Senin, 31 Oktober 2016

Nabi Muhammad Bermi’raj di Sidratil Muntaha

Nabi Muhammad Bermi’raj di Sidratil Muntaha,
Orang Mu’min  Bermi’raj di Dalam Shalatnya.

Oleh : Joyojuwoto

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١)
1. Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
Ayat di atas adalah awalan dari Surat Al-Isra’ yang menceritakan sebuah perjalanan maha dahsyat yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban umat manusia, perjalanan ini tidak hanya menjadi misteri besar pada 1500 tahun silam, namun peristiwa itu juga akan terus menjadi misteri yang tidak akan terpecahkan sampai kapanpun. Ayat Al Isra’ ayat 1 merekam perjalanan Nabi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, sedang peristiwa kedua yang terjadi sesudah itu adalah peristiwa Mi’raj yaitu peristiwa bertemunya Nabi Muhammad saw dengan Allah swt secara langsung di Sidratul Muntaha. Hal ini terekam dalam firman Allah surat An-Najm 13-18 :
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (١٣)عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤)عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (١٥)إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (١٦) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (١٧)لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (١٨)
13. dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
14. (yaitu) di Sidratil Muntaha.
15. di dekatnya ada syurga tempat tinggal,
16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
17. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
18. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.



Mungkin dengan setetes pengetahuan yang Allah anugerahkan kepada manusia mereka mampu melanglang hingga ke penjuru jagad raya dan pelosok tata surya, namun peristiwa Isra’ dan mi’rajnya Nabi Muhammad saw akan tetap menjadi keajaiban yang tak terkalahkan sepanjang masa. Tidak untuk zaman dahulu bahkan esok yang akan datang.
Perjalanan Rasulullah saw yang terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke sepuluh kenabian adalah perjalanan untuk bertemu dengan Allah swt di Sidrotil Muntaha. Perjalanan ini bukan kemauan dari Rasulullah sendiri, namun perjalanan ini adalah kehendak dari Allah, oleh karena itu dalam surat Al-Isra disebutkan, “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya...”. Jika perjalanan ini adalah dari Allah untuk hambanya Muhammad maka apapun itu bisa terjadi. Keajaiban bagaimanapun juga sesuatu yang bukan hal yang mustahil bagi Allah swt. Karena Allah adalah Dzat yang “Fa’aalul lima yuriid” dapat memperbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.
Dalam tulisan saya di sini tidak ingin mempermasalahkan tentang peristiwa ini terjadi dengan cara yang bagaimana seperti yang banyak diperdebatkan, jika kita benar-benar beriman tentu apapun itu tentang Nabi Muhammad, kita wajib sami’na wa atha’na, begitu pula walau mungkin kita tidak mengimani  Nabi Muhammad, namun jika kita tidak mengkhianati tradisi ilmu pengetahuan maka perjalanan Nabi Muhammad sangatlah ilmiah dan tidak terbantahkan. Jangan karena keterbatasan kita dalam mencerna suatu peristiwa kemudian kita mengatakan itu hal yang mustahil, dan hanya orang-orang yang berpenyakit hati dan sempit wawasan saja yang tidak membenarkan peristiwa ini.
Peristiwa Isra’-Mi’raj ini terjadi setelah Rasulullah saw ditinggal wafat orang-orang yang menjadi pembela beliau dalam berdakwah. Istri beliau Khadijah yang menjadi sandaran keluh kesah dalam dakwah meninggal dunia, Abu Thalib yang menjadi pembela beliau pun menyusul meninggal dunia. Seakan Allah memang telah merencanakan dan memurnikan bahwa hanya kepada-Nya semata tempat bersandar dan meminta pertolongan dalam dakwah.
Rasulullah sendiri mengakui betapa dahsyatnya cobaan dan gangguan dakwah Nabi sepeninggal pamannya Abu Thalib. Dalam sebuah hadits beliau bersabda yang artinya : “Setelah Abu Thalib wafat, barulah aku mengalami gangguan yang paling tidak kusukai dari orang-orang Quraisy”. Tidak hanya itu saja, ketika Rasulullah berusaha mencari perlindungan dakwah di Thaif, namun justru orang-orang Thaif pun menolak beliau bahkan mengusir beliau dari tanah Thaif. Kepedihan demi kepedihan ini mencapai puncaknya, hingga Allah swt memberikan kegembiraan kepada Nabi dengan cara memanggilnya menghadap dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini.
Dalam rangkain peristiwa Mi’raj yang paling penting adalah pertemuan Nabi Muhammad saw dengan Allah swt yang tanpa perantara. Ketika melihat Allah, Nabi bersalam kepada-Nya :
التّحيّات الله والصّلوات والطّيّبات
Salam, segala puji dan kebaikan untuk Allah”.
Kemudian Allah pun menjawabnya :
الشلام عليك أي!ها النّبيّ ورحمة الله وبركاته
“Damai, besertamu, ya Nabi, juga kasih sayang dan berkah Allah”.
Nabi menjawab lagi :
السلام علينا وعلى عباده الصّالحين
“Damai beserta kita dan para hamba Allah yang taat”.
Kemudian semua malaikat yang menyaksikan peristiwa agung itu sama berkata :
أشهد أن لا إله إلاّ الله وأشهد أن محمّدا عبده ورسوله
“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.
Percakapan Allah dan Nabi Muhammad inilah yang akhirnya menjadi salah satu dari rukun shalat yang juga diperintahkan Allah swt pada saat itu pula. Shalat adalah satu-satunya syariat yang diturunkan langsung tanpa perantara. Langsung Nabi Muhammad berhadapan dengan Allah swt di Sidratil Muntaha. Melihat redaksi percakapan itu dapat kita ambil pelajaran bahwa shalat pada hakekatnya juga bagian dari peristiwa mi’raj. Tinggal orang yang shalat itu mampu menghadirkan diri di hadapan Allah atau hanya sekedar gerakan fighiyah semata.
Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa : As-shalaatu Mi’raajul Mu’min” artinya “Shalat itu mi’rajnya orang mu’min”. Dari hadits ini dapat diambil satu kesimpulan bahwa jika Rasulullah saw ketika menghadapi segala coba dan godaan dakwah, dan tidak ada lagi yang dimintai perlindungan maka Allah menyediakan diri-Nya sebagai pelindung. Begitu pula sebaliknya jika kita menghadapi segala ujian dan cobaan di dunia ini, maka tempat yang tepat untuk meminta perlindungan juga hanya Allah semata, yaitu dengan menjalankan ibadah shalat sebagai sarana mi’raj dan pertemuan seorang hamba kepada Tuhannya. “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu” (Al-Baqarah : 6).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar