Senin, 14 November 2016

Cahaya di Puncak Arga Wilis

Cahaya di Puncak  Arga Wilis
Oleh : Joyojuwoto

“La ilaha illallah...la ilaha illallah...la ilaha illallah...” suara dzikir itu terdengar keras memenuhi ruangan padepokan yang berada di bawah pohon randu alas raksasa, suaranya serentak menggema seperti ribuan malaikat yang sedang melantunkan dzikirnya mengesakan Tuhan di bawah arys di puncak langit tingkat tujuh. Suara itu bergetar di keheningan malam, menerobos pepohonan, menuruni lembah-lembah dan  perbukitan Arga Wilis yang sepi. Dzikir itu membangunkan alam raya hingga semesta pun serentak mengikuti dzikirnya. Batu-batu diam bertafakkur khusyu’ mengagungkan Tuhan, pepohonan bergoyang pelan ke kiri dan ke kanan sambil daun-daunnya merunduk berdzikir memohon ampun pada-Nya, jangkrik, belalang, dan burung-burung malam mengucapkan dzikir mengagungkan asma-asma-Nya.

Di dalam padepokan para santri yang sedang berdzikir semakin tenggelam dalam lautan ketuhanan. Wajah-wajah mereka memancarkan cahaya kesejatian. Diri mereka seakan lebur dalam nur ilahiah. Tenang dan menentramkan. Makin lama irama dzikir para santri itu semakin pelan, lirih dan akhirnya semua pun berhenti dan terdiam. Keadaan menjadi sunyi, jangkrik belalang, dan burung-burung malam yang setadinya bersuara pun turut terdiam.  Angin seakan berhenti bernafas, pelan namun penuh daya wibawa do’a-do’a keselamatan dalam bahasa Arab pun dibaca oleh Kang Sena, kemudian do’a itu ditutup dengan permohonan dalam bahasa jawa :

“Duh Gusti mugi panjenengan paring katentreman lan kanugrahan  dateng tlatah Arga Wilis meniko, mugi panjenengan Gusti...Gusti... ndadosaken panggenan meniko bibarakatillah lan kanti syafaatipun Kanjeng Nabi, panggenan ingkang joyo lan manfaah, amien ya rabbal ‘alamin”

Santri-santri dalam ruangan itu pun mengikuti dengan mengucapkan amien, sebagai permohonan agar do’a-do’a mereka diperkenankan dan dikabulkan oleh Tuhan.

Setelah selesai berdo’a Kang Sena menghadap jama’ahnya, kemudian ia pun berbicara :

“Malam ini saudara-saudara, adalah malam yang bersejarah, langit dan bumi akan menjadi saksi bukit Arga Wilis bersemi kembali. Dahulu tempat ini dipakai para wali untuk beruzlah, dan sekarang akan kita lanjutkan. Dahulu di tempat ini pernah disinggahi para kekasih-kekasih Allah, Syekh Asmorokondi, Syekh Ali Murtadlo, Syekh Ali Rohmatullah, Sunan Bonang an beberapa wali lainnya, padepokan ini kita dirikan adalah dalam rangka mewadahi barakah dan karamahnya para wali itu”.

“Amien Allahumma amien....!” sahut beberapa Kang Santri bersamaan sambil mengangkat dan menengadahkan tangan kemudian mengusapkannya di wajah masing-masing.

“Ketahuilah, malam ini kita kedatangan tamu yang istimewa, beliau adalah sesepuh Arga Wilis ini, juru kunci yang menjaga tlatah ini dari masa ke masa, beliau adalah Mbah Rhoso” 

Sambung Kang Sena sambil memperkenalkan seorang sepuh, berpakain surjan batik lurik, bercelana hitam selutut, berkolor seperti warok dan menggunakan blangkon model kasultanan Surakarta. Walau terbilang sepuh Mbah Rhoso masih tampak trengginas dan gagah dengan sorot mata yang tajam dan berwibawa. Beliau yang duduk bersebelahan dengan Kang Sena membungkukkan badannya sambil melepas seulas senyum ramah memberikan hormat kepada para santri yang hadir di padepokan itu.

“Mbah Rhoso ini akan menyerahkan Arga Wilis kepada kita, beliau akan memberikan amanah dan kepercayaan agar tempat ini kita kelola dengan baik” lanjut kang Sena menjelaskan maksud kedatangan Mbah Rhoso di tengah-tengah Kang Santri di dalam padepokan yang baru saja mereka tempati.

“Betul seperti yang dikatakan Anak mas Sena, saya sudah tua, dan saya ingin menyerahkan tempat ini kepada orang yang mendapat wahyu keprabon, atau yang berjodoh dengan tempat ini” kata Mbah Rhoso memulai pembicaraannya di hadapan para santri yang berkumpul di padepokan itu.

“Sudah dua bulan lamanya saya bermeditasi, mengurangi makan dan tidur meminta petunjuk dari Gusti Allah tentang siapa yang cocok dan layak menempati Arga Wilis ini. Setelah melalui bisikan nurani yang bersih dan suci itulah saya memilih Anak mas Sena untuk mendirikan padepokan di sini”

“Di sini di Arga Wilis ini dulu wahyu keprabon pernah turun dari langit dan hinggap di puncak bukit di tempat yang sekarang kalian gunakan duduk ini, di tanah yang penuh barakah inilah Raden Aryo Randu Kuning salah seorang putra dari Raja Banjaran Sari dari negeri Pajajaran yang mengembara kemudian berolah yoga di bukit Arga Wilis ini memohon kepada Tuhan untuk diperkenankan mendirikan sebuah kadipaten yang kelak dikenal dengan nama Lumajang Tengah, letak Kadipaten itu di sebelah utara di bawah bukit Arga Wilis ini, dulu namanya hutan Srikandi”

Para santri hanya terdiam mendengarkan Mbah Rhoso membabar sejarah dari bukit Arga Wilis yang sekarang mereka tempati sebagai padepokan itu. Suasana semakin sepi, kemudian mbah Rhoso melanjutkan ceritanya.

“ Malam ini adalah malam Selasa Kliwon, yang dalam perhitungan Jawa dikenal dengan nama hari Anggara Kasih, yaitu hari permulaan wuku, malam ini adalah malam di mana kekuatan batin dan daya kesaktian serta kejayaan mencapai puncaknya. Oleh karena itu sebagai tanda saya menyerahkan Arga Wilis ini kepada Anak Mas Sena, saya juga akan menyerahkan pusaka pedang perak kyai Naga Putih kepada Anakmas sebagai piyandel padepokan Arga Wilis”

“Pusaka ini telah lama tertidur di dalam kotak kayu, terdiam dan kehilangan pamornya, jika ia berjodoh kepada Anak Mas Sena, maka pusaka ini akan kembali bersinar”

“Mari kesini anak mas, berdirilah, saya serahkan pusaka ini kepada engkau sebagai pemegang kendali di Arga Wilis ini”

Kang Sena berdiri dan menghadap kepada Mbah Rhoso dengan menunduk khidmad, para santri yang hadir pun terdiam menyaksikan prosesi penyerahan pusaka Arga Wilis kepada Kang Sena. Dengan didahului oleh ucapkan syahadat Mbah Rhoso menyerahkan pusaka pedang perak kyai Naga Putih itu kepada Kang Sena.

“Asyahadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, pedang pusaka ini, tepat pada malam Anggara Kasih saya serahkan kepada Anak Mas Sena, semoga Tuhan meridhoi dan memberkahi segala langkahnya, dan menjadikan padepokan Arga Wilis ini joyo serta menjadi cahaya di tlatah Kadipaten Tuban ini”

Setelah pusaka yang dibungkus dengan kain mori itu diserah terimakan, Mbah Rhoso dan Kang Sena duduk kembali menghadap ke arah para santri. Dengan mengheningkan cipta, memusatkan panca indra, menghidupkan cipta, rasa, dan karsanya, Mbah Rhoso merapal Kidung Rumeksa Ing Wenginya Kanjeng Sunan Kalijaga, suasana padepokan Arga Wilis semakin tintrim. Daya magis dari kidung itu benar-benar menguasai malam di puncak Arga Wilis.

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputa ing lara
Luputa ing bilahi kabeh
Jin setan datan purun
Paneluhan tan wani ana
Miwah penggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna

Setelah kidung itu selesai dirapal oleh Mbah Rhoso, pusaka yang kini dibawa oleh Kang Sena mengeluarkan cahaya putih keperakan, cahaya itu membasuh gelapnya malam hingga puncak Arga Wilis menjadi terang benderang brmanikan cahaya, sudah lama pusaka itu terdiam di dalam kotak kayu menghitam dan kehilangan pamornya, begitu kata Mbah Rhoso, dan Kini pusaka itu telah menemukan jodohnya dan siap bersinar kembali bagai purnama sidi yang menerangi puncak Arga Wilis.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar