Minggu, 06 November 2016

Inilah Makam dari Maha Patih Gajah Mada

Inilah Makam dari Maha Patih Gajah Mada
Oleh : Joyojuwoto

Jika kita membaca novel sejarah Gajah Mada yang ditulis oleh Langit Kresna Hariadi, walau novel berbau sejarah itu ditulis tebal-tebal hingga lima jilid jumlahnya namun di situ akhir dari kehidupan Gajah Mada mengambang, hingga tokoh yang sangat berpengaruh dan menjadi kunci kebesaran dari kerajaan Majapahit dengan Sumpah Palapanya ini tidak jelas di akhir kehidupannya. Tidak ada sumber sejarah atau prasasti yang menunjukkan di mana sang Mahapatih ini di candikan abu jenazahnya, atau kapan ia meninggal dunia dan di mana kuburannya. Langit Krena Hariadi hanya menggambarkan Gajah Mada moksa di sebuah tempat yang dikenal sebagai Air Terjun Madakaripura di desa Sapih, Kec. Lumbang, Probolinggo Jawa Timur.

Lokasi air terjun Madakaripura ini diyakini sebagian masyarakat sebagai tempat peristirahatan terakhir Gajah Mada setelah melepaskan jabatannya sebagai Mahapatih. Gajah Mada konon di masa tuanya mengasingkan diri ke tempat ini kemudian ia memakai gelar Resi Tunggul Manik. Untuk memperkuat anggapan bahwa di tempat itu Gajah Mada moksa, maka dibuatlah sebuah patung dengan wujud Gajah Mada sedang duduk bersila.

Sebagaimana halnya tokoh yang melegenda ternyata tempat peristirahatan Gajah Mada tidak hanya di Madakaripura saja, ada anggapan lain yang menyatakan bahwa Gajah Mada dicandikan di lereng gunung Wilis, tepatnya di Sawahan Nganjuk, di sana terdapat sebuah candi yang dianggap sebagai tempat perabuan Sang Mahapatih. Candi itu oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai candi Tajum (candi kembar) atau juga disebut sebagai candi Ngetos. Di lereng gunung Wilis inilan Gajah Mada menghabiskan masa tuanya menjadi seorang brahmana, mengajarkan kebajikan dan nilai-nilai hidup kepada para cantriknya dan juga masyarakat di sekitar. Gajah Mada di sini oleh masyarakat dikenal dengan gelar Ki Ageng Liman.

Menurut Drs. Harmadi dan Drs. S.W. Warsito dalam bukunya “Misteri Mukso Mahapatih Gajah Mada” menyebutkan bahwa Ki Ageng Liman tiada lain adalah Gajah Mada itu sendiri, walau ia berganti nama Ki Ageng Liman namun sebenarnya namanya masih menggunakan kata Gajah, karena kata Liman adalah bahasa jawa yang berarti Gajah. Lebih lanjut di dalam buku itu juga disebutkan bahwa dulu masa kecil Gajah Mada banyak dihabiskan di pedukuhan di lereng gunung Wilis. Konon Gajah Mada pun mempunyai seorang istri dari sana. Maka tidak heran jika di masa tuanya ia ingin kembali ke tanah di mana ia mempunyai kenangan yang indah di masa kecilnya. Dekat dengan bapa angkasa dan ibu bumi pertiwinya.


Terlepas mana yang benar tentang tempat peristirahatan terakhir Sang Mahapatih Gajah Mada sejarah tidak dengan jelas menyebutkannya, namun yang terpenting dari sebuah peristiwa sejarah adalah dapat kita gunakan sebagai inspirasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara guna membangkitkan motivasi agar bangsa ini menyadari akan kemampuan dan kebesaran dari leluhurnya. Sebagaimana yang sering diucapkan oleh Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Jas merah, Jangan sekali-sekali melupakan sejarah, karena sejarah juga merupakan guru kehidupan dari masa ke masa. Historia Vitae Magistra.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” bisa dihubungi di WA 085258611993

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar