Sabtu, 08 Oktober 2016

Mengulas Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk Karya Hamka

Mengulas Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk Karya Hamka
Oleh : Joyojuwoto


Identitas Buku :
Judul buku             : Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk
Penulis                   : Hamka
Penerbit                  : Pedoman Masyarakat, M, Syarkowi, Balai Pustaka, Penerbit Nusantara, Penerbit Malaysia.
Setting tempat        : Batipuh, Mengkasar, Padang Panjang, Jakarta, Surabaya, Brondong Lamongan.
Tokoh-tokoh            : Pendekar Sutan, Datuk Mantari Labih, Daeng Habibah, Mak Base, Zainuddin, Hayati, Khadijah, Aziz, Mande Jamilah, Bang Muluk.

Ulasan Roman

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk  adalah sebuah judul roman  yang ditulis oleh seorang ulama besar dari tanah Minang, Hamka. Tidak umum seorang ahli agama menulis sebuah roman, apalagi roman percintaan. Pada mulanya Hamka mendapat tantangan dan reaksi yang keras golongan agamawan, namun seiring dengan berjalannya waktu kurang lebih setelah terjadi polemik selama sepuluh tahun suara-suara sumbang itu pun tumbang. Kian hari mengertilah orang-orang ternyata berkesenian dan belajar sastra juga penting dan bermanfaat. Umar bin Khattab berkata mengenai sastra : “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani”

Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk ditulis Hamka diusianya yang ke 31 tahun (1938), pada pada mulanya tulisan ini diterbitkan secara bersambung di majalah Pedoman Masyarakat. Baru setelah itu diterbitkan menjadi buku secara mandiri oleh temannya yang bernama M. Syarkowi. Setelah cetakan yang kelima, roman ini diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka, juga pernah diterbitkan oleh penerbit Nusantara, penerbit Bulan Bintang, bahkan diterbitkan pula oleh penerbit dari Malaysia.

Tema yang diusung Hamka dalam roman yang ditulisnya ini adalah mengkritisi tradisi Minangkabau yang tidak memberikan tempat bagi kaum laki-laki dalam sebuah struktur keluarga. Mungkin karena fanatiknya atau karena tingginya porsi penghormatan masyarakat kepada seorang perempuan sehingga mengabaikan hak dari seorang laki-laki. Di masyarakat Minang tradisi yang berkembang dalah Matrilineal yaitu menempatkan perempuan sebagai garis keturunan, maka jika seorang anak laki-laki tidak memiliki saudara kandung perempuan ia sungguh malang, karena harta orang tuanya menjadi bagian dari mamaknya (saudara laki-laki dari ibu).

Bersikap yang terlalu inilah yang memang kerap menimbulkan masalah di tengah kehidupan bermasyarakat. Terlalu dalam hal apapun tidak ada baiknya, bahkan dalam kebaikan sekalipun, lebih-lebih terlalu dalam kejelekan. Oleh karena itu kita diajari untuk mengambil posisi tengah-tengah dan seimbang agar tidak terjadi kegoncangan, sebagaimana dalam sebuah hikmah dikatakan : “Khairul Umuuri Ausathuha” sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah. Tidak ekstrim ke kanan juga tidak ekstrim ke kiri. Jalan tengah adalah jalan yang terbaik.

Berakar dari tradisi masyarakat  yang teguh dan keukeh jika tidak boleh dikatakan sebagai tradisi yang kolot kisah roman Hamka ini dituliskan. Adalah seorang anak laki-laki tunggal bernama Pendekar Sutan, menginjak usia remaja layaknya pemuda-pemuda yang siap nikah, namun ia tidak diperbolehkan menggunakan harta ayah ibunya untuk keperluan itu. Karena seluruh harta kedua orang tuanya berada di dalam kekuasaan mamaknya. Hingga terjadi sebuah peristiwa yang menggemparkan di Rumah Besar, Pendekar Sutan bersitegang dengan mamaknya Datuk Mantari Labih. Karena tersinggung Datuk Mantari Labih menghunus keris dan melompat hendak menikam Pendekar Sutan, namun sayang gelar Pendekar Sutan bukanlah gelar sembarangan, tidak sembarang orang mampu memperolehnya, gelar itu menjadi jaminan jangankan sepuluh orang, bahkan lebih dari itu pun dihadapi, pantang surut ke belakang. Pisau Pendekar Sutan secepat kilat telah menembus lambung kiri Sang Datuk yang kemudian menghantarkan kematiannya.

Setelah peristiwa geger di Rumah Besar Pendekar Sutan ditangkap, ia disidang di pengadilan adat Padang Panjang, atas kesalahan yang telah dilakukan ia dijatuhi hukuman buang di Cilacap selama kurun waktu lima belas tahun lamanya. Ketika meletus perang Bone serdadu-serdadu Jawa  mengirimkannya ke Mengkasar guna membantu mengamankan daerah di sana, karena Sutan terkenal sebagai seorang yang jago persilatan. Di dalam penjara di Mengkasar inilah Pendekar Sutan berkenalan dengan seorang rantai dari Madura, Kismo Namanya. Umurya kira-kira 40-an tahun, dari dia Sutan banyak belajar ilmu kebatinan.

Setelah masa hukumannya habis Pendekar Sutan  enggan untuk pulang kembali ke Batipuh, kampung halamannya. Ia lebih suka tinggal di Mengkasar, percuma juga pulang jika hanya makan hati berulam jantung, seorang yang tidak berpunya dan tidak beruang tidak dianggap ada.

Kalau tidak ranggas di Tanjung
Cumanak ampaian kain
Kalau tidak emas dikandung
Dunsanak jadi orang lain

Di Mengkasar Pendekar Sutan menumpang di rumah seorang tua keturunan bangsawan Melayu, karena kehalusan dan budi pekertinya yang menawan Sutan dijodohkan dengan anak gadisnya yang masih perawan Daeng Habibah. Dari perkawinannya inilah lahir tokoh utama roman Hamka, Zainuddin namanya. Sayang seakan keberuntungan tidak pernah berpihak kepadanya, semenjak bayi ketika umurnya baru sembilan bulan ia telah ditinggal wafat ibunya. Semenjak itu Zainuddin diasuh oleh Mak Base, sedang yang mencarikan nafkah adalah ayahnya.

Kepergian Daeng Habibah menyisakan luka yang mendalam bagi Sutan, ia tak hendak menikah lagi, separo jiwanya ada pada Habibah, sedang ia hidup di dunia dengan hati yang separo juga. Ketika usia Zainuddin telah kanak-kanak dan baru pandai-pandainya bermain, tepat Kamis petang malam Jumat Pendekar Sutan meninggal dunia. Ah...kemalangan macam apalagi yang kan menimpa bocah laki-laki yang sudah tak berayah ibu itu.

Setelah ditinggal wafat ayahnya, Zainuddin yang dalam asuhan Mak Base beranjak remaja. Hingga pada suatu ketika ia mengutarakan maksudnya untuk pergi ke kampung asal ayahnya. Dengan berat hati Mak Base pun mengijinkannya.

Setelah menempuh perjalanan laut yang panjang sampailah Zainuddin di Batipuh Padang Panjang. Sebuah negeri yang elok nan indah. Negeri yang berlatar gunung-gunung dan lembah ngarai serta sungai-sungai yang airnya selalu bernyanyi riang gembira. Negeri yang berada di rampingnya pinggang Singgalang dan jenjang-jenjang kaki-kaki gunung Merapi. Negeri yang sangat memegang teguh adat moyangnya. Di Batipuh sendiri Zainuddin menumpang di rumah Bakonya (keluarga dari pihak ayah), karena berdasarkan adat Zainuddin tidak memiliki kelas di masyarakat. hilang asal dan usulnya ibarat pepatah “La Ashla Wa La Fashla”.

Hidup di tengah-tengah kerabatnya Zainuddin sama sekali tidak dihargai kecuali karena uangnya saja. ia merasa tersisihkan dan terbuang. Bagai kapal yang tak memiliki dermaga untuk berlabuh, terombang-ambing di tengah gelombang adat yang  menumbangkan dan meremukkan tiang-tiang pancang layarnya. Dunia Zainuddin  gelap tidak ada matahari yang mencerahkan bumi batinnya. Di sebuah lapao pada hujan yang deras mengguyur, saat kilat dan guntur menyambar Zainuddin bertemu dengan dua orang gadis, salah satunya bernama Hayati yang oleh pengarang memang akan disetting menjadi hayat (kehidupan bagi Zainuddin). Ah..lagi-lagi hujan yang akan menautkan hati sepasang sejoli itu, sihir hujan ternyata sudah ada sejak Hamka pula. Semenjak peristiwa hujan itu, hari-hari Zainuddin yang mulanya sepi kembali berseri, harapannya hidup kembali, bunga-bunga hatinya bermekaran bagai musim semi, oh..indahnya.

Melalui media surat menyurat hubungan sepasang kekasih itu tumbuh. Segala perasaan diperas dan ditumpahkan melalui dawat di selembar kertas, kadang-kadang mereka pun bertemu melepas rindu di pematang sawah yang berjenjang, di ekor lubuk, di gubuk di tengah sawah, ya pertemuan dua hati yang saling menjaga cinta murni, bukan pertemuan-pertemuan raga yang penuh nafsu angkara. Hubungan kekasih itu akhirnya menjadi buah bibir di kalangan masyarakat, hingga Zainuddin terusir dari Batipuh. Sebelum pergi Zainuddin dan Hayati bertemu, Hayati berjanji akan setia menunggunya dengan setia. Zainuddin kemudian pergi ke Padang Panjang untuk memperdalam ilmu pengetahuan guna bekal kehidupannya di dunia dan akhirat.

Di padang Panjang Zainuddin menumpang di rumah Mande Jamilah. Ketika menjalani hubungan LDR ini Zainuddin dan Hayati saling berkirim surat. Hingga pada suatu pesta rakyat Pacu Kuda dan Pasar Malam, Hayati yang saat itu berkunjung ke rumah sahabatnya Khadijah bertemu dengan Zainuddin. Khadijah punya saudara laki-laki namanya Aziz. Ia adalah seorang tipe pemuda metropolitan yang suka dengan dunia malam dan perjudian. Aziz awalnya enggan menikah, karena menurutnya menikah hanya menahan langkahnya saja. Ketika ia ditawari Khadijah untuk mengawini Hayati, dengan berbagai pertimbangan serta melihat kecantikan Hayati akhirnya Aziz mau menerimanya.

Dengan berbekal harta dan keturunan sebagaai orang terpandang keluarga Aziz melamar Hayati. Zainuddin yang saat itu mendapat kiriman uang sejumlah Rp 3.000 yang saat itu cukup untuk membangun sebuah rumah tangga juga berniat melamar Hayati. Ia irimkan surat lamaran kepada mamak Hayati. Setelah melalui sidang keluarga dengan pertimbangan adat lamaran Zainuddin ditolah karena ia dianggap miskindan tidak punya asal-usul. Sedang lamaran Aziz diterima. “Ruas telah bertemu buku, bagai janggut pulang ke dagu, sama berbangsa keduanya, satu bulan,satu matahari.

Di sinilah Hayati sedang diuji, ketika dia ditanya untuk dinikahkan dengan Aziz dia hanya diam saja. Diamnya perempuan dianggap sebagai kesediaannya. Akhirnya terjadilah perkawinan antara Aziz dan Hayati. Mendengar Hayati telah kawin, Zainuddin jatuh sakit, ia sekarat dan hampir mati. Selama dua bulan Zainuddin menjadi bunga dipan saja. selalu saja nama Hayati yang dipanggil-panggilnya. Tak ada dokter yang mampu menyembuhkannya. Atas saran dari dokter dipanggillah Hayati ke Padang Panjang sebagai obat bagi sakitnya pemuda yang malang itu. Ketika membaca di halaman ini tak kuasa saya menahan kesedihan, tanpa sadar air mata saya pun ikut meleleh. Adegan yang sangat menguras air mata. Hamka sukses membuat saya menangis sesenggukkan. Saya jadi ingat ucapan dari sang ahli patah hati Jendral  Tian Peng alis Cut Pat kay, murid Biksu Tom San Cong “Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir” Sampai tulisan ini Anda boleh tertawa dan menertawakan diri Anda sendiri tentang lika-liku cinta Anda.

Peran sahabat akan sangat terasa ketika seseorang sedang terpuruk, Bang Muluk seorang parewa dengan sepenuh hati menemani saat-saat Zainuddin kehilangan pegangan. Ia genggam erat tangan sahabatnya itu. Bang Muluk memberi saran agar Zainuddin fokus menjadi penulis saja, melihat kemahirannya menulis hikayat-hikayat. Mereka berdua kemudian pergi ke Jakarta membuka lembaran baru. Di Jakarta ini Zainuddin sukses menjadi pengarang dengan menggunakan nama pena “Z”. Setelah itu mereka berdua memutuskan tinggal di Surabaya. Di sini Zainuddin yang memakai nama Shobary sukses menjadi penulis dan mementaskan karyanya di tonil yang dibentuknya dengan klub anak Sumatera.

Karena suatu hal keluarga Aziz dan Hayati pindah ke Surabaya, di Surabaya ini Aziz menemukan dunia mudanya. Ia kembali terjun ke hiburan dan dunia perjudian. Ia abai dengan istrinya yang selalu setia menunggunya di rumah. Hingga Aziz banyak menumpuk hutang, barang-barang di rumah satu persatu di ambil juru sita, bahkan sampai sampai rumah juga harus ditinggalkan. Aziz dan istrinya kemudian menumpang di rumah Zainuddin.

Karena terlalu lama tinggal menumpang Aziz meminta ijin untuk pergi bekerja di Banyuwangi, dan meninggalkan Hayati di rumah Zainuddin. Bisa kita bayangkan bagaimana pertarungan batin dua insan yang pernah saling mencintai ini. Pada dasarnya Hayati masih menyimpan cinta sucinya untuk Zainuddin, begitu pula Zainuddin cintanya juga tak kunjung padam. Di sinilah kilmaks roman ini meledak, sepucuk surat cerai dari Aziz datang, dan disusul berita di surat kabar Aziz mati bunuh diri, di surat yang ditulisnya Aziz ingin mengembalikan Hayati yang dulu dirampasnya kepada yang berhak. “Pinang akan disurutkan ke tampuk,  sirih akan dipulangkannya ke gagang”.

Jika ending dari roman ini ditulis Zainuddin kemudian menikahi janda Aziz, selesailah sudah detak jantung ini, dan tentu endingnya kurang menghentak. Hamka ternyata sangat piawai dalam memainkan perasaan membaca. Melalui cerita dari Muluk, Hayati tahu bahwa Zainuddin masih mencintainya dan bahkan memasang fotonya di singgahsana kamar pribadinya, Hayati sangat kaget ia disuruh pulang ke Padang, bahkan Zainuddin juga akan mengiriminya uang belanja sampai Hayati beroleh seorang suami. Sungguh kejam jika bara dendam dan api cinta telah berkolaborasi membangun petaka. Hayati pun harus pulang kembali ke kempung halamnnya dengan air mata yang tak tersisa.

Pagi-pagi hari Senin, tanggal 10 Oktober 1936, Kapal Van Der Wicjk berlabuh di Tanjung Perak dan esoknya akan pergi berangkat ke Semarang, dan menuju Tanjung Priok. Di kapal itu Hayati akan menumpang pulang. Ia ke dermaga hanya ditemani Muluk, sedang  Zainuddin sendiri pergi ke Malang entah ada urusan apa. Kepada Muluk, Hayati menitipkan pesan dan surat kepada Zainudin, pesan itu seakan-akan pesan terakhirnya. Muluk sendiri tidak habis pikir kepada sahabatnya itu, orang yang dicintainya telah berada di dekatnya namun Zainuddin  justru menyuruhnya pergi. Padahal Zainuddin tahu ia tidak dapat hidup tanpa Hayati, kalaupun hidup, kehidupannya tidak akan pernah bahagia.

Hari Selasa,tanggal 20 Oktober 1936, Zainuddin datang dari Malang, hatinya gundah seakan-akan ia mendengar suara hayati minta tolong di tengah deburan gelombang lautan.  Semua itu pun terjawab di sebuah surat kabar bertulis huruf besar-besar “KAPAL VAN DER WICJK TENGGELAM”.

Cerita dalam roman ini pun berakhir dengan wafatnya Hayati di rumah sakit di pelukan Zainuddin dengan ungkapan kata-kata yang menyanyat perasaan. Di halaman 206 dituliskan :

“Zainuddin. Saya dengar perkataan...tuan dokter saya tahu bahwa waktu... saya... telah dekat.”
“Tidak hayati, kau akan sembuh, kita akan kembali ke Surabaya menyampaikan cita-cita kita, akan hidup beruntung, berdua ! Tidak...Hayati...tidak !”
Sabar... Zain, cahaya kematian telah terbayang di mukaku ! Cuma, jika kumati...hatiku telah senang, sebab telah kuketahui bahwa engkau masih cinta kepadaku”.

Tak ada yang tersisa dari kehidupan Zainuddin sesudah itu kecuali kesedihan, hatinya semakin muram. Hingga akhirnya ajal pun menjemputnya setahun kemudian sesudah dikuburkannya Hayati.

Cinta memang kadang aneh, banyak pakar mendefinisikan pengertian cinta, namun kayaknya cinta lebih suka mendefinisikan dengan caranya sendiri.

الحبّ لا يمكن تفسيره, فهو يفسّر كلّ شيءِ
"Cinta tak mungkin bisa didefinisikan,
Cintalah itu sendirilah yang akan menjelaskan semuanya".

Cinta itupula yang menjangkiti diri Zainuddin,  besarnya harapan dan cintanya kepada Hayati telah membuatnya terpuruk, begitupun sebaliknya penderitaan-penderitaan karena cinta itu juga menjadikannya menjadi penulis ternama. Bagaimanapun sempurnanya manusia, ia tetaplah makhluk yang lemah, begitu pula dengan Zainuddin. Sehingga cinta menjadikannya sengsara dan membunuhnya. Jika Zainuddin ingat sebuah hadits Nabi yang menerangkan : “Cintailah seseorang itu dengan sekedarnya” tentu jalan nasib Zainuddin akan lain ceritanya.

Terlepas dari itu semua, Hamka mengingatkan dalam tulisannya : “Di belakang kita berdiri satu tugu yang bernama nasib, di sana telah tertulis rol yang akan kita jalani. Meskipun bagaimana kita mengelak dari ketentuan yang tersebut dalam nasib itu, tiadalah dapat, tetapi harus patuh kepada perintahnya.


Sekian. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar