Selasa, 08 November 2016

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Kerja keras adalah jawaban dari sebuah sikap ingin mendapatkan hal yang layak bagi kehidupan. Baik itu dalam hal pekerjaan, dalam hal sosial kemanusiaan, dan bahkan dalam hal peribadahan sekalipun. Orang yang suka bermalas-malasan tidak akan mendapatkan apapun kecuali kesia-siaan belaka. Seorang pemalas biasanya mengharapkan imbalan gaji yang besar namun ia sendiri enggan untuk giat bekerja. Mengharapkan penghormatan dalam masyarakat sedang ia sendiri tidak pernah berbakti dan berjuang untuk nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan yang lebih lucu lagi ia enggan mengikuti perintah Tuhan, namun mengharapkan surga di akhir kehidupannya.

Ada harga yang perlu dibayarkan dari sebuah gaji yang tinggi, ada mahar yang perlu dikorbankan dengan ikhlas untuk sebuah penghormatan, dan ada amalan serta tindakan yang baik untuk sebuah kemuliaan menjadi orang-orang yang tercatat dalam lembaran-lembarannya Malaikat Ridwan, kesemuanya itu adalah butuh satu kata yaitu perjuangan. Berjuang yang Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe. 

Ungkapan Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe ini walaupun secara tersurat seakan-akan kita disuruh bekerja keras tanpa mendapatkan imbalan apa-apa dari yang  kita kerjakan, sebenarnya makna yang terkandung bukanlah demikian. Maksudnya Sepi Ing Pamrih adalah kita bekerja dan berkhidmat murni untuk kebaikan, bukan ada maksud-maksud yang tidak baik yang kita sembunyikan dalam hati. Atau dalam istilah sekarang ada modus, ada udang di balik batu, ada niat-niat dan kepentingan-kepentingan lain yang menumpangi, ada i'tikad yang buruk, dan potensi-potensi penyakit hati yang lainnya. 

Contoh mudahnya jika seorang menjadi pemegang policy kebijakan, ia dalam menelurgan gagasan dan kebijakannya di ruang publik itu karena memang sesuai dengan kebutuhan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, bukan karena kepentingan lain semisal mendapatkan imbalan dari pemilik modal atau dari orang-orang yang dulu mendukungnya dalam pemilihan kepala daerah, atau modus-modus lainnya yang tidak murni demi kepentingan rakyat.

Jadi Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe bukan sebuah eksploitasi atas diri orang lain, Eksploitation the man by man and the nation by nation apapun itu bentuknya adalah  bentuk lain dari sebuah penjajahan yang telah dikutuk oleh semua bangsa di dunia ini. Apapun alasannya penjajahan adalah hal yang sangat dibenci oleh agama dan nilai-nilai universal, karena pada hakekatnya manusia dilahirkan ke dunia dalam rangka bebas merdeka dan bermartabat antar sesama manusia.

Rasulullah saw sendiri memerintahkan kita untuk menggaji orang yang bekerja kepada kita sebelum kering keringatnya. Ini menjadi bukti bahwa makna  Sepi Ing Pamrih itu bukan tiadanya imbalan terhadap yang kita lakukan. Allah swt sendiri pun memberikan imbalan pada setiap kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya. Hanya saja kadang kita salah dalam meletakkan dan keliru dalam menafsirkan kalimat kebajikan yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita zaman dahulu.

Mari Bersepi Ing Pamrih dan Berame Ing Gawe secara adil, murni dan bermartabat, guna meraih kehidupan yang barakah baik di dunia maupun di akhirat.


*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” bisa dihubungi di WA 085258611993

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar