Rabu, 05 Oktober 2016

Sejarah Bulan Muharram

Sejarah Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah bulan pertama pada hitungan kalender hijriyah sejak ditetapkannya oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai kalender Islam. Hitungan bulan hijriyah ini mengacu pada perputaran bulan sehingga sering juga disebut sebagai kalender qomariyah, sedangkan hitungan kalender masehi memakai perputaran matahari atau disebut sebagai kalender syamsiyah.

Pada zaman dahulu masyarakat Arab sudah memakai hitungan kalender qomariyah, mereka juga telah mengenal bulan-bulan seperti bulan Dzulhijjah sebagai bulan haji, bulan Rajab, bulan Muharram, Ramadhan, dan bulan-bulan lain yang kita kenal. Hanya saja saat itu masyarakat Arab belum memiliki angka tahun. Biasanya mereka memakai acuan tahun dengan disandarkan pada peristiwa-peristiwa besar, seperti tahun Gajah, tahun Fijar, 10 tahun sesudah meninggalnya seorang tokoh dan lain sebagainya.

Hal yang sedemikian itu terus berlangsung hingga zaman Rasulullah SAW, seperti kita kenal ada Amul Huzni atau tahun kesedihan, sanatul idzni, tahun di mana umat Islam diizinkan Allah berhijrah, sanatul amri, tahun perintah untuk memerangi orang musyrik, tahun tamhish, tahun ampunan dosa sebagaimana dalam firman Allah surat Ali Imron ayat 141 yang menjelaskan Allah mengampuni dosa-dosa para sahabat ketika perang Uhud, tahun Zilzal, yaitu tahun yang penuh ujian ketika umat Islam menghadapi perang khandaq dan tahun-tahun lain yang memiliki peristiwa-peristiwa besar yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, tepatnya di tahun ketiga kepemimpinannya, beliau mendapat surat dari Gubernur daerah Bashrah Abu Musa Al Asy’ari tentang kebingungannya menindaklanjuti surat dari sang khalifah yang ditulis pada bulan Sya’ban. Abu Musa menanyakan maksudnya surat itu Sya’ban yang kemarin ataukah Sya’ban yang hari ini. melihat fenomena itu akhirnya Umar bin Khattab bermusyawarah dengan para sahabat untuk membuat satu kesepakatan tahun. Atas usul dari Ali bin Abi Thalib akhirnya disepakati tahun pertama adalah dihitung sejak hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah. Karena tahun yang dipakai adalah tahun hijrahnya Nabi maka kalendernya disebut sebagai kalender hijriyah. Sedang bulan-bulannya tetap memakai bulan yang digunakan oleh masyarakat Arab kala itu. Bulan yang pertama dalam penanggalan masyarakat Arab pada masa silam adalah bulan Muharram, dan itu tetap dipakai dalam tahun hijriyah.

Bulan Muharram dalam tradisi masyarakat Arab adalah termasuk bulan yang mulia, bulan yang suci, dan bulan yang mana di dalamnya masyarakat Arab pada zaman dahulu dilarang untuk berperang. Dalam Islam pun bulan muharram adalah bulan yang istimewa. Dalam surat At-Taubah ayat : 36 Allah berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At-Taubah: 36)

Keempat bulan yang dimaksudkan ayat di atas adalah bulan Muharram, bulan Rajab, Dzulqo’dah, dan bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah SAW pada saat haji Wada’. Pada bulan-bulan empat tadi masyarakat Arab dilarang untuk mengotorinya dengan melakukan peperangan demi mensucikan keempat bulan tersebut.

Dalam beberapa hadits banyak menyebut dan menyinggung akan kemuliaan dari bulan Muharram ini. Pada bulan yang mulia inilah puasa sunnah memiliki banyak keutamaan, Rasulullah SAW sendiri pun banyak melakukan puasa sunnah di bulan Muharram. Sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Secara historis bulan Muharram juga menyimpan banyak kejadian yang menakjubkan seperti selamatnya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun, Nabi Ibrahim selamat dari kobaran apinya Raja Namrud, dikeluarkannya Nabi Yunus dari perut ikan, dan lain-lain yang menunjukkan kekaromahan dari bulan Muharram. Pun demikian bulan Muharram menurut prespektif orang Jawa yang dikenal sebagai bulan Suro juga menjadi bulan yang disucikan, dan sakral, hanya saja cara memuliakan dan mensucikan bulan Sura dengan cara yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar