Jumat, 09 September 2016

Wani Ngalah Luhur Wekasane

Wani Ngalah Luhur Wekasane
Joyojuwoto*


Dulu saat saya ngaji di pesantren seringkali mbah Yai Moehaimin Tamam menggembleng santri-santrinya dengan sebuah tembang yang sangat bagus, beliau bilang itu adalah tembang yang dinyanyikan oleh Waljinah seorang sinden. Walau secara umum masyarakat memandang sinden dengan pandangan yang rada-rada negatif namun entah mengapa Mbah Yai sering sekali mengutip tembang itu. Dengan suaranya beliau yang terasa masih saya ingat sampai sekarang beliau menembang, dan santri-santri pun diajak bersama-sama menembangkan. Kalau tidak salah bunyi dari tembang itu adalah demikian :

Cubluk wadah uyah
Tali kenur aran lawe
Sapa wani ngalah
Bakal luhur wekasane

Artinya :
“Bejana plastik tempatnya garam, tali kenur dinamakan benang lawe, siapa yang berani mengalah, maka akan mendapatkan kemenangan di akhirnya”

Mbah yai waktu itu tidak pernah menerangkan artinya secara detail, namun beliau hanya mengupas kalimat intinya, yaitu pada kalimat “Sapa wani ngalah, bakal luhur wekasana”  (Siapa berani mengalah, maka akan mendapat kemenangan di akhirnya). Karena inti dari tembang tadi ya kalimat yang kedua dan ketika tentang ajaran untuk andap asor dan tidak menang-menangan, lebih baik mengalah saja, karena siapa yang berani mengalah maka Allah akan meluhurkan derajad orang tersebut.

Menurut KH. Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo kata mengalah itu bukan asli kosakata Jawa, tidak ada dalam bahasa kawi itu kata “kalah” kata ngalah atau “ngallah” sendiri diciptakan oleh para wali yang berarti menuju Allah. Semisal kata “Ngalas” maksudnya adalah menuju hutan, oleh karena itu untuk menanggulangi sifat tinggi hati dan suka menang-menangannya masyarakat Jawa, para wali membuat satu kata “Ngalah” sebagai wujud kearifan dan kebesaran jiwa untuk berani mengalah agar tercipta keharmonisan di dalam tata perikehidupan masyarakat.

Lihatlah sejarah zaman dulu ketika Raja Jawa, yaitu Prabu Kertanegara Raja Singhasari di datangi utusan dari kerajaan Mongol untuk disuruh takluk, maka sang Raja sangat marah dan murka, Meng Khi sang utusan dari kaisar Kubilai Khan dilukai dahinya dan dipotong telinganya. Kasar sekali pokoknya. Karena pada aturannya duta itu tidak boleh disakiti. Ini adalah bentuk tinggi hatinya orang Jawa yang tidak mau direndahkan, sehingga Sang Raja berbuat yang tidak seharusnya diperbuat untuk seorang duta.

Tuhan pun membalas Kepongahan dan kesewenang-wenangan dari Kertanegara dengan kehancuraan kekuasaannya karena diserang oleh Jayakatwang sepupu, ipar, dan besannya sendiri. Bahkan Kertanegara tewas dalam prahara itu.

Ngalah mungkin akan sangat mudah dilakukan oleh orang-orang yang memang lemah dan tidak memiliki kekuatan, namun ngalah ini akan sulit dilakukan oleh orang-orang yang berkuasa dan memiliki kekuatan, baik itu kekuatan berupa pangkat, derajad, dan harta kekayaan. Oleh karena itu tidak mudah memang menjadi orang yang ngalah pada saat kita memiliki kemampuan untuk mengungguli orang lain. Apalagi harus ngalah kepada orang yang lebih rendah secara duniawi. Sangat sulit sekali tentunya. Oleh karena itu leluhur kita mengatakan hanya orang yang memang luhur dan tinggi derajadnya di sisi Tuhan yang mampu melakukannya, mereka akan mendapat kemuliaan di mata manusia dan di mata Tuhan. Sedang orang yang menang-menangan diancam sebagai orang yang tinggi hati dan sombong, dan akhir dari kesombongan adalah kehancuran dan kebinasaan. Naudzu billahi min dzaalik.


Jika kita mengingat bahwa kebesaran dan kekuasaan yang kita miliki hanyalah titipan Tuhan, dan kehidupan kita di dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, maka hendaknya kita menjadi orang yang andap asor dan tidak menang-menangan. Karena pada dasarnya manusia adalah sama di hadapan Tuhan. Ayo...wani ngalah luhur wekasane, menang tanpa ngasorake.

 *Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar