Senin, 28 November 2016

Bangilan Menangis Duka

Bangilan Menangis Duka
Oleh : Joyojuwoto

Pepatah bagai petir di siang bolong ternyata bukanlah isapan jempol belaka, ini belum siang, bahkan hawa dingin sisa tangis langit malam masih terasa, matahari pun masih berselimut shubuh, namun petir itu benar-benar bersuara. Getarnya menggoncangkan bumi, menggetarkan langit dan seisinya, pilar-pilar jagad raya runtuh, cahaya semesta padam, kegelapan pun menyelimuti dunia. Satu pelita Tuhan di muka bumi telah diambil-Nya, cahayanya telah kembali dan bersatu dengan Sang Maha Cahaya, melebur dalam nur-Nya. Nuurun ‘alaa nur.

Bumiku menangis sendu, langitku bergelayut mendung duka. Dadaku terasa nyeri berdesir pilu, salah seorang hamba terbaik-Mu tlah engkau panggil ke sisi-Mu ya Tuhan. Gus Nafis Misbah, pengasuh pondok pesantren Al Balagh Bangilan adalah sosok yang alim, tawadhu’, bersahaja. Kini beliau  telah menaiki tangga cahaya menuju Rabbnya.  Beliau adalah seorang guru, kyai, dan panutan umat yang berkhidmat penuh rahmat, berbakti dan mengabdi sepenuh hati, tak lelah berpayah-payah mengasuh umat lillah.

Bunga-bunga do’a kami taburkan, harapan-harapan kebaikan kami siramkan, mengiringi langkah engkau ke alam kelanggengan, walau sebenarnya do’a ini mungkin tak memiliki arti  apapun sebagaimana air sungai yang mengairi laut. Kami sungainya, engkau lautnya, namun setidaknya do’a dan pengharapan ini adalah cara kami untuk terus bisa bertahan dan menyembunyikan rasa kehilangan yang mengguncang dada.

Inna lillahi wa inna ilahi roji’un. Allahummaghfirl lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu anhu. Allahumma akrim nuzulahu wa wassi’ matkholahu, wa aghsilhu bi maa’in, wa tsaljin, wa baradin. Allahumma laa takhrimna ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin.

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Ya Allah ampunilah dia, rahmatillah dia, maafkanlah segala kesalahannya. Ya Allah muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburnya, basuhlah jiwa dan raganya dengan air, es, dan embun. Ya Allah janganlah Engkau haramkan kami dari pahalanya, dan janganlah  Engkau beri fitnah pada kami sesudah kematiannya. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Bangilan Berduka, 28 November 2016
Teriring do’a kagem Gus Nafis, lahu al Fatihah...


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar