Rabu, 26 Oktober 2016

Menebar Cinta Semesta

Menebar Cinta Semesta
Oleh : Joyojuwoto

Sekecil dan sesederhana apapun tebarkanlah kebaikan diantara hamba-hamba Tuhan, baik itu berupa benda mati, lebih-lebih makhluk hidup. Sebagai seorang hamba Tuhan, wajib bagi kita untuk menebar cinta guna mewujudkan kedamaian dan harmoni semesta, atau dalam istilah agamanya menjadi rahmatan lil ‘alamin, bukan laknatan lil’alamin. Dalam filosofi Jawa dikenal dengan istilah memayu hayuning bawana.

Jika kita mencintai penduduk  bumi, niscaya kita akan dicintai oleh penduduk langit. Cinta semesta tidak pernah memandang struktur dan kedudukan sosial masyarakat, profesi, jenis kelamin, bahkan agama sekalipun. Ini mungkin yang dimaksudkan oleh Gus Dur dengan kata-katanya “Tidak penting apa Agama atau sukumu... Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa Agamamu..."

Sebelum kita menjadi seorang mukmin muslim, kita harus lulus terlebih dahulu menjadi seorang manusia, begitu kira-kira kata Cak Nun. Ajaran rahmatan lil’alamin adalah ajaran untuk semua manusia, hablum minannas, bukan hanya kelompoknya saja. oleh karena itu berbuat baik secara manusiawi tidak pernah membutuhkan, tidak pernah menuntut apapun kecuali hanya kebaikan itu sendiri.

Ikutilah teladan dan petunjuk Rasul, beliau adalah orang yang sempurna akhlaq dhohir dan batinnya. Beliau adalah seorang yang sangat pengasih dan penyayang, baik kepada musuh-musuhnya lebih-lebih kepada para sahabat-sahabatnya. Nabi Muhammad adalah cahaya cinta sejati, seorang yang menginginkan kebahagiaan umatnya, ketimbang dirinya sendiri. Sayang kita selalu menyakiti hati beliau dengan tingkah laku yang kadang tidak sesuai dengan uswah hasanahnya.

Berbuat baik tidaklah susah, sederhana bahkan sangat sederhana. Bermuka ceria di hadapan saudaramu adalah kebaikan, menyingkirkan duri di jalan adalah buah iman, menghormati tamu adalah akhlaq mulia, dan amal-amal lain yang mungkin kita anggap sepele dan tidak ada guna dan manfaatnya. Sekecil apapun mari memulai diri melakukan sesuatu yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Khoirunnas anfa’uhum linnas.

          Jangan pernah merasa kebaikan kita tidak ada gunanya, sekecil apapun itu. Kita tidak pernah tahu amal mana yang murni dan ikhlas sehingga diterima oleh Allah swt. Sebanyak apapun kita beramal, jika ada rasa riya’, ujub, sum’ah dan racun kesombongan, tentu amal itu tidak akan membawa kebaikan dan hanya menghasilkan kesia-siaan saja kelak di hari pembalasan. Allah swt tak akan menerima amal tanpa adanya kemurnian niat di dalamnya.

Dalam Hikamnya Ibnu Atha’illah as Sakandari dinyatakan :
لا عمل أرجى للقبول من عمل يغيب عنك شهوده ويحتقر عندك وجوده
Artinya : “Tidak ada amal yang lebih berpeluang diterima daripada amal yang tidak engkau sadari, dan engkau pandang tak berarti”. (Terjemah sarah Hikam karya KH. Sholeh Darat).

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” bisa dihubungi di WA 085258611993




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar