Rabu, 19 Oktober 2016

Kuasa Tuhan ataukah Kuasa Manusia ?

Kuasa Tuhan ataukah Kuasa Manusia ?

Berada di tengah-tengah faham tidak terlalu condong ke kiri dan juga tidak terlalu condong ke kanan, berada di posisi tengah-tengah adalah sebuah pilihan yang bijak nan bajik. Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah, baik itu urusan duniawi maupun urusan ukhrawi. Pilihan di tengah-tengah menempatkan seseorang menilai sesuatu dengan proposional, tidak lebih dan tidak kurang, sedang-sedang saja, begitulah kira-kira.

Menempatkan Tuhan secara proposional atas makhluk-Nya di dunia menjadi permasalahan tersendiri, hal ini telah menjadi permasalahan sejak zaman klasik, sehingga muncullah faham Jabbariyah maupun faham Qadariyyah. Faham Jabbariyah adalah faham yang menganggap bahwa manusia ibarat boneka yang tidak memiliki pilihan kecuali atas kehendak dan kuasa Tuhan. Pada golongan ini manusia tidak memiliki pilihan-pilihan kecuali sudah ditentukan dan tunduk pada qadar Sang Tuhan.

Sedang faham Qadariyyah yang menjadi antitesa dari faham Jabbariyah yaitu faham yang menyatakan manusia bebas sebebasnya untuk melakukan apa yang menjadi keimginannya tanpa ada campur tangan dari Tuhan. Jadi faham Qadariyyah ini menempatkan manusia memiliki kekuatan  untuk melaksanakan kehendaknya tanpa tunduk pada qadarnya Tuhan.

Dilihat dari sekilas dua faham di atas sama benarnya dan sama-sama memiliki argumentasi dalil naqli maupun dalil aqli. Namun menempatkan dua faham tersebut secara ekstrim dan kaku yang akan menuai masalah. Terlalu Jabbariyah kontra dengan dalil-dalil yang dirujuk oleh kelompok Qadariyah, demikian pula terlalu Qadariyah akan berseberangan dalil dari Jabbariyah yang masing-masing memiliki sandaran wahyu.

Jika menilik pada ayat-ayat Al Qur’an ada yang menggambarkan manusia memang seakan-akan tunduk pada kehendak Allah secara mutlak yang mana ini melahirkan faham Jabbariyah (predeterminisme), namun di ayat lain seakan-akan manusia bebas berkehendak tanpa dibayang-bayangi oleh kuasa Tuhan yang melahirkan faham Qadariyyah ( free will free act).

Di sinilah kita dituntut mengawinkan antara pemikiran yang condong ke salah satu sisi agar kepala kita tidak tengkleng ke kiri maupun ke kanan. Pilihan berada di tengah kedua faham tersebut di atas adalah sebaik-baik pilihan. Jalan tengah inilah yang dalam disiplin ilmu kalam dikenal sebagai jalan ahlus sunnah wal jama’ah yang di dalam aliran tauhidnya dipelopori oleh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, sedang dalam ilmu fikihnya mengikuti madzhab Imam Empat, dan tasawufnya berkiblat pada Imam Al Ghazali dan Imam Junaid al Baghdadi.

Lalu sebenarnya siapa yang punya kuasa dalam kehidupan dan amal manusia ? Kuasa Tuhan ataukah Kuasa Manusia ?

Pertanyaan sederhana ini tentu jawabnya tidak sesederhana yang kita pikirkan. Jika kita jawab kuasa Tuhan saja manusia tidak memiliki pilihan atas kehendaknya maka kita terjebak pada pemikiran Jabbariyah, begitu pula jika kita jawab Kuasa Manusia semata maka kita mengingkari Kuasa Tuhan yang jelas adanya, kita akan terjebak pada pemikiran Qadariyyah. Sekali lagi saya tegaskan jalan tengah adalah pilihan terbaik dan jalan keselamatan. “Khairul “umuuri Ausatuhaa”

Perdebatan-perdebatan mengenai masalah ini telah berlangsung berabad-abad, menghabiskan sisa umur manusia, mengeringkan tinta para penulis, serta menghabiskan berlembar juta kertas. Tidak ada titik temu secara langgeng dan permanen mengenai masalah ini.

Ditulisan saya yang sangat singkat ini saya hanya ingin menguraikan secara singkat saja, bahwa sangat jelas bahwa Tuhan adalah Maha Kuasa, tidak ada kekuatan yang selain dari-Nya. Dia menciptakan manusia dengan segala potensinya. Manusia diberi potensi kebebasan untuk memilih dua jalan yang membentang di hadapannya. “Fa alhamahaa fujuurahaa wa taqwaaha”, Jalan kebaikan dan jalan keburukan. Untuk memilih jalan itu manusia tidak dalam kondisi majbur atau terpaksa, karena Allah telah memberikan kepada manusia untuk memilih. Lha kebebasan untuk memilih inilah yang menjadikan manusia punya konsekuensi untuk diadili kelak di akhirat.

Allah swt. telah menurunkan petunjuk kepada manusia untuk bisa memilih mana jalan keselamatan dan mana jalan kebinasaan. Tidak mungkin Allah memaksa manusia untuk berada di jalur kebinasaan, jika demikian tidak ada alasan untuk menghukum manusia, karena ia tidak punya pilihan. Hanya pasrah bongkok-an saja.


Ringkasnya manusia, diberi daya dan potensi berupa akal dan hati guna memilah dan memilih mana yang sesuai dengan manual book dari Tuhan, jika menyelisihi manual book yang berupa kitab suci yang diturunkan melalui seorang Rasul, maka bersiap-siaplah manusia untuk merugi baik itu di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar