Buat Ani
Oleh : Joyojuwoto

Dia seorang gadis umur tujuh belasan, wajahnya konon terlihat cantik, hidungnya mancung seperti Cleopatra, bibirnya seksi indah menawan, kedua pipinya proporsional karena terbentuk dari susunan kulit dan daging yang seimbang kiri dan kanannya, dan juga perpaduan tulang geraham yang kedua sisinya simetris dan matematis, sudutnya jelas dan beraturan. Tiada aib dan cela pada wajah gadis itu. Itu yang ada dalam benak dan pikiran sang gadis, Ia membayangkan dirinya adalah Putri Salju, atau kadang juga Cinderela. Atau bahkan ia merasa dirinya adalah bidadari Tuhan yang dikirim ke langit dunia. Begitu yang selalu Ani katakan kepada teman-temannya.

“Apa mungkin bidadari Tuhan hidup dan tinggal di bumi Ani?

“Jika Tuhan menghendaki, apa yang tidak sich di dunia ini, semua serba mungkin, tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan” jawabnya sambil tersenyum.

“Bukankah dulu Jaka Tarub berhasil mengintip bidadari yang sedang mandi di sendang ini, Sari ? lanjut Ani sambil memainkan kedua kakinya di air sendang Jaka Tarub yang jernih dan dingin itu.

Dua gadis itu sedang duduk-duduk di atas sebongkah batu yang ada di sendang Jaka Tarub  kaki-kaki mereka bergerak ritmis mengoyak air sendang sehingga bayangan di dalam air pecah berserakan ke tepian sendang. Siang yang panas membuat mereka menikmati kesejukan alam yang berada di dekat jalan raya Plumpang-Tuban. Angin semilir sepoi-sepoi meniup pucuk ubun-ubun daun, pohon-pohon besar nan lebat serta menjulang tinggi melingkupi sendang yang ada dalam dunia dongeng.

Bagi Ani dunia adalah apa yang dipikirkan, apa yang ada dalam kepalanya, tanpa itu semua sebenarnya tidak pernah ada. Bukankah seorang failusuf berkata “Dengan berfikir maka kamu ada” jika tesisnya itu, maka antitesanya apa yang tidak ada dalam pikiran itu sebenarnya tidak pernah ada.

Di rumahnya atau di mana saja ia menghindari satu benda yang bernama cermin. Baginya cermin adalah benda yang tidak berguna. Ia tidak pernah menyimpan cermin itu dalam sudut kepalanya. Perabot-perabot di rumahnya juga tidak ada yang memakai cermin, almari, buffet, jendela, tidak ada yang berfungsi sebagai cermin. Jika ada kaca di rumahnya pasti itu kaca tembus pandang yang tidak memantulkan kembali objek yang ada di depannya.

Gadis itu kepercayaan dirinya sangat tinggi, ia memang tidak mau bercermin karena khawatir kecantikan yang ada dalam pikirannya luntur oleh cermin. Jika ia telah berfikir bahwa dirinya tidak cantik, maka tamatlah riwayat kecantikannya, karena baginya kecantikan itu apa yang ada di dalam pikiran. Atau kalau tidak begitu ia merasa ada orang lain yang lebih cantik dari dirinya, minimal wajah yang ada di dalam cermin itu. Dia memang lebih sering dibuat bingung oleh satu benda yang bernama cermin.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan wajah Ani, lazimnya gadis-gadis seumurannya, namun sayang karena kenarsisannya yang melewati garis demarkasi, justru membuatnya dijauhi oleh teman-temannya. Baik itu sesama kaum hawa, lebih-lebih kaum adam. Karena Ani terlalu dalam menempatkan wajahnya di depan teman-temannya. Ia tidak pernah menyadari bahwa kecantikan wajah bukan segala-galanya, namun justru itu yang dibuat segala-galanya olehnya.

Hanya Sari teman satu-satunya yang berusaha memahami watak dan karakter dari temannya itu. Sari berusaha menyenangkan hati temannya itu dengan berusaha mengiyakan apa yang ada dalam kepala Ani. Walau ia sebenarnya juga tahu itu tidak baik buat perkembangan Ani ke depan, lalu apa boleh buat kalau memang kehendak Ani demikian, Sari tidak ingin menyakiti hati sahabat karibnya.

“Ani, kenapa engkau membenci cermin ? bukankah ia adalah barang yang jujur kepada kita, cermin akan memberitahukan dan menampakkan apa yang ada di wajah kita, tidak lebih dan tidak kurang”.

“Bagaimanapun juga kecantikanmu tidak akan berkurang dengan adanya cermin Ani, jadi kamu tidak perlu takut yang namanya cermin bukan ? lanjut Sari

“Ah Sari ! buat apa cermin, tanpa cermin pun wajahku sudah cantik, imut, dan nggemesin kan ? jadi aku tidak membutuhkan barang itu Sari. Jawab Ani sekenanya.

“Betul Ani, kamu sudah cantik, tapi cermin bukan hanya sekedar memantulkan wajah cantik kita, namun lebih dari itu ia akan menunjukkan juga kemungkinan-kemungkinan yang kita sendiri tidak menyukainya, seperti jerawat, flek, ataupun yang lainnya. Dengan cermin kita bisa bercermin akan kekurangan diri kita itu, kemudian kita bisa berbenah diri. Sungguh mulia kan fungsi sebuah cermin Ani ?

“Jadi jangan sampai karena wajah kita kurang cantik di cermin, kita marah dan benci sama cermin. Jangan buruk muka cermin dibelah, Karena pada hakekatnya cermin adalah diri kita sendiri Ani.

Mumpung udara sedang sejuk-sejuknya, dan angin berhembus sepoi-sepoi, di bawah pohon rindang di tepi sendang yang airnya jernih adalah pilihan yang sangat tepat. Perlahan dan tanpa sadar ritmis kaki kedua gadis itu berhenti, perlahan dengan penuh kesadaran semesta, kejernihan air sendang itu perlahan memantulkan wajah cantik dua gadis yang sedang duduk di atas batu di tepi sendang. Air sendang yang jernih adalah cermin yang baik bagi kedua gadis itu, keduanya tersenyum manis, kemudian derai tawa mereka memecahkan kesunyian sendang di alam legenda seperti tawa para bidadari yang sedang mandi di dimensi waktu ketika Jaka Tarub mengintip makhluk dari kayangan.

Di balik semak, seorang pemuda sedang mengintip dua gadis cantik yang dianggapnya bidadari, namun sayang mereka berdua tidak sedang mandi. Sayup-sayup terdengar syair berdendang dari arah langit kayangan “Berkacalah pada air telaga karena ia lebih jujur dari kita, jangan mengaku Harimau kalau bayang-bayang seekor kambing hutan”.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar