Rabu, 05 Oktober 2016

Filosofi Pakaian Warna Hitam

Filosofi Pakaian Warna Hitam

Pakaian warna hitam lazim dipakai oleh aliran-aliran pencak silat, ataupun dipakai oleh tokoh-tokoh adat masyarakat. lalu mengapa mereka memakai atribut warna hitam, padahal warna hitam identik dengan sesuatu yang berbau kejahatan ? Warna hitam memang sering kali dipakai untuk menyebut sesuatu yang tidak baik, seperti istilah terjun ke dunia hitam, maksudnya tentu dunia yang penuh dengan hal-hal yang menyimpang dari nilai-nilai dan norma kesusilaan yang ada di tengah masyarakat.

Ada sebuah semboyan yang sering diucapkan oleh para pesilat khususnya yang memakai pakaian warna hitam yang dipadu dengan ikat pinggang yang berupa kain mori, “Ireng iku julukanku, ora berarti sesat aliranku, mori cekelanku dudu setan panutanku” dari semboyan ini menjadi penanda bahwa warna hitam tidak berarti sesat dan menjadi pengikut setan, karena warna hitam menjadi warna kebesaran dan kebanggaan para pesilat yang melestarikan ajaran adiluhung para leluhur.

Warna Hitam bukan berarti Kelam, memakai atribut hitam belum tentu penganut aliran setan, pada dasarnya warna hitam adalah warna kebesaran menurut adat nenek moyang kita, dalam tradisi pencak silat pakaian hitam ini adalah simbol dari kebesaran seorang pendekar. Siapa yang berani memakai pakaian sakral ini haruslah benar-benar mampu menyelami makna dari pakaian yang dipakainya. Bukan hanya sekeda memakai, apalagi sekedar gaya-gayaan semata, ada nilai, ada tanggung jawab pada pakain kependekaran yang melekat pada dirinya.

Pakaian atau dalam bahasa Jawanya ageman berarti menunjukkan nilai dari orang yang memakainya. Filosofi “Ajining diri soko lathi, Ajining Raga soko busana” menjadi tanda seseorang haruslah berpakaian yang baik dan terhormat. Baju warna hitam bisa melambangkan ketabahan dan ketahanan, memakai pakain hitam haruslah selalu tabah dan memiliki keuletan dalam menghadapi dinamika kehidupan. Tidak mudah patah arang dan selalu optimis. Warna hitam juga berarti melambangkan kesabaran, sabar dalam mengemban amanat sebagai khalifatullah di muka bumi dan selalu menebar kasih dan rahmat semesta atau dalam istilahnya memayu hayuning bawana.

Lebih mendalam lagi warna hitam adalah warna kehampaan, manusia adalah entitas yang hampa dan kosong, sedang Tuhan adalah dzat Yang Wajibul  Wujud. Manusia bukan apa-apa, dari tiada menuju ketiadaan juga, jadi manusia harus menyadari bahwa ia ada karena Sang Titah semata.

Baju hitam biasanya dibuat dalam model yang longgar dan dipadukan dengan celana komprang. Ini memiliki makna bahwa seorang itu haruslah longgar dan luwes, tidak kaku serta mudah bergaul di tengah masyarakat, manjing ajur ajer, bersinergi dalam kebaikan guna mewujudkan harmoni kehidupan masyarakat.

Celana komprang atau longgar melambangkan langkah yang tutug (selesai), walaupun celana itu longgar tapi ada batasannya, ada ukurannya yang bermakna ada tata tertibnya. Dalam peribahasa Jawa disebutkan “Tata, tatag, dan tutug” yang bermakna hidup itu harus sesuai aturan, berani dalam kebaikan, dan selesai dalam mengemban amanat Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar