Jumat, 21 Oktober 2016

Bersatunya Lahut dan Nasut

Bersatunya Lahut dan Nasut


إِنَّ لِلهِ عِبَاداً إِذَا أَرَادُوْا أَرَادَ
“Sesungguhnya Allah itu memiliki banyak hamba, yang jika mereka itu menghendaki sesuatu, maka Allah pun menghendakainya”

Kalimat di atas adalah pendar hikmah dari para ulama tasawuf, secara sepintas seakan-akan kehendak Tuhan itu mengikuti kehendak manusia, atau seakan-akan tidak terpisah antara kehendak Lahut dan Nasut. Namun pada hakekatnya maknanya tidak sesederhana seperti apa yang tersurat seperti di atas. Jika kita menyelaminya lebih mendalam mengenai arti yang terkandung dari kalimat tersebut, menurut para ulama tasawuf adalah sebab perkara yang menjadikan berhasilnya kehendak hamba telah ditetapkan oleh Allah, sehingga jika seorang hamba benar-benar bersungguh-sungguh dan memiliki kemauan keras untuk mewujudkan kehendaknya, maka Allah akan memperkenankan dan mengijabahkannya.

Allah swt. Tidak akan menyia-nyiakan usaha dan kesungguhan dari seorang hamba, Dia akan memperturutkan dan membersamai kehendak dari hamba-Nya, seakan-akan manunggal antara hamba dan Tuhan-Nya, antara sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan. Bersatunya dimensi langit dan dimensi bumi dalam kehendak yang padu. Dalam sebuah hadits qudsi Allah swt berfirman :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّى عَبْدِي بِيْ
“Aku (Allah) seperti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”

Inilah kunci mengapa nasut kadang dianggap memiliki potensi lahut, karena itu bagian dari kehendak-Nya pula, Dia Yang Maha Tinggi dan Perkasa, tiada daya dan kekuatan kecuali dari-Nya. Dialah Yang Ahad Esa tiada sekutu bagi-Nya.

Seorang hamba yang telah meleburkan jiwa dan raganya dalam kehendak Tuhan menyadari bahwa hakekatnya memang manusia bukanlah eksistensi, manusia hanyalah sekedar bayangan, ia adalah barang baru yang diadakan oleh Dzat yang Maha Qadim. Adalah sebuah kesalahan besar jika manusia merasa dirinya ada, begitu ungkap al Hallaj.

Dari sini dapat kita ambil satu kesimpulan dari banyak kesimpulan bahwa kemauan atau kehendak manusia pada hakekatnya kehendak Tuhan itu sendiri. Manusia dianugerahi setitik kecil kalam Kun-Nya Tuhan untuk merealisasikan apa yang menjadi harapan dan cinta maupun cita-citanya. Memahami diri sendiri adalah dalam rangka memahami nilai ketuhanan, dan jika kita telah mengenal nilai-nilai ketuhanan, seorang hamba yang beruntung akan dianugerasi setitik tinta pengetahuan-Nya. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, wa man ‘arafa Rabbahu fa qad ‘arafa sirrahu”.

          Walaupun demikian seorang hamba janganlah merasa sombong jika ia telah tamat dalam meniti jalan diri, karena pada hekekatnya pengetahuannya tentang dirinya sendiri tidak akan pernah usai, apalagi merambah area ketuhanan. Kesombongan-kesombongan itu justru akan menjadikan hijab seorang hamba kepada Tuhannya, dan yang akan menggelapkan perjalanan spiritualnya untuk mencapai cahaya di atas cahaya. Ketawadhuan dan kepasrahan total kepada Tuhanlah yang akan membawa hamba pada lorong ketuhanan, karena pada dasarnya bukan hamba yang menuju Tuhan, namun Tuhanlah yang menarik seorang hamba menuju-Nya.

          Dalam kitab Al Hikam, karya seorang Ulama Sufi Syekh Ahmad bin Atha’illah as Sakandari dikatakan :

“Andaikan engkau tidak dapat sampai kepada Allah, kecuali sesudah habis semua dosa dan kotoran syirik, niscaya engkau tidak akan sampai kepada-Nya untuk selamanya, tetapi jika Allah akan menarik/menyampaikan engkau kepada-Nya, Ia menutupi sifatmu dengan sifat-Nya dan kekuranganmu dengan karunia kekayaan-Nya. Maka Allah menyampaikan engkau kepada-Nya dengan apa yang diberikan oleh-Nya kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu yang engkau hadapkan kepada-Nya”.


 Jadi sangatlah jelas bahwa wushulnya seorang hamba kepada Tuhan, bersatunya lahut dan nasut, adalah karena karunia Allah kepada seorang hamba, bukan karena amal dan ibadahnya, sebab ikhtiar dan usaha yang dilakukan oleh seorang hamba pada hakekatnya adalah juga karena kehendak, iradat dan pemberian Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar